
Pesta itu pun masih terus berlanjut hingga malam hari. suasananya benar-benar sangat hangat, tidak ada keributan ataupun yang lainnya. mereka menikmati satu persatu pertujukan yang di gelar disana.
Hingga akhirnya pertujukan pun selesai begitupun juga pestanya. semuanya bergegas pulang karena memang hari sudah larut malam. para pelayan juga melaksanakan tugas mereka.
Kini pasangan pengantin baru itu tengah berjalan menuju kamar baru mereka. kamar yang terletak di bagian tengah berdekatan dengan ruang kerja kaisar langit. sementara yang lainnya sudah berada di alam mimpinya.
"Hahh akhirnyaaaa selesai juga." ucap Zhi Qing yang membuat Yuan Lin menoleh dengan heran
"Kenapa? apa kau kelelahan?" tanya Yuan Lin
"Kau tau aku ingi sekali mencongkel mata pria-pria tidak berguna itu yang terus menatapmu tadi. jika saja kakek tua itu tidak menghentikan ku maka nyawa mereka sudah melayang." kata Zhi Qing dengan kesalnya.
"Sudahlah kenapa masalah seperti itu kau besar-besarkan hah. ini sudah larut malam lebih baik percepat jalanmu itu." kata Yuan Lin yang membuat Zhi Qing langsung menatapnya dengan tatapan tak biasa
"Astaga....hahahaha rupanya kau sudah tidak sabar ya ingin meniduriku." kata Zhi Qing dengan menutup mulutnya tapi sangat kegirangan sehingga membuat Yuan Lin terkejut karena suara Zhi Qing sedikit keras
"Apa yang kau katakan bodoh. siapa yang ingin menidurimu. kau ini.....dan juga pelankan suaramu semua orang sudah tidur kau bisa mengganggu mereka nanti " seru Yuan Lin dengan kesalnya dan berjalan meninggalkan suaminya itu.
"Ohh ayolah kenapa kau harus jual mahal seperti ini. sekarang aku adalah suamimu asal kau tahu ya. hahaha kau sangat lucu sekali sayang." kata Zhi Qing yang semakin ingin menggoda Yuan Lin.
Yuan Lin yang kesal pun tidak menanggapi perkataan Zhi Qing dan terus berjalan. tapi laki-laki itu tidak kehabisan cara untuk membuat Yuan Lin takluk padanya dan membuat seolah-olah Yuan Lin lah yang mengejar-ngejar Zhi Qing dan sangat menginginkan laki-laki itu.
__ADS_1
Karena sudah sangat kesal mendengar ocehan tidak berfaedah yang di lontarkan Zhi Qing akhirnya Yuan Lin pun berbalik bermaksud untuk memberikan pelajaran pada suaminya itu tapi ketika dia baru saja akan berbalik, gaun yang dia pakai tak sengaja terinjak oleh Zhi Qing sehingga membuat Yuan Lin oleng dan terjatuh ke belakang.
Zhi Qing yang juga terkejut melihat Yuan Lin pun, bukannya menahan Yuan Lin agar tidak terjatuh malah dia mendorongnya. alhasil dia juga ikut terjatuh tepatnya di atas Yuan Lin dengan bibir yang saling menempel satu sama lain.
Sesaat kemudian mereka hanya saling tatap saja tanpa berbicara apapun hingga sebuah suara seorang laki-laki terdengar di antara mereka.
"Ekheemm setidaknya lakukanlah di kamar jangan di tempat umum seperti ini. tapi aku tidak melihat apapun. silahkan lanjutkan."
Suara tersebut pun menyadarkan mereka. Yuan Lin lantas mendorong Zhi Qing dengan sedikit menendangnya sehingga laki-laki itu terpental ke belakang.
"Apa yang kau lakukan bodoh." seru Yuan Lin yang kemudian melihat ke arah depan dimana ada seorang laki-laki yang tengah berjalan dengan langkah sedikit cepat, ya dia adalah pangeran Huang Hun.
"Sialll!!! apakah mereka tidak mempunyai rasa malu sedikitpun. ohh ayolahh kasihanilah aku yang masih sendiri. siall siall." umpat pangeran Huang Hun dengan kesalnya.
"Biarkan saja lagipula kita kan sudah sah menjadi suami istri jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan." jawab Zhi Qing dengan santainya.
"Kau....aaakhhhhh apa yang kau lakukan hah turunkan aku." teriak Yuan Lin ketika tubuhnya tiba-tiba di angkat paksa oleh suaminya. dia terus memberontak tapi tidak di hiraukan oleh Zhi Qing dan malah membuat laki-laki yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya itu terkekeh.
....
Langit yang tadinya gelap kini perlahan-lahan mulai di hiasi cahaya orange menandakan jika hari sudah pagi. sepasang makhluk hidup masih berdiam di bawah selimutnya mengarungi alam mimpi indahnya. sampai seorang wanita perlahan-lahan membuka matanya. pertama kali yang dia rasakan adalah seluruh badannya seperti remuk tak bertulang.
__ADS_1
"Ada apa denganku....akhhh siall kenapa ini sakit sekali." rengguh Yuan Lin dengan memegangi bagian sensitifnya. tapi seketika dia pun membuka matanya dengan sempurna ketika menyadari jika dia tidak memakai apapun sekarang.
"Ada apa sayang? kenapa pagi-pagi kau sudah bangun." ucap Zhi Qing dengan suara seraknya namun masih dengan mata tertutup.
Yuan Lin pun mencoba tetap tenang dan mencerna semuanya. seketika dia pun menghela nafasnya lega ketika mengingat semuanya namun sesaat kemudian wajahnya memerah bagai kepiting rebus ketika mengingat pergulatan tadi malam bersama suaminya.
"Apakah masih sakit?" tanya Zhi Qing yang sudah membuka matanya dan menatap wajah cantik istrinya itu.
"Menurutmu??" tanya Yuan Lin dengan sinisnya.
"Menurutku tidak kau baik-baik saja. jadi kita bisa melakukannya lagi pagi ini bagaimana." kata Zhi Qing dengan menindih tubuh Yuan Lin..
Seketika gadis itu terkejut bukan main dan memohon pada suaminya agar tidak melakukan apapun lagi padanya.
Melihat wajah memelas Yuan Lin membuat Zhi Qing tidak tega dan dia hanya mengecup keningnya saja kemudian kembali tidur di samping Yuan Lin dengan memeluknya.
"Maaf. aku tidak akan memaksamu aku takut itu akan semakin menyakitimu. maafkan aku." ucap Zhi Qing dengan lembutnya.
"Hemm sudahlah lagipula kita juga sudah menikah tidak ada salahnya bukan. aku akan mandi terlebih dahulu kau disini dulu." kata yuan Lin yang di angguki oleh suaminya.
Ia pun mandi untuk menyegarkan tubuhnya kembali. setelah itu dia memakan sesuatu untuk mengembalikan tenangnya dan bermeditasi sebentar
__ADS_1
Setelah selesai dengan ritual mandinya dan bermeditasi, kini Yuan Lin pun sedang menuju ke ruang makan karena sudah di tunggu oleh semuanya disana. dia terlihat agak kesusahan dalam berjalan, mungkin karena pergulatan tadi malam bersama suaminya.
Tidak ada yang tidak menyapa ratu baru mereka ketika. semuanya nampak mengucapkan selamat pagi pada Yuan Lin. wanita yang saat ini sudah menyandang status baru sebagai ratu sekaligus sebagai seorang istri membalas mereka dengan ramahnya