
Setelah berhasil mengejar Niken yang sudah jauh meninggalkannya, ia langsung duduk dengan nafas yang tidak beraturan. ia menatap Niken dengan tatapan sinisnya sedangkan Niken hanya tertawa saja melihat penderitaan Zein.
"Sekian lama tidak pernah ada yang tertarik denganmu Zein sekalinya ada yang tertarik, wanita jadi-jadian hahaha ya tuhan malang sekali nasibmu nak." kata Niken dengan tertawa keras sambil memegang perutnya.
"Jangan tertawa. apa kau sangat senang menertawakan ku yang sedang mengalami derita ini. belikan aku minum sana." kata Zein dengan kesalnya.
Niken pun hanya berlalu begitu saja dengan tertawa yang tidak pernah putus dari mulutnya. ia membeli minuman dan memberikannya pada Zein.
"Tubuhku tidak terlalu bersisi pasti punyamu besar. hahahaha." lagi-lagi Niken tertawa terpingkal mengingat perkataan madam Is hingga membuat Zein benar-benar kesal dan seketika ide licik pun muncul di kepalanya.
"Sudah tertawanya?" tanya Zein yang langsung menarik tangan Niken.
"Belum. ehh kau mau membawaku kemana?" tanya Niken.
"Agar kau tidak berisik jadi aku akan berbuat sesuatu." jawab Zein yang tidak menghiraukan perkataan Niken.
Niken yang bingung pun hanya menurut saja. Zein membawa Niken ke toilet yang membuat gadis itu bertambah bingung.
Clikkk.
Zein langsung mengunci pintu setelah mendorong Niken masuk ke toilet begitupun juga dirinya. kini mereka berdua berada di dalam toilet yang sama. Niken yang tidak mengerti pun langsung menatap Zein meminta penjelasan.
"Coba ulangi apa yang kau katakan dan dan pria gila itu." kata Zein.
"Tubuhku tidak terlalu berisi pasti punyamu besar. oh iya apa maksudnya itu aku tidak mengerti sama sekali." kata Niken dengan polosnya.
__ADS_1
"Apakah kau benar-benar ingin tahu?" tanya Zein dengan tersenyum kecil ke arah Niken.
Niken yang melihat senyuman itupun seketika merasa ada yang sedang di rencanakan oleh laki-laki itu. Ia hanya mengangguk saja dengan polosnya sedangkan Zein langsung memegang tangan Niken dan mengarahkan pada bagian inti yang ada di tubuhnya.
Seketika Niken terlonjak kaget dengan apa yang Zein lakukan. ia langsung menarik tangannya kembali dan memukul kepala Zein.
"Dasar gila. pria mesu*. apa yang kau lakukan hah. kau mengajakku kesini hanya untuk berbuat hal yang tidak baik padaku begitu. minggir aku ingin keluar." seru Niken dengan mendorong tubuh Zein.
"Aku hanya menunjukannya apa ada yang salah denganku. kau bilang kau ingin tahu kan yasudah. bagaimana?" kata Zein dengan senyum manisnya yang menampakkan deretan gigi putihnya tapi justru terlihat begitu menyebalkan di mata Niken.
"Tapi bukan seperti itu juga dasar gila. Minggu aku ingin keluar." kata Niken yang lagi-lagi mendorong tubuh Zein namun laki-laki itu tidak bergerak sedikitpun.
"Bagaimana?" tanya Zein lagi yang masih tersenyum nakal pada niken.
"Apanya yang bagaimana? ck kau benar-benar gila." kata Niken.
Tapi seketika ide untuk menjahili laki-laki itu pun terlintas di kepalanya. ia pun menatap Zein dengan tatapan sulit di artikan kemudian mendorong tubuh laki-laki itu hingga menabrak tembok.
Tentu Zein terkejut dengan apa yang di lakukan Niken. mendadak ia menjadi gugup dan berkeringat dingin. jantungnya tak henti-hentinya berdebar dengan begitu kencangnya.
Niken juga menyadari jika Zein tengah gugup apalagi saat ini ia bisa dengan jelas mendengarkan detak jantungnya. ia hanya tersenyum kecil saja melihat apa yang dia rencanakan berhasil.
"Kau mau mencoba bermain-main denganku ya hahaha baiklah ayo kita mulai. ini adalah hal yang paling memalukan sepanjang hidupku. tapi tidak masalah aku harus mendapatkan kuncinya terlebih dahulu." batin Niken dengan memulai aksinya
Niken mengelus pelan dada Zein kemudian beralih pada pipi sebelah kanannya dan berhenti di bibir seksi milik Zein. laki-laki bertambah gugup dan hanya bisa menelan ludahnya saja dengan tingkah Niken saat ini.
__ADS_1
"A apa yang kau lakukan?" tanya Zein dengan gugupnya.
"Aku hanya melakukan apa yang aku ingin. kita bisa mencobanya sekarang." kata Niken yang membuat Zein terkejut.
"Me melakukan apa?" tanya Zein lagi.
Niken membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Zein merinding. ia di buat berkeringat dingin dengan apa yang Niken lakukan padanya.
"A aku ha hanya bercanda saja ta tadi ke kenapa kau menganggapnya serius." kata Zein dengan gugupnya.
"Tapi sekarang aku benar-benar menginginkannya jadi kau harus mau." ujar niken dengan melakukan aksinya.
Ini adalah kali kedua dia menggoda laki-laki setelah kekasihnya. dia melakukannya bukan tanpa alasan karena ada tujuan lain. selama menjadi kekasih Zhan, sosok Yuna yang saat ini jiwanya berada di dalam tubuh niken tidak pernah memberikan tubuhnya pada Zhan walaupun dalam dunia hitam hal seperti itu tidak lagi asing terdengar di telinga setiap orang bahkan seperti makanan sehari-hari bagi mereka.
Zhan juga merupakan sosok yang begitu peduli dan pengertian pada Yuna. ia tidak akan meminta hal hal gila seperti apa yang selalu di minta para pemimpin anggota dunia hitam. alasan itulah yang membuat seorang Yuna, gadis cantik yang terkenal dengan kebengisannya di dunia hitam sangat takut jika harus kehilangan sosok seperti Zhan.
Niken terus mencari dimana Zein menyembunyikan kuncinya karena ia sempat melihat jika laki-laki itu memasukkan ke dalam saku celananya. hingga tersisa dua saku celana depan Zein dan itu membuat Niken berhenti sejenak sambil memikirkan rencananya.
"Ck apa aku harus memasukkan tanganku kedalam sana." batin Niken yang menatap wajah Zein yang sudah memerah.
"Astaga aku harus cepat-cepat mengambilnya jika tidak situasi ku dalam bahaya." batinnya lagi yang langsung merogoh saku celana itu hingga ia bisa merasakan sesuatu keras entah apa itu tapi ia tetap mencarinya.
"Ahhh hentikan apa yang kau lakukan. aku bisa lepas kendali jika kau seperti ini Niken." kata Zein dengan nafas beratnya.
Tidak ada jawaban dari gadis itu. Niken beralih merogoh ke saku yang satunya lagi dan ia kembali merasakan sesuatu yang keras dari dalam tapi kemudian ia mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Dengan segera ia membuka pintu toilet dan berlari pergi dari sana. sedangkan Zein tengah tersiksa karena ulah Niken.