
Tak terasa sudah lima hari setelah Niken sadar dari komanya dan saat ini di tengah bersiap pulang dengan di temani Zein. laki-laki itu masih terus merawat dan memberikan apapun yang di inginkan Niken.
Sampai disini pun gadis itu paham apa alasan Niken menolak Zein dengan alasan yang konyol seperti itu. dilihat dari sudut pandang manapun keduanya sangat berbeda jauh. Niken hanyalah gadis biasa yang tidak memiliki siapapun dihidupnya sedang Zein terlahir dari pasangan suami istri yang cukup berpengaruh di negaranya.
"Tidak perlu mengantar ku pulang. aku bisa aku sudah baik-baik saja. terimakasih sudah menjaga ku selama ini." ucap Niken dengan mengambil tas miliknya dari tangan Zein.
"Memangnya kau mau kemana?" tanya Zein.
"Tentu saja kembali ke rumah ku." jawab Niken.
"Rumahmu sudah di gusur 5 tahun yang lalu dan sekarang menjadi hotel." kata Zein dengan santainya.
"Hah jangan bercanda aku tidak percaya kata-kata mu. sudahlah aku ingin pulang. kau lanjutkan saja tugasmu." ujar Niken yang tidak mempercayai ucapan Zein.
Sebenarnya Niken juga tidak mengingat jalan menuju tempat tinggalnya. ia pun akhirnya mengikuti instingnya saja. Zein tentu tidak membiarkan gadis itu pergi seorang diri, walaupun Niken sudah menolak untuk di antar pulang namun laki-laki itu tidak tinggal diam begitu saja. ia tetap mengikuti Niken dari belakang.
"Kemana aku harus pergi. aku tidak ingat dimana jalannya. ck ini sangat merepotkan bagiku." gerutu Niken dengan kesalnya.
Ia pun turun dari taksi dan memperhatikan pertigaan yang sempat dia lihat sekilas di ingatannya. ia pun memilih untuk berjalan ke kanan saja sambil memperhatikan sekelilingnya dan berusaha mengingat.
Banyak sekali perubahan setelah dirinya koma selama 13 tahun. ia sampai tidak menemukan apapun yang sempat dia lihat di ingatannya. ia menggaruk tengkuknya karena bingung dengan semuanya. hingga tepukan di bahunya membuatnya menoleh
__ADS_1
"Zhan." seru Niken dengan terkejut.
"Sudah aku bilang rumahmu tidak disini lagi. kau lihat hotel itu kan. itu adalah rumahmu yang sekarang sudah menjadi hotel. sudahlah ikut saja denganku." kata Zein dengan menarik tangan Niken.
Mau tak mau gadis itu hanya menurut saja. mereka pun menuju ke sebuah apartemen mewah milik Zein. Niken bingung kenapa laki-laki itu malah membawanya ke apartemen tapi Zein menjelaskan jika apartemen ini sekarang adalah miliknya.
Karena merasa tidak ada pilihan lain akhirnya Niken pun menerimanya. ia mendudukkan dirinya di sebuah sofa empuk dan menatap sekelilingnya yang nampak begitu nyaman. Zein datang dengan membawa nampan berisi minuman dan ikut duduk di depan Niken.
"Nik." panggil Zein yang membuat Niken menoleh
"Jangan menghilang dari pandangan ku. apa kau paham." kata Zein
"Ck aku bisa menjaga diriku sendiri. oh iya apakah kau tidak mempunyai senjata api?" tanya Niken yang membuat Zein menaikkan alisnya.
"Aku sudah lama tidak berlatih jadi aku ingin menggunakannya." jawab Niken dengan santainya.
"Sejak kapan Niken suka bermain senjata api? bukankah dia sangat takut dengan senjata seperti itu." batin Zein yang merasa bingung dan heran.
Niken pun berdiri dan memeriksa semua ruangan yang ada di apartemen milik Zein. hingga ia menemukan satu ruangan yang berisi banyaknya senjata api yang membuatnya langsung berbinar seketika.
"Jadi kau juga suka mengoleksi senjata api ini." kata Niken dengan memegang satu buah senjata api yang terlihat sangat indah di matanya.
__ADS_1
"Ahh itu tidak terlalu aku hanya iseng saja hahaha. sudahlah buat apa kau ingin bermain dengan senjata api itu. itu sangat berbahaya." kata Zein dengan mengambil senjata yang sedang di pegang oleh Niken.
Tapi gadis itu langsung merebutnya kembali dan mengarahkan senjatanya pada Zein dengan tatapan tajamnya. tatapan psikopat khas milik Yuna sewaktu menjadi seorang mafia.
"A apa yang kau lakukan. turunkan itu." kata Zein dengan terkejutnya.
Niken pun menurunkan senjatanya kemudian berlalu meninggalkan Zein yang saat ini tengah mengelus dadanya karena takut, gugup dan terkejut. ia tengah mencari tempat yang cocok untuknya berlatih senjata api. Zein tidak menyangka jika Niken gadis yang di kenalnya ternyata tidak takut dengan senjata api tapi ia juga berfikir waktu saat mereka SMA dulu Niken bahkan sampai pingsan hanya karena disuruh untuk menyentuh saja. lalu sekarang apa yang terjadi dengan gadis itu.
"Ada yang aneh dengannya." gumam Zein .
Di lain sisi, tepatnya di sebuah rumah mewah dan besar, dua orang paruh baya tengah berbincang di ruang tamunya. mereka adalah Patricia dan Herluc. pasangan suami istri yang merajai semua bisnis di negara S bahkan cabang-cabangnya sudah mencapai beberapa negara.
"Tidak. biarkan takdir yang mempertemukannya. jika kita bertindak lebih jauh kita akan melanggar tulisan takdir. kau tidak ingat apa yang di katakan pak tua saat kita akan kesini." kata Patricia dengan menyeruput kopinya.
"Hmm ya kau benar sayang. tapi aku sangat ingin melihat wajahnya. kau tentu tahu bukan aku sudah lama menunggu kedatangannya kesini." ujar Herluc yang membuat istrinya mengangguk.
"Ya aku juga seperti itu. untuk sekarang kita hanya bisa melihatnya dari kejauhan saja. aku yakin tidak lama lagi dia yang akan menemui kita. kau lihat ini." kata Patricia dengan menunjuk sebuah kalung yang melingkar di lehernya dengan liontin berbentuk bulan sabit yang tengah memancarkan cahaya walaupun agak redup tapi itu bisa terlihat jelas jika melihatnya dari dekat.
"Semakin liontin ini bersinar terang semakin dekat pula kita padanya." lanjutnya lagi yang membuat Herluc mengangguk.
"Apakah kita harus menyuruh beberapa orang untuk menjaganya dari kejauhan." kata Herluc yang membuat istrinya hanya menghembuskan nafas kasarnya saja.
__ADS_1
"Terserah kau saja lah. tapi aku yakin laki-laki itu akan bisa melindunginya. kau juga tentu merasakan kehadiran jiwa lain di dalam dirinya bukan." kata Patricia.
Herluc hanya mengangguk saja. mereka tentu bisa melihat semua kejadian yang menimpa putri mereka selama ini. walaupun mereka tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya tapi mereka tetap tidak tinggal diam. mereka melakukan apapun yang mereka bisa agar kehidupan putri mereka kembali pada kehidupan yang sebenarnya seperti mereka sekarang.