
Kini usia kandungan Delia sudah 8 bulan. Calon janin yang berjenis kelamin laki-laki dalam kandungan Delia tumbuh dengan sehat. Dan kalau sesuai dengan hpl, bulan depan Delia akan melahirkan.
Hari ini Delia mengantar Kay pergi ke sekolah. Meskipun dia jarang sekali mengantar Kay semenjak perutnya yang semakin membesar, namun hari ini dia ingin sekali mengantar dan sekaligus menunggu Kay sampai pulang. Radit sebenarnya sudah melarang istrinya namun Delia bersikeras tetap ingin menemani Kay sekolah. Karena dia juga akan mampir ke resto milik Gio. Akhirnya Radit hanya bisa pasrah menuruti kemauan istrinya.
“hati-hati. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku” ucap Radit mengecup kening istrinya saat dirinya sampai di depan sekolah Kay.
“iya. Mas tenang saja. Nanti aku akan menghubungi sopir kalau Kay sudah waktunya pulang”
Setelah itu Radit mencium kedua pipi Kay kemudian dia segera pergi menuju kantornya. Dan Delia segera masuk ke sekolahan mengantar Kay.
Saat menunggu Kay di ruang tunggu khusus orang tua, Delia memegang kepalanya. Dia merasakan sedikit pusing. dia mengambil minyak angin di dalam tasnya dan memberikan pijitan lembut di keningnya. Delia akhir-akhir ini juga sering merasakan sesak bernafas. Tapi dia tidak mengatakan pada suaminya. Mengingat pengalaman hamil pertama dulu juga begitu. Dan hal itu sangat wajar dialami oleh ibu hamil saat usia kandungannya sudah tua. Tapi kali ini agak berbeda dengan hamil pertamanya dulu. Dan lagi-lagi Delia menepis pikiran buruknya. Mungkin pembawaan bayi perempuan dan laki-laki berbeda.
Sekarang sudah waktunya Kay selesai melakukan belajar sambil bermainnya. Delia segera mengajak pulang Kay. Tapi tidak pulang ke rumah melainkan ke resto milik Gio. Dalam mobil Kay sangat terlihat senang sekali. Dia asyik bernyanyi sesuai dengan apa yang baru saja dia dapatkan dari pembelajaran di sekolahnya tadi. Delia sangat senang melihat putrinya tumbuh dengan baik.
Sopir yang membawa Delia dan Kay sudah sampai di depan resto. Delia segera keluar dari mobil dan menggandeng Kay masuk. Untungnya hari ini Vito juga ada disana, jadi Kay bisa bermain dengan Vito.
“siang mas” sapa Delia saat baru saja masuk ke ruangan Gio.
“eh udah sampai Del. Maaf aku nggak tahu”
“nggak apa-apa mas”
“mana Kay? Aku kangen banget sama Kay”
“diluar, sudah diajak main sama Vito”
“kenapa wajah kamu pucat Del?” Tanya Gio tiba-tiba saat tahu wajah Delia pucat
“nggak apa-apa mas. Mungkin kecapekan saja”
Akhirnya Gio mengajak Delia duduk. Dan Gio juga meminta karyawannya untuk membawakan segelas air putih untuk Delia. jujur Gio sangat khawatir melihat Delia dengan wajah pucat. Gio merasa Delia menutupi sesuatu darinya namun Delia mengatakan baik-baik saja.
“mas. Ada yang ingin aku bicarain”
“iya Del. Katakan saja”
“mas tahu kan Kay sama Vito sudah sangat akrab sejak kecil. Bahkan sejak Kay masih bayi, Vito sangat menyayangi Kay”
__ADS_1
“iya aku tahu itu. Mereka seperti kakak beradik”
“aku minta agar nanti saat mereka sudah sama-sama dewasa, Vito akan tetap seperti itu. Selalu menyayangi Kay”
“kamu jangan khawatir. Aku pun juga akan selalu menyayangi
Kay sama seperti aku menyayangi Vito”
“terima kasih mas. Selama ini mas Gio sudah sangat baik sekali dengan aku dan Kay. Apa mas Gio tidak ingin menikah lagi?”
“sudahlah Del, berulang kali kamu selalu menanyakan itu. Jawabannya hanya satu dan tidak akan berubah. Aku tidak bisa melupakan almarhum mamanya Vito. Biarkan aku sendiri. Aku sudah cukup bahagia hidup dengan Vito dan ditambah lagi dengan Kay. Meskipun aku jarang bertemu Kay tapi percayalah aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri”
Lagi-lagi Gio berbohong. Bukan karena tidak bisa melupakan mendiang istrinya hingga menyebabkan dirinya tidak ingin menikah lagi. Melainkan dia tidak bisa menemukan seorang wanita sebaik dan selembut Delia. iya memang Gio dari dulu tidak bisa membuang perasaannya untuk Delia. namun dia sadar tidak mungkin bisa menggapai Delia. jadi dia memutuskan untuk tidak menikah lagi. Dengan hadirnya Kay sudah cukup membuatnya dia bahagia.
Delia hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Gio. Jujur saja, sedikit banyak perasaan Delia juga peka akan perasaan Gio terhadapnya. Tapi dia juga tidaak mau terlalu percaya diri apakah Gio tidak mau menikah lagi lantaran tidak bisa move on darinya. Delia juga tidak terlalu memikirkan itu. Yang terpenting saat ini adalah keluarga kecilnya sudah bahagia.
“apa kamu sudah periksa kandungan kamu Del?”
“belum mas. Lusa saja sekalian memang jadwalku periksa”
“jangan disepelein kandungan kamu Del”
“mas sebenarnya ada yang ingin aku ceritain ke mas Gio”
“ada apa Del?”
“aku merasa tidak tenang sejak Vera tiba-tiba hadir. Dia rekan kerja mas Radit yang berniat menggoda mas Radit. meskipun mas Radit sudah menghindarinya dan memang selama ini mas Radit benar-benar tidak bertemu dengannya. Tapi aku merasa sepertinya dia masih berusaha mendekati mas Radit” ucap Delia gelisah
“sudahlah Del. Ingat juga dengan kandungan kamu. Jangan hanya memikirkan itu nanti akan mempengaruhi kesehatan janin yang ada dalam perut kamu. Dan ingat kamu juga harus percaya dengan suami kamu. Kamu harus yakin dengan suami kamu”
“iya mas”
Setelah dari resto Gio dan makan siang disana, delia segera pulang. Karena Kay sudah capek bermain dan juga sudah waktunya tidur siang.
Keesokan harinya seperti biasa Delia sudah mempersiapkan baju kerja untuk suaminya sebelum pergi ke kantor.
“sayang bagaimana kabar kamu disana?” Radit mengecup perut istrinya sambil mengajak bicara calon buah hatinya. Dia juga sudah tidak sabar menunggu calon buah hatinya lahir.
__ADS_1
“sayang kapan waktunya periksa kandunagn?” Tanya Radit kemudian
“besok mas”
“ya sudah besok akan aku kosongkan jadwal sesudah makan siang agar bisa menemani kamu periksa kandungan”
“iya mas”
Setelah itu Radit berangkat ke kantor dan Kay juga pergi ke sekolah diantar oleh bi Santi. Karena Delia merasa kepalanya agak pusing jadi dia tidak bisa mengantar Kay.
Malam harinya saat Delia tidur tiba-tiba saja terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Dadanya tibaa-tiba bergemuruh dan detak jantungnya berdegup kencang. Dia melihat jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Tapi dia tidur sendirian. Kemana suaminya? Setahunya tadi Radit mengirim pesan akan pulang sekitar jam 8 malam karena ada meeting diluar dengan kliennya. Dan sekarang sudah jam 11 tapi suaminya belum juga pulang. Delia minum air putih yang sudah tersedia di atas nakas.
Ceklek
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Delia lega akhirnya suaminya pulang juga.
“mas baru pulang?”
“iya”
“aku siapin air hangat dulu ya”
“jangan! Kamu tidur saja aku akan siapkan air sendiri setelah itu langsung tidur”
Delia sedikit terkejut saat suaminya berbicara dengan nada yang sedikit meninggi. Mungkin suaminya sedang kecapekan. Akhirnya Delia hanya mengangguk dan segera tidur lagi.
.
.
.
*TBC
jangan lupa untuk mampir ke novel kedua author ya Cinta Sang Mantan Cassanova🤗🤗
.
__ADS_1
Jangan lupa like, gift, vote nya dan komentar positif kalian😍😍😘😘