Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
Eps 43 Berubah-ubah


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Angga mengantar Delia pulang ke apartemennya. Angga mengantarnya hingga di depan pintu masuk. Selama berjalan menuju unit kamarnya, Angga berjalan sambil memeluk Delia dengan erat.


“aku langsung balik aja ya sayang? Masih ada urusan”


pamit Angga di depan pintu, dan Delia hanya mengangguk. Kemudian Angga mengecup kening Delia, dan


“cup! Bonus ya sayang”


Angga memberanikan diri mengecup singkat bibir Delia sambil mengerlingkan matanya. Setelah itu buru-buru kabur, takut Delia marah. Akhirnya Delia menutup pintu sambil menggerutu kesal.


“ting…tong” sebelum Delia masuk ke kamarnya, dia mendengar bel pintu apartemennya. Dengan kesal dia membukanya. Buat apa Angga balik lagi.


“apa lagi sih kak-?” ucapnya sambil membuka pintu, namun yang ada di hadapannya bukan Angga melainkan Radit.


“maaf ganggu waktu kamu. Ini dari ada titipan dari mama” Radit menyodorkan sebuah paper bag pada Delia


“eh.. nggak masuk dulu?” Tanya Delia canggung


“nggak usah, aku langsung balik aja. Pasti kamu capek habis jalan” tolak Radit


“ehm.. bilangin makasih buat tante Alma”


“hmm.. oh iya, beberapa hari ini aku sibuk jadi nggak sempat ngasih kamu kabar” ucap Radit dengan dingin kemudian meninggalkan Delia yang masih berdiri mematung di depan pintu.


Delia masuk dan segera membersihkan diri. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya di ranjang. Benar kata Radit kalau dirinya capek sekali. Ingin segera tidur. Namun, Delia masih mengingat kedatangan Radit yang tiba-tiba tadi di saat Angga baru saja mengantarnya pulang. Jangan-jangan sejak tadi Radit mengikutinya hingga dia mengerti kalau Angga sudah pulang, baru dia datang. Jadi Radit melihat semuanya.


Melihat Angga yang mencium kening dan bibirnya. Tiba-tiba muncul perasaan bersalah pada diri Delia terhadap Radit. lama memikirkan Radit akhirnya Delia tertidur.


***


Dalam perjalanan pulang Radit mengumpat kesal melihat kelakuan Surya yang dengan lancangnya mencium Delia.


“tunggu aja Sur, tidak lama lagi hubungan kamu dan Delia bakal berakhir” ucap Radit dengan senyum devilnya.


“ting” bunyi ponsel Radit menandakan ada pesan masuk. Dia membukanya dan segera menuju tempat yang sudah dikirimkan oleh si pengirim pesan. “club XXX”


***

__ADS_1


Keesokan paginya Delia bangun tidur dengan badan yang lumayan segar. Capeknya sudah hilang, karena semalam tidurnya nyenyak sekali. Delia segera bersiap diri untuk bekerja.


Hari ini dia tidak memasak untuk sarapannya karena tiba-tiba merasa malas. Lagian bahan-bahannya makannya sebagian habis. Dia belum sempat berbelanja. Delia memutuskan untuk berangkat bekerja lebih awal agar bisa sarapan di kantin perusahaan.


Saat ini Delia sudah berada di kantin perusahaan dan menikmati sarapannya.


“tumben Del sarapan di kantin?” sapa seseorang yang tiba-tiba ikut duduk di hadapan Delia sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.


“eh kak Fadhil. Iya nih kak hari malas masak, sekali-sekali ngerasain sarapn di kantin”


“kalau bisa tiap hari juga nggak apa-apa Del biar aku ada yang nemenin”


“ya udah nanti Delia akan sarapan terus di kantin asal kak Fadhil yang bayarin ya?”


Begitulah mereka berdua kalau bercanda. Delia menganggap Fadhil sudah seperti abangnya sendiri, begitupun Fadhil juga menganggap Delia seperti adiknya. Meskipun awalnya dia menyukai Delia, tapi lama-lama perasaan itu berubah menjadi perasaan ingin melindungi seperti saudara.


“eh Del, kasian lho Pak Radit kemarin keduluan sama cowok kamu”


“hah? Maksudnya apa kak?”


“iya kemarin pas kamu dijemput cowok kamu, di belakang mobil cowok kamu sudah ada mobil Pak Radit lho. Dan kaya’nya Pak Radit suka deh sama kamu”


“iya aku lihat sendiri Del”


“terus, kak Fadhil ko’ bisa bilang kalau Rad.. eh Pak Radit suka sama Delia?”


“Ya kelihatan banget Del saat kamu pingsan waktu itu. Pak Radit panik banget, khawatir tentang keadaan kamu. Kamu sih nggak peka”


Delia terdiam mendengar penuturan Fadhil. Masa’ sih Radit menyukainya. Ah nggak mungkin lah, itu karena sudah manusiawi aja harus menolong sesama. Lagian Radit juga sudah ada seseorang yang dia tunggu.


Setelah sarapan, Delia masuk ke ruangannya untuk mengawali pekerjaannya. Hari ini dia berencana setelah pulang kerja akan mampir dulu ke supermarket untuk berbelanja.


Dan tak terasa sudah seharian Delia bekerja. Dia meregangkan otot-ototnya kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya. Sebentar lagi waktunya pulang. Dia segera beres-beres.


Saat ini Delia sedang berbelanja di supermarket. Dia ingin membeli sayuran, daging, dan beberapa makanan ringan. Sepertinya memang sudah berjodoh, di saat Delia memilih daging segar, dia melihat seorang wanita paruh baya yang dulu pernah dia jumpai di tempat yang sama saat sedang berbelanja. Siapa lagi kalau bukan tante Alma, mamanya Radit.


“tante Alma” sapa Delia

__ADS_1


“eh Delia!! Wah kebetulan sekali bertemu disini.” Ucapnya sambil memeluk Delia


Akhirnya Delia dan tante Alma menyelesaikan belanjanya. Kemudian tante Alma mengajak Delia untuk ngobrol sebentar sambil makan di resto dekat supermarket.


“tante maksih ya bajunya kemarin”


“iya sama-sama. Apa kamu suka?”


“Delia suka banget tante. Kemarin Delia nitip salam ke tante lewat Radit”


“oh ya? Tapi Radit ko’ nggak bilang tante ya. Malah tante kira bajunya belum dikasihkan oleh Radit”


“lupa mungkin tante”


Delia sejenak berpikir kenapa Radit tidak bilang ke mamanya kalau dirinya titip salam pada mamanya. Apakah Radit marah melihat dirinya jalan dengan Angga. Lagian kenapa juga dia marah. Delia merasa aneh sekali dengan Radit. tempo hari bilang kalau dirinya disuruh putus dengan Angga, katanya Radit nggak suka miliknya dimiliki orang lain. Dan terakhir bilang katanya sedang menunggu seseorang.sungguh Delia tidak mengerti dengan sikap Radit yang berubah-ubah.


Setelah selesai makan, Delia dan tante Alma pulang. Delia hanya jalan kaki saja sudah sampai apartemennya. Sedangkan tante Alma dijemput Radit. sebenarnya tante Alma ingin mengantar Delia sampai apartemen, namun saat Delia melihat ekspresi radit yang agak dingin dia menolaknya secara halus.


***


“Retha sayang, Om besok akan pulang. Kamu jangan merindukan Om ya?” ucap seorang pria paruh baya dengan perut sedikit buncit tetapi wajah tampannya masih terlihat meskipun sudah tidak muda lagi.


Pria itu sambil memeluk seorang gadis dalam balutan selimut tanpa busana.


“hmm… aku pasti akan merindukan Om” “merindukan uang Om yang pasti” imbuhnya dalam hati.


“kamu tenang saja sayang, selama proyek Om di Singapore belum selesai, Om akan sering kesini. Dan pastinya akan menemui kamu Retha sayang”


Kedua manusia beda jenis kelamin dan terpaut usia yang sangat jauh itu saling memeluk setelah kegiatan panas mereka berakhir. Mereka berdua berbicara menggunaka Bahasa yang sama karena mereka juga berasal dari negara yang sama.


Viviane Margaretha yang kini akrab dipanggil dengan nama Retha bertemu dengan partner ranjangnya saat di club langganannya. Saat itu sepertinya kepala Viviane sedang memunculkan sinyal kuat untuk mencari partner ranjangnya, Viviane menghampiri seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan yang sepertinya juga sedang butuh belaian. Hingga Viviane mengetahui bahwa pria tersebut adalah salah satu pengusaha kaya yang berasal dari negara yang sama dengannya.


“Om udah transfer ke rekening kamu. Nanti kalau Om kesini lagi Om akan transfer lagi. Karena kamu benar-benar sangat memuaskan Om”


*TBC


Yuk ah jangan lupa rate bintang 5, jempolnya, komen positifnya, votenya, dan hadiahnya juga sangat diperbolehkan. Semoga tidak bosan ya dengan cerita ini..

__ADS_1


*salam sayang dari _author newbie_💕💕


follow me on ig @dee_k9191


__ADS_2