Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 164


__ADS_3

Vito sudah memasuki ruang meeting yang sudah dihadiri oleh beberapa orang petinggi dari perusahaannya dan juga dua orang perwakilan dari perusahaan yang sedang menjalin kerjasama dengannya yaitu perusahaan milik Evan. Dua orang perwaikilan itu adalah sekretaris dan asisten pribadi Evan.


Dalam hati Vito membenarkan ucapan Arsa kalau Evan tidak hadir dalam meeting kali ini. hatinya sedikit lega karena tidak bertemu dengan pria penghancur moodnya itu.


Vito segera duduk di tempat duduk yang sudah disediakan. Meeting sudah dimulai. Kali ini Vito tampak fokus dengan bahasan dalam pertemuan antara dua perusahaan itu. Semua orang yang hadir pun juga terlihat fokus, apalagi meeting kali ini dihadiri langsung oleh CEOnya sendiri. Karena yang mereka tahu selama ini Vito selalu mewakilkan pada asistennya jika sedang ada meeting dengan perusahaan Evan.


“Cukup sekian presentasi dari perusahaan kami, jika ada yang perlu ditambahkan saya persilakan.” Ucap Sandy asisten pribadi Evan.


Semua orang tampak diam dan hanya menganggukkan kepalanya termasuk Vito. itu berarti sudah tidak ada lagi yang perlu ditambahkan atau direvisi lagi. Dan Sandy melihat tidak ada sanggahan atau tambahan apapun, akhirnya dia menutup meetingnya.


Semua orang perlahan undur diri dari ruang meeting tersebut. Dan kini tinggal Vito, dan dua orang perwakilan dari perusahaan Evan.


“Terima kasih Tuan Vito, kami permisi undur diri!” ucap Sandy sambil menjabat tangan Vito.


“Iya, sama-sam-“


“Sorry aku datang terlambat!” ucap seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang meeting yang sudah sepi itu.


Vito tampak mengeraskan rahaangnya saat kehadiran orang yang ia hindari itu. Ya, dia adalah Evan. Untuk apa pria itu hadir meeting kalau dirinya sudah mewakilkan pada pada aisten pribadi dan sekretarisnya. Entahlah, Vito juga tidak tahu. Dia berusaha untuk bersikap tenang.


“Meetingnya sudah selesai, jadi kamu bisa bahas sendiri dengan asisten atau sekretaris kamu.” Ucap Vito kemudian.


“O begitu, baiklah. Kalian berdua bisa kembali ke perusahaan, aku masih ada urusan dengan temanbaikku ini.” perintah Evan pada asisten dan sekretarisnya.


Tanpa menjawab, mereka berdua segera pergi meninggalkan bosnya. Sementara Vito heran dengan Evan. Untuk apa lagi pria ini ingin bertemu dengannya. Bukannya semua sudah jelas ia katakan tadi.


“Hai brother! Apa kabar?” Tanya Evan sok akrab.


“Kamu bisa lihat sendiri. Aku sangat baik.” Jawab Vito cuek.


“Oh come on brother! Kenapa kamu jadi jutek seperti itu? Aku tahu selama ini kamu menghindariku bukan?” Tanya Evan tanpa basa-basi.


Vito semakin geram dengan pertanyaan Evan. Sebenarnya apa mau pria ini. selain urusan kerjasama, Vito merasa tidak ada hal lain yang lebih penting. Dan jika itu menyangkut istrinya, Vito anggap sudah tidak ada apa-apa.


“Sebenarnya apa mau kamu?” Tanya Vito.

__ADS_1


“apa kamu nggak kangen sama Nadia?” bukan menjawab, Evan malah bertanya pada Vito.


Vito menautkan kedua alisnya. Apa mkasud dari pertanyaan konyol Evan. Kangen Nadia? Nadia itu istrinya. Benar-benar gila pria ini, menanyakan apakah dirinya kangen dengan istrinya sendiri.


“Untuk apa aku merindukan istri orang? Aku sudah memiliki istri sendiri.” Jawab Vito.


“Berarti kamu sama sekali nggak kangen dengan Nadia?” Tanya Evan pura-pura lesu dan Vito hanya terdiam.


“Kalau membicarakan hal yang tidak penting, lebih baik kamu tinggalkan saja-“


“Tapi aku kangen dengan istri kamu.” Ucap Evan cepat memotong perkataan Vito.


Dengan cepat Vito mencengkeram kerah baju Evan. Darahnya mendidih saat mendengar Evan terang-terangan bilang merindukan istrinya.


“Kamu jangan macam-macam! Jangan harap kamu bisa menyentuh wanitaku.” Ucap Vito penuh amarah.


Evan sama sekali tidak takut dengan ancaman Vito. wajahnya pun terlihat biasa saja meskipun Vito sedang sangat emosi saat ini.


“Tenanglah brother. Aku kesini hanya ingin menawarkan. Tadinya aku kira kamu masih menyimpan perasaan pada Nadia. Aku ingin swinger dengan kamu. Jadi kita bertukar pasangan. Kamu bisa menyentuh Nadia sepuas kamu, begitupun juga denganku.” Ucap Evan santai.


“Tenang! Santai, karena kamu tidak lagi merindukan Nadia. Baiklah, tapi bagaimana kalau cuckold saja?” tambah Evan.


Bugh


Bugh


“Bos hentikan!!!” ucap Arsa tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu melerai bosnya dengan Evan.


Nafas Vito masih memburu meskipun dia sudah melayangkan dua bogem mentah ke wajah Evan. Dia sangat tidak terima dengan ucapan Evan yang begitu menginginkan istrinya. Vito ingin menghabisi pria bajingan itu sekarang juga, namun cekalan kuat tangan Arsa tidak mampu membuat dirinya berkutik. Sementara Evan mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah sambil tersenyum miring.


“Lebih baik anda segera tinggalkan tempat ini Tuan Evan!” perintah Arsa dengan tangan masih memegang kuat tangan Vito.


“Bajingan kamu!! Brengsek!!” umpat Vito keras.


Setelah dapat memastikan Evan sudah benar-benar pergi, perlahan Arsa melepaskan tangan Vito kemudian mengambilkan segelas air putih untuk Vito.

__ADS_1


Pikiran Vito saat ini benar-benar kacau. Dia masih menyimpan dendam pada Evan. Ucapan Evan membuat amarahnya mendidih sampai sekarang. dia tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuh istrinya.


“Segera urus pembatalan kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Evan!” perintah Vito pada Arsa.


“Kenapa?” Tanya Arsa heran, karena Arsa tidak tahu apa yang telah terjadi dengan bosnya dengan Evan.


“Lakukan saja perintahku, jangan banyak Tanya. Aku nggak peduli walaupun harus membayar pinalti.” Ucap Vito sambil meninggalkan ruang meeting.


Kini Vito berjalan masuk ke dalam ruang pribadinya. Dia benar-benar sangat pusing dan tidak bisa melanjutkan pekerjaannya. Dia masih terngiang-ngiang ucapan frontal Evan tadi. bagaimana mungkin dirinya bertukar pasangan dengan istri Evan. Apalagi membiarkan istrinya dijamah pria bajingan itu dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Membayangkannya saja Vito sangat marah.


Vito bingung memikirkan bagaimana caranya agar Evan tidak berbuat nekat pada istrinya. Sungguh Vito sangat takut jika itu semua terjadi. Akhirnya terbesit sebuah ide. Vito meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


Waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor. tapi Vito memilih untuk tidak pulang dulu. Sampai saat ini dia masih belum bisa meredam amarahnya. Dia takut jika pulang dan akan menjumpai istrinya dengan amarah masih bersarang di hatinya. Vito tidak ingin melampiaskan amarahnya pada sang istri.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8malam. Vito akan pergi menemui seseorang yang tadi ia hubungi. Orang tersebut memintanya bertemu di salah satu club terkenal di kota J.


sebenarnya Vito enggan masuk ke tempat hiburan malam itu, tapi kali ini dia sangat membutuhkan bantuan orang itu.


Dentuman music yang sangat memekakkan telinga, saat Vito baru saja memasuki tempat hiburan itu. Ruangan dengan lampu kelap-kelip itu membuat Vito kesusahan mencari seseorang yang ingin dia temui. Mau menghubungi melalui panggilan telepon pun rasanya tidak mungkin. Tapi Vito akan mencobanya dulu. Tapi saat Vito mau menghubungi orang itu, tiba-tiba saja ada panggilan masuk yang dia tidak begitu bisa melihat siap yang memanggilnya. Vito menggeser tombol hijau pada ponselnya, tapi dengan cepat dia segera memutus sambungan teleponnya karena yang memanggilnya adalah Kay, sang istri. Akhirnya tanpa sengaja Vito sudah bisa menemukan orang yang ingin dia temui.


Sementara itu Kay yang sejak tadi tampak cemas karena suaminya tak kunjung pulang saat jam pulang kantor tiba. Dia sudah berusaha menghubungi suaminya tapi sama sekali tidak ada jawaban. Kay juga sudah menanyakan keberadaan suaminya pada Arsa. Tapi Arsa juga tidak mengetahuinya.


Perasaan Kay semakin tak menentu saat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tidak biasanya suaminya itu pergi tanpa kabar. Tapi Kay tidak putus asa. Dia masih terus menghubungi suaminya. Dan akhirnya Kay lega saat panggilan dari suaminya dijawab.


“Halo, Mas?”


“Mas lagi dimana?”


bukan jawaban dari suaminya yang didengar oleh Kay. Tapi suara dentuman music yang sangat keras yang ia dengar. Dan detik selanjutnya panggilan itu terputus begitu saja. Dan saat Kay mencoba menghubungi suaminya lagi, ponsel Vito sudah tidak aktif.


“Mas, apa yang sedang kamu lakukan??” gumam Kay dengan perasaan khawatir.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2