Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 184


__ADS_3

“Des, Bram, kalian berdua?” Tanya Kay ragu.


“Nggak Non, kami nggak pacaran.”


“Tidak Nyonya, kami tidak pacaran.”


Jawab Desi dan Bram bersamaan. Dan mereka berdua menyadari akan ucapannya yang sama membuat Kay semakin yakin kalau diantara Desi dan juga Bram memang ada hubungan special. Kay tersenyum melihat keduanya yang salah tingkah.


“Aku ikut senang mendengar kalian menjalin hubungan istimewa.” Ucap kay menggoda keduanya.


“Tapi benar, kami tidak ada hubungan apapun.” Ucap mereka berdua yang lagi-lagi sangat kompak dengan jawaban yang sama.


“Sudahlah, kalian ini masih malu-malu. Ayo Bram kita ke supermarket sekarang. Des, nggak apa-apa kan aku ajak kekasihmu pergi?” Tanya Kay sambil mengerlingkan matanya pada Desi.


Selepas kepergian Kay dan Bram, Desi bisa bernafas lega. Entahlah kenapa dia selalu gugup jika bertemu dengan Bram. Apalagi dengan kejadian memalukan baru saja. Hanya bersentuhan kulit sebentar saja dapat menimbulkan efek yang sangat berlebihan. Tapi entah itu apa, Desi tidak bisa menjabarkannya.


Desi juga bingung dengan hubungannya dengan Bram. Lelaki itu masih kaku seperti biasanya. Memang dasar sifat bawaan dari orok mungkin. Dan semenjak Bram mengatakan padanya agar menjaga hatinya untuk Bram, dalam hati kecil Desi sungguh sangat bahagia. Memang sejak awal pertama jumpa, Desi sudah mengagumi sosok berwibawa berwajah dingin nan kaku itu. Tapi yang membuat Desi sangat bingung yaitu sampai sekarang belum mendapatkan kepastian dari Bram akan hubungannya.


***


Kini Kay sudah berada di supermarket setelah berkunjung sebentar ke butiknya. Dan Bram pun dengan setia mengikuti Kay yang sedang berkeliling mencari beberapa barang yang akan dibelinya.


“Bram, agaklah menjauh. Jangan terlalu dekat begini.” Ucap Kay merasa risih dengan kehadiran Bram yang berada dekat di belakangnya.


“Demi keamanan Nyonya.” Ucap Bram singkat.


“ya sudah aku bilangin Desi kalau kamu pria sangat menyebalkan.” Ancam Kay.


“Silakan Nyonya. Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Desi.” Ucap Bram mengelak.


“Baiklah, kalau begitu aku akan mengenalkan Desi pada salah satu rekan kerja Mas Vito.” ancam Kay lagi.


Dan benar saja, tanpa menjawab, Bram segera mundur 5 langkah dari keberadaan Kay saat ini. Kay tersenyum tipis saat melihat reaksi Bram setelah mendapatkan ancaman.


Tidak dipungkiri bahwa Kay juga ikut bahagia melihat Bram yang sepertinya sangat serius dengan Desi.

__ADS_1


Selesai membeli keperluan Barra, Kay mendorong trolinya ke meja kasir dan membayarnya. Setelah itu Kay pulang dengan Bram yang membawakan beberapa kantong belanjaannya. Namun saat akan keluar dari supermarket, tiba-tiba tangan Kay dicekal oleh seseorang.


“Nona Kay!” panggilnya.


“E.. Evan?” ucap Kay gugup.


Bram yang tadinya berjalan dengan jarak sekitar dua meter dari Kay sontak mendekat saat mengetahui majikannya dalam bahaya. Bram juga melihat Evan masih memegang tangan Kay.


“Lepaskan tangan anda!” ucap Bram tegas, dan Evan segera melepaskannya.


“Maaf Nona Kay. Bisakah kita bicara sebentar.” Ucap Evan dengan raut wajah yang berbeda.


“Untuk apa? Saya tidak ada hubungan dengan anda.” Tolak Kay.


“Silakan anda pergi sekarang juga!” usir Bram.


Namun Evan masih bergeming. Dia kembali memegang tangan Kay seolah meminta Kay menuruti kemauannya. Kay melihat dari sorot mata Evan yang berbeda dan lebih terlihat begitu sedih. Kemudian Kay melirik ke arah Bram dan mengangguk seolah ingin memberikan kesempatan buat Evan berbicara.


“tapi Nyonya!” cegah Bram.


“Tenang saja Bram. Lagipula ada kamu.” Ucap kay.


“Silakan bicara. Waktu saya tidak banyak.” Ucap Kay.


Pandangan mata Bram selalu tertuju pada Evan. Dia bersiap-siap jikia sesuatu hal buruk terjadi dengan majikannya. Bram tidak ingin kejadian seperti dulu dialami lagi oleh Kay. Bram juga memfoto Evan yang sedang duduk bersama dengan majikannya untuk dikirimkan ke tuannya yaitu Vito. bagaimana pun juga Bram sangat patuh dengan perintah tuannya. Jadi apa saja akan dia laporkan.


Tidak lama kemudian Kay berdiri dari duduknya dan segera mengajak Bram pulang dengan meninggalkan Evan yang masih duduk sendiri sambil menyesap kopi yang sudah ia pesan tadi.


Sesampainya di rumah, Kay segera membersihkan dirinya dan juga berganti pakaian sebelum menggendong Barra. Memang Kay tadi hanya keluar sebentar, tapi asinya sekarang sudah sangat penuh dan harus segera diminumkan pada Barra.


“Apa Barra tadi rewel Bi?” Tanya Kay pada Bi Lastri.


“Tidak Nyonya. Den Barra pintar dan tidak rewel.” Jawab Bi Lastri.


***

__ADS_1


Sementara itu Vito terlihat sangat kesal saat mendapatkan laporan dari Bram dan memberikan foto istrinya sedang duduk berdua dengan Evan. Memang Bram sudah mengatakan bahwa Kay tidak diapa-apakan oleh Evan. Namun tetap saja Vito sangat kesal dengan istrinya. Terlebih Bram tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Kay dan Bram.


“Awas saja kamu kalau berani macam-macam dengan istriku!” gumam Vito menahan gejolak di dadanya.


Entah kenapa Vito tidak terima dengan perbuatan istrinya yang membiarkan Evan menemuinya dan mengajak bicara berdua. Vito ingin sekali pulang dan meluapkan amarahnya namun harus dia tahan. Mengingat ada Barra yang masih bayi. Dia tidak ingin anaknya mendapat imbas dari pertengkarannya dengan sang istri nanti.


“Sudah jam 10 tapi Mas Vito belum pulang juga.” gumam Kay.


Kay sejak tadi sudah menghubungi suaminya namu sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Kemudian Kay menanyakan keberadaan suaminya pada Arsa. Arsa mengatakan kalau Vito sudah pulang. Mau bertanya pada Bram pun tidak bisa. Karena Bram sejak tadi tidak pergi kekantor Vito.


“Apa Bram melaporkan pada Mas Vito kalau aku tadi bertemu dengan Evan?” gumam Kay ketika menyadari akan hal itu.


Padahal sejak tadi Kay menunggu suaminya pulang dan mengajaknya bicara mengenai pertemuannya dengan Evan tadi siang. Namun sampai saat ini suaminya belum pulang juga.


“Past Mas Vito salah paham.” Gumam Ka lagi.


Kay masih saja belum bisa memejamkan matanya karena suaminya tak kunjung pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tiba-tiba terdengar derap langkah kaki memasuki kamarnya kemudian membuka pintu kamarnya.


“Mas! Kemana saja baru pulang jam segini?” Tanya Kay cemas.


Bukannya mendapat jawaban, Kay melihat suaminya diam dan meletakkan tas kerjanya di atas meja. Setelah itu bergegas masuk ke kamar mandi. Kay pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mau menjelaskan tentang pertemuannya dengan Evan tadi pun situasinya tidak tepat.


Kemudian Kay menuju walk in kloset untuk mengambilkan baju suaminya. Setelah itu Kay memilih merebahkan tubuhnya disamping Barra yang sedang tertidur pulas. Posisi tempat tidur mereka masih sama. Denngan Kay tidur berada di tengah.


Keesokan paginya seperti biasa Kay bangun lebih dulu. Kay melihat posisi tidur Vito yang membelakanginya sambil memeluk guling. Tanpa terasa air mata Kay keluar begitu saja. Tidak tahukah suaminya kalau dirinya yang masih mempunyai seorang bayi yang masih sangat kecil, dan perasaannya begitu sensitif.


Bisa saja akan mengalami baby blues jika terus dibiarkan seperti ini.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Tuh kan mulai lagi deh berulah😂😂


Jgn lupa jejaknya dong reader kesangankuh semuaaaa😘😘🤗🤗


__ADS_2