Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 186


__ADS_3

“Bram, kenapa kamu jalanin mobilnya lelet begini?” umpat Vito pada Bram yang sedang duduk di belakang kemudi.


“Maaf Tuan, memang jalannya sedang macet.” Jawab Bram.


Tidak ada lagi yang bisa diucapkan oleh Vito karena memang benar adanya kalau jalanan menuju rumah sakit selalu macet. Saat ini pikiran Vito benar-benar cemas karena mengkhawatirkan keadaan istrinya yang sedang dilarikan ke rumah sakit akibat kecelakaan. Vito tidak tahu pasti kronologi kecelakaan yang dialami oleh istrinya. Tadi saat mendapat kabar dari pembantu rumahnya kalau baru saja ada pihak kepolisian yang menghubungi dan mengatakan kalau Kay sedang mengalami kecelakaan lalu lintas.


Rasa bersalah kini menyeruak di hati Vito. akibat ulahnya yang mengacuhkan sang istri hingga harus berbuntut panjang dengan menyebabkan Kay terbaring di rumah sakit. Vito berjanji akan menebus semua kesalahan yang dilakukan pada Kay.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Bram sudah sampai di rumah sakit. Vito segera keluar dari mobil tanpa menunggu Bram membukakan pintu. Vito dengan cepat berjalan menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan istrinya. Dan resepsionis itu kalau pasien atas nama Kayola masih berada di ruang UGD. Vito segera melangkahkan kakinya kesana.


Tampak seorang perawat selesai mengobati luka pada pelipis Kay, kemudian membalutnya dengan perban. Keadaan Kay juga terlihat baik-baik saja. Vito merasa lega karena tidak terjadi hal serius pada istrinya.


“Sayang, maafkan aku!” ucap Vito setelah perawat meninggalkan Kay.


“Hmmm” jawab Kay singkat.


Sebenarnya Kay tidak ingin mengacuhkan suaminya, namun dia masih merasakan pusing pada kepalanya hingga menyebabkan dia malas sekali untuk berbicara dan hanya ingin segera tidur. Vito juga melihat wajah istrinya yang masih agak pucat, dia tidak ingin terlalu banyak mengajak bicara dengan Kay.


“Mohon maaf Tuan, karena Ibu Kayola tidak mengalami luka yang serius, jadi tidak harus menjalani rawat inap. Dan boleh pulang sekarang, setelah menebus obatnya ke apotek.” Ucap seorang perawat.


“Iya terima kasih.” Jawab Vito.


“Sayang, tunggu sebentar ya. Aku tebus dulu obatnya.” Ucap Vito dan Kay mengangguk.


Kay merebahkan tubuhnya sebentar sambil menunggu suaminya menebus obat. Tiba-tiba saja ada seseorang masuk untuk melihat keadaan Kay. Orang itu adalah yang tidak sengaja menabrak Kay saat akan menyeberang tadi.


Setelah keluar dari kantor suaminya tadi, Kay menyeberang jalan untuk menuju ke halte. Kay memang berangkatnya naik taksi, jadi dia pulangnya juga naik taksi. Sebelum menyeberang dia sudah memencet tombol penyeberangan. Namun tiba-tiba saja ada seorang pengendara motor yang tidak mendengar dan melihat kalau Kay sedang menyeberang. Akhirnya kecelakaan tidak bisa dihindarkan. Untung saja motor itu tidak melaju dengan kencang. Dan Kay terguling ke jalan dan keningnya membentur aspal.


“Nona, bagaimana keadaan anda?” tanyaa seorang pria menghampiri Kay.


Kay yang tadi berbaring di atas brankar dengan posisi sedikit miring, sontak menoleh dan bangun saat mendengar ada seseorang yang mengajaknya bicara.


“Kay!”

__ADS_1


“Nino!”


Ucapnya bersama. Nino adalah teman Kay semasa SMA dulu. Nino tidak menyangka kalau yang dia tabrak tadi adalah Kay. Teman semasa sekolah dulu. Nino tadi juga tidak menanyakan nama pasien yang mengalami kecelakaan beberapa saat lalu. Dia sangat terburu-buru setelah dari kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya, dia segera datang ke rumah sakit untuk menemui orang yang telah dia tabrak.


“Maafkan aku Kay. Aku nggak tahu kalau yang aku tabrak adalah kamu. Aku tadi buru-buru sekali. Aku akan bertanggung jawab.” Ucap Nino dan Kay tersenyum tipis.


“Nggak apa-apa. Lagi pula aku tidak mengalami cedera yang serius kok. Dan ini sudah diperbolehkan pulang.” Ucap Kay.


“Syukurlah. Tunggu sebentar, aku akan menebus obat kamu dan membayar administrasinya.” Ucap Nino.


“Tidak perlu! Semuanya sudah beres.” Ucap Vito yang baru saja masuk.


“Ayo Sayang kita pulang.” Ucap Vito dengan wajah masam tanpa mempedulikan Nino.


Nino terdiam saat mendengar Vito memanggil Kay dengan sebutan Sayang. Sudah bisa Nino pastikan kalau pria itu adalah suami Kay. Akhirnya Nino hanya diam saja.


“Ehm, maaf Kay. Boleh aku meminta no ponsel kamu? Aku belum bertanggung jawab sama sekali atas perbuatanku.” Ucap Nino sambil menydorkan ponselnya.


“Ya sudah aku pulang dulu No!” pamit Kay.


“Iya. Aku janji akan bertanggung jawab.” Ucap Nino dan Kay hanya tersenyum tipis.


Kini Kay sudah berjalan dengan suaminya keluar rumah sakit. Sebenarnya Vito marah saat melihat istrinya berbicara dan tersenyum dengan seseorang yang telah menabraknya. Bahkan sepertinya Kay juga terlihat akrab dengan pria tadi. tapi Vito berusaha untuk tidak termakan emosi. Lagipula akibat kesalahannya lah yang menyebabkan istrinya harus mengalami kecelakaan.


Mereka berdua sudah memasuki mobil. Bram segera mengantarnya pulang. Hening, tidak ada pembicaraan diantara Kay dan Vito. Kay lebih memilih tidur daripada harus terdiam dengaan mata melihat arah luar.


Sesampainya di rumah, Kay segera masuk. Papanya sudah menyambut kedatangannya yang terlihat begitu khawatir.


“Sayang, kamu nggak apa-apa kan? Papa lega melihat kamu langsung pulang dan tidak harus opname.” Ucap Gio.


“Iya, Pa. Kay baik-baik saja. Hanya luka ringan. Oh iya Barra mana Pa?” Tanya Kay.


“Barra sedang bersama Bi Lastri. Sepertinya baru saja tidur. Lebih baik kamu istirahat dulu.” Ucap Gio.

__ADS_1


Kay mengangguk, kemudian masuk ke kamarnya diikuti oleh Vito. Gio yang melihat wajah masam Vito dan cenderung diam seolah tahu kalau sedang terjadi sesuatu antara anak dan menantunya itu. Namun Gio tidak terlalu ikut campur. Biarkan mereka yang menyelesaikan maslahnya sendiri.


“Selesaikan dengan kepala dingin!” pesan Gio pada Vito sebelum menaiki tangga menuju kamarnya. Dan Vito mengangguk.


Cklek


Vito memasuki kamarnya dan melihat istrinya sedang berbaring di atas ranjang sambil menutup matanya.


“Sayang, minum obatnya dulu. Kamu tunggu ya, aku ambilkan makan. Pasti kamu belum makan.” Ucap Vito meski tidak mendapat jawaban dari Kay.


Vito kembali turun ke lantai bawah untuk mengambilkan istrinya makan. Vito yakin kalau istrinya belum sempat makan siang. Mengingat tadi istrinya datang ke kantor dan membawakan bekal makan siang namun dia acuhkan.


Vito sudah membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih. Kemudian perlahan membangunbkan istrinya. Kay yang tidak tidur sungguhan akhirnya bangun dan segera makan. Selesai makan dan minum obat, Kay kembali merebahkan tubuhnya. Karena jujur saja ia ingin segera istirahat.


“Sayang maafkan aku!” ucap Vito.


“Iya. Sekarang aku mau istirahat dulu Mas.” Ucap Kay dan langsung menutup matanya.


Vito menghela nafas panjang. Lebih baik untuk saat ini dia membiarkan istrinya istirahat. Nanti akan mengajaknya bicara baik-baik jika keadaan Kay sudah membaik.


Vito memutuskan keluar kamar dan tidak kembali lagi ke kantor. dia akan menemui anaknya yang sedang tidur di kamar bawah. Mungkin saat ini dengan melihat Barra, bisa menetralisir segala masalah yang tengah dihadapinya. Begitulah yang ada di dalam benak Vito.


.


.


.


*TBC


Happy reading🤗🤗😘😘


Bijaklah dalam berkomentar!!

__ADS_1


__ADS_2