
Setelah meeting selesai, Delia dan Fadhil segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena setelah mendapatkan tanda tangan kontrak, mereka harus segera memberikan laporannya kepada atasan mereka.
Kini Delia dan Fadhil sudah kembali ke meja kerja masing-masing. Delia mengambil ponselnya dan mengecek barangkali ada pesan dari suaminya. Namun tidak ada pesan yang masuk. Mungkin suaminya sangat sibuk hingga dia lupa mengirim pesan padanya. Begitulah yang dipikirkan Delia.
Kemudian Delia berinisiatif mengirimkan pesan lebih dulu.
“Mas, sudah makan siang kan? Selamat bekerja kembali. I Love U”
Delia sangat senang karena melihat status pada no suaminya online. Dan pesan yang yang dikirim tadi sudah centang biru. Berarti suaminya sudah membacanya. Delia menunggu balasan dari suaminya. Ting..
“YA” Delia mengernyit dengan balasan singkat dari suaminya. “ah mungkin mas Radit sedang sibuk” batin Delia dan dia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Jam pulang kerja sudah tiba. Delia segera keluar kantor, namun suaminya belum datang menjemputnya. Delia menunggu mungkin sebentar lagi suaminya datang. Dan saat sedang menunggu, tiba-tiba mobil Fadhil berhenti disamping Delia.
“mau aku antar Del?” tawar Fadhil keluar dari mobilnya
“eh nggak usah kak, palingan bentar lagi mas Radit datang” tolak Delia
“ya sudah aku temenin kamu nunggu Pak Radit” bukan karena apa-apa Fadhil menemani Delia, dia hanya tidak ingin kejadian penculikan Delia terulang lagi.
“nggak usah kak”
“nggak apa-apa Del, aku nggak mau kamu sendirian disini. Sudah tenang saja”
Akhirnya Fadhil menemani Delia menunggu Radit datang menjemput. Beberapa saat kemudian terlihat mobil Radit sudah datang. Dia mencengkeram setir mobilnya kuat kembali menahan emosi dalam dadanya. Saat mobil sudah berada tepat di depan Delia. Delia segera berdiri dan berpamitan pada Fadhil.
Delia segera masuk ke dalam mobil sendiri tanpa dibukakan pintunya oleh Radit.
“sibuk banget ya mas tadi?” Tanya Delia mengawali pembicaraan
“hmmm” jawab Radit singkat.
Delia heran dengan sikap suaminya yang beda dari biasanya. Padahal pulang kerja sudah sangat capek dan penyambutan suaminya yang tiba-tiba dingin membuat Delia semakin merasa bersalah.
“Mas mampir dulu ke supermarket ya. Aku mau belanja”
“hmmm”
Delia menghela nafasnya pelan dan membuang pandangannya ke arah luar. Lebih baik diam saja daripada bertanya jawabannya juga tetap sama.
Kini mobil Radit sudah berhenti di parkiran. Delia segera membuka pintu mobilnya untuk segera belanja. Dia tidak meminta suaminya untuk mengantar. Dia sudah terbiasa sendiri. Lagipula melihat suaminya yang tiba-tiba aneh, membuat Delia malas untuk menemaninya. Saat tangannya sudah meraih handle pintu, Radit memanggilnya.
“Tunggu” Radit mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu atm diberikan pada istrinya.
“kamu belanja pakai ini. Pinnya ultah kamu”
“nggak usah mas, aku masih ada uang ko’.
“ini sudah kewajibanku menafkahi kamu” jawab Radit yang tiba-tiba meninggikan suaranya.
Delia terperanjak kaget sambil memegangi dadanya. Matanya sudah berkaca-kaca. Baru kali ini Radit membentaknya. Lidah Delia terasa keluh tidak mampu menjawab ucapan suaminya.
Kemudian Delia menerima kartu atm itu dengan tangan gemetar. Radit sebenarnya menyadari akan sikapnya, dan dia juga melihat raut wajah istrinya yang sudah berkaca-kaca.
Namun Radit malah membuang pandangannya ke arah depan. Delia segera pergi berbelanja.
__ADS_1
Radit melihat istrinya berjalan sendiri sambil menundukkan kepalanya dan sesekali tangannya mengusap air mata.
“Shittt!!” umpat Radit yang menyadari telah membentak istrinya.
Kini delia sudah berada dalam supermarket. Dia mengambil sebuah troli dan mendorongnya. Kemudian dia mulai memilih belanjaannya. Mulai dari sayuran, daging segar, bumbu penyedap, dan beberaapa makanan kering serta snack.
Saat Delia sudah selesai berbelanja, tanpa sengaja matanya melihat sebuah outlet yang menjual pakaian dalam wanita.
Delia masuk kesana dan memebeli beberapa pakaian dalam yang memang dia perlukan. Tiba-tiba saja Delia melihat lingerie berwarna hitam yang sangat bagus. Entah dapat bisikan apa hingga Delia mengambil beberapa set lingerie dengan beberapa macam warna kesukaannya.
Kini Delia sudah selesai berbelanja. Setelah membayar, dia segera kembali ke mobil. Belanjaan Deliua sangat banyak sekali hingga dia kesusahan membawanya. Namun tiba-tiba ada anak kecil yang sedang berlari tanpa melihat jalan. Anak kecil itu menabrak Delia dan barang-barang yang dibawanya tadi lepas dari genggaman tangannya.
“maafkan saya nona. Anak saya tadi nggak sengaja menabrak nona” ucap seorang laki-laki yang tak lain ayah dari anak kecil yang menabraknya tadi.
“oh iya nggak apa-apa ko’, namanya juga anak kecil”
Laki-laki itu membantu Delia mengambil belanjaannya yang jatuh. Laki-laki itu mengambil dompet Delia yang juga terjatuh hingga isi dalam dompet Delia ikut terburai.
“ehm.. ini dompet anda nona De lia” ucap laki-laki itu saat tak sengaja melihat ktp Delia
“eh iya maksih mas?”
“saya Gio”
“iya makasih mas Gio”
“sama-sama. Apa perlu saya bantu membawakan belanjaan nona?”
“oh tidak usah. Saya bisa sendiri” dan Delia segera pergi meninggalkan Gio yang masih terdiam
“cantik” gumam Gio sambil tersenyum
Radit melirik istrinya yang sudah duduk disampingnya segera menjalankan mobilnya untuk pulang.
Sesampainya di apartemen Radit yang membawa barang-barang belanjaan. Delia hanya diam saja. Dia berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu.
Setelah masuk ke dalam unit apartemen, Radit meletakkan belanjaan tadi ke dapur kemudian masuk kamar. Delia mengambil paper bag yang berisi pakaian dalamnya dan dibawa ke kamar.
Delia segera masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air buat suaminya mandi. Karena Radit sudah menunggunya. Sebenarnya Delia masih ingat kata-kata suaminya tempo hari yang mengatakan bahwa dirinya harus memandikan suaminya. Namun melihat suaminya yang tiba-tiba aneh, Delia jadi tidak berani untuk menawarkan diri. Biarkan aat ini suaminya mandi sendiri.
“mas airnya udah aku siapin” Radit segera beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi tanpa bicara apapun.
Setelah Delia menyiapkan pakaian suaminya, dia segera pergi ke dapur untuk memasak buat makan malam.
Saat Radit keluar dari kamar mandi dilihatnya Delia tidak ada di kamar. Namun pakaiannya sudah disaipakan. Radit memakainya. Dan tiba-tiba mata Radit tidak sengaja melihat beberapa paper bag di atas meja rias istrinya. Radit penasaran denga isinya. Dia membuka paper bag itu dan tidak menyangka dengan apa yang dibeli istrinya. Radit menarik sudut bibirnya tersenyum. Rupanya istrinya ini mau menggodanya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Radit dengan cepat mengembalikan paper bag itu pada tempat semula dan segera keluar dari kamar. Dan Delia segera masuk ke kamar mandi.
“mas makan malamnya sudah siap” ucap Delia pada suaminya yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
“kamu makan aja dulu. Aku masih kenyang” jawab Radit dingin. Entah kenapa dirinya jadi teringat lagi kejadian tadi siang saat istrinya berada dipelukan Fadhil.
“mas kenapa sih dari tadi ko’ aneh sekali sama aku? Kalau aku memang punya salah mas bilang saja” ucap Delia pelan sambil menahan sesak di dadanya.
“kalau aku bilang masih kenyang berarti aku nggak mau makan sekarang. Makan saja dulu sana1" ucap Radit tegas.
__ADS_1
Dan Delia segera pergi meninggalkan suaminya.
Bukan meja makan tempat yang dituju Delia, justru dia masuk ke kamar. Padahal tadi setelah mandi, perutnya sudah sangat lapar. Namun sekarang rasa lapar itu sudah hilang begitu saja.
Radit masih duduk di sofa ruang tamu. Dia akan menunggu istrinya keluar dari dapur setelah itu baru dia akan makan. Dia tadi bohong bilang masih kenyang. Padahal perutnya sudah terasa lapar.
Namun beberapa saat menunggu, dia tak juga mendengar tanda-tanda istrinya keluar dari dapur. Radit segera menuju dapur, namun di dapur tidak ada siapa-siapa. Dan melirik ke meja makan. Disana makanannya masih utuh belum tersentuh sama sekali. Lantas kemana istrinya. Apa Delia tidak makan.
Radit segera meninggalkan dapur dan masuk ke kamar. Dan benar saja istrinya sedang meringkuk di atas tempat tidur dengan posisi membelakanginya.
“kenapa kamu nggak makan?”
“aku belum lapar mas” ucap Delia dengan suara sedikit bergetar
“ohh makan siangmu dengan Fadhil masih cukup membuatmu kenyang sampai sekarang ya? Atau saat menungguku tadi kamu habis makan dengan Fadhil lagi?” Tanya Radit sinis.
“apa maksud mas Radit tiba-tiba bawa kak Fadhil?” Delia bangun dari tidurnya dan mengusap air matanya
“kamu nggak usah pura-pura nggak tahu. Enak ya siang-siang panas-panas berada dalam pelukan seorang laki-laki di parkiran restaurant. Ingat Del statusmu sudah bersuami!!”
Delia mengingat kejadian tadi siang saat dirinya hampr jatuh kalau saja Fadhil tidak menolongnya. Dan rupanya suaminya tdi juga berada disana dan melihat kejadian itu. Radit sudah salah paham.
“mas kamu salah paham. Tadi kak Fadhil hanya menolongku karena aku hampir sja terjatuh”
“aku nggak butuh alasan kamu”
“terus aku harus jelasin bagaimana lagi? Bagaiman kalau mas Radit berada di posisi kak Fadhil. Apa mas akan membiarkan aku begitu saja terjatuh? Dan tadi kak Fadhil menemaniku menunggu kamu datang karena dia nggak mau ada kejadian lagi saat dulu aku diculik-“ Delia tidak melanjutkan ucapannya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis. Dia teringat kejadian penculikan itu.
Radit terkejut dengan ucapan istrinya. Sungguh dia benar-benar bodoh dan cemburunya tak beralasan. Dia menghampiri istrinya yang massih menangis.
“sayang maafkan aku. Tolong maafkan aku. Aku tadi sangat cemburu melihat kedekatan kamu dengan Fadhil”
“cemburu?? Bahkan aku sudah lebih kenal dengan kak Fadhil jauh sebelum kita dekat mas. Cemburumu sangat tidak beralasan” Delia masih terisak.
“iya sayang tolong maafkan aku. Aku janji nggak akan seperti itu lagi. Please jangan nangis lagi sayang”
Radit memeluk istrinya agar berhenti menangis. Radit menyesali perbuatannya yang sudah mengabaikan istrinya hanya karena cemburu. dan lebih parahnya lagi dia sudah membentaknya.
“maafkan aku sayang. Maafkan aku tadi sudah membentak kamu. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi” Radit mengeratkan pelukannya sambil menciumi pucuk kepala istrinya. Dan setelah itu tangis Delia reda.
“ya sudah ayo kita makan malam bersama. Keburu makanannya dingin” ajak Radit pada istrinya.
Akhirnya mereka berdua sudah kembali berdamai. Dan kini sedang menikmati makan malam bersama.
Selesai makan seperti biasa Delia membereskan sisa-sisa makanannya dan mencuci peralatan makannya. Radit menghampiri istrinya yang sedang berdiri dekat wastafel.
“sayang, aku tunggu 10 menit ya kamu masuk ke kamar dulu” ucap Radit sambil melingkarkan tangannya di perut Delia
“memangnya kenapa mas?”
“aku mau kamu pakai yang warna hitam” bisik Radit tepat di telinga istrinya.
“maksudnya mas?” Delia masih belum paham dengan ucapan suaminya
“kamu pakai lingerie yang warna hitam yang baru saj kamu beli tadi” bisiknya lagi. Dan seketika itu wajah Delia memerah. Ternyata suaminya tahu kalau dirinya tadi membeli lingerie.
__ADS_1
*TBC
*_author newbie_💕💕