
Pagi ini hari minggu, Barra bangun pagi jam 6. Seperti biasanya laki-laki itu akan menyempatkan diri untuk jogging. Karena selain hari sabtu dan minggu dia belum tentu sempat melakukannya. Mengingat pekerjaan di kantor Papanya yang cukup padat.
Setelah mencuci mukanya, Barra mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian khas yang sering dia gunakan untuk jogging. Yaitu kaos putih lengan pendek dan celana olahraga pendek di atas lutut. Sehingga nampaklah guratan otot kekar di lengan dan paha Barra. Dan terakhir dia memakai sepatu.
Barra melakukan jogging di sekitar kompleks perumahannya. Karena hari ini hari minggu, suasana jalanan pun tampak ramai dengan orang-orang jogging juga. banyak perempuan yang pandangannya tertuju pada Barra. Terutama pada ketampanan laki-laki itu. Namun Barra tampak cuek dengan para mata yang memandangnya penuh damba.
Barra hanya jogging sekitar 30 menitan saja. Setelah itu dia kembali ke rumah. Saat akan masuk ke kamarnya, tanpa sengaja dia melihat mamanya sedang sibuk mengolah sesuatu di dapur. Barra ingat semalam telah membuat mamanya kecewa. Dia paling tidak bisa jika diacuhkan oleh mamanya. Kemudian Barra diam-diam menghampiri mamanya ke dapur.
“Hmmm…. Baunya sedap sekali. Barra jadi lapar nih” ucap Barra tiba-tiba sambil bergelayutan di pundak sang mama.
Kay yang tiba-tiba mendapat pelukan dari anak laki-lakinya, sedikit menarik bibirnya ke atas. Kay tahu kalau Barra paling tidak suka jika didiamkan olehnya. Dan dia tahu kalau sikap Barra bergelayutan seperti ini pasti dia berusaha untuk mengambil hatinya.
“Masak apa sih Ma?” Tanya Barra lagi dengan posisi yang belum berubah karena melihat mamanya masih diam.
“Sudah tahu juga masih Tanya.” Jawab Kay.
“Kalau gitu biar Barra yang nyicipin dulu, sudah pas belum rasa udang asam manis buatan Mama.” Ucap Barra sambil tangannya terjulur untuk mengambil masakan yang masih panas itu.
“Cuci tangan dulu!” ucap Kay sambil memukul pelan tangan Barra.
Barra tersenyum mendapat pukulan dari mamanya. Itu berarti mamanya sudah tidak lagi marah dengannya. Kemudian dia segera mencuci tangan sesuai dengan instruksi sang mama. Setelah itu duduk di meja makan dan Kay mengambilkan makanan untuk Barra.
Kay bahkan tidak hanya mengambilkan Barra udang namun sekalian dengan nasinya. Dia tahu kalau putra selesai jogging dan pasti sangat lapar.
“Kalau ini sih bukan nyicipin Ma.” Ucap Barra saat sudah ada sepiring nasi di hadapannya.
“Siapa tadi yang bilang lapar? Kalau nggak mau biar dimakan sama Jenny saja.” Ucap Kay dan kebetulan Jenny juga baru duduk di meja makan.
“Wow enak sekali sepertinya!” ucap Jenny yang tampak berbinar.
“Eits, ini punyaku. Lagian tadi Mama yang sengaja mengambilkan buat aku. sana ambil sendiri.” Ucap Barra.
“Kan Mama tadi sudah bilang kalau Kak Barra nggak ma uterus mau dikasihkan ke aku.” jawab Jenny.
“Tapi aku kan belum bilang apa-apa. Dah sana, masih bau jigong juga sudah main nyelonong ke meja makan. Jorok!” ucap Barra sekaligus meledek.
__ADS_1
Kay yang melihat putra dan putrinya adu mulut hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun dia juga bahagia melihat kedekatan kakak beradik itu. Meskipun terkadang seperti tikus dan kucing, namun mereka saling menyayangi.
Akhirnya Jenny mengalah dengan kakaknya. Walau sebenarnya nasi itu memang buat Barra. Kemudian Jenny memilih untuk cuci tangan terlebih dulu setelah itu kembali ke meja dan mengambil nasi sendiri. Beberapa saat kemudian disusul oleh Vito dan juga Gio untuk sarapan pagi bersama.
“Bar, nanti antar mama dan adik kamu ke butik. Papa dan Opa akan pergi.” Ucap Vito di sela-sela kegiatan sarapannya.
“Iya, Pa.” jawab Barra.
Barra tahu kalau setiap hari minggu dirinya memang sengaja meluangkan waktunya untuk keluarga. Dan dia lebih sering menghabiskan waktunya di butik Mamanya yang saat ini ditangani oleh Jenny, adiknya.
“Oh iya Ma, nanti akan Jenny kenalin sama designer muda yang menang dalam peragaan busana kemarin. Katanya nanti dia akan main ke butik karena dia baru tahu kalau aku anak dari designer terkenal yaitu Nyonya Kayola.” Ucap Jenny menekankan nama mamanya.
“Oh ya? Siapa? Apa mama sudah mengenalnya?” Tanya Kay antusias.
“Namanya Kak Carissa Ma. Usianya masih muda tapi dia sangat berbakat sekali. Jenny ingin seperti Kak Carissa. Sudah cantik, pintar lagi.” Ucap Jenny sambil memuji sosok Jenny.
Ketiga orang laki-laki yang masih berada di meja makan hanya tersenyum tipis mendengarkan obrolan Kay dan Jenny.
Tapi berbeda dengan Barra saat mendengar nama Carissa disebut, dia seperti merasa ada yang aneh dengan hatinya. Tapi entah itu apa, tapi yang pasti membuat detak jantung Barra berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Nanti siang aku akan ke butik milik salah satu designer yang cukup terkenal di kota ini. apa Mas bisa menemaniku?” Tanya seorang perempuan di balik sambungan teleponnya.
“…..”
“Papa dan Mama tidak ada di rumah. Mereka akan menghadiri acara pernikahan anak temannya.” Ucapnya lagi.
“…..”
“Ya sudah nggak apa-apa Mas. Aku juga nggak maksa kok. Biar nanti aku naik taksi saja. Ya sudah kamu hati-hati di jalan.” Jawabnya setelah itu mematikan sambungan teleponnya.
Hari ini sesuai janjinya dengan Jenny, Carissa akan datang ke butiknya. Carissa baru tahu kalau Jenny adalah anak dari designer terkenal yang bernama Kayola. Carissa sangat senang karena nanti dia bisa belajar lebih banyak lagi dengan mamanya Jenny.
Saat Carissa meminta kekasihnya untuk mengantar ke butik Jenny, dia sedikit kecewa karena sang kekasih ada kepentingan mendadak dan tidak bisa mengantarnya. Tapi Carissa juga tidak terlalu ambil pusing. Kemudian dia memilih untuk berangkat sendiri dengan naik taksi. Meskipun di rumahnya ada mobil, namun kedua orang tua Carissa tidak memperbolehkannya menyetir sendiri.
Kini Carissa sudah tiba di butik milik Jenny. Dia sungguh takjub dengan butik Jenny yang sangat besar. Dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan butik miliknya. Tapi hal itu tidak menjadikan Carissa minder. Dia justru senang, bisa menimba ilmu dari si pemilik butik agar bisa mengembangkan butiknya seperti butik milik mama Jenny.
__ADS_1
“Hai Kak!” sapa Jenny saat Carissa baru saja masuk.
“Eh, hai Jen. Apa kabar kamu?” Tanya Carissa basa-basi.
“Aku baik, Kak. Yuk masuk! Mama sudah ada di dalam.” Ajak Jenny.
Keduanya berjalan memasuki ruangan diaman Kay sedang menunggu disana. Pandangan Carissa tertuju pada beberapa model pakaian yang sanagt bagus. Dia sungguh takjub dengan hasil design baju-baju pada butik itu.
“Bagus-bagus ya Jen hasil rancangan mama kamu.” Puji Carissa.
“Iya Kak. Design baju Kak Carissa juga bagus kok.” Jawab Jenny.
“Tapi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan designku.” Ucap Carisssa lagi.
Jenny hanya tersenyum menanggapi Carissa yang masih tampak takjub dengan baju-baju hasil rancangan mamanya. Kemudia mereka sudah memasuki ruangan khusus yang memang diperuntukkan untuk tamu.
Saat Jenny membuka pintu, keduanya masuk begitu saja. Disana sudah ada Kay yang sedang tersenyum menyambut Carissa. Namun pandangan Carissa tertuju pada seorang laki-laki yang sedang duduk tidak jauh dari Kay dan terlihat sedang sibuk dengan gadgetnya.
“Ayo silakan duduk!” ucap Kay mempersilakan.
Barra seketika mengangkat kepalanya dan melihat seorang perempuan yang sedang berjalan ke arahnya. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu.
Deg
Deg
Deg
.
.
.
*TBC
__ADS_1