
Setelah beberapa minggu liburan di luar kota, kini hati Carissa sudah lebih sedikit sembuh dari luka yang ditorehkan oleh laki-laki yang sempat singgah di hatinya. Jujur saja Carissa dulu sempat menaruh hati pada Barra, saat dirinya masih berstatus kekasih Dhefin. Carissa juga tidak tahu bagiamana bisa rasa cinta itu muncul di saat yang tidak tepat.
Namun itu dulu. Tidak untuk sekarang. atau mungkin selamanya. Karena perbuatan Barra yang telah mengambil sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya, hingga meninggalkan trauma dan membuat Carissa sangat membenci laki-laki itu.
Hari ini Carissa mulai membuka lembaran baru dalam hidupnya. Dia sudah bertekat akan menekuni usaha butiknya saja. Dia tidak ingin lagi menjalin sebuah hubungan asmara dengan seseorang. Biarkan saja dia tidak menikah, toh di luar sana banyak orang yang memutuskan untuk tidak menikah nyatanya mereka juga bisa hidup bahagia.
Carissa sudah memegang pensilnya dan sudah ada lembaran kertas kosong yang sudah siap untuk ia coreti dengan beberapa sketsa baju yang nantinya akan di produksi di butiknya.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar sejenak menghentikan gerakan Carissa dalam membuat sketsa untuk baju pengantin yang akan dia rancang.
“Masuk!” ucapnya.
“Maaf Non, di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan Non Carissa.” Ucap salah satu karyawan.
“Siapa?” Tanya Carissa heran.
“Saya kurang tahu Non. Beliau seorang ibu-ibu.” Jawabnya.
Akhirnya Carissa meminta tamunya segera masuk ke dalam ruangannya. Carissa menanyakan pada karyawannya karena khawatir jika yang ingin bertemu dengannya adalah Barra ataupun Dhefin.
“Tante?” Carissa sungguh terkejut saat melihat Kay yang datang ke butiknya.
“Carissa. Maaf mengganggu waktu kamu.” Ucap Kay.
Dengan terpaksa akhirnya Carissa mempersilakan Kay untuk duduk di sofa yang ada di dekat meja kerjanya. Mau bagaimanapun juga dia masih menghormati wanita itu sebagai tamu, terlepas dari perbuatan anaknya pada dirinya.
“Bagaimana kabar kamu Carissa?” Tanya Kay.
“Rissa baik Tante. Tante bagaimana?” Tanya Carissa basa-basi.
“Tante baik.” Jawab Kay.
Keduanya terdiam beberapa saat. Carissa tidak tahu apa yang harus dibicarakan lagi. Sementara Kay masih bingung bagaimana caranya berbicara dari hati ke hati dengan Carissa mengenai perbuatan Barra.
“Carissa, kedatangan Tante kesini untuk minta maaf.” Ucap Kay.
“Minta maaf?” Tanya Carissa.
__ADS_1
“Maaf atas perbuatan Barra. Tante sebagai orang tua Barra sangat menyayangkan perbuatan anak Tante yang tidak bermoral itu. Namun percayalah, Barra melakukan itu semua atas dasar terpaksa. Bahkan Barra sangat menyesali perbuatannya. Jadi tante mohon pada kamu beri kesempatan Barra untuk menebus semua kesalahannya itu.” Ucap Kay.
“Carissa sudah berusaha melupakan itu semua Tante walau masih membekas di ingatan Carissa.” Jawab Carissa.
“Iya. Tante mengerti apa yang kamu rasakan. Tante mohon Carissa, biarkan Barra mempertanggung jawabkan perbuatannya untuk menebus kesalahannya.” Ucap Kay.
“Maaf Tante. Carissa nggak bisa!” ucap Carissa.
“Carissa, apa kamu tahu bahwa sejak lama Barra sudah mencintaai kamu. Tapi dengan perbuatan Barra seperti itu jangan kamu anggap bahwa Barra melakukannya agar bisa menjadikan kamu milikinya. Barra benar-benar menyesal. Tolong beri anak Tante kesempatan untuk menebus kesalahannya.” Ucap Kay memohon.
“Maaf Tante. Carissa masih sibuk. Lebih baik Tante keluar dari ruangan Carissa sekarang juga!” ucap Carissa dengan nada sedikit meninggi.
Kay tersentak saat mendengar Carissa mengusirnya dengan nada suara tidak biasa. Kay meneteskan air matanya. apakah memang kesalahan Barra sungguh tak pantas mendapatkan maaf dari Carissa. Sepertinya Carissa sudah menutup pintu hatinya untuk Barra.
Carissa masih membuang mukanya setelah mengusir Kay. Jujur saja dia juga menyesal telah berkata kasar pada wanita seusia mamanya itu. Sedangkan Kay mencoba menahan sesak di dadanya kemudian berdiri dan keluar dari ruangan Carissa tanpa mengucapkan sesuatu.
Kini perasaan Carissa berkecamuk. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu pada seorang wanita yang harusnya ia hormati seperti mamanya sendiri. Masalahnya hanya dengan Barra, bukan dengan Mamanya.
Tiba-tiba saja terdengar dering ponsel di atas meja yang suaranya sangat asing bagi Carissa. Kemudian Carissa melihat ponsel siapa yang berdering itu. Dan ternyata milik Kay yang tertinggal. Dengan cepat Carissa mengambil ponsel itu dan membawanya keluar. Mungkin Kay belum pulang dan masih berada di depan butik.
Carissa keluar dari ruangannya sedikit berlari. Dari dalam butiknya melalui pintu kaca besar, Carissa dapat melihat Kay baru saja keluar. Kemudian dia segera menyusul Kay.
“Tante!” panggil Carissa namun Kay tidak mendengarnya.
Tiba-tiba saja Carissa melihat sebuah mobil dengan kecepatan penuh akan menabrak Kay. Carissa melihatnya berusaha mengejar Kay.
“Tante awas!!!!”
Kay mendengar teriakan Kay sangat dekat dengan posisi dirinya. Setelah itu dia merasakan badannya terdorong cukup keras ke tengah jalan dan kepalanya membentur trotoar. Setelah itu terdengar bunyi gesekan rem mobil. Kay merasakan dejavu, setelah itu jatuh pingsan.
Ckiiitttttt
Mobil yang berniat menabrak Kay kini ternyata tidak berhasil. Kay selamat dari maut. Namun yang membuat si pengemudi sangat shock adalah seorang perempuan yang terpental cukup jauh akibat ulahnya sendiri.
Sesaat kemudian banyak orang berkerumun dan segera melarikan korban ke rumah sakit. Sedangkan seorang pria yang berada di dalam mobil itu kini merasakan tubuhnya bergetar hebat dengan keringat membasahi tubuhnya.
Dhefin tidak menyangka jika perbuatannya ingin menabrak Kay telah gagal. Justru dirinya menabrak seorang perempuan yang sangat dia cintai. Bayang-bayang Dhefin teringat dengan perkataan Papanya sebelum dia mempunyai niatan untuk membalaskan dendam mamanya.
“Apa kamu tahu kalau Mama kamu dulu berusaha membunuh Tante Kay? Ini semua salah Papa Fin. Nggak ada hubungannya dengan Tante Kay. Karena Tante Kay tidak pernah mencintai Papa.” Ucap Rey beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
“Tidak! Tidak mungkin. Aku bukan pembunuh. Aku bukan pembunuh.” Gumam Dhefin dengan suara bergetar.
***
Sementara itu Kay dan Carissa kini sudah dibawa ke rumah sakit. Barra, Vito, dan kedua orang tua Carissa juga sudah berada di sana. Mereka semua sangat terkejut saat mendengar kecelakaan yang menimpa Kay dan juga Carissa.
“Ada apa Bar?” Tanya Xavier yang ternyata juga sedang ada di rumah sakit.
“Carissa dan Mama kecelakaan.” Jawab Barra.
Xavier juga sangat terkejut mendengarnya. Akhir-akhir ini dia memang tidak pernah mendengar kabar tentang Carissa. Namun saat dirinya akan menanyakan penyebab kecelakaan Carissa, tiba-tiba saja dokter keluar dari ruangan pemeriksaa.
“Untuk pasien yang seorang ibu-ibu masih belum sadarkan diri akibat benturan di kepalanya. Dan untuk pasien yang satunya, saya mohon maaf karena janinnya tidak bisa diselamatkan.” Ucap dokter dan membuat semua orang disana terkejut mendengarnya.
“Maksud dokter?” Tanya Silvia.
“Sekali lagi saya mohon maaf tidak bisa menyelamatkan janin yang tengah dikandung pasien. Saat ini pasien sangat kritis, dan membutuhkan donor darah secepatnya.” Ucap dokter lagi.
Mereka semua sejenak melupakan kenyataan bahwa Carissa sebelumnya sedang hamil. Saat ini yang penting ada mencari donor darah untuk menyelamatkan nyawanya.
“ambil saja darah saya dok!” ucap Silvia.
“Baiklah. Silakan ke ruangan sebelah sana.” Perintah dokter.
Semua orang berharap Carissa segera tertolong. Termasuk Barra yang sangat khawatir. Ditambah lagi dengan berita bahwa janinnya tidak bisa diselamatkan. Berarti Carissa mengandung anaknya.
“Mohon maaf, apa disini ada yang mempunyai golongan darah AB? Karena kedua orang tua pasien tidak memiliki golongan darah yang sama.” Ucap dokter dan membuat semua orang terkejut sekaligus bertanya-tanya.
“Papa saya memiliki golongan darah AB dok!”.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar, like, vote dan giftnya ya.
__ADS_1
Maaf jika td hanya up 1bab karena authornya lg meriang nih... merindukan kasih sayang, ea ea ea🤣🤣🤣✌️✌️