
Kini usia Barra sudah tujuh bulan. Bayi laki-laki tampan buah cinta Kay dan Vito itu tumbuh sehat dan badannya berisi. Tingkahnya juga sudah semakin aktif dan mulai belajar merangkak. Kay dan Vito beruntung bisa menjadi orang tua yang selalu memantau perkembangan anaknya. memang keduanya disibukkan dengan pekerjaan, namun mereka selalu meluangkan waktu untuk anak semata wayangnya. Tidak jarang Vito mengajak anak dan istrinya untuk jalan-jalan di saat weekend. Selain untuk menghilangkan penat, mereka juga ingin menjalin kedekatan dengan sang anak.
Sebenarnya oma dan opa mereka sangat ingin menemui cucunya, namun baik Delia dan Radit masih memiliki kesibukan yang belum bisa ditinggalkan. Kay dan dan Vito tidak mempermasalahkannya karena jarak tempat tinggal mereka juga sangat jauh. Namun Delia dan Radit tidak pernah absen melakukan panggilan video call hanya untuk melihat bagaimana keadaan cucunya.
Bulan depan kebetulan bertepatan dengan akhir tahun. Vito berencana mengajak istrinya untuk berkunjung ke rumah Mommy dan Daddynya. Kay sangat senang mendengar ajakan sang suami. Karena dia juga sangat merindukan kedua orang tuanya. Barra juga sudah bisa diajak untuk melakukan perjalanan udara.
“Terima kasih ya Mas. Aku sangat senang mendengarnya.” Ucap Kay sambil memeluk suaminya.
“Iya. Tapi jangan katakan pada Mommy dan Daddy. Kita buat kejutan saja untuk mereka.” Ucap Vito.
“Iya, aku juga setuju dengan ide itu.” Jawab Kay antusias.
***
Seperti biasa rutinitas Vito setiap hari bekerja dengan diantar jemput oleh Bram. Keadaan perusahaan Vito berjalan dengan normal seperti biasa. Vito sekarang tidak pernah pulang telat dan sering tepat waktu. Mengingat jadwal meeting yang diajukan pada Arsa agar tidak melebihi jam pulang kerja. Karena dia ingin memiliki banyak waktu dengan keluarganya. Vito juga memberikan waktu untuk Arsa dengan kekasihnya. Termasuk pada Bram juga. semenjak Vito mengetahui hubungan Bram dengan Desi dan sesuai dengan saran dari istrinya, Vito memberikan waktu pada keduanya untuk lebi dekat. Bram yang mendapat lampu hijau dari tuannya pun sangat senang dan berterima kasih banyak pada Vito.
“Bram, bulan depan bertepatan dengan libur akhir tahun. Aku bersama istri dan anakku akan berlibur ke rumah mertua di kota B. jadi kamu punya banyak waktu untuk berkencan dengan kekasihmu.” Ucap Vito.
Bram yang mendengar pun sangat senang. Karena sejak kemarin dia memikirkan cara untuk meminta ijin pada Vito untuk cuti bekerja. Bram berencana bulan depan akan bertandang ke kediaman orang tua Desi yang ada di kota B. karena Bram akan melamar Desi.
“Apa kamu tidak senang mendapatkan libur dariku?” tanay Vito karena melihat Bram masih terdiam.
“Tidak Tuan. Ah maksud saya sangat senang. Ehm, kebetulan saya juga mau ke kota B bulan depan saat libur akhir tahun.” Ucap Bram.
“Bukankah Desi tinggal disini? Kenapa kamu ikut ke kota B?” Tanya Vito heran.
“Begini Tuan. Saya berencana akan melamar Desi langsung pada orang tuanya. Dan bolehkah saya meminta bantuan Tuan?” ucap Bram sekaligus bertanya pada Vito.
“Aku ikut senang mendengarnya. Kamu gercep sekali dan sangat gentle Bram. Lalu kamu mau minta bantuan apa?” Tanya Vito.
“Kalau anda tidak keberatan, mau kah Tuan bersedia menjadi wali saya saat melamar Desi nanti? Karena saya sudah lama hidup sendiri dan tidak mempunyai keluarga maupun saudara.” Ucap Bram.
__ADS_1
“Dengan senang hati aku bersedia menjadi wali kamu Bram. Kamu tidak perlu khawatir. Anggap saja aku ini bagian dari keluarga kamu.” Ucap Vito dan Bram sangat berterima kasih akan hal itu.
Selepas kepergian Bram dari ruangannya, Vito masih memikirkan tentang kehidupan Bram yang selama ini tidak punya keluarga. Sungguh malang sekali nasib pria itu. Vito juga sangat salut dengan kegigihan Bram dalam menjalani hubungannya dengan Desi. Bram sangat gentle dalam membuktikan keseriusannya pada Desi dengan melamarnya secara langsung. beda sekali dengan dirinya dulu yang terlalu lama memendam perasaannya pada perempuan yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Tapi Vito tetap bangga karena pada akhirnya Kay berhasil jatuh ke pelukannya.
Tok tok tok
Arsa masuk ke ruang kerja Vito setelah Vito mempersilakannyaa masuk. Arsa mengatkan kalau ada tamu yang ingin bertemu dengan dirinya. Kemudian Vito menyuruh Arsa keluar dan mempersilakan tamunya masuk.
“Selamat siang Tuan Vito!” sapa seorang pria yang baru saja masuk ruangannya.
“Ada apa kamu kesini?” Tanya Vito dingin.
“Bukannya jawab sapaanku, malah bertanya. Ayolah Vit bukankah kita sudah berjanji akan berteman.” Ucapnya lagi.
Vito menghela nafasnya panjang. Memang benar dia sudah berjanji untuk berteman dengan pria yang dulu pernah menjadi rivalnya yaitu Rey. Baiklah Vito akan menjalin hubungan baik dengan pria itu. Dia percaya kalau istrinya sama sekali tidak pernah mencintai pria di hadapannya kini. Ndan Vito juga berusaha untuk percaya pada Rey kalau dia sudah tidak pernah mengharapkan istrinya lagi.
“Ok ok baiklah. Silakan duduk. Ada apa kamu datang kesini?” Tanya Vito.
“Aku sudah baca. Tapi keputusannya kamu tunggu saja setelah asistenku membacanya. Karena aku juga membutuhkan persetujuan darinya.” Ucap Vito.
“Ayolah Vit tanda tangani saja proposal itu. Bukankah kamu pemilik perusahaan ini? kenapa harus nunggu asisten kamu segala sih?” Tanya Rey.
“Mau nunggu atau tidak akan ada kerjasama sama sekali?” ancam Vito.
“Ok baiklah. Aku akan sabar menunggu. Kalau begitu aku pamit dulu.” Pamit Rey dan Vito mengangguk.
***
Kini hari libur akhir tahun telah tiba. Kay sudah mempersiapkan baju-baju yang akan dia bawa untuk berkunjung selama beberapa hari di kota B. Kay juga sangat senang saat mendengar kabar dari suaminya kalau Bram akan melamar Desi di saat dirinya juga akan berlibur ke kota B. jujur saja Kay sangat senang melihat hubungan Bram dan Desi yang semakin mendekati halal.
“Sayang sudah siap?” Tanya Vito dengan pakaian yang sudah rapi sambil menggendong Barra.
__ADS_1
“Iya Mas sudah. Ayo kita berangkat.” Ucap Kay.
Setelah berpamitan pada Papanya, Kay dan Vito segera menuju bandara dengan diantar oleh Bram. Bram tidak ikut berangkat hari ini karena Desi masih sibuk di butik yang hari ini terakhir buka. Besok baru bisa berangkat ke kota B.
“Hati-hati dalam perjalanan Tuan, Nyonya!” ucap Bram saat sudah sampai bandara.
“Iya terima kasih Bram. Kamu juga besok hati-hati dalam perjalanan. Kamu besok langsung ke rumah Mom Delia saja tidak perlu menginap di hotel.” Ucap Kay.
“Iya Nyonya. Terima kasih banyak. Kalau begitu saya pamit pulang dulu.” Pamit Bram.
Akhirnya pesawat yang Kay dan Vito tumpangi take off menuju kota B. ini adalah pertama kalinya Barra diajak melakukan perjalanan udara. Bayi berusia 8 bulan itu tampak aktif sekali saat berada di dalam pesawat. Senyum ceria juga mengembang dari bibirnya.
Perjalanan kurang lebih selama satu jam, akhirnya Kay beserta anak dan suaminya sudah tiba di kota B. Kay dan Vito segera menuju rumah orang tuanya dengan mengendarai taksi.
Karena bertepatan kepulangannya hari ini adalah weekend, jadi kedua orang tuanya pasti ada di rumah. Kay tidak bisa membayangkan saat melihat keterkejutan Mommynya saat kedatangan cucunya.
Taksi yang mengantar Kay dan Vito sudah tiba di depan gerbang rumahnya. Kay segera masuk dan memencet bel rumah. Kebetulan Barra juga sudah bangun. Bayi itu tampak akif dan terus berceloteh.
Cklek
Pintu terbuka dan menampilkan sosok Delia yang berdiri mematung di depan pintu.
“Barra!!! Cucu oma!!!” teriak Delia.
.
.
.
*TBC
__ADS_1