Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 205


__ADS_3

Dhefin bingung dengan sikap sahabatnya yang menurutnya begitu aneh. Datang tiba-tiba dan pergi begitu saja sebelum sempat duduk. Akhirnya Dhefin pun tidak terlalu memikirkannya. Dia segera melanjutkan pekerjaannya.


Barra akhirnya memutuskan untu datang ke kantor Xavier. Moodnya sudah buruk, kini ditambah lagi dengan kenyataan tentang apa yang dilakukan oleh Dhefin selama berpacaran dengan Carissa.


Kedatangan Barra untuk pertama kalinya ke kantor Xaivier disambut hangat oleh laki-laki itu. Meski dia sedikit terkejut karena Barra datang lebih awal dan sendirian. Seolah bisa membaca raut muka Barra, Xavier yang sudah menganggap Barra sahabatnya, akhirnya menanyakan tentang apa yang telah terjadi padanya. Xavier juga bisa melihat bekas memar di pipi Barra seakan telah terjadi sesuatu.


Akhirnya Barra menceritakan pada Xavier tentang hubungannya dengan Astrid yang ditentang oleh kedua orang tuanya. Hingga berimbas mendapat tamparan dari Papanya setelah mengetahui dirinya mentransfer uang 200 juta pada kekasihnya.


“Mungkin memang bukan karena uang 200 juta yang membuat Papa kamu murka Bar. Cobalah tanyakan ada apa sebenarnya. Lagi pula Papa kamu tidak akan miskin kalau hanya kehilangan uang senilai itu. Pasti ada sesuatu hal yang tidak kamu ketahui.” Ucap Xavier bijak.


“Nggak ada. Sejak dulu Papa dan Mama memang nggak setuju dengan hubunganku dengan Astrid. Padahal mereka bisa lihat sendiri kalau kinerja Astrid di kantor sangat baik. Apa itu tidak cukup membuktikan kalau Astrid perempuan baik-baik.” Sanggah Barra.


“Ya memang. Tapi tetap saja kamu harus membicarakannya dengan kepala dingin. Dan pesanku jangan sekali-kali melukai hati seseorang yang telah melahirkanmu kalau kamu tidak mau menyesal nantinya.” Ucap Xavier.


“Ya, terima kasih atas saran dan nasehat kamu.” Ucap Barra.


Barra merasa sedikit lega setelah menceritakan keluh kesahnya pada Xavier. Barra salut dengan sikap bijaksana Xaiver yang usianya jauh lebih mudah darinya tapi pemikirannya bisa jauh di atasnya.


Mereka berdua pun akhirnya makan siang bersama di dalam ruangan Xaiver sebelum melakukan meeting. Sekali lagi Barra sangat berterima kasih pada Xavier atas sambutannya untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di perusahaan keluarga Darandra.


***


Setelah meeting di perusahaan Xavier, Barra dan Iqbal kembali ke kantor. sebelum masuk ke ruangannya, Barra menyempatkan diri untuk datang ke ruangan Astrid karena sampai sekarang ponsel Astrid masih belum aktif. Dan saat sudah ada di ruangan Astrid, ternyata ruangan itu kosong tak berpenghuni. Akhirnya Barra bertanya pada salah satu rekan kerjanya tentang keberadaan Astrid. Dan temannya menjawab kalau hari ini Astrid tidak masuk kerja dan itu pun tanpa alasan. Akhirnya Barra masuk ke ruangannya. Dia sangat khawatir pada Astrid. Apa yang sebenarnya terjadi padanya. Mungkin nanti saat jam pulang kerja dia akan mendatangi apartemennya.


***


Sementara itu Dhefin sudah menyelesaikan pekrjaan kantornya lebih cepat. Dia segera keluar dari kantor dan ingin pergi ke butik Carissa. Entah kenapa tiba-tiba saja dia merindukan kekasihnya itu.


Dhefin masuk ke ruangan Carissa saat perempuan itu tengah sibuk dengan pekerjaannya. Dhefin melihat wajah cantik Carissa yang begitu serius dengan pekerjaannya.


“Ehm, sibuk banget ya sampai ada orang masuk tidak peduli.” Ucap Dhefin yang kini sudah berdiri di samping Carissa.

__ADS_1


“Eh, Mas maaf aku terlalu fokus. Lagian kamu tidak mengetuk pintu sih.” Jawab Carissa.


“Aku sudah lama mengetuk pintu loh. Kamu saja yang sudah nggak peduli lagi sama aku.” ucap Dhefin cemberut.


“Iya iya maaf. Gitu aja ngambek.” Ucap Carissa.


Akhirnya Carissa meletakkan pensilnya dan mengajak Dhefin duduk di sofa. Carissa sangat senang dengan kedatangan Dhefin ke butiknya. Itu membuktikan kalau Dhefin adalah laki-laki yang sangat peduli padanya.


“Sayang, aku kangen nih.” Ucap Dhefin sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Carissa.


“Kan ini sudah ketemu. Masa' masih kangen?” Tanya Carissa.


Dhefin pun mensejajarkan tubuhnya dengan Carissa. Kemudian wajahnya menghadap ke arah Carissa. Dhefin dapat melihat bibir ranum warna pink milik Carissa. Dia ingin sekali menikmati rasa manis pada bibir itu. Perlahan Dhefin mendekatkan wajahnya ke wajah Carissa. Selama ini memang Dhefin belum pernah berciuman dengan Carissa, karena perempuan itu yang menolaknya dengan alasan sebelum sah menjadi pasangan suami istri. Tapi entah kenapa saat ini dia tidak tahan dan ingin merasakan bibir Carissa.


Carissa pun tampak gugp saat melihat Dhefin semakin mendekatkan wajahnya. Dia mencoba menghindar tapi sungguh sangat sulit untuk bergerak. Wajah Dhefin pun semakin dekat dan Carissa semakin gugup.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu dan sontak membuat Carissa langsung berdiri. Dia merasa aman karena Dhefin tidak jadi menciumnya. Carissa segera berjalan dan membukakan pintu. Ternyata ada salah satu pelanggan yang ingin bertemu dengannya.


“Sayang, aku pulang dulu ya.” Pamit Dhefin sambil mengacak rambut Carissa dan tersenyum padanya.


“Iya Mas. Hati-hati.” Jawab Carissa.


***


Sesuai dengan rencananya, seusai jam pulang kantor Barra memutuskan datang ke apartemen Atrid untuk melihat keadaan kekasihnya. Barra takut jika saja Astrid sedang sakit dan tidak ada yang merawatnya. Mengingat dia yang tinggal seorang diri.


Barra menekan passcode pintu apartemen Astrid, kemudian segera masuk. Dia memanggi nama Astrid berulang kali dan mnegtuk pintu kamarnya. Tapi sama sekali tidak ada sahutan dari sang pemilik apartemen. Keadaan apartemen juga terlihat sepi dan memang sepertinya Astrid tidak berada disana. Akhirnya Barra memutuskan untuk pulang saja. Dia juga tidak mengenal teman dekat Astrid untuk ditanyai keberadaannya.


Barra melajukan mobilnya menuju jalan pulang ke rumahnya. Sebenarnya dia malas sekali pulang, yang pastinya akan bertemu dengan papanya. Tapi tidak ada jalan lain. Dia juga tidak ingin bermalam di butik lagi.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Barra melangkahkan kakinya masuk dan langsung maniki tangga menuju kamarnya. Barra sekilas melirik meja makan yang disana hanya ada Jenny dan Opanya yang sedang makan malam. Barra mengangguk sekilas pada Opanya dan melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.


Barra melepas pakainnya dan segera mandi. karena dia merasa badannya sudah sangat lengket. Setelah mandi, Barra turun ke bawah untuk makan malam. Karena dia pikir sudah sepi dan akan makan malam seorang diri.


Barra duduk sendiri di meja makan dan mengambil makanan di atas piring. Ternyata Jenny masih ada disana. Gadis itu pura-pura mencuci piring, dengan maksud menunggu kakaknya turun untuk makan malam.


“Tumben mau cuci piring.” Ucap Barra sambil mengunyah makanannya.


“Siapa juga yang cuci piring. Aku Cuma cuci tangan aja kok.” Jawab Jenny dan kini sudah duduk di samping kakaknya.


“Kak!” panggil Jenny.


“Hmm” jawab Barra sambil mengunyah makanannya.


“Buruan gih makannya.” Ucap Jenny agak kesal.


“Ngapain sih. Kamu kan sudah makan, ya udah sana pergi. Ganggu orang makan aja.” Ucap Barra.


“Kak Barra bagaimana sih jadi anak nggak peduli banget sama orang tua.” Ucap Jaenny kesal dan segera berdiri meninggalkan kakaknya. Namun Barra dengan cepat mencekal lengan adiknya.


“Mau kemana kamu? Apa maksud kamu aku nggak peduli sama orang tua?” Tanya Barra bingung.


“Mama dirawat di rumah sakit tadi sore Kak setelah diketahui pingsan dalam kamar. itu semua pasti gara-gara Kak Barra.” Ucap Jenny.


Barra pun sangat terkejut saat mendengar kalau mamanya dilarikan ke rumah sakit. Dia segera berdiri tanpa melanjutkan makannya. Dia maraih kunci mobilnya dan segera datang ke rumah sakit dengan diikuti Jenny.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Sabar ya para readers kesayanganku semua....🤗🤗😘 pasti nggak sabar kan nunggu Barra jadian sama Carissa😂😂


__ADS_2