Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 197


__ADS_3

“Sayang kamu nggak apa-apa kan?” Tanya Silvia mama Carissa.


Sejak tadi Silvia mengkhawatirkan keadaan anak perempuannya. Terlebih saat hujan lebat. Wanita itu tahu kalau anaknya phobia dengan air, lebih tepatnya dengan air hujan atau air yang melimpah ruah seakan mendatangkan bencana. Karena ada kejadian di masa kecilnya yang pernah membuat Carissa hampir kehilangan nyawanya saat dia akan tenggelam. Sejak kejadian itu Carissa sama sekali tidak pernah lagi diperbolehkan berenang. Dan begitu juga jika melihat air hujan yang seolah menghalangi jalan, meskipun dirinya berada dalam mobil. Silvia dan suaminya saat itu tidak membawa Carissa kecil untuk berobat ke psikiater walau hanya menanyakan tentang phobia anaknya.


“Nggak apa-apa Ma. Carissa baik-baik saja. Untung saja taadi Kak Barra cepat tanggap saat melihat kondisi Carissa.” Jawab Carissa.


“Kak Barra siapa sayang?” Tanya Silvia penasaran.


“Oh, kakaknya Jenny. Gadis yang tempo hari Carissa ceritain ke Mama.” Jawab Carissa.


“Oh syukurlah. Ya sudah buruan bersihkan diri kamu dulu setelah itu kita makan malam bersama. Sejak tadi Papa kamu sudah menunggu kamu. Sekarang masih ada telepon dari rekan kerjanya.” Perintah Silvia dan Carissa mengangguk.


***


Sementara itu Barra juga baru saja sampai rumahnya. Dia masuk menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat melihat keluarganya masih belum menyelesaikan makan malamnya. Kemudian Barra ikut menyusul kesana.


“Kirain kamu akan makan malam dengan Carissa. Kok pulangnya sampai malam begini.” Ucap Kay menggoda Barra.


“Apa sih Ma. Tadi hanya berteduh saja karena hujannya sangat lebat.” Jawab Barra datar.


“Alasan saja. Kencan dulu juga nggak apa-apa. Mana ada naik mobil kok berteduh. Emang kalian kehujanan?” ucap Kay lagi.


Barra malas menjawabnya, kemudian dia mengambil nasi ke dalam piringnya. Sementara Kay masih melihat raut muka datar Barra. Sebenarnya Kay sangat menyukai Carissa. Rasanya gadis itu sangat cocok dengan Barra daripada dengan Astrid.


Selesai makan malam, semua orang segera beranjak dari duduknya. Hanya Barra yang masih duduk disana karena saat dia makan tadi, semua orang hampir selesai makan malam. Setelah itu Barra pun segera naik ke lantai atas menuju kamarnya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya semua orang sudah mulai lagi beraktifitas seperti biasa setelah dua hari mengistirahatkan tubuhnya dari penatnya pekerjaan kantor. begitu juga dengan Barra. Laki-laki itu kini sedang melajukan mobilnya menuju kantor Papanya. Namun seperti biasa dia akan menjemput kekasihnya terlebih dulu, karena mereka bekerja di perusahaan yang sama.


Astrid sudah menunggu Barra di depan apartemennya. Jadi Barra tidak perlu masuk ke basement. Barra melihat wajah cantik sang kekasih pagi ini membuatnya seperti mendapatkan semangat dalam memulai pekerjaannya.


“Pagi cantik!” sapa Barra saat Astrid sudah masuk ke dalam mobil.


“Pagi juga tampan!” jawab Astrid tersenyum manis pada Barra.


Tidak banyak yang mereka bahas dalam perjalanan menuju kantor. karena memang hanya membutuhkan beberapa menit saja sudah sampai. Kini mereka berdua sudah masuk ke kantor. dan mereka berpisah saat sampai di loby, karena lantai dan ruangan mereka berbeda.


Kini Barra sudah berada di ruangannya yang berada di samping ruangan Papanya. Barra sudah menyalakan layar laptop di depannya dan segera memulai pekerjaannya. Namun tiba-tiba saja Papa menghubungi dan meminta untuk masuk ke ruangannya.


Cklek


“Iya, Pa ada apa?” Tanya Barra yang kini sudah berada dalam ruangan Vito.


“Nanti siang kamu yang akan meeting dengan klien dari perusahaan milik Tuan Charles Darandra karena Papa akan pergi ke luar kota bersama Bram untuk meninjau lokasi proyek pembangunan anak cabang.” Ucap Vito tegas.


“Ya sudah kamu boleh kembali ke ruangan kamu.” Perintah Vito.


Jam makan siang sudah tiba. Barra segera merapikan pekerjaannya sebelum menghadiri meeting bersama klien yang akan diadakan di salah satu rumah makan mewah terkenal di kota. Karena memang sebelum meeting, kliennya mengajaknya untuk sekalian makan siang dulu.


Sebelumnya Barra sudah memberitahukan pada Iqbal asisten pribadinya yang termasuk anak dari Bram. Iqbal sudah bekerja sebagai asisten pribadi Barra sejak 2 tahu yang lalu selesai lulus dari kuliahnya.


Kini Barra dan Iqbal sudah dalam perjalanan menuju alamat rumah makan dimana akan meeting dengan kliennya.


Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba. Barra dan Iqbal segera masuk ke ruangan VVIP rumah makan tersebut. Barra kelihatan tidak enak karena melihat kliennya sudah duduk disana. Padhal menurutnya juga bdia tidak terlambat.

__ADS_1


“Maaf atas keterlambatan kami.” Ucap Iqbal.


“Oh silakan duduk. Anda tidak terlambat, karena memang kami yang sengaja datang lebih awal.” Ucap salah satu dari 3 orang laki-laki yang sudah duduk di kursi itu.


Barra dan Iqbal segera duduk bergabung dengan ketiga kliennya. Sebenarnya Barra bingung siapa pemimpin dari perusahaan yang akan menjadi kliennya ini. karena disana ada 3 orang laki-laki. Satu laki-laki yang duduk paling kanan kira-kira seusia Papanya, namun wajahnya sejak tadi datar dan dingin bak mayat hidup. Kemudian di sebelahnya laki-laki yang seusia Papanya tapi masih agak lebih muda dan sejak tadi yang terlihat banyak bicara. Terakhir seorang laki-laki yang usianya lebih muda dari usia Barra dan wajahnya mirip dengan laki-laki yang hanya diam saja.


“Ehm, saya tahu kalau Tuan Barra terlihat bingung dengan kami bertiga.” Ucap salah satu orang yang menurut Barra sejak tadi aktif berbicara.


Barra dan Iqbal hanya mengangguk samar sambil tersenyum sopan.


“Ini kakak ipar saya Tuan Chareles Darandra sekaligus pemilik perusahaan. Sedangkan saya Alex Shankara, adik ipar sekaligus asisten pribadi dari Tuan Charles. Dan yang ini keponakan saya, anak dari Tuan Charles yang bernama Xavier Darandra, yang nantinya akan meneruskan perusahaan milik kakak saya. Jadi dia masih tahap belajar.” Ucap Alex memperkenalkan.


Barra mengangguk tersenyum. Kemudian pesanan makanan mereka datang. Sebelum meeting mereka makan siang terlebih dulu.


***


Disaat yang bersamaan, Vito sedang melakukan perjalanan keluar kota bersama Bram sang bodyguard sekaligus asisten pribadinya. Semenjak Arsa menikah, pria sekaligus sepupu Kay yang pernah menjadi asisten Vito telah mengundurkan diri dan memilih untuk tinggal di kota B. dan kini Bram lah yang menjadi asisten sekaligus bodyguardnya.


Saat mobil yang dikendarai Bram baru saja keluar dari kantor, bersamaan itu Vito melihat seseorang yang tidak asing lagi baginya. Orang itu terlihat baru saja menghentikan taksi kemudian menaikinya.


“Bram, pelankan laju mobilmu. Tunggu taksi yang di belakang kita lebih dulu jalan.” Ucap Vito dan Bram mengangguk patuh.


Bram terus mengikuti taksi itu. Awalnya taksi berhenti sebentar karena si penumpang membeli makanan, setelah itu masuk lagi ke dalam taksi dan melanjutkan perjalanannya. Karena arah tujuan Vito berlawanan dengan arah taksi itu, akhirnya Vito mengurungkan niatnya untuk mengikuti penumpang dalam taksi tersebut.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2