
Setelah pulang dari jalan-jalan dengan Radit, Delia segera membersihkan diri. Setelah itu dia santai sejenak di ruang tamu sambil menunggu pesanan makanannya yang tadi sudah dipesan melalui sebuah aplikasi online. Delia sengaja memesan makanan saja karena tidak mungki dia memasak ataupun pergi keluar untuk makan karena badannya sudah lelah.
Sebenarnya tadi Radit sudah menawarinya untuk makan sejenak atau membeli makanan untuk makan malamnya, tapi Delia menolaknya.
Bel apartemen berbunyi Delia segera membuka pintu dan benar pesanan makanannya sudah datang. Setelah itu Delia makan malam. Dia sangat menikmati makan malamnya. Rasanya beban di dadanya sudah perlahan hilang. Hari ini dia bahagia sekali karena Radit telah membantunya untuk melupakan semua kejadian kemarin. Meskipun belum lupa sepenuhnya, setidaknya Delia sudah bisa berpikir logis bahwa kejadian kemarin dia anggap sebagai pembelajaran untuk dirinya sendiri.
Setelah menyelesaikan makan malamnya Delia pergi ke ruang tamu. Dia mengambil ponselnya yang sejak kemrin tidak ia sentuh sama sekali. Delia melihat begitu banyak pesan yang masuk dan puluhan panggilan tak terjawab. Dia mengabaikan begitu saja karena tahu siapa orang yang mengirim pesan dan menelponnya yang tak lain adalah Angga.
Delia tidak membuka pesan dari Angga, justru langsung memblokirnya. Kemudian ada pesan lagi yang masuk beberapa menit yang lalu dengan nomor baru, dan kelihatannya pesan itu berupa foto. Karena penasaran Delia membukaa pesan itu. Dan ternyata pesan itu berisi foto-foto dirinya saat di pantai tadi dan diambil ambil secara candid. Sekitar ada 11 foto yang dikirim. Dan diakhirnya ada sebuah pesan.
“buka blokiran nomorku dong Del. Tega kamu. Radit”
Ternyata yang mengirim pesan dengan nomor baru adalah Radit. dia memakai nomor baru karena nomor yang biasa dia pakai untuk menghubungi Delia telah diblokir oleh Delia.
Membaca pesan Radit, Delia tersenyum tipis menanggapinya tanpa membalas dan segera membuka blokiran nomor Radit. beberapa detik kemudian terdengar notif pesan masuk yaitu dari Radit.
“nah gitu dong. Ya udah buruan tidur pasti kamu capek. Met malam.”
“siappp” balas Delia singkat.
Seperti pesan terakhir Radit yang menyuruhnya segera tidur, akhirnya Delia meletakkan ponselnya dan segera masuk ke kamar untuk tidur. Sebenarnya Delia juga sudah ngantuk, badannya sangat lelah. Namun lelahnya tidak ia rasakan karena sudah tergantikan dengan perasaan lega dan bahagia. Tidak menunggu waktu lama, Delia sudah tertidur dengan pulas.
Keesokan harinya Delia terbangun dengan badan yang sangat segar karena semalam tidurnya nyenyak sekali. Kemudian dia mandi. Setelah mandi dia bersiap untuk segera pergi bekerja. Kemudian dia menuju dapur. Delia membuat susu dan makan roti saja untuk sarapannya hari ini. Lalu dia pergi bekerja.
Di lain tempat, Radit pun juga sama dengan Delia. Dia bangun tidur dengan badan yang sudah kembali segar. Capeknya sudah hilang karena tidurnya juga sangat pulas. Radit menyunggingkan senyumnya karena dia sangan bahagia bisa kembali dekat dengan Delia. Bahkan dia bisa membuat Delia tersenyum kembali.
“Pa.. tuh anak kaya’ lagi kesambet deh. Dari tadi mama perhatiin senyum-senyum sendiri nggak jelas” sindir mama Radit
__ADS_1
“lagi puber kedua kali ma” jawab papanya asal
“apa sih pa? puber kedua kay’ Radit udah tua aja” sahut Radit tidak terima
“iya emang tua. Lebih tepatnya perjaka tua” Radit hanya mencebik kesal tanpa membalas ucapan papanya. Dan melanjutkan sarapannya.
Setelah selesai sarapan, Radit dan papanya segera pergi ke kantor. mereka berdua pergi dengan mobil masing-masing. Jika papanya berangkat diantar sopir, Radit memilih menyetir sendiri.
Sebelum melajukan mobilnya, Radit mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan pada seseorang.
“selamat pagi Del. Selamat beraktivitas ya!”
Beberapa detik menunggu pesannya tidak langsung dibalas oleh Delia, Radit memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Mungkin Delia sudah berada di kantor jadi tidak sempat membuka pesan yang ia kirimkan. Kemudia Radit pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor, Radit segera masuk ke ruangannya. Kemudian mendudukan tubuhnya di kursi kebesarannya. Radit merasa ponselnya sejak tadi tidak ada notif pesan ataupu telepon masuk. Dia merogoh ponsel dalam saku jasnya untuk mengecek. Dan ternyata benar tidak ada pesan sama sekali.
Hingga jam makan siang tiba, Radit belum mendapat balasan pesan dari Delia. Batin Radit bertanya, kemana Delia. Kenapa tidak membalas pesannya. Apakah dia baik-baik saja. Masa’ iya saking sibuknya tidak sempat membuka ponselnya. Pikiran Radit sudah melalang buana. Setelah itu dia teringat kalau dia punya kontak nomor Fadhil. Radit mencarinya dan ingin menghubungi Fadhil untuk menanyakan keadaan Delia. Namun niatnya diurungkan karena dia bingung bagaimana nanti tanggapan Fadhil kalau dia mengkhawatirkan keadaan Delia. Pasti nanti Fadhil mencurigainya. Akhirnya Radit tidak jadi menghubungi Fadhil.
“huuhhh… nanti ajalah kalau pulang kantor aku samperin Delia langsung” gumamnya pelan.
***
Sedangkan Delia sejak tadi pagi berangkat ke kantor dan mulai bekerja, dia tidak membuka tasnya sama sekali. Hingga makan siang pun dia juga tidak membuka tasnya. Karena pekerjaannya hari ini lumayan sibuk jadi tidak sempat untuk mengecek ponselnya. Bahkan makan siang pun dia tidak keluar ke kantin, dia memilih delivery karena memang pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan.
Jam sudah menunjukkan waktunya untu pulang kantor. setelah memberekan berkas-berkasnya, Delia membuka tasnya dan ingin mengecek ponselnya. Delia tidak menemukan ponselnya. Dia mengingat-ingat lagi dimana ponselnya. Kemudian dia ingat bahwa ponselnya tertinggal di meja ruang tamu.
Semalam setelah Radit mengirim pesan, dia meletakkan ponselnya di meja yang ada di ruang tamu. Sampai pagi hari saat berangkat kerja pun Delia lupa tidak membawa ponsel.
__ADS_1
Delia keluar dari kantor dan melangkahkan kakinya untuk pulang. Delia sudah terbiasa jalan kaki saat pergi dan pulang bekerja, karena memang sangat dekat jarak kantor dan apartemennya. Jadi dia tidak butuh untuk membeli motor. Saat sedang berjalan tiba-tiba ada tangan yang menarik tangan Delia dari belakang. Delia terkejut, dan begitu menoleh dia lebih terkejut lagi melihat orang yang manarik tangannya.
“Ngel, bisa kita bicara sebentar?”
“Nggak ada yang dibicarain lagi” jawab Delia ketus.
Ternyata orang itu adalah Angga. Sejak tadi Angga menunggu Angel keluar dari kantor. karena beberapa kali menghubungi Angel tidak mendapat jawaban. Dan disinilah dia sekarang. Berjalan kaki mengikuti Angel.
“Please Ngel… tolong dengerin penjelasanku” Delia berpikir sejenak. Lebih baik menyelesaikannya sekarang daripada terus menghindar. Akhirnya Delia mengajak Angga duduk di sebuah kursi taman yang ada di dekat kompleks apartemennya.
“Ngel.. aku minta maaf atas kejadian kemarin. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dijebak Ngel. Please maafin aku”
“Dijebak ataupun kak Angga sengaja, aku tidak memperduliakannya lagi kak” Delia menjeda ucapannya dan itu membuat Angga tersenyum tipis. Berarti masih ada harapan kalau Angel mau memaafkannya.
“Karena memang sudah tidak ada yang bisa dipertahankan lagi. Kak Angga sudah menghianati kepercayaan yang selama ini aku berikan”
“tapi kan Ngel, aku tadi bilang aku dijebak”
“stop kak! Aku tidak membahas atas apa yang kak Angga lakukan kemarin. Tapi disini aku lebih menekankan masalah kepercayaan. Kak Angga bilang kalau selama seminggu ini kakak sangat sibuk dan berada diluar kota. Namun apa kenyataannya? Kak Angga sama sekali tidak keluar kota” Angga mendapat tamparan keras atas perkataan Delia. Dia terdiam, memang kenyataannya benar bahwa dia tidak pergi keluar kota.
“mulai sekarang aku harap kak Angga jangan lagi menghubungiku. Hubungan kita selesai sampai disini” Delia pergi meninggalkan Angga yang masih terdiam menyesali perbuatannya.
Dan seseorang yang berada di dalam mobil saat ini sedang mencengkeram kuat setir mobilnya. Sejak tadi dia mengawasi Delia dan Surya. Dia sangat marah meskipun tidak tahu apa yang Delia dan Surya bahas.
*TBC
Semoga nggak pernah bosan sm ceritaku ini yaaa…. Aku butuh dukungan kalian semuanya lho😘😘
__ADS_1
*salam sayang _author newbie_💕💕