
“Kay?”
Untung saja minuman yang dibawa Kay tadi jatuh ke lantai dan tidak mengenai bajunya maupun baju Rey. Mereka berdua tampak terkejut dengan pertemuan tidak disengaja ini. Bagi Rey pertemuannya dengan sang mantan kekasih seperti mendapatkan oase di tengah padang pasir. Sedangkan bagi Kay, dia takut jika suaminya melihat dan menjadi salah paham.
“Apa kabar Kay?” Tanya Rey mendahului perbincangan mereka.
“Baik Rey. Kamu bagaimana?” Tanya Kay balik.
“Aku, baik. Meski-“
“Sayang, kemana saja sejak tadi aku mencarimu?” ucap Vito tiba-tiba datang. Namun dia tidak tahu kalau Kay sedang berbicara dengan Rey.
“Kamu??” ucap Vito kemudian.
Kay berusaha menjelaskan pada suaminya jika tadi tidak sengaja bertemu dengan Rey saat mengambil minuman. Namun sepertinya Vito sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Kay. Vito meraih tangan Kay dan bergegas meninggalkan Rey yang masih terdiam.
Masih di tempat yang sama, sejak tadi Evan melihat apa yang terjadi pada Vito, Kay, dan Rey. Memang Evan tidak mengenal Rey, tapi sepertinya Evan mengerti apa yang pernah terjadi diantara mereka bertiga. Evan tersenyum penuh arti.
Acara demi acara terlaksana dengan lancar hingga akhirnya pertemuan para pengusaha itu selesai. Dan semua tamu yang hadir satu persatu meninggalkan ballroom hotel.
Semenjak pertemuan Kay dan Rey tadi, wajah Vito tampak berbeda. Kay yang ingin membahasnya pun ia tahan karena tidak enak dengan beberapa tamu undangan lainnya jika mendengarkannya. Kini Kay dan Vito berjalan keluar hotel dengan Kay menggandeng tangan Vito.
“Vito?” lirih seorang wanita yang sedang menggandeng tangan Evan yaitu Nadia.
Vito yang samar-samar mendengar namanya dipanggil, dia menoleh. Dan betapa terkejutnya saat melihat siapa yang memanggilnya.
“Nadia?” lirih Vito.
Sementara Evan tidak terlalu menanggapi keterkejutan Vito yang bertemu dengan istrinya. Evan justru menatap Kay tanpa berkedip.
Kay melepas gandengan tangannya padaVito saat melihat suaminya menyebut seorang wanita yang Kay lihat di toilet tadi. Kay tahu kalau wanita itu adalah mantan kekasih suaminya. Kay memutuskan untuk pergi lebih dulu meninggalkan suaminya yang masih terdiam.
“Sayang tunggu!” panggil Vito saat menyadari istrinya sudah berjalan terlebih dulu.
Akhirnya Kay dan Vito sudah berada di dalam mobil. Keduanya diam hingga mobil yang dikendarai Vito sampai rumah. Kemudian Kay memilih masuk ke kamar terlebih dulu. Kay benar-benar merasa moodnya berantakan malam ini. Dia ingin memncuci mukanya dan segera tidur.
Sedangkan Vito yang melihat istrinya sejak tadi diam hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia memilih untuk masuk ke ruang kerjanya untuk menormalkan emosinya. Mungkin Kay bertanya-tanya siapa wanita yang tadi memanggilnya. Vito sebenarnya ingin menjelaskan pada Kay saat di mobil tadi tentang wanita yang bernama Nadia.
__ADS_1
Vito ingat kalau dulu semasa kuliah, dia dekat dengan Nadia. Tapi Vito sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya. Vito dekat dengan Nadia karena ingin melupakan Kay yang selalu bermain-main dalam benaknya. Karena saat itu menurut Vito tidak mungkin memiliki Kay yang berstatus sebagai adiknya. Sementara Vito tidak tahu kalau Nadia benar-benar menaruh rasa padanya, hingga datanglah Evan yang berusaha mendekati Nadia.
Vito yang melihat perubahan Nadia semenjak Evan mendekatinya, dia perlahan mundur menjauhi Nadia. Hingga saat di acara pesta tadi, Vito sama sekali tidak tahu kalau istri Evan adalah Nadia. Vito tidak terlalu memikirkannya, yang paling penting dia harus menjelaskan pada istrinya.
Tapi, tiba-tiba saja Vito teringat kembali akan pertemuan iatrinya dengan Rey tadi. seketika wajah Vito memerah penuh amarah. Kenapa istrinya masih bersikap baik dengan sang mantan kekasih.
Sudah hampir larut malam Vito baru keluar dari ruang kerjanya kemudian dia masuk ke kamarnya untuk segera tidur karena matanya sudah sangat mengantuk.
Setelah mencuci muka dan berganti pakaian, Vito segera merebahkan tubuhnya disamping istrinya yang sudah tidur dengan posisi membelakanginya. Vito tak mempedulikan itu. Dia pun ikut membelakangi Kay sambil memeluk guling.
Keesokan paginya Kay bangun lebih dulu. Dia melihat suaminya masih terlelap dengan posisi membelakanginya. Hati Kay sedikit nyeri melihat suaminya mengabaikannya sejak bertemu dengan mantan kekasihnya di pesta semalam.
Saat ini Kay sedang berada di dapur untuk memasak dan membuatkan kopi untuk Papanya yang sedang bersantai di taman belakang.
“Pa, ini kopinya!” ucap Kay pada Gio.
“Iya taruh di meja saja. Kemana Vito?” Tanya Gio.
“Masih tidur, Pa.” jawab Kay.
Kay tersenyum tipis menanggapi omelan Papanya pada suaminya. Setelah itu Kay pamit kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya. Dan saat Kay akan masuk dapur, dia melihat suaminya baru saja bangun dan menuruni tangga.
Pandangan mereka berdua bertemu tapi Kay segera menaglihkannya dengan melanjutkan langkahnya ke dapur.
Vito pun demikian. Dia memilih acuh dan berjalan ke ruang tengah. Entahlah saat bangun tadi dia sudah tidak melihat keberadaan sang istri. Biasanya Kay selalu membangunkannya tapi tidak untuk pagi ini. untung saja pagi ini juga Vito tidak mengalami morning sickness.
Bau masakan yang tercium hingga ruang tengah, membuat perut Vito mendadak keroncongan. Dia ingin sekali makan tapi gengsi. Vito berusaha menahan rasa laparnya dan menunggu Papanya masuk terlebih dulu.
“Wah masak apa Kay? Papa dari luar mencium bau masakan kamu mendadak lapar.” Ucap Gio.
“Kay hanya masak cap cay aja ko’ Pa. ayo Pa kita sarapan dulu.” Ajak Kay kemudian.
“Ya udah ayo, mana Vito? kamu panggil juga!” perintah Gio.
“Ada apa sih Pa?” Tanya Vito pura-pura dan dia sudah duduk di meja makan.
Akhirnya Gio mengajak sarapan bersama. Dan seperti biasanya, Kay masih melayani suaminya dengan mengambilkan nasi dan lauk untuk Vito. Kay tidak mau Papanya tahu kalau dirinya sedang perang dingin dengan sang suami. Begitupun Vito, dia berusaha bersikap biasa di depan Papanya.
__ADS_1
Setelah kegiatan sarapan mereka selesai, Kay memilih untuk masuk ke kamr karena dia belum mandi. setelah mandi Kay berniat untuk belanja di supermarket karena stok sayuran dan bahan makanan lainnya sudah habis.
Kini Kay sudah tampak rapi. Dia menuruni tangga. Disana Kay dapat melihat Papa dan suaminya sedang santai di ruang tengah. Vito heran melihat istrinya sudah terlihat rapi. Tapi dia enggan bertanya.
“Mau kemana Kay?” tiba-tiba Gio bertanya.
“Kay mau pergi ke supermarket Pa belanja bahan makanan dan sayuran.” Jawab Kay.
“oh gitu. Pergi sama siap-“
“Vito ngantar Kay dulu Pa” ucap Vito cepat dan bergegas mengambil kunci mobilnya.
Kay hanya diam saja. Sebenarnya tadi dia ingin naik taksi saja jika suaminya tidak mengantarnya. Dan kini Kay sudah berada di mobil bersama Vito.
Mereka berdua masih terdiam. Vito yang sejak semalam menahan gejolak di dadanya karena ingat istrinya yang bertemu dengan Rey, akhirnya Vito menepikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi. Kay bingung kenapa tiba-tiba mobilnya berhenti.
“Kenapa berhenti?” Tanya Kay bingung.
“Ck, begitu cepat berubah sikap kamu setelah bertemu dengan mantan kekasihmu hah?” ucap Vito dengan nada tinggi.
“Seharusnya kamu ngaca dulu Mas sebelum berbicara seperti itu padaku. Apa bedanya dengan kamu? begitu cepat berubah sikap kamu setelah bertemu dengan mantan kekasihmu NADIA?” ucap Kay dengan menekankan kata Nadia.
Deg
.
.
.
*TBC
Cieeee ada yg lagi salah kamar nih eh salah paham😂😂✌️✌️
jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen, gift, & vote.
happy reading🤗😘😘
__ADS_1