
Keesokan paginya Barra terbangun lebih dulu. Posisinya juga masih sama yaitu memeluk istrinya. Bahkan Carissa juga membalas pelukan itu seperti sedang memeluk guling. Barra masih betah dengan posisi itu dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Biarkan seperti itu sampai Carissa terbangun.
Nggghhhh
Terdengar lenguhan Carissa yang mulai terbangun dari tidurnya. Lagi-lagi perempuan itu merasa tidurnya semalam sangat nyenyak. Dan setelah nyawanya terkumpul dia baru menyadari akan posisinya yang masih berada di pelukan sang suami. Dia ingin memberontak dan melepaskan diri, namun teringat dengan perkataan mamanya.
“Sering-sering kontak fisik. Dalam artian kamu jangan menjaga jarak.”
Akhirnya Carissa membiarkan suaminya memeluknya selama beberapa saat sebelum dirinya bangun. Barra pun semakin senang karena istrinya tidak segera melepaskan pelukannya.
“Selamat pagi istriku!” sapa Barra dan membuat Carissa mendongak menatap muka bantal sang suami.
“Pagi juga Mas. Ehm, aku bangun dulu ya.” Jawab Carissa dan sudah lepas dari pelukan sang suami.
Carissa segera masuk ke kamar mandi. selain ingin segera buang air kecil, dia juga sudah tidak tahan dengan rasa malunya pada Barra. Sedangkan Barra merasakan badannya begitu rileks pagi ini. itu semua karena tidurnya memeluk istrinya.
Carissa sudah selesai dengan ritual mandinya. Kini giliran Barra yang mandi. sebelum membantu mamanya di dapur, Carissa terlebih dulu menyiapkan baju kerja untuk suaminya.
“Pagi Sayang!” Sapa Kay saat Carissa sudah ada di dapur. Disana juga ada Jenny yang sedang duduk di kursi meja makan sambil memainkan gadgetnya.
“Pagi juga Ma. Mama masak apa biar Rissa bantu.” Ucap Carissa.
“Oh ini sudah selesai ko’ Sayang. Tinggal menyiapkan saja.” Jawab Kay.
Carissa merasa tidak enak karena telat bangun pagi, hingga tidak bisa membantu mamanya memasak.
“Maaf Ma, Rissa tadi bangunnya kesiangan.” Ucap Carissa bersalah.
“Wajarlah kak, namanya juga pengantin baru. Pasti semalam kecapekan.” Celetuk Jenny sambil nyengir dan Kay hanya mengulum senyum.
Carissa benar-benar sangat malu. Memang dia bangun kesiangan hari ini. namun bukan karena kecapekan seperti yang dipikirkan Jenny. Hanya saja tidurnya terlalu nyenyak karena berada dalam pelukan sang suami.
“Kamu tuh ngomong apaan sih Jen. Masih kecil juga.” bela Kay karena melihat menantunya wajahnya sudah memerah.
“Tuh kan Mama selalu bilang gitu deh. Padahal Jenny kan udah dewasa.” Ucap Jenny cemberut.
“Kalau sudah dewasa ko’ sejak dulu awet dengan status jomlonya.” Sahut Barra tiba-tiba.
Kini semua orang justru meledek Jenny. Carissa merasa lega karena dirinya lolos dari bahan candaan Jenny. Setelah itu Carissa segera membantu Kay untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
__ADS_1
Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Mereka berlima sedang menikmati sarapan pagi sambil diselingi obrolan ringan.
“Kak Carissa berapa lama nginap disini?” Tanya Jenny.
“Besok juga sudah pulang. Kan besok ada acara syukuran.” Jawab Barra.
“Yah… tinggal disini terus dong Kak.” Ucap Jenny cemberut.
“Iya. Nanti pasti kita akan sering-sering nginap disini kok.” Jawab Carissa.
Carissa sebenarnya juga merasa tidak enak. Harusnya dia mengikuti kemauan suaminya mau tinggal dimana. Tapi sayangnya Barra juga tidak pernah membahas itu. Sementara ini Barra memang sengaja membiarkan istrinya memilih tinggal dimana, senyamannya Carissa.
Setelah selesai sarapan, semua orang mulai beraktivitas. Barra pergi ke kantor sekalian mengantar Jenny ke butik. Sedangkan Vito sudah dijemput oleh Bram. Dan tinggallah Carissa dan Kay yang masih di rumah berdua.
Kay sangat senang karena pagi ini ada menantunya yang akan menemaninya bersantai. Seperti biasa, jika kedua wanita itu berkumpul, Kay pasti akan meminta Carissa menemaninya untuk membuat kue. Carissa pun tidak menolak. Sekaligus memasak buat makan siang nanti. Karena Carissa akan mengantarkan bekal makan siang untuk suaminya.
“Senengnya Mama mempunyai menantu seperti kamu. Pasti Barra sangat bahagia memiliki istri yang sangat perhatian seperti kamu.” Puji Kay.
“Biasa saja Ma. Bukannya itu sudah tugas seorang istri?” ucap Carissa.
Akhirnya keduanya segera menuju dapur dan segera mengeksekusi beberapa bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kue.
“Mama? Ada apa Ma pagi-pagi sudah ada disini?” Tanya Barra dengan keterkejutannya.
“Maaf sebelumnya Mama tidak memberitahu akan kedatangan Mama kesini. Mama hanya sebentar kok mau meminta sedikit waktu kamu. Apa kamu sangat sibuk?” Tanya Alana.
“Nggak Ma. Barra nggak sibuk pagi ini.” jawab Barra.
Kemudian Barra duduk di sofa menemani Mama mertuanya. Sebenarnya Barra merasa tidak enak dan juga penasaran dengan kedatangan mertuanya pagi ini.
“Mungkin kamu kaget dengan kedatangan Mama pagi ini.” ucap Alana dan diangguki oleh Barra.
“Mama kesini hanya untuk meminta untuk membantu Carissa menyembuhkan tarumanya. Kemarin Mama sudah menasehati Carissa. Dan dia juga sudah cerita banyak. Mama harap kamu sebagai suami juga bisa membantunya.” Ucap Alana.
“Iya Ma. Demi kebaikannya. Dan maafkan Barra, semua ini karena ulah Barra.” Ucap Barra bersalah.
“Sudah jangan bilang seperti itu. Mama ingin kamu dengan Carissa memperbanyak komunikasi. Karena dengan komunikasi, lama-lama kecanggungan yang dirasakan Carissa perlahan pudar. Selain itu buat dia nyaman dan jangan melakukan apapun yang membuatnya kembali teringat dengan kejadian itu. Mama harap kamu bersabar, Mama tahu kalau Carissa sampai saat ini belum memberikan haknya sebagai istri. Lakukan kontak fisik yang membuatnya tidak tertekan dan ketakutan. Buat senyaman-nyamannya.” Nesehat Alana.
“Baik Ma. Barra akan melaksanakan perintah Mama. Mama jangan khawatir. Barra sangat mencintai Carissa, jadi Barra tidak akan melukai wanita yang sangat Barra cintai.” Ucap Barra mantap.
__ADS_1
“Iya Mama tahu kalau kalian saling mencintai. Mungkin tidak butuh waktu lama, Carissa akan menjadi milik kamu seutuhnya.” Tambah Alana.
Dalam benak Barra berpikir tentang pernyataan mamanya kalau “kalian saling mencintai”. Apa maksudnya. Kemudian Alana mengatakan bahwa Carissa juga mencintainya sejak dulu, hanya saja Carissa tidak menyadarinya. Senyum simpul tersungging dari bibir Barra. Dia sangat bahagia mengetahui kenyataan itu. Kini dia harus bersabar sedikit lagi setelah itu akan memiliki Carissa seutuhnya.
Setelah mengatakan itu Alana segera pamit pulang. Dia mendatangi suaminya yang saat ini sedang berada di ruangan Vito. sekalian Alana juga ingin berkenalan dengan besannya.
Siang pun tiba. Carissa sudah siap dengan bekal makan siang yang akan dibawa ke kantor suaminya. Carissa datang ke kantor Barra dengan diantar sopir.
Barra yang sedang sibuk sangat terkejut saat kedatangan istrinya dengan membawakan bekal makan siang. Barra kira hari ini istrinya tidak datang. Mengingat istrinya sedang di rumah menemani mamanya.
Saat jam makan siang tiba, mereka berdua makan bersama di dalam ruang kerja Barra. Sungguh Barra sangat bahagia memiliki istri seperti Carissa. Rasanya seperti paket komplit. Sudah cantik, lemah lembut, perhatian, penyayang pula.
“Kamu hati-hati ya di jalan.” Ucap Barra saat Carissa berpamitan pulang.
“Iya Mas. Ya sudah aku pulang dulu.” Ucap Carissa dan mencium tangan suaminya dengan takzim.
Setelah itu Barra menahan tubuh Carissa sebentar dan mengecup keningnya. Carissa merasa jantungnya berdetak sangat kencang dengan perlakuan hangat suaminya.
Kemudian pandangan mereka bertemu dan saling mengunci. Barra perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya. Barra memberanikan diri untuk mengecup bibir istrinya. Dan melihat Carissa terdiam saja, Barra berpikir kalau istrinya mengijinkan.
Cklek
“Maaf saya tidak sengaja dan tidak lihat.” Ucap seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan Barra dan sontak mengacaukan rencana Barra yang akan mengecup bibir Carissa.
“Awas kau IQBAL!!!!” teriak batin Barra yang mengumpati asistennya itu.
.
.
.
*TBC
Selamat tahun baru buat reader setiaku semuanya😘😘😘🤗🤗🤗🤗
Semoga doa dan harapan yg blm terkabul thn kemarin, bisa terwujud di thn 2022 ini. aamiin..
Tetap jaga kesehatan. Love u all😘😘😍😍😍💕💕💕💕💕
__ADS_1