Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 116


__ADS_3

Delia terpaku tak percaya tentang apa yang baru saja dia dengar. Selepas dari rumah Gio tadi Radit mengajaknya ke rumah orang tua Delia yang berniat untuk berpamitan. Dalam perjalanan Delia sudah menguatkan hatinya bila kedua orang tuanya akan mencegah bahkan menghalangi kepindahannya ke kota B. bahkan Delia sudah mempersiapkan jawaban terbaiknya agar orang tuanya mengerti akan niat menantunya yang ingin mengajak pindah di kota B. namun, semua hanya ekspektasi Delia saja. Dia tidak menyangka apa yang baru saja Ibunya katakan.


“Jadi kalian jadi pindah kapan?” Tanya Ibu Delia saat semua sudah berkumpul di ruang keluarga.


“Maksud Ibu apa?” Tanya Delia bingung.


“Kalian jadi pindah ke kota B kapan?” Tanya ulang Ibu Delia.


“Ibu sudah tahu kalau kita akan pindah?” Tanya Delia tidak percaya.


Delia melirik ke arah suaminya seakan meminta penjelasan. Kemudian Radit menceritakan pada istrinya kalau benar bahwa Ayah dan Ibu sudah mengetahui rencana kepindahan ke kota B. bahkan Mama dan Papanya juga sudah tahu.


“Kenapa semuanya sudah tahu dari awal? Tanpa memberitahu pada Delia” tanya Delia dengan nada kecewa.


Delia benar-benar kecewa karena suaminya sudah merencanakan tentang kepindahannya tanpa memberitahunya dulu. Apa maksudnya semua itu. Bahkan kedua orang tua dan mertuanya sudah mengetahuinya.


“Sayang, aku memang sengaja memberi kejutan buat kamu. Aku nggak mau kamu menolak rencanaku, dan selama beberapa bulan aku juga sedang proses membuka cabang baru perusahaan di kota B dimana kita akan tinggal nanti. Maafkan aku. aku tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu darimu.” Radit menjelaskan panjang lebar.


“Benar apa yang dikatakan oleh suami kamu. Saat itu juga hubungan kalian sedang tidak baik juga. ayah juga melarang suami kamu untuk menceritakan rencananya pada kamu. Biar suami kamu fokus pada perusahaannya dulu.” Kini Ayahnya yang berbicara.


Delia terdiam mencerna kata-kata Ayahnya. Dia jadi merasa bersalah pada suaminya. Dan Delia juga ingat kalau beberapa bulan belakangan ini selepas pulang dari kantor, suaminya selalu disibukkan dengan urusan pekerjaannya lagi di rumah. Bahkan sampai larut malam. Delia tahu niat suaminya membawa pulang pekerjaan kantor karena tidak ingin dirinya mencurigai apa yang dilakukan suaminya jika pulang larut malam.


“Maaf” ucap delia lirih sambil menyeka air matanya.


“Sudah sayang, nggak perlu minta maaf. Ini semua bukan kesalahan kamu ko’.”


“Jadi kapan keberangkatan kalian?” Tanya Ayahnya kemudian.


“Besok, Yah” jawab Radit.


“Ibu harap keluarga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan. Meskipun berjauhan dengan orang tua. Jadilah suami istri yang saling terbuka, jujur, dan saling memaafkan. Hanya itu dapat Ibu sampaikan pada kalian.” Tutur Ibu Delia.


“Iya, Bu. Terima kasih doanya.” Jawab Radit dan Delia.

__ADS_1


Setelah itu mereka saling bercengkrama dan mengobrol ringan. Kedua orang tua Delia menikmatai kebersamaan dengan cucu-cucu mereka yang sebentar lagi akan pindah tempat tinggal. Jujur sepasang kakek dan nenek itu merasa sedih karena akan pisah dari cucu-cucu mereka. Namun demi kebahagiaan anak dan menantunya mereka harus ikhlas.


Setelah itu Radit dan Delia memutuskan untuk pulang. Mereka akan mempersiapkan barang-barang penting yang akan mereka bawa besok. Sebenarnya Delia juga mengajak suaminya untuk berpamitan pada Mama dan Papanya.


Meskipun mereka sudah tahu, setidaknya memberitahukan bahwa besok keberangkatannya. Kemudian Radit mengatakan bahwa Mama dan Papanya besok akan ikut ke kota B. mereka akan mengantar anak menantu, serta cucu-cucu mereka pindah. Selain itu Mamanya juga akan melihat keadaan butiknya.


Setelah sampai rumah, Delia mengajak duduk Bi Marni dan Bi Santi. Delia akan mengatkan tentang kepindahannya. Karena memang suaminya mendadak memberitahukan jadi, Delia juga mendadak mengatakan pada Bi Marni dan Bi Santi.


Lagi-lagi Delia terkejut. Baik Bi Marni dan Bi Santi sudah mengetahui tentang kepindahan majikannya seminggu yang lalu. Dan itu juga dari Radit yang mengatakannya.


“Mas!! Kamu ini keterlaluan banget sih!” kesal Delia.


“sayang, kejutannya kan memang buat kamu bukan buat Bi Marni dan Bi Santi.” Ucap Radit kemudian.


“Ya udah iya. Jadi Bi Marni dan Bi Santi terpaksa harus ikut kita juga.” Bi Marni mengangguk setuju tapi tidak dengan Bi Santi.


“Maaf Nyonya. Saya tidak bisa ikut pindah bersama keluarga anda. Karena sesuai kontrak kerja saya. Saya hanya bisa bekerja di dalam kota ini saja. Tidak bisa di luar kota. Karena saya juga memiliki keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan.” Ucap Bi Santi sendu.


“Nggak apa-apa Bi, saya tahu. Dan saya juga tidak bisa memaksa Bi Santi untuk ikut dengan kami.” Ucap Radit.


Kemudian Delia segera memeluk Bi Santi. Delia menumpahkan air matanya karena harus berpisah dengan seseorang yang selama ini membantu mengasuh anak-anaknya. Delia juga sudah sangat cocok dengan pekerjaan Bi Santi. Orangnya sangat sabar dan juga penyayang.


“Maafin semua keslahan Delia pada Bi Santi ya Bi?”


“Nggak Nyonya. Anda tidak pernah melakukan kesalahan pada saya. Anda adalah majikan saya yang paling baik. Semoga di tempat baru anda nanti, keluarga anda selalu diberi kebahagiaan.”


“Aamiin. Terima kasih ya Bi.”


Keesokan harinya Radit, Delia, Kay, Nathan, dan Bi Marni sudah berada di bandara. Mereka menunggu Mama dan Papanya yang akan ikut mengantar ke kota B juga. sedangkan orang tua Delia tidak bisa mengantar karena ada pekerjaan diluar kota.


Setelah semua sudah lengkap. Mereka segera naik pesawat. Dan beberapa saat kemudian pesawat yang mereka tumpangi take off.


Satu jam kemudian mereka sudah tiba di kota B. Delia menghirup udara kota B saat kakinya baru saja turun dari pesawat yang dia tumpangi. Jujur saja Delia sangat merindukan kota ini. Kota kelahirannya. Bahkan kota dimana dia bertemu dengan suaminya.

__ADS_1


“Yuk sayang. Mobilnya sudah tiba. Lebih baik kita segera menuju rumah baru kita.” Ajak Radit.


“Iya, Mas”


Mama dan Papa Radit tidak ikut ke rumah anaknya. mereka akan pulang ke rumahnya dan segera pergi ke butiknya. Mereka juga berjanji jika nanti malam akan bertandang ke rumah baru anaknya.


Saat ini Radit dan Delia sedang duduk di kursi belakang mobil. Sementara Bi Marni duduk di depan disamping sopir. Delia sangat bahagia sekali akan tinggal menetap di kota kelahirannya. Sejak tadi dia tersenyum simpul sambil memegang tangan suaminya.


“Kenapa sayang dari tadi senyum-senyum terus?” Tanya Radit penasaran.


“aku sangat senang sekali Mas akhirnya kita akan tinggal disini di kota ini.”


“aku juga senang sayang. Aku janji akan membahagiakan kalian semua.”


“Iya Mas, aku percaya.”


Beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai di depan halaman sebuah rumah. Rumah berlantai dua yang berukuran sedang. Tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar. Dan di halaman depan yang ditumpuhi dengan pepohonan hijau sehingga Nampak asri dan sejuk. Meskipun berada dalam sebuah kompleks perumahan.


Kemudian Radit menggandeng tangan istrinya yang sedang menggendong Nathan. Sementara Kay berjalan sendiri di samping Mommynya. Dan di belakang diikuti oleh Bi Marni.


Kaki Radit dan Delia sudah melangkah lurus menuju rumah mereka. Dan kini mereka sudah tiba di depan pintu utama. Radit memencet bel pintu rumah. Dan Delia mengernyit bingung. Memang siapa yang ada di dalam rumah itu yang akan membukakan pintu untuknya. Bukankah rumah itu belum ada penghuninya. Setelah itu pintu terbuka dan menampakkan seseorang yang di balik pintu itu.


“Selamat datang Tuan dan Nyonya!”


“Kevin????”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2