Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 131


__ADS_3

Rey berteriak sambil memukul setir mobilnya. Dia benar-benar frustasi. Dia masih ingat saat masuk ke dalam ruangan Kay, saat Kay baru saja membuka matanya.


“Kak Vito”


Rey harus menelan kekecewaannya. Bukankah saat ini yang ada dihadapan Kay adalah dirinya. Kekasihnya. Namun kenapa yang disebut Kay justru nama Vito. Radit dan Delia saat itu merasa tidak enak dengan Rey. Delia berusaha mengalihkan perhatiannya Rey agar tidak kecewa dengan Kay.


Kini Vito segera menghidupkan mesin mobilnya segera pulang ke apartemennya. Semenjak Rey kabur, dia memutuskan untuk membeli apartemen di kota B. Rey berpikir agar akan lebih baik memiliki apartemen disini agar bisa selalu dekat dengan kekasihnya.


Ciiiitttt


Rey mengerem mobilnya mendadak saat hampir saja menabrak seorang gadis yang sedang menyeberang jalan. Suasana hati Rey yang saat ini sangat buruk, lagi-lagi kini mendapatkan masalah yang hampir menabrak orang.


“Hei!!! Punya mata nggak? Pakai mata kamu kalau mau nyeberang!” umpat Rey saat keluar dari mobilnya.


“Hei dimana-mana kalau jalan itu pakai kaki. Kamu tuh yang nggak punya mata, tuh lihat lampu petunjuk lalu lintas!” balas gadis itu tak mau kalah.


Seketika Rey melihat lampu lalu lintas di depannya yang berwarna merah, yang berarti kesalahan ada pada dirinya. Dan tanpa meminta maaf, Rey segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan gadis yang masih terdiam itu.


“Dasar kurang ajar!!!” umpat gadis itu yang samar-samar masih didengar oleh Rey.


***


Sementara itu setelah menyelesaikan makannya, Vito segera kembali ke ruang rawat Kay. Sesuai perintah mommynya, Vito akan menjaga Kay. Dalam perjalanan menuju kamar Kay, Vito terus menynggingkan senyumnya mengingat perkataan Rey bahwa Kay juga mempunyai perasaan padanya.


Ceklek


Perlahan Vito membuka pintu kamar Kay. Disana terlihat Kay sedang tidur. Mungkin efek dari obat yang diberikan dokter hingga membuat Kay tidur cukup lama. Vito melangkahkan kakinya mendekati Kay. Dia duduk di kursi tunggal dekat brankar Kay. Vito dapat melihat wajah Kay yang sedang tertidur. Wajah cantik yang kini terlihat pucat.


Vito tidak tahu kapan wajah cantik Kay itu berhasil membuatnya jatuh cinta. Bahkan Vito juga tidak tahu sejak kapan dia sudah jatuh cinta pada gadis yang sudah dia anggap adiknya sendiri.


Vito dapat mendengar dengkuran halus Kay. Dia ingin sekali merengkuh tubuh itu dan memeluknya dengan erat. Vito ingin sekali mengungkapkan perasaannya pada Kay sekarang juga. tapi nyalinya belum cukup kuat. Mengingat status Kay yang masih menjadi kekasih Rey.


Perlahan Vito mendekatkan wajahnya ke wajah Kay yang sedang tertidur. Dia ingin sekali mengecup kening Kay. Namun kenapa arah bibir Vito kini justru mendekati bibir mungil nan tipis milik Kay. Vito masih belum menyadarinya. Tapi dia tetap melakukannya.


Cup


Vito mengecup bibir Kay saat si pemiliknya sedang tidur. Sungguh sangat pengecut sekali. Kemudian Vito menjauhkan wajahnya dari wajah Kay. Dia takut Kay mengetahui perbuatannya. Namun yang dilihat Vito, Kay masih nyenyak sekali tidurnya. Sehingga membuat Vito ingin mengulangi perbuatannya sekali lagi.

__ADS_1


Vito mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Kay. Perlahan dia mengecup bibir Kay. Tapi kali ini bukan lagi sebuah kecupan singkat. Vito membuka mulutnya dan menyapu bibir Kay. Vito benar-benar sangat terhanyut dengan bibir manis Kay. Kemudian dia kembali memagut bibir manis yang tertutup rapat itu lagi. Vito merasa terbang di angkasa karena perbuatannya ini. Dia tidak peduli dikatakan seorang yang pengecut karena berani mencuri ciuman pertama Kay tanpa sepengetahuan pemiliknya.


Vito segera melepas pagutannya saat telinganya tak sengaja mendengar kenop pintu ada yang membuka. Dia berusaha menormalkan degup jantungnya. Agar tidak dicurigai sebagai pencuri. Tepatnya pencuri ciuman.


Ternyata yang masuk adalah suster yang akan memeriksa keadaan Kay. Vito berdiri dan memberikan waktu buat suster mengecek tekanan darah Kay. Setelah suster selesai, tampak Kay perlahan membuka matanya.


“Kak Vito?” panggil Kay.


“apa yang kamu rasakan saat ini Kay?” Tanya Vito.


“Sudah lumayan enakan Kak. Apa Kak Vito sejak tadi disini?” Tanya Kay dan Vito hanya mengangguk tersenyum.


“Kak, bibir Kay ko’ basah ya? Padahal Kay tadi nggak minum apa-apa” ucap Kay sambil mengusap bibirnya.


Deg deg deg


Jantung Vito semakin berdegup kencang saat mendengarkan ucapan Kay baru saja. Apakah Kay tahu perbuatan bejatnya? Bagaimana kalau dia tahu.


“masak sih? Nggak tuh nggak kelihatan. Memangnya bagaimana rasanya?” Tanya Vito.


“Tapi ini basah Kak. Seingat Kay tadi seperti mimipi sedang ber-“ Kay segera menutup mulutnya sebelum melanjutkan ucapannya sendiri. Tidak mungkin dia menceritakan pada Vito kalau dia tadi bermimpi sedang berciuman dengan kakaknya. Pasti Vito akan menertawakannya.


“Eh nggak ko’ Kak.” Jawab kay berusaha menutupi kebohongannya karena dia sangat malu.


“kamu jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu pada kakak ya Kay” ancam Vito.


Dasar Vito egois. Padahal dirinyalah yang telah menyembunyikan sesuatu. Bahkan dirinyalah yang tidak tahu malu telah mencuri ciuman Kay. Ibaratnya lempar batu sembunyi tangan. Dia yang berbuat kesalahan tapi tidak mau mengakuinya.


Kay yang mendapat ancaman dari Vito seketika takut. Tapi apakah mungkin dia menceritakan mimpinya. Sungguh memalukan sekali.


“kay? Apa yang kamu sembunyikan pada kakak?” Tanya Vito lagi.


“Kay nggak menyembunyikan apa-apa ko’ Kak.” Ucap Kay.


“Oh kamu sudah tidak menganggap aku sebagai kakak kamu lagi?” sekali lagi Vito mengancam Kay.


“Nggak Kak. Bukan seperti itu. Aku hanya malu saja jika menceritakan mimpiku tadi.” Jawab kay.

__ADS_1


Vito semakin penasaran dengan jawaban Kay. Dia tidak sabar apa yang sedang Kay mimpikan tadi.


“kenapa malu? Cepat katakan!” desak Vito.


“ehm, Kay tadi mimpi sedang berciuman” ucap Kay kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena sangaat malu.


Vito yang mendengarnya seketika menarik sudut bibirnya ke atas. Bodoh sekali Kay yang menganggap itu adalah mimpi. Padahal itu bukan mimpi. Vito semakin penasaran siapa orang yang sedang mencium Kay yang dia anggap mimpi.


“Ehm, siapa yang sedang berciuman dengan kamu?” Tanya Vito sambil pura-pura memasang wajah dinginnya.


“Ma maafin aku Kak. Tapi dalam mimpi Kay tadi yang sedang mencium bibir Kay adalah Kak Vito” Kay kembali menutupi wajahnya.


Ssrrrrr


Entah kenapa darah Vito semakin berdesir saat Kay bilang seperti itu. Dia ingin sekali mengatakan bahwa itu bukan mimpi. Itu nyata. Nyata bahwa dirinyalah yang tadi mencium bibir Kay. Tapi apakah kay akan percaya?


“Maafin Kay ya Kak. Tapi Kay tidak bohong.” Ucap Kay lagi karena melihat Vito terdiam.


“Bagaimana kalau itu bukan mimpi? Bagaimana kalau itu kenyataan?” Tanya Vito.


“Nggak mungkin lah Kak Vito mencium Kay. Apalagi mencium bibir Kay” ucap Kay sambil memegangi bibirnya yang justru semakin memancing Vito untuk melakukannya lagi.


“Tapi itu kenyataannya Kay. Akulah yang telah menciummu tadi saat kamu sedang tidur. Itu bukan mimpi Kay. Itu nyata.”


“Nggak mungkin kakak melakukan itu pada Kay, Kak Vito kan sudah mempunyai keka- mmmpphhhhhh……”


Dengan cepat Vito membungkam mulut Kay dengan bibirnya. Vito mengulanginya lagi. Vito kembali memagut bibir manis Kay. Tapi bedanya sekarang Kay sadar dan tidak sedang bermimpi. Vito semakin memperdalam ciumannya. Namun tepukan tangan di dadanya menyadarkannya kalau Kay seperti kehabisan nafas. Dia segera melepas pagutannya dan mengusap bekas saliva pada bibir Kay.


“Kak Vito kenapa melakukan ini?” Tanya Kay dengan suara bergetar sambil menitikan air matanya.


“KARENA AKU MENCINTAIMU KAY!”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2