
Setelah dari makam mendiang mama Vito, Gio mengajak anak dan menantunya pergi untuk makan siang di salah satu restaurant yang sangat terkenal di ibukota Thailand yaitu di Bangkok. Bagi Vito hal ini sudah biasa saat dirinya dulu pergi kesini, Papanya selalu mengajaknya untuk wisata kuliner.
Tidak salah jika Gio adalah pria yang jago sekali memasak. Karena ilmunya begitu banyak didapat selain dari sekolah, juga dari seringnya berjelajah wisata kuliner.
Tapi bagi Kay, ini adalah pertama kalinya dia datang ke Thailand. Jadi dia merasa sangat asing dengan makanan khas Thailand. Tapi setelah Kay mencobanya, lama-lama dia juga menyukai makanan itu.
“Apa kamu suka dengan makanan itu Kay?” Tanya Gio.
Kay mengangguk saat menikmati Tod Man Pla. Karena bagi Kay hanya itu menu makanan yang menurutnya cocok di lidahnya. Tod Man Pla merupakan makanan khas Thailandyang cocok dengan lidah orang Indonesia. Makanan ini dibuat dengan menggunakan ikanatau ayam sebagai bahan utamanya. Para koki biasanya memasak Tod Man Pla menggunakan bumbu khas Thailand yaitu bumbu pasta kari merah yang bercita rasa pedas.
Setelah beberapa saat menyelesaikaan makan siangnya, mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Padhal Gio sudah memberikan waktu pada Vito agar mengajak istrinya jalan-jalan. Tapi Vito tidak mau, karena istrinya kecapekan dan butuh istirahat. Besok siang juga mereka harus pulang ke Indonesia.
Kini Gio, Vito, dan Kay sudah sampai rumah. Mereka segera masuk. Gio menuju ruang keluarga untuk bersantai sejenak, dan diikuti oleh Vito. Sedangkan Kay menuju dapur untuk mengambil minuman dan beberapa camilan.
“Pa, Mas ini minumannnya.” Ucap Kay.
“Terima kasih Sayang.” Jawab Vito.
Gio bahagia sekali melihat kemesraan anak dan menantunya sekarang. Vito benar-benar lelaki yang beruntung. Begitu juga dengan Kay. Gio berharap semoga rumah tangga anaknya akan selalu rukun seperti ini.
“Kay, apa kamu tahu kamu dulu lahir di negara ini?” Tanya Gio.
“Iya Pa. Mommy pernah cerita kalau Kay dulu lahir disini.” Jawab Kay.
“Dulu saat Mommy kamu hamil dan ngidam, Papa yang sering mengabulkan permintaannya. Bahkan Mommy kamu juga sering menyuruh Papa memasak makanan kesukaannya.” Ucap Gio lagi.
“Makanya sampai sekarang Kay sangat menyukai masakan Papa.” Jawab Kay tersenyum.
Vito hanya tersenyum mendengarkan Papa dan istrinya bercerita tentang masa kecil Kay. Sebenarnya baik Vito maupun Kay sudah tahu apa yang terjadi dengan Mommynya dulu hingga dia lahir di negara ini bersama Papanya yang saat ini menjadi Papa mertuanya. Kay dan Vito juga paham dan tidak terlalu mau tahu dengan jelas tentang masa lalu kedua orang tuanya.
Kemudian Gio memutuskan untuk beristirahat di kamarnya. Dia sangat tahu kalau anak dan menantunya masih pengantin baru, jadi Gio memberikan waktu mereka untuk berduaan.
“Sayang, tidur yuk!” ajak Vito pada Kay sdengan senyum smirk.
__ADS_1
“Nggak ah Mas. Pasti Cuma modus” jawab Kay cemberut.
“Ah Sayang, modusnya kan Cuma sama istriku bukan sama wanita lain.” Ucap Vito.
“Coba aja kalau Mas berani modus ssama wanita lain. Aku bakal ninggalin Mas Vito.”
“Nggak lah Sayang. Aku tadi Cuma bercanda. Kan aku bilang Cuma modusin istriku saja.” Jawab Vito kelabakan.
Sedangkan Kay hanya diam saja tidak menanggapi ucapan suaminya. Kay justru berdiri dan pergi meninggalkan suaminya menuju taman yang ada di halaman belakang. Vito hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengikuti istrinya.
“Sayang, jangan ngambek dong!”
“Kay nggak ngambek ko’. Kay hanya nggak suka Mas bercandanya seperti itu. Mas tahu nggak, kalau ucapan itu adalah doa. Apa Mas berniat mau modusin wanita lain jika nanti sudah bosan dengan Kay?”
“Sayang kamu bicara apa sih. Udah nggak usah dibahas lagi. Aku minta maaf dan janji tidak akan pernah macam-macam lagi.”
Kay hany tersenyum tipis mendengar perminta maafan suaminya. Kini mereka sedang duduk berdua di sebuah kusri yang ada di halaman belakang. Kay sangat menikmati semilir angin yang berhembus pada sore hari.
***
“Enak nggak Pa masakan istri Vito?” Tanya Vito pada Papanya.
“Enak. Kay masaknya enak kan karena saat masih dalam perut Mommynya selalu makan masakan Papa.” Jawab Gio sombong.
“ck.. perlu Papa tahu kalau hari ini masakan Kay enak tuh karena Vito yang membantunya.” Jawab Vito tak kalah sombong.
Kay yang mendengarnya hanya bisa menggelangkan kepalanya. Pusing melihat tingkah anak dan Papa di depannya, Kay memilih fokus dengan makanannya.
Setelah makan malam selesai mereka segera masuk ke kamarnya. Karena Kay ingin membereskan pakainannya karena besok akan pulang ke Indonesia. Dan Vito pasti mengikuti istrinya. Apalagi ke kamar, Vito akan sangaat leluasa menggoda istrinya tanpa ada seseorang yang melihatnya.
Dan benar saja, saat Kay sedang memasukkan baju ke dalam koper, tangan Vito juga ikut aktif. Bukan aktif membantu istrinya memasukkan baaju ke dalam koper, melainkan memasukkan tangannya ke dalam baju istrinya dan bermain-main disana.
“Mas ih geli!!” Kay berusaha menepis tangan suaminya.
__ADS_1
“Sayang, aku ingin. Seharian ini kamu nggak ngelayanin aku.” balas Vito.
Kay benar-benar heran dengan suaminya. Seharian tidak melayaninya. Memangnya sehari harus berapa kali dan kapan saja harus melayaninya. Padahal kan tahu sendiri tadi pagi pergi ke makam Mamanya setelah itu makan siang dan sorenya Kay juga memasak untuk makan malam. Benar-benar suami mesum. Tapi Kay sendiri juga tidak bisa menolak jika tangan nakal suaminya sudah mulai menelusup dan bermain-main di dalam sana. Akhirnya malam itu, mereka menghabiskan malam panas mereka untuk yang kesekian kalinya.
Keesokan harinya Gio, Vito, dan Kay kini sudah berada di bandara. Beberapa menit lagi peswat merekan akan segera take off. Mereka bertiga berjalan beriringan masuk ke dalam pesawat. Sebelum masuk ke pesawat, Gio sempat menoleh sebentar. Dalam hatinya dia mengucapkan selamat tinggal untuk negara ini dan juga mendiang istrinya.
Kini pesawat yang mereka sudah take off. Kay memilih untuk tidur karena tubuhnya sangat lelah setelah semalam penuh suaminya mengajak bermain tanpa henti. Vito hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah tidur dengan cepat.
Sebenarnya kasihan, tapi mau bagaimana lagi, Vito selalu merasa tubuh istrinya adalah seperti narkotika yang selalu membuatnya sakau.
Setelah beberapa jam perjalanan udara. Akhirnya mereka kini sudah sampai di Indonesia. Gio pamit pada Vito dan Kay untuk pulang terlebih dulu. Karena Vito tadi sudah mengatakan kalau mau ke apartemennya sebentar untuk mengambil barang-barangnya yang ketinggalan.
“Sayang, kamu mau makan dulu?” tawar Vito.
“Nggak Mas, nanti saja. Kay masih kenyang.” Jawab Kay.
“Ya sudah kamu tunggu disini dulu ya, akum au ke toilet sebentar.” Ucap Vito dan Kay hanya mengangguk.
Vito yang sudah tidak tahan menahan untuk buang air kecil, terpaksa meminta istrinya untuk menunggu sebentar. Setelah selesai dia segera menghampiri istrinya untuk segera pergi ke apartemennya.
Namun langkah kaki Vito terhenti saat dari jauh melihat istrinya. Tangan Vito terkepal kuat, amarahnya sudah membuncah di dada. Dengan wajah yang memerah Vito dengan cepat melangkahkan kakinya ke tempat dimana Kay sedang duduk menunggunya.
.
.
.
*TBC
Yuk ah waktunya ng'vote jgn sampai terlewatkan ya👌😘😘😘
like, komen, & gift nya jg ok👌👌
__ADS_1
happy reading🤗🤗💕💕