Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 223


__ADS_3

Perkelahian tidak bisa dihindarkan lagi. Kedua laki-laki itu saling baku hantam di depan butik Carissa. Untung saja kbutik masih sepi dan belum ramai pembeli.


Mereka berdua sudah sama-sama babak belur saat seorang satpam baru saja datang untuk memisahkan Barra dan Dhefin. Barra mengusap bibirnya yang masih mengeluarkan darah kemudian bergegas meninggalkan butik. Sementara Dhefin yang niatnya akan menemui Carissa juga ia urungkan. Dia juga segera pulang.


Barra tidak kembali ke kantor melainkan pulang ke rumahnya. Moodnya benar-benar hancur pagi ini. sudah ditolak Carissa, ditambah lagi dengan berkelahi dengan Dhefin.


“Barra! Kenapa muka kamu?” Tanya Kay saat melihat anaknya pulang dengan keadaan berantakan dan muka lebam.


Barra tidak menjawab karena wajahnya terasa nyeri sekali. Kemudian dia menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Kay pun mengikuti Barra masuk ke kamarnya.


Barra sudah berganti pakaian saat mamanya sudah memasuki kamarnya. Namun luka masih sama dan masih mengeluarkan sedikit darah di sudut bibirnya.


Kay mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat untuk mengompres muka Barra. Setelah itu mengolesi bethadine pada sudut bibir Barra. Barra meringis kesakitan namun tidak bicara sama sekali. Karena dia masih sangat marah dengan Dhefin.


“Terima kasih Ma.” Ucap Barra lirih.


“Kenapa bisa seperti ini?” Tanya Kay khawatir.


“Barra mau istirahat dulu Ma.” Jawab Barra mengalihkan pertanyaan mamanya.


Akhirnya Kay meninggalakn Barra dan membiarkannya untuk istirahat. Mungkin anaknya saat ini membutuhkan waktu untuk sendiri. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia sangat khawatir dengan anak sulungnya itu.


Kay memberitahukan pada suaminya tentang apa yang baru saja dialami oleh Barra. Vito pun segera mendapat kabar dari orang suruhannya kalau Barra baru saja berkelahi dengan Dhefin di butik milik Carissa. Kay sangat terkejut dengan kabar itu. Dia bertanya-tanya kenapa Barra sampai berkelahi dengan Dhefin. Apakah anaknya akan merebut Carissa dari tangan Dhefin secara terang-terangan.


Sementara itu Carissa juga sangat terkejut saat diberitahu oleh karyawannya bahwa tadi Barra dan Dhefin sedang berkelahi di depan butik. Carissa sangat khawatir pada keadaan dua laki-laki itu. Tapi Carissa lebih memilih menanyakan kabar Dhefin daripada Barra.


Carissa segera menghubungi Dhefin tapi sudah panggilan ke 6 kali, Dhefin tak kunjung menerima panggilan itu.


“Apa yang membuat mereka berdua bertengkar?” gumam Carissa.


***


Vito di kantor tidak bisa bekerja dengan tenang. Dia sangat geram dengan Barra yang bertidak bodoh dengan Dhefin. Bukannya dia dulu sudah melarangnya agar tidak betindak gegabah pada Dhefin. Ternyata Barra tidak bisa menahan emosinya.

__ADS_1


Akhirnya Vito memutuskan untuk pulang. Dia ingin membicarakan ini semua pada Barra. Vito menyerahkan semua pekerjannya pada Bram sampai nanti sore.


Saat ini Vito sudah berada di rumahnya. Dia melihat istrinya tengah duduk di ruang tengah seorang diri dengan wajah cemas.


“Mas, kenapa pulang?” Tanya Kay.


“Aku ingin bicara dengan Barra. Dimana dia?” Tanya Vito.


“Dia sedang istirahat di kamarnya. Lebih baik biarkan dia sendiri dulu Mas.” Ucap Kay namun Vito tidak mempedulikan ucapan istrinya.


Vito melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar Barra. Kay juga mengikuti suaminya. Taakut jika suaminya bertindak macam-macam dengan Barra.


Barra tiduran sambil bersandar pada headboard. Dia terkejut saat papanya memasuki kamarnya dengan diikuti oleh mamanya.


“Bukannya Papa sudah bilang, kamu jangan bertindak gegabah pada Dhefin. Biar itu menjadi urusan Papa dan Om Rey. Dan sekarang lihat, apa yang kamu dapatkan?” ucap Vito.


“Tapi ini beda masalahnya Pa. ini tentang Carissa.” Jawab Barra.


“Kenapa dengan Carissa? Apa kamu akan membalas perbuatan Dhefin dengan merebut Carissa dari tangan Dhefin, begitu?” Tanya Kay menimpali.


“Mama kan sudah bilang, bukan begitu cara mendekati Carissa. Kalau sudah seperti ini yang ada Carissa akan menjauhi kamu.” Ucap Kay.


“Nggak bisa Ma. Carissa hanya milik Barra. Karena Barra telah mengambil kesuciannya.” Ucap Barra dengan memelankan suaranya di akhir kalimat.


Plakkkk


Vito yang mendengar pengakuan anaknya seketika murka dan tangannya melayang begitu saja menampar wajah Barra tepat mengenai luka bekas perkelahiannya dengan Dhefin tadi.


Sementara Kay menutup mulutnya terkejut mendengar pengakuan Barra. Wanita paruh baya itu tidak menyangka dengan perbuatan tak bermoral yang dilakukan oleh Barra.


“Maafin Barra Ma, Pa. tolong dengarkan penjelasan Barra dulu.” Lirih Barra sambil menahan rasa sakit di pipinya.


Nafas Vito yang masih tersengal dan amarah masih menyelimuti hatinya seakan masih ingin menguliti Barra. Namun usapan lembut tangan istrinya membuatnya perlahan bisa meredam emosinya. Kay akhirnya memberikan Barra kesempatan untuk menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Akhirnya Barra pun menceritakan kejadian dimana dirinya saat menghadiri acara reuni tempo hari. Saat itu Barra ada seorang pelayan datang membawa minuman untuknya dan ternyata dalam minuman itu sudah dicampur dengan obat perangsang. Saat obat itu bereaksi, dirinya berusaha menjauhi keramaian dan ternyata dia melihat Astrid mengikutinya dari belakang. Barra menduga kalau semua itu perbuatan Astrid. Karena beberapa hari sebelumnya Astrid menemuinya dan meminta untuk balikan.


Barra melanjutkan ceritanya kembali. Saat dirinya sudah berada di lorong kamar kamar hotel dan akan menuju toilet, dia bertemu dengan Carissa yang baru saja keluar dari toilet. Dan saat itulah dirinya sudah tidak tahan lagi dengan reaksi obat itu. Pikirnya saat itu daripada melampiaskannya pada Astrid, lebih baik pada Carissa. Hingga akhirnya peristiwa itu terjadi.


Vito dan Kay hanya bisa terdiam mendengar cerita Barra. Mau bagaimana pun juga tindakan Barra tetap salah. Vito dan Kay meminta Barra agar mempertanggung jawabkan perbuatannya.


“Barra sudah berulang kali menemui Carissa namun dia selalu menghindar. Bahkan setelah malam itu terjadi, Barra sudah mengatakan pada Carissa akan bertanggung jawab. Dan tadi saat Barra sudah bertemu dengannya. Carissa menolak Barra Ma, Pa.” ucap Barra sendu.


Vito dan Kay sangat kasihan melihat anaknya. namun mereka juga akan berusaha membantu Barra agar Carissa mau menerimanya. Sebelumnya Vito dan Kay juga akan meminta maaf terlebih dulu pada kedua orang tua Carissa.


“Ya sudah lebih baik kamu istirahat dulu. Biar Mama dan Papa pikirkan caranya.” Ucap Kay kemudian.


***


Beberapa hari kemudian keadaan Dhefin sudah membaik dan luka lebamnya sudah sembuh. Hari ini dia bertekat akan mendatangi rumah Carissa. Dhefin sudah memutuskan untuk segera melamar Carissa. Dia tidak peduli bagaimana kondisi Carissa. Yang terpenting Dhefin ingin segera memiliki Carissa.


Saat ini Carissa duduk di ruang tamu bersama Dhefin. Mereka berdua terdiam cukup lama. Carissa sebenarnya sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Dhefin tapi dia bingung mencari alasannya.


“Rissa, weekend lusa aku akan melamar kamu.” Ucap Dhefin dan membuat Carissa sangat terkejut.


“Tap-,”


“Aku sudah berpikir kalau sebaiknya hubungan kita segera diresmikan. Aku nggak mau ada penolakan. Dan kamu jangan khawatir, aku akan menerima kamu apa adanya.” Ucap Dhefin memotong perkataan Carissa.


Carissa menitikan air matanya saat Dhefin megatakan mau menerima dirinya apa adanya. Itu berarti Dhefin sudah tahu kejadian yang sesungguhnya. niat hati ingin mengakhiri hubungan, justru Dhefin datang akan melamarnya. Harusnya Carissa bersyukur ada laki-laki yang mau menerimanya dengan keadaannya yang sudah tidak suci lagi. Namun entah kenapa perasaan Carissa menjadi gamang terhadap Dhefin. Justru saat ini yang ada dalam benaknya adalah Barra.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy reading🤗🤣🤣🤣✌️✌️


__ADS_2