Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 221


__ADS_3

Pagi hari ini Silvia terbangun dalam keadaan sangat khawatir. Pasalnya semalam dia menunggu anaknya sampai larut malam tapi Carissa tak kunjung pulang. Akhirnya sang suami memaksanya untuk tidur lebih dulu dan berjanji akan memberitahunya kalau Carissa sudah pulang.


Dan saat jam menunjukkan pukul 3 dini hari terdengar suara deru mobil berhenti tepat di depan pintu rumahnya. Adnan melihat dari balik jendela kamarnya dan mengenali mobil itu adalah mobil Barra. Meskipun dia sangat khawatir pada keadaan Carissa, tapi setelah melihat Carissa keluar dari mobil Barra, hati Adnan sedikit lega. Karena semalaman dirinya menghubungi Dhefin untuk menanyakan keberadaan Carissa namun laki-laki yang berstatus sebagai kekasih anaknya itu tak kunjung menajawab panggilannya.


Adnan keluar dari kamarnya dan berniat untuk menanyakan alasan Carissa kenapa pulang selarut ini, namun Carissa sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya Adnan mengurungkan niatnya.


“Sayang! Tumben belum bangun jam segini?” ucap Silvia yang tengah berada di dalam kamar Carissa.


Sedangkan Carissa masih enggan membuka matanya karena masih merasakan seluruh tubuhnya remuk. Dia juga masih menyelimuti tubuhnya sebatas leher hingga hanya menampakkan kepalanya saja.


“Ayo bangun! Apa kamu nggak ke butik hari ini?” Tanya Silvia lagi berusaha membangunkannya.


Namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari Carissa. Dan hal itu semakin membuat Sivia semakin cemas. Tangannya terulur menyentuh kening Carissa yang hangat.


“Astaga, badan kamu hangat.” Ucap Silvia.


Beberapa saat kemudian Carissa mengerjapkan matanya. dan perlahan dia membuka matanya, ternyata di dalam kamarnya sudah ada mamanya.


“Mama? Ada apa? Rissa masih ngantuk Ma.” Ucap Carissa malas.


Silvia berusaha membuka selimut Carissa. Namun dengan cepat Carissa menahan selimutnya agar mamanya tidak membuka selimut itu. Carissa takut mamanya akan melihat tubuhnya yang penuh dengan tanda merah bekas percintaannya dengan Barra.


“Badan kamu hangat. Lebih baik nggak usah ke butik dulu. Mama akan buatkan kamu bubur.” Ucap Silvia dan segera keluar dari kamar anaknya.


Silvia keluar dari kamar masih dihinggapi rasa penasaran pada reaksi Carissa yang tidak memperbolehkannya untuk membuka selimut. Ada apa. Apa yang telah terjadi pada anaknya semalam. Silvia begitu cemas.


“Kenapa?” Tanya Adnan tiba-tiba.


“Ah, Papa bikin Mama jantungan saja. Nggak apa-apa. Mama mau buatin Carissa bubur karena badannya hangat. Semalam Papa tahu dia pulang jam berapa?” Tanya Adnan.


“Kurang lebih jam 3an. Kamu nggak usah khawatir karena Carissa pulang diantar Barra.” Jawab Adnan.

__ADS_1


“Oh..” Jawab Silvia.


Entah kenapa baik Silvia maupun Adnan sama-sama marasa lega saat tahu Carissa pulang bersama Barra. Dan mereka berdua sedikit meragu pada sikap Dhefin. Padahal disini Dhefin lah yang statusnya sebagai kekasih Carissa.


Sedangkan Carissa segera masuk ke kamar mandi setelah memastikan mamanya keluar dari kamarnya. Dia segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tidak peduli meski badannya saat ini agak demam.


Carissa menangis tak bersuara saat melihat kisssmark di area leher dan dadanya yang begitu banyak akibat perbuatan Barra. Carissa terus mengeluarkan air matanya seiring dengan guyuran air shower. Saat ini dia merasa menjadi wanita paling kotor karena tidak bisa mempertahankan mahkotanya yang selama ini ia jaga.


“Ya Tuhan ampuni dosaku.” Lirih Carissa.


Tubuhnya semakin lemah seiring dengan tangisnya yang juga semakin pilu. Tapi dia harus berusaha kuat untuk segera mengakhiri prosesi mandinya. Dia tidak ingin berakhir di kamar mandi dalam keadaan pingsan dan kedua orang tuanya mengetahui kissmark yang ada di lehernya.


Setelah keluar dari kamar mandi, dengan cepat Carissa mencari baju yang bisa menutupi lehernya. Setelah itu dia duduk di meja rias menyisir rambutnya.


“Ris, badan kamu hangat kok malah keramas?” Tanya Silvia yang kini sudah masuk kamarnya dan membawa semangkok bubur dan segelas air putih.


“Biar lebih segar saja Ma.” Jawab Carissa tenang.


Setelah Silvia keluar dari kamarnya ternyata di ruang tamu sedang ada Dhefin yang tengah berbincang pada Adnan. Silvia pun menghampiri Dhefin.


“Tante, Dhefin ingin bertemu dengan Carissa.” Ucap Dhefin.


“Ehm, Nak Dhefin Rissa kurang enak badan. Hari ini dia ingin istirahat. Dan tidak ingin bertemu dengan siapapun. Maafkan Tante.” Ucap Silvia.


“Carissa sakit apa Tante. Apa dia baik-baik saja? Maaf semalam dia pulang bersama siapa? Maafkan Dhefin yang lalai menjaga Carissa.” Ucap Dhefin merasa bersalah.


Saat di acara reuni semalam Dhefin sangat panik saat tidak melihat keberadaan Carissa. Bahkan dia sudah mencarinya ke toilet saat acara sudah selesai, namun dia tidak ada disana.


“Rissa hanya agak demam saja. Sepertinya semalam dia mampir ke rumah temannya, dan pulangnya juga diantar temannya.” Jawab Silvia berbohong karena tidak ingin membuat kesalah pahaman antara Dhefin dan Barra.


“Oh, ya sudah kalau begitu. Titip salam saja buat Carissa Tante, Om. Dhefin pamit pulang dulu.” Ucap Dhefin dan segera pulang.

__ADS_1


“Kenapa Mama tidak bilang kalau semalam Carissa diantar Barra?” Tanya Adnan.


“Mama nggak mau Dhefin salah paham dengan Barra Pa. mereka berdua kan bersahabat. Meskipun kita juga belum tahu apa yang menyebabkan Carissa pulang diantar oleh Barra.” Jawab Silvia.


Ternyata sejak tadi mobil Barra sudah berhenti tidak jauh dari rumah Carissa. Dia ingin sekali bertemu Carissa untuk minta maaf, namun dia melihat mobil Dhefin terparkir disana.


Akhirnya Barra mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk pulang ke rumah lagi.


***


Sementara itu pagi ini Astrid dilanda morning sickness. Dia enggan keluar dari kamarnya sebelum rasa mualnya hilang. Dia sangat takut Mamanya akan marah saat tahu dirinya sedang hamil.


Semalam Astrid sangat kesal karena rencana yang sudah ia susun rapi ternyata gagal total. Setelah dirinya mendapati bajunya basah kuyup akibat kena siraman air bekas mengepel lantai, Astrid berjalan ke toilet. Dia berniat mencari keberadaan Barra yang menurutnya masuk ke toilet, namun tidak ada. Akhirnya dia mendatangi kamar hotel yang sudah ia pesan, tapi kamar itu dalam keadaan tertutp dan dikunci dari dalam. Astrid heran, siapa yang menempati kamar yang sudah ia pesan itu. Tidak mungkin jika Barra tiba-tiba masuk seorang diri.


Astrid membersihkan mulutnya dengan air kran. Dia melihat wajahnya sedikit pucat akibat terus saja memuntahkan isi perutnya.


“Bagaimana ini. Aku akan tetap berusaha mendekati Barra, bagaimanapun caranya biar dia yang bertanggung jawab dengan anak ini.” gumam Astrid sambil menatap pantulan wajahnya pada cermin yang ada di depannya.


.


.


.


*TBC


Ya Allah kuatkan hati othor utk mnghadapi serangan dr reader tersayang. krna banyak part yg akan membuat mereka kesal aamiin🙏😂😂😂😂✌️✌️✌️✌️


Note: Ibaratnya nih othor sm reader tuh sepasang kekasih. terkadang jalan pemikiran kita berbeda. tapi yakinlah di balik itu semua pasti ada tujuan baiknya, ea ea ea🤣🤣🤣


happy reading🤗🤗😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2