
Selama setahun menjalani studinya di Singapore Viviane sudah mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan sekitarnya. Teman-temannya pun juga banyak. Viviane sendiri sebenarnya pribadi yang easygoing atau mudah bergaul. Apalagi dia mudah akrab dengan teman yang baru dia kenal. Selama tinggal di Singapore Viviane benar-benar menikmati kebebasan yang diberikan Radit. Anggapannya seperti itu, padahal kenyataannya Radit memang sudah membebaskan tanpa batas dan tanpa mau tahu lagi apapun yang dilakukan oleh Viviane. Viviane juga tidak membatasi pergaulannya. Dia bebas mau berteman dengan siapapun. Jadi pergaulannya sangat tidak terkontrol.
*
Hari minggu sore Radit baru saja mendarat di kota kelahirannya. Tapi kedatangannya kali ini tidak sendiri, melainkan ditemani dengan sang sahabat yang sejak keberangkatannya hanya menampakkan wajah kesalnya. Pasalnya dia tidak mau ikut Radit untuk pulang kampung, tapi gara-gara ancaman Radit, Surya mau tidak mau harus mengikuti perintah sang sahabat tukang maksa bin ngancam.
#flashback on
“Sur, ikut gue yuk ke kota B!” ajak Radit tiba-tiba
“Hah??” Surya bingung
“Iya besok ikut gue pulang kampung ke kota B” jelas Radit
“Gila loe, ogah! Gue ga mau!” tolak Surya
“Ya udah kalau gitu, gue tarik saham gue di cafe loe ini” ancam Radit kemudian
“Apa'an sih loe dit ga lucu” kesal Surya
“ok deal gue tarik sekarang. Bye” Radit langsung pergi meninggalkan cafe. Tapi belum sampai pintu sudah dicekal oleh Surya
“Ok deal” jawabnya terpotong dan menghentikan langkah Radit. “deal gue ikut loe pulang kampung” jawabnya kemudian
“Besok gue tunggu di bandara. Ga ada kata terlambat!” ucap Radit lalu meninggalkan cafe.
Sementara Surya bersungut-sungut seakan siap mengeluarkan tanduknya. Sudah maksa pakai ngancam lagi. Bisa-bisanya dia punya Sahabat seperti Radit. Tapi kalau nggak ada Radit cafenya juga nggak akan seperti saat ini. Akhirnya Surya hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Radit.
#flashback off
Dalam perjalanan menuju rumah Radit, Surya hanya membuang muka ke arah luar jendela. Radit sangat tahu tabiat sahabatnya ini. Meskipun Surya sewot, cemberut, dan muka ditekuk-tekuk sampai lecek kaya' baju nggak disetrika, tetapi Surya masih setia dan mau menuruti kemauan Radit.
__ADS_1
“Loe mau tidur di mobil atau tidur sama gue Sur?” tanya Radit saat sudah keluar dari mobil, sementara Surya masih diam di dalam mobil.
“Gue ga milih dua-duanya. Gue mau loe sediain kamar istimewa buat gue” ucap Surya sambil mengikuti langkah Radit masuk ke dalam rumahnya.
Meskipun Radit dan kedua orang tuanya berada di kota J, tetapi rumahnya masih ada yang jaga yaitu sepasang suami istri yang sejak dulu sudah dipercaya oleh kedua orang tua Radit untuk menjaga dan membersihkan rumahnya. Jadi mau ditinggal selama apapun mereka tidak khawatir akan rumahnya. Karena yang menjaganya setiap hari rajin membersihkan rumahnya. Itupun mereka juga digaji dua kali lipat.
Radit berjalan dan membukakan pintu kamar ruang tamu untuk Surya.
“nih kamar loe selama nginap disini”
“ok, not too bad”
Setelah mengantar Surya ke kamarnya, kini Radit segera masuk ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri dan segera beristirahat sebentar sebelum makan malam. Karena badannya sangat capek.
Esok harinya Radit bersiap untuk pergi ke butik mamanya. Dia ingin segera menyelesaikan masalah keuangan di butik mamanya. Dia tidak ingin berlama-lama disini. Lebih cepat urusannya selesai maka itu lebih baik agar segera bisa meninggalkan kota ini.
“Gue langsung ke butik nyokap gue. Loe terserah mau kemana aja. Ada mobil dan motor di garasi. Loe bisa pakai yang mana terserah loe. Gue naik taksi aja” pamit Radit pada Surya yang masih masih menunjukkan muka bantalnya
Dalam perjalanan, dalam taksi Radit masih mengingat ucapan Surya tadi. “Teringat kenangan dalam mobil dan motor” Radit mengingatnya kembali. Memang dulu dia sering jalan dengan Viviane naik mobil dan motor. Tapi dia lebih suka naik motor, karena baginya biar lebih mesra. Jadi itu kenangannya tentang motornya. Sementara di mobil, tidak ada kenangan apapun dengan Viviane. Karena dia jarang sekali jalan dengan Viviane naik mobil. Paling Cuma sesekali saja. Jadi tidak ada yang berkesan. Tapi tunggu, bukankah di dalam mobilnya dulu dia pernah melakukan ciuman panas dengan Delia? Sejenak Radit menyentuh bibirnya. Dia mengingat saat ciuman yang awalnya lembut dan berubah dengan ciuman penuh nafsu itu. Radit masih mengingat jelas rasa manis bibir Delia, rasa yang telah menjadi candunya. Tiba-tiba dia merasakan sesak di dadanya, dia merindukan sosok Delia dengan tatapan teduhnya dan tatapan ketakutan saat dia menatapnya tajam.
“Del.. Dimana kamu sekarang? Masihkah kamu ingat aku?” lirihnya yang tiba-tiba merindukan Delia. Radit selama ini memang fokus dengan kerjaannya hanya untuk melupakan sosok Viviane. Dia terlalu benci dengan Viviane, maka dari itu kesibukannya hanya untuk fokus melupakan Viviane. Radit bahkan sampai lupa dengan Delia. Gadis yang diam-diam mencintai dirinya saat dia masih menjadu kekasih sahabatnya.
Radit tersenyum saat mengingat Delia mengakui perasaan terhadal dirinya tanpa Delia tahu bahwa dirinya mendengarkan semuanya. Setelah itu senyumnya surut seakan menyadari, apakah Delia masih mencintainya? Apakah dia merindukannya? Radit pun juga tidak mengerti apakah dia mencintai Delia?. Batinnya terus bertanya.
“Mas sudah sampai” ucap sopir taksi menyadarkan Radit dari lamunannya. Radit segera membayarnya dan masuk ke butik.
Sesampainya di butik, dia disambut ramah dengan karyawan mamanya. Setelah membalas sapaan para karyawan, Radit segera masuk ke ruangan mamanya.
Saat berjalan perhatiannya teralihkan dengan sebuah lemari kaca yang menyimpan sepasang baju pengantin. Seketika muka Radit memerah menahan amarah. Dia tahu itu baju siapa, ya bajunya dengan Viviane. Radit menghampiri karyawannya dan siap meledakkan amarahnya.
“Siapa yang menyuruh kalian meletakkan baju itu dalam lemari kaca? Jawab!” teriak Radit. Seketika para karyawan hanya menundukkan kepalanya takut. Karena tidak mendapatkan jawaban, Radit segera menginterupsi lagi. “saya mau sekarang juga, buang baju pengantin yang ada di lemari kaca itu!” dan segera masuk ke ruangan mamanya.
__ADS_1
*
Sementara Surya setelah selesai mandi dan sarapan dia segera pergi. Dia memilih naik motor saja untuk jalan-jalan keliling kota. Siapa tahu dapat cewek yang bisa diajak jalan. Kan cewek memang lebih suka diajak naik motor daripada mobil. Dia juga untung banyak. Ckckck... Dasar otak playboy.
*
“Del, hari ini bukunya yang kita pesan banyak sekali. Dan salah satu karyawan hari ini ada yang ijin. Kamu ada kenalan orang nggak yang bisa bantu angkat buku-buku?” tanya Yudhi
“Biar aku aja nggak apa-apa ko. Dikit-dikit aja biar nggak berat bawanya” ucap Delia
“Jangan del!” tolak Yudhi
“Nggak apa-apa ko nggak usah sungkan sama aku. Santai aja ok!” akhirnya Yudhi hanya pasrah. Delia sangat gigih dalam kerjaannya di perpustakaan Yudhi.
Sejak kuliahnya memasuki mata kuliah skripsi, dia sudah memutuskan untuk berhenti jualan baju onlinenya karena dia ingin fokus. Dan setelah wisuda, dia juga ingin kerja yang sesuai dengan basicnya. Awalnya dia kerja di perpustakaan Yudhi, dia ingin menjadi pustakawan. Tapi itu semua juga butuh proses. Jadi dia mau menjalaninya mulai dari bawah dulu. Tapi dia juga tidak menolak seumpama nanti dapat panggilan pekerjaan lain yang pastinya sesuai dengan basicnya.
Saat ini Delia sedang membantu Yudhi membawa beberapa kardus buku yang baru datang. Mengambil dari sebuah mobil bix dan dibawa masuk untuk segera ditata. Saat Delia mengangkat kardus, tiba-tiba ada motor dengan kecepatan tinggi melaju kencang dan akan menabrak Delia. Delia yang tahu saat sedang berbalik badan langsung teriak
“Aaaarghhhh” dia menutup matanya pasrah. Dari arah berlawanan ada orang yang berteriak dan segera menyelamatkan Delia. “awaasssss!” Seketika tubuh Delia seperti melayang tapi tidak merasakan sakit. Padahal motor tadi melaju kencang. Saat dia membuka mata baru menyadari tetnyata ada yang menyelamatkannya, dengan memeluk tubuhnya menghindari motor tadi. Sementara si penyelamat, kepalanya terbentur trotoar. Delia sangat shock dengan kejadian yang menimpanya. Dan saat keduanya saling menatap tiba-tiba
“My angel!!”
“Delia!!”
“Dewangga!!”
*TBC😂😂😂
Ayo dong like komen vote sama hadiahnya tuh jangan lupa. Biar author rajin update.
*_author newbie_💕💕
__ADS_1