Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
Eps 6 Perasaan Aneh


__ADS_3

#Radit POV


Hari ini seperti biasa aku akan jadi bodyguard kekasihku Viviane 24 jam nonstop. Hal itu sudah menjadi kebiasaanku setiap aku mengambil cuti kerja. Sebenarnya nggak cuti sih, perusahaan tempat aku bekerja juga milik papaku sendiri yang sebagai direkturnya sedangkan aku bagian manager pemasaran. Jadi aku bisa ijin kapan saja selama masih bisa aku handle dari jarak jauh. Papa juga bisa memaklumi itu. Karena kepulanganku tidak hanya untuk Viviane melainkan juga untuk mamaku. Ya, mama dan papa tinggal terpisah karena mama juga mengurus usahanya sendiri yaitu butik. Meskipun mama dan papa tinggal terpisah tetapi komunikasi mereka berdua tetap lancar dan harmonis.


Pukul tujuh aku sudah bersiap untuk mengantar Viviane ke kampus. Viviane hari ini ada jadwal konsultasi dengan dosen pembimbing skripsinya. Sebenarnya jadwalnya jam 9. Hanya saja Viviane minta diantar pulang dulu ke apartemennya untuk mengambil berkas yang diperlukan.


Aku mengantar Viviane ke kampus lebih suka naik motor daripada naik mobil, agar bisa mesra-mesraan sama Viviane. Selain itu juga menghindari macet. Viviane pun juga tidak banyak protes karena kepanasan atau apalah. Itu lah yang aku suka dari Viviane, dia tidak pilih-pilih, penurut, dan tidak minder karena latar belakang ekonomi keluarga kita berbeda. Viviane berasal dari keluarga yang sederhana yang tinggal di kampung. Dia tinggal di kota bersama paman dan bibinya sejak masih SMA. Dan berbekal dengan kecerdasannya dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah.


Setibanya di parkiran kampus, Viviane langsung meninggalkanku dengan terburu-buru bahkan kita tidak sempat cipika-cipiki. Itu dikarenakan tadi ada sedikit kendala saat di apartemen Viviane. Ya… yang semalam masih kurang menurutku.


Aku berjalan mencari tempat duduk yang nyaman buat nunggu Viviane konsultasi sama dosennya. Saat melangkahkan kaki, tepat di depan mata kepalaku sendiri aku melihat teman Viviane yang katanya sahabatnya sejak tiga tahun yang lalu. Dia adalah Delia. Yang kapan hari tidak sengaja aku numpahi semangkok bakso ke pahanya.


Aku melihat dia turun dari motor gedhe, dan yang boncengin dia seorang cowok yang kelihatan gagah, tetapi wajahnya tidak kelihatan begitu jelas. Aku terus mengamatinya dari jauh. Sampai aku tidak sadar langkah kakiku berhenti begitu saja hanya untuk melihat Delia yang diantar seorang cowok.


Ku amati dia manja banget sama cowok itu, bahkan mereka cipika-cipiki sebelum berpisah. Dan cowok itu juga mengacak rambutnya Delia. Delia bahagia sekali karena itu terlihat dari senyumnya. Senyum yang sangat menyejukkan hati. Berbeda sekali saat kita bertiga dulu ngobrol bareng Viviane pasca peristiwa tumpahnya semangkok bakso. Saat itu Delia hanya menundukkan kepalanya, jarang sekali menimpali obrolan kita. Dia terkesan dingin. Menurut cerita Viviane, Delia memang menutup hatinya untuk kaum adam, karena trauma masa lalunya. Tetapi jika dibandingkan dengan yang aku lihat sekarang, dia malah kelihatan ceria.

__ADS_1


“ck… dasar cewek munafik, katanya trauma sama cowok tapi apa? Kelihatan ganjen gitu. Apa karena cowoknya yang gagah dan kaya lantas dia bisa membuka hatinya? Kalua dilihat cowoknya juga nggak jauh beda sama aku. 11 12 lah. Dia yang 11, aku yang 12” batin Radit tidak sadar.


“astaga… mikir apa sih aku ini” sadar Radit sambil menepuk-nepuk mulutnya sendiri.


#Radit POV end


Akhirnya Radit bisa duduk santai setelah mengamati kemesraan Delia dengan sang kekasih. Dia menunggu Viviane sambil mengecek email dari orang kantor yang masuk melalui ponselnya. Dan tiba-tiba saja Delia duduk di depan Radit. Mereka berdua tidak menyadari itu. Karena area itu umum untuk mahasiswa. Radit dengan kesibukannya mengecek email yang masuk, dan Delia yang sibuk menyalakan laptopnya untuk mengerjakan tugasnya. Mereka berdua tidak menyadari sedang duduk berdua berhadapan. Namun tiba-tiba Delia mendapat telepon dari abangnya.


“ya halo?”


“ya ga papa ntr aku langsung ke mall aja, jadi jemputnya di mall kaya’ bias-“


Belum sempat melanjutkan ucapannya di seberang telepon, Delia dibuat terkejut dengan sosok dihadapannya yang tengah menatapnya tajam. Buru-buru Delia menutup panggilan teleponnya.


“eh… Ra..radit, lagi antar Viviane ya?” basa-basi Delia gugup dan merasa canggung dengan keberadaan Radit

__ADS_1


“hmmm” jawab singkat Radit yang masih terus menatap Delia yang masih kelihatan gugup


“matanya…. Kenapa dengan mata itu? Kenapa perasaanku jadi aneh gini tiap kali melihat tatapan mata Delia?” batin Radit


Sementara Radit masih bingung dengan pemikirannya sendiri. Dia bingung dan meara aneh dengan hatinya. Padahal dia tadi sudah menilai bahwa Delia termasuk perempuan munafik. Tapi apa sekarang? Kenyataannya, antara pikiran dan hatinya berbanding terbalik. Pikirannya membenci akan kemunafikan Delia, sedangkan hati merasa aneh di kala melihat tatapn teduhnya. Radit bingung harus mengikuti pkirannya atau kata hatinya?.


Tetapi kalau menuruti pemikirannya, untuk membenci sifat Delia yang terkesan munafik menurutnya apakah pantas? Dia juga baru mengenal Delia. Lantas dia harus membencinya? Kenapa? Memangnya merugikan dirinya meskipun Delia munafik. Entahlah ada sebagian kecil dari hati Radit seakan tidak terima dengan sikap Delia yang ganjen terhadap laki-laki. Padahal dia bukan siapa-siapanya Delia. Sedangkam Delia melihat Radit malah diam saja, lebih baik dia segera memutuskan untuk segera pergi meninggalkan Radit. Karena kalau terlalu lama berhadapan dengan Radit, akan berdampak buruk juga pada kesehatan hatinya.


“ehm… aku duluan ya Dit. Salam ke Viviane” pamit Delia yang hanya diangguki oleh Radit. Setelah Radit merasakan kepergian Delia dari hadapannya, perasaannya semakin berantakan. Seakan dia tidak mau jauh dari Delia. Dia ingin selalu dekat dengannya. Memangnya Delia juga bakal mau dekat dengannya? Yang ada Delia malah takut dengan tatapannya yang dingin dan tajam setajam mata pisau.😀


Setelah beberapa waktu kemudian, Viviane sudah menyelesaikan bimbingannya dan segera menghampiri Radit. Mereka berdua langsung menuju mall untuk makan siang dan Viviane juga mau membeli buku-buku referensi buat nyusun skripsinya.


Radit benar-benar tipe cowok yang setia dan penyayang. Apapun yang diinginkan oleh Viviane selalu ia turuti. Permintaan Viviane pun juga tidak pernah macam-macam. Sudah lama mereka menjalin hubungan, mereka bisa saling mengerti satu sama lain. Meskipun menjalani hubungan jarak jauh atau bahasa gaulnya sekarang LDR (Long Distance Relationship) tapi mereka tidak pernah ada pertengkaran. Ada sih pertengkaran kecil, tapi itu hal yang wajar. Dan mereka bisa mengatasinya dengan saling mengalah dan memaafkan. Karena memang itu adalah kunci suatu hubungan agar tetap langgeng. Selain itu juga saling percaya dan setia. Tapi bicara tentang setia, rasanya ada yang aneh pada perasaan Radit. Apalagi semenjak bertemu dengan Delia. Semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan diluar kendalinya.


*TBC

__ADS_1


*salam hangat dari _author newbie_😘😘


__ADS_2