
Setelah mengantar suaminya bekerja, Carissa kembali masuk ke dalam dan kebetulan berpapasan dengan kakaknya yang juga akan pergi ke kantor.
“Ciee.. yang sudah jadi istri!” goda Xavier dan langsung mendapat cubitan di perutnya dari Carissa.
“Awww…” Xavier meringis.
“Rasain!”
Carissa segera masuk dan menghiraukan Kakaknya yang mengusap perutnya akibat cubitannya tadi.
Carissa segera bergabung ke ruang tengah dimana ada kedua orang tuanya dan juga Opa Omanya. Meski Carissa baru saja bertemu dengan Mama kandungnya kemarin, namun yang namanya hubungan anak kandung dan ibu sudah sangat melekat. Hingga membuat keduanya sudah tampak akrab. Selain itu Carissa juga tipikal orang yang mudah akrab dengan seseorang.
Kini Carissa sedang duduk disamping Mamanya yang di sebelahnya ada sang Papa tampak bergelayut manja.
“Papa nggak ngantor?” Tanya Carissa.
“Nggak. Kenapa Sayang?” Tanya balik Charles.
“Tumben aja sih. Bukannya Papa itu workaholic?” ucap Carissa.
“Kali ini nggak. Karena orang yang Papa cintai sudah kembali lagi, jadi Papa kerjanya santai saja. Lagipula kan ada kakak kamu.” Jawab Charles.
“Apa ini yang dinamakan puber kedua ya Ma?” Tanya Carissa pada Mamanya.
Sedangkan Alana hanya bisa tersenyum saat mendengarkan perdebatan antara anak perempuannya dan suaminya. Jujur saja hidup Alana benar-benar bahagia sekarang. dia tidak ingin kehilangan momen bahagia seperti ini lagi. Dia berharap keluarganya akan dilimpahi kebahagiaan selamanya.
Berbeda dengan pasangan lanjut usia yang juga sedang duduk tak jauh dari mereka bertiga. Angga dan Viviane melihat anak dan menantunya kembali bersatu juga sangat bahagia. Namun terbesit rasa sesal yang menggelayuti hati mereka. Terlebih saat membaca surat dari mendiang Andrew yang dititipkan pada Alana.
Semalam setelah acara kumpul-kumpul, Angga mengajak istrinya segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Angga saat itu masih mengantongi surat yang diberikan oleh anaknya yang tak lain titipan dari Andrew, lantas membuka dan membacanya.
To: Dewangga.
Mungkin jika surat ini sudah berada di tangan kamu, aku sudah pergi dari dunia ini.
__ADS_1
Ngga, maafkan aku. maafkan aku yang telah menahan Alanamu selama beberapa tahun. Mungkin kamu sudah menganggap jika Alana sudah meninggal akibat kecelakaan itu. Sekali lagi maafkan aku Ngga.
Aku yakin pasti Alana sudah menceritakan semuanya pada kamu sebelum kamu membaca surat ini. aku akui aku sangat egois. Aku melakukan ini semua karena aku masih mencintai Viviane hingga sampai usiaku senja. Dan hadirnya Alana yang tak sengaja, membuatku menahannya untuk tinggal bersamaku dan menemani masa tuaku. Karena rasa cintaku pada istri kamu, aku juga sangat menyayangi Alana yang aku anggap seperti anakku sendiri.
Sekali lagi maafkan aku Ngga. Sampaikan salamku pada istri kamu. Wanita baik hati dan sangat setia pada kamu.
From: Andrew Sebastian.
Angga memang sudah memaafkan kesalahan sahabatnya itu. Lagipula dia juga sudah meninggal. Hanya saja Angga sangat menyesalkan perbuatan Andrew yang ibaratnya sudah menyandera anaknya dan memisahkan dengan keluarganya dalam waktu yang tidak sebentar. Untung saja dirinya dan sang istri masih diberi umur panjang saat menyaksikan kembalinya Alana.
Angga juga sangat bersyukur memiliki seorang istri yang sangat setia, penyayang dan juga penyabar. Setelah membaca surat dari sahabatnya, Viviane hanya bisa menenangkan sang suami dan mengikhlaskan semuanya. Karena mungkin ini semua sudah ditakdirkan oleh authornya wkwkwkw.
Kini Viviane mengusap lembut tangan suaminya saat menyaksikan kebahagiaan anak dan cucunya.
“Kalian carilah waktu senggang untuk berlibur bersama.” Ucap Angga tiba-tiba.
“Maksud Papa?” Tanya Alana.
“Kalian kan baru saja bertemu kembali setelah sekian lama terpisah. Baik Alana maupun Viera. dan sepertinya kalian membutuhkan waktu untuk berlibur agar kalian hubungan kalian semakin dekat.” Jawab Angga.
“Kamu tahu kan kalau Oma kamu kesehatannya akhir-akhir ini menurun. Lebih baik gunakan waktu itu hanya untuk keluarga kalian saja.” Jawab Angga.
“Iya Pa. kamu mau kan Sayang? Sekalian nanti sama Barra. Atau sekalian bulan madu?” Tanya Alana bernada menggoda.
“Apaan sih Ma!” jawab Carissa tersipu malu.
“Aku setuju dengan ide Papa. Tapi kalau Viera mau bulan madu ya biar dia cari waktu sendiri sama suaminya. Jangan dicampur sama acara keluarga. Yang ada nanti kita hanya menyaksikan kebucinan Viera pada menantu kita.” Jawab Charles dan membuat semua orang terbahak, kecuali Carissa yang memasang wajah cemberut.
Karena merasa jadi bahan ledekan, akhirnya Carissa beralasan untuk masuk ke kamarnya. Alana yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum.
“Viera!” panggil sang Mama dan menghentikan langkah Carissa.
“Ya Ma?”
__ADS_1
“Nanti temani Mama masak untuk makan siang ya Sayang?” pinta Alana dan diangguki oleh Carissa.
Kini Carissa sudah berada di dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Karena memang tidak ada kegiatan yang dilakukan selain rebahan santai. Carissa memeluk gulingnya. Tiba-tiba ingatannya kembali saat semalam tidur berada dalam pelukan sang suami. Wajah Carissa merah merona walau hanya mengingatnya. Dia juga masih merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya tidur senyenyak itu dalam pelukan seseorang yang dulu pernah memaksanya berhubungan badan.
Lama melamun tentang suaminya, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Carissa ingat pesan mamanya yang meminta untuk ditemani memasak akhirnya segera turun ke dapur. Dan saat sudah berada di dapur, lagi-lagi dia melihat sang Papa juga ada disana.
“Ma, sudah ditemani Papa kan? Jadi Viera nggak perlu bantu.” Ucap Carissa tiba-tiba.
“Ya tetap dibantulah Sayang. Kamu harus banyak belajar dari Mama kamu untuk menjadi istri yang baik dan melayani suaminya dengan baik juga” ucap Charles.
Glekkk
Carissa menelan salivanya kasar saat mendengar nasehat Papanya agar menjadi istri yang baik dan juga melayaninya dengan baik. Memang dia akui kalau dirinya belum sepenuhnya menjadi istri yang mungkin seperti Mamanya.
“Viera, kenapa malah melamun. Ayo sini bantu Mama!” ucap Alana karena melihat Carissa hanya terdiam.
“Eh, iya Ma.” Jawab Carissa.
Papanya juga masih berada disana. Carissa pun mencoba abai saat melihat kemesraan antara mama dan papanya. Ya pantaslah mereka berdua mesra. Mungkin mereka masih kangen setelah sekian lama terpisah.
“Loh Ma, itu kok ada kotak makan. Buat siapa?” Tanya Carissa heran saat melihat Mamanya menyiapkan bekal makan.
“Oh ini buat suami kamu. Nanti kamu antar ke kantornya ya. Sekalian temani dia makan siang.” Ucap Alana tanpa beban.
“Tap..tapi kan Viera nggak tahu kantor Kak Barra Ma.” Jawab Carissa beralasan.
“Alasan saja. Biar nanti diantar sama sopir. Gitu saja bingung.” Celetuk sang Papa dan membuat Carissa tidak bisa lagi menolaknya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC