
Setelah bertemu dengan tante Alma, sekarang Delia sudah berada di apartemennya. Dia memasukkan belanjaannya ke lemari pendingin dan untuk makanan ringannya dia masukkan ke dalam lemari khusus yang ada di dapurnya. Setelah selesai barulah dia masuk kamar untuk membersihkan diri.
Kini Delia sudah santai di ruang tamu sambil nonton tv. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan Delia selepas pulang kerja. Santai saja di apartemen. Tidak pernah keluar atau sekadar hang out dengan temannya, kecuali Angga yang mengajaknya. Itu pun cuma makan malam atau nonton. Kalau shopping jarang sekali bahkan hampir tidak pernah karena memang Delia tidak hobi shopping seperti kebanyakan cewek. Padahal Angga juga sering menawarkan mengajak ke mall untuk shopping, tapi Delia menolaknya. Kurang enak gimana Angga punya kekasih seperti Delia yang tidak pernah neko-neko permintaannya.
Sejak tadi Delia duduk santai nonton tv tetapi fokusnya bukan pada acara yang ditayangkan di tv namun dia lebih fokus dengan benda pipih kesayangan yang sedang ada dalam genggamannya. Semenjak pertemuannya dengan tante Alma tadi, Delia masih saja memikirkan sikap Radit yang berubah dingin padanya.
Delia membuka aplikasi chatnya dan mencari kontak atas nama Radit. delia ingin meminta maaf. Dia mengetik pesan, namun pikirannya bimbang. Minta maaf buat apa memangnya. Terus salahnya apa. Delia menghapus lagi pesannya. Dan muncul lagi perasaan bersalahnya, dia tidak bisa melihat sikap Radit yang dingin dan sedikit mengabaikannya. Kemudian Delia kembali mengetik pesan, niatnya ingin menanyakan kenapa dia berubah dan bersikap dingin. Namun Delia menghapusnya lagi, “arghhhhhh… kenapa begini sih” gerutunya sambil memegang ponselnya, dan tanpa sadar jemarinya menyentuh icon panggilan video pada kontak Radit.
Kebetulan Radit yang saat itu sedang memegang ponselnya untuk membuka email yang masuk tiba-tiba ada panggilan video dari Delia. Radit mengernyit bingung. Tumben sekali Delia melakukan panggilan padanya, apalagi ini panggilan video. Panggilan suara pun tidak pernah kalau bukan dirinya yang memanggil duluan. Radit penasaran, barangkali ada sesuatu yang sangat penting yang akan disampaikan Delia. Kemudian Radit menggeser tombol hijau pada ponselnya.
“Iya del, halo?”
Delia sangat panik sekali tiba-tiba di ponselnya muncul suara disertai dengan gambar seseorang yang baru saja dia pikirkan.
“hal..halo.. eh iiya dit. Ada apa?” Tanya Delia gugup sambil menatap wajah Radit dalam ponselnya. Radit bingung dengan pertanyaan Delia.
“ada apa? Lho kan kamu yang nelpon aku del?” seketika Delia membungkam mulutnya tidak percaya bahwa dirinya lah yang menelpon Radit duluan.
“hah? Oh.. iiya maaf. It itu tadi mungkin salah pencet. Iya nggak sengaja salah pencet” Delia semakin gugup
“ko’ bisa salah pen-“ ucapan Radit terpotong karena Delia sudah menutup panggilannya.
__ADS_1
Radit senyum-senyum sendiri melihat sikap Delia yang salah tingkah. Salah pencet. Memangnya bisa melakukan panggilan video kalau nggak membuka kotak chat dulu. Ada-ada saja alasannya. Radit menggelengkan kepalanya. Rasanya memang dirinya tidak bisa lama-lama bersikap dingin pada Delia.
Radit melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam, dan belum terlalu malam juga. akhirnya dia mengambil jaketnya memutuskan untuk keluar.
Delia sungguh sangat malu sekali. Dia merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya dia tadi menghubungi Radit, apalagi melakukan panggilan video. Benar-benar bodoh pakai alasan salah pencet lagi. Mau ditaruh dimana mukanya nanti kalau bertemu Radit.
***
Radit kini sedang mengendarai mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Dia membeli martabak manis di tempat langganan mamanya. Meskipun di pinggir jalan, tapi tempatnya bersih. Radit tidak turun dari mobil, hanya membuka kaca jendela mobil saja dia bisa memesan martabak manis. Karena penjualnya sudah kenal dengan Radit.
Tidak butuh waktu lama akhirnya pesanannya selesai. Radit akan membawa dan makan martabak itu ke apartemen Delia. Namun saat menghidupkan mesin mobilnya, dia melihat mobil yang tidak asing bagi Radit. yaitu mobil Surya. Karena penasaran dia mengikuti arah mobil Surya. Jangan-jangan sama Delia. Percuma saja kalau dia pergi ke apartemen Delia tapi Delia malah asyik kencan dengan Surya.
Semenjak Surya mengenalkan Delia pada Radit, Radit sudah jarang sekali main ke café Surya. Surya juga kelihatannya juga sangat sibuk akhir-akhir ini. Setahu Radit, Surya sudah mau membantu bekerja di perusahaan papanya. Kadang dia bergantian dengan papanya untuk menghadiri meeting dengan klien ketika papanya sedang keluar kota. Itu info terakhir yang Radit dapat dari Surya terakhir dia bertemu.
Seketika Radit menundukkan badannya untuk bersembunyi di balik mobilnya. Untung saja tadi dia memarkirkan mobilnya jauh dari mobil Surya.
Radit terus saja mengawasi Surya. Dia melihat perempuan yang bersama Surya terlihat seperti cacing kepanasan. Surya juga dengan tidak tahu malunya mencumbui perempuan itu. Padahal masih berada di parkiran. Radit jijik sekali melihat pemandangan itu. Setelah berhasil mengambil gambar dua insan tak tahu diri itu, Radit segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket.
“akhirnya, kartu as kamu terungkap. Tunggu tanggal mainnya” Radit tersenyum devil
#flashback on
__ADS_1
Sewaktu kepulangan Radit dan mamanya dari kota B, saat Radit masih berada di ruang tunggu bandara karena mamanya sedang ke toilet Radit sepertinya melihat Surya juga berada di bandara. Meskipun jaraknya jauh, dengan melihat postur tubuhnya memang Radit mengira itu Surya. Surya sedang berjalan sambil memeluk seorang perempuan dengan pakaian kurang bahan. Surya memakai hoodie hitam dan memakaikan topi yang menggantung di bagian belakang hoodie ke kepalanya. Jadi Radit tidak bisa begitu jelas melihat wajahnya. Namun dia sangat yakin kalau itu benar-benar Surya. Saat akan membuktikan tiba-tiba mamanya sudah selesai dari toilet dan mengajaknya pulang.
Setelah kejadian itu, Radit meminta seseorang yang dia percaya untuk menyelidiki Surya. Dan beberapa hari yang lalu saat dia pulang dari apartemen Delia untuk memberikan pesanan mamanya pada Delia, Radit menerima pesan dari seseorang. Pesan itu hanya berupa lokasi suatu tempat yaitu Club XXX. Radit segera menuju ke lokasi.
Kini Radit sudah berada dalam Club, dia menemui orang yang mengirim pesan tadi. Saat ini Radit memakai jaket dengan penutup kepala agar tidak ada yang mengenalinya.
“lihat arah jam 3” Radit mengikuti arah petunjuk yang diucapkan orang sebelahnya.
Mata Radit mengikuti arah jam 3 sesuai petunjuk. Disana Radit melihat orang yang sama saat ia jumpai di bandara. Ya, Surya lah orang itu. Dia sedang asyik dugem dengan ditemani seorang perempuan sambil menyodorkan minuman. Bahkan tangan Surya pun tidak bisa diam. Sambil minum tangannya juga asyik bermain-main di area kesukaannya pada perempuan itu. Radit sangat muak melihatnya. Inikah yang dilakukan Surya di belakang Delia yang katanya si gadis malaikat. Karena pecahayaan dalam Club tersebut tidak begitu terang dengan disertai gemerlap lampu kelap-kelip yang menyusahkan Radit untuk mengambil foto Surya dengan jalangnya. Dan jarak mereka pun juga tidak terlalu dekat.
Tetapi bagi Radit tidak masalah, yang penting dia sudah tahu dan sudah membuktikan bahwa itu benar-benar Surya.
#flashback off
Setelah proses pengintaiannya selesai, Radit kini suda berada di depan pintu apartemen Delia dengan membawa martabak manis.
“ting…tong…” pintu terbuka
“Radiittt???”
*TBC
__ADS_1
*salam sayang dari _author newbie_💕💕