
Hari ini juga Vito berangkat ke kota B. dia mempercayakan pekerjaannya pada Arsa. Padahal Arsa juga sebenarnya ingin ikut terbang ke kota B, namun Vito melarangnya. Akhirnya Arsa harus tinggal di kota J. lebih tepatnya mengurus pekerjaanVito.
Dalam perjalanan setelah turun dari pesawat, Vito terlihat sangat cemas sekali. Dia sangat menhkhawatirkan keadaan Kay. Selama ini dia tidak pernah mendengar Kay sakit sampai dilarikan ke rumah sakit. Dalam hati Vito bertanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Kay selama ini. Vito merutuki kebodohannya karena selama ini mengacuhkan Kay. Dan lebih fokus dengan pekerjaannya.
Kini Vito sudah berada di rumah sakit. Dia segera berlari menuju ruangan dimana Kay dirawat. Disana tampak Mommy dan Daddy yang sedang menunggu Kay. Vito semakin cemas dengan keadaan Kay.
“Mom, Dad? Bagaimana keadaan Kay?” Tanya Vito.
“Vito? Kamu datang? Kay sedang tidur setelah dokter memeriksa dan mengambil sample darahnya.” Ucap Delia.
“Ada apa sebenarnya Dad?”Tanya Vito pada Radit.
Kemudian Radit menceritakan bahwa tadi Kay sempat pingsan
dan dibawa ke rumah sakit oleh asistennya. Menurut pemeriksaan dokter sebelum diambil sample darahnya, sepertinya Kay terkena typus. Jadi Kay memerlukan perawatan dan istirahat yang cukup.
Setelah mendengar penjelasan daddynya, kini Vito duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruang rawat Kay. Karena dokter melarangnya masuk dulu sebelum pasien sadar.
“Om, Tante ini minum dulu!” ucap seorang pria yang baru saja datang membawa minuman kaleng dan memberikannya pada Delia dan Radit.
Vito tidak menyangka jika Rey juga ada disini. Bahkan Rey lebih dulu ada disini dibandingkan dirinya. Sedangkan Rey yang melihat kedatangan Vito hanya mengangguk dan tersenyum. Namun Vito tak menanggapinya.
Setelah beberapa saat setelah suster memeriksa keadaan Kay yang sudah bangun, suster memperbolehkan anggota keluarganya untuk masuk. Kemudian Radit dan Delia segera masuk dan diikuti oleh Rey.
Vito yang juga ingin ikut masuk terpaksa mengurungkan niatnya karena Rey juga ada disana. Vito enggan sekali jika berada dalam satu ruangan dengan Rey. Vito juga dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Rey begitu perhatian dengan Kay. Dia juga sangat akrab dengan mommy dan daddynya. Hati Vito terasa diremas melihat itu semua. Namun tidak ada yang bisa dia laakukan kecuali mengikhlaskannya.
Beberapa saat kemudian Radit dan Delia keluar dari ruangan Kay. Mereka mengatakan pada Vito bahwa Kay baik-baik saja. Dan menitipkan Kay padanya karena ada urusan yang sangat penting.
Selepas kepergian mommy dan daddynya, Vito tak kunjung masuk ke ruangan Kay kaarena disana masih ada Rey. Vito akan masuk jika Rey sudah keluar dari ruangan itu.
Ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka, dan Rey keluar. Dia segera melenggang pergi. Bahkan Rey yang tadinya sempat tersenyum dengan Vito kini setelah keluar dari ruang rawat Kay dia terlihat dingin dengan Vito. Vito juga bingung ada apa dengan Rey. Namun dia tidak peduli. Dia segera berdiri dan masuk ke ruangan Kay.
Saat dirinya sudah memasuki kamar VVIP dimana Kay dirawat. Vito melihat gadis yang entah sejak kapan telah membuatnya jatuh cinta dalam keadaan lemah dan pucat. Mata Kay terbuka dan menatap ke arah langit-langit.
“Kay!” panggil Vito lirih.
Kay tadinya terdiam dan menatap ke atas, sontak mencari arah suara yang baru saja memanggilnya. Kay tidak bisa membendung air matanya. Dia sangat yakin bahwa ini nyata kalau orang yang selama ini sangat dia rindukan sekarang ada di hadapannya.
“Kak Vito!” panggil Kay lirih.
Kay berusaha bangun dan ingin berlari memeluk Vito. Tapi dengan cepat Vito menahannya karena saat ini keadaan Kay sedang sakit dan ada selang infus yang sedang menancap di pergelangan tangannya.
“Kak Vito!! Maafin Kay. Kay salah. Kay mohon maafin Kay” ucap Kay yang kini sudah berada di pelukan Vito.
Vito hanya bisa mempererat pelukannya. Dia tidak menyangka akan ucapan Kay yang meminta maaf padanya. Vito sangat sakit melihat Kay begitu menderita gara-gara ucapannya tempo hari hingga menyebabkan Kay harus dilarikan ke rumah sakit.
“sudah jangan nangis lagi ya!” ucap Vito kemudian.
Vito terdiam dengan pertanyaan Kay. Bagaimana Vito harus menjawab. Jujur dalam hati Vito sudah tidak ingin menganggap Kay sebagai adiknya lagi melainkan sebagai seseorang yang sangat special dan sangat ia cintai. Namun bagaimana tanggapan Kay jika dirinya mengakui perasaannya saat ini juga. mengingat saat ini Rey sudah ada di hati Kay.
“Apa kak Vito benar-benar marah dengan Kay?” Tanya Kay lagi.
“Kakak nggak pernah marah sama kamu Kay. Kamu nggak pantas kakak marahin. Maafkan kakak saat itu sangat emosi karena kakak sedang ada masalah di kantor.” ucap Vito kemudian.
“Jadi Kak Vito masih menganggap Kay adik?” Tanya Kay dengan mata berbinar.
Dengan terpaksa Vito mengangguk. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Tapi nanti jika keadaan Kay sudah membaik, Vito akan mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya. Dia tidak peduli meskipun Kay tidak menerimanya.
Setelah menyuapi Kay makan dan meminum obatnya. Kini Kay sudah tertidur. Vito memutuskan untuk keluar dari ruang rawat Kay. Dia ingin pergi ke kantin untuk mengisi perutnya.
Saat sedang menunggu pesanan makanannya, tiba-tiba saja Rey duduk di depan Vito. Vito heran dengan wajah dingin Rey yang saat ini tengah menatapnya. Namun Vito berusaha tetap acuh.
__ADS_1
“Katakan padaku apakah kamu mencintai Kay?” Tanya Rey tiba-tiba.
“Apa maksud kamu? Kamu tahu sendiri kan kalau hubunganku dengan Kay hanya-“
“Hanya kakak adik? Bullshit itu semua. Apa ada seorang adik yang begitu sangat perhatian pada kakaknya dan sangat sedih saat tidak mendapat kabar dari kakaknya. Terlebih lagi menomor duakan kekasihnya sendiri. Apa seperti itu hubungan kakak adik yang normal??” Tanya Rey penuh penekanan.
Vito masih terdiam dan mencerna perkataan Rey. Benarkah Kay selama ini menomor duakan Rey hanya demi dirinya. Vito sedikit menarik sudut bibirnya tersenyum. Dia sedikit merasa ada titik terang tentang perasaan Kay padanya. Namun bagaimana dengan Rey?.
“Kalau memang aku hanya menanggap Kay adikku kenapa?”
“Aku nggak percaya. Aku dapat merasakan bahwa Kay mencintai kamu. Dan percuma saja selama ini aku mendekati Kay tapi Kay belum pernah membalas perasaanku. Meskipun dia menerima menjadi kekasihku tapi dia tidak pernah mengungkapkan cintanya padaku. Aku mohon jauhi Kay! Karena aku sangat mencintainya.” Ucap Rey dan segera pergi meninggalkan Vito.
Vito tidak menyangka kalau selama ini Kay belum membalas cinta Rey. Vito sungguh tidak percaya. Bukankah dulu Kay sendiri yang meminta untuk dekat dengan laki-laki. Namun kenapa sekarang seperti ini.
Vito kembali mengingat perkataan Rey yang terakhir yang memintanya agar menjauhi Kay. Sampai kapanpun Vito tidak akan melakukan hal itu. Karena dia sangat mencintai Kay.
Sementara Rey saat ini sedang berada di dalam mobilnya. Dia tampak frustasi. Selama beberapa hari ini dia memang sengaja kabur dari rumahnya karena tidak tahan dengan tuntutan kedua orang tuanya yang memintanya segera melamar Kay.
Kedua orang tua Rey memberi waktu pada Rey selama enam bulan untuk membawakan calon menantu. Dan kalau Rey tidak berhasil, terpaksa Rey harus menerima untuk dijodohkan dengan anak sahabat Papanya.
Rey yang saat itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Kay merasa aman dari perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya. Bahkan masa pendekatan Rey dan Kay cukup mulus tanpa ada halangan. Dan semakin membuat Rey sangat yakin bahwa Kay adalah calon istri yang sangat tepat.
Namun saat melihat perubahan sikap Kay akhir-akhir ini yang sering memikirkan Vito, membuat Rey jadi down. Dia yang sudah terlanjur mencintai Kay, sangat takut jika kehilanagn Kay. Disamping itu Rey juga harus terpaksa menerima perjodohan yang sudah direncanakan oleh orang tuanya jika memang antara Kay dan Vito sama-sama memendam rasa cinta.
“Aaaarghhhhhh!!”
.
.
.
__ADS_1
*TBC