
Seminggu berlalu. Kini Vito sedang berada di bandara untuk menjemput kedatangan papanya. Vito sangat bahagia sekali karena setelah papanya akan melamarkan Kay. Itu berarti tinggal selangkah lagi kay akan menjadi miliknya seutuhnya.
Vito melihat seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah memutih tapi aura ketampanannya masih terlihat. Ya, papanya kini datang lagi menginjakkan kakinya di negeri kelahirannya sendiri.
“Papa apa kabar?” Tanya Vito seraya memeluk papanya.
“Papa sangat baik. Kamu juga baik kan?” Tanya Gio balik.
Setelah itu Vito segera mengajak Papanya untuk segera pulang ke rumah utama. Karena tidak mungkin Vito mengajak Papanya untuk menginap di apartemennya. Vito tampak bahagia sekali. Karena sesuai rencana bahwa hari ini Papanya pulang ke Indonesia, dan besok dia akan melamar Kay.
“kenapa senyum-senyum sendiri?” Tanya Gio.
“Ah nggak ko’ Pa.” jawab Vito.
“dasar anak muda yang sedang kasmaran!” ejek Gio dan Vito hanya menggaruk kepalanya.
Setelah sampai rumah, Vito segera melakukan panggilan Video dengan Kay. Hubungan Vito dan Kay sudah kembali membaik setelah Vito sempat cemburu beberapa hari yang lalu gara-gara Rey.
“Halo Kak. Ada apa?” Tanya Kay yang terlihat baru bangun tidur.
Memang saat ini masih jam 7 pagi. Vito tadi ke bandara menjemput Papanya jam 6.
“hei anak gadis jam berapa ini baru bangun?” oceh Vito pada Kay.
Vito dapat melihat sendiri muka bantal Kay. Dia jadi membayangkan saat nanti sudah menikahi Kay dan tidur seranjang dengan Kay. Pasti dia akan melihat pemandangan seperti saat ini setiap hari. Vito menelan ludahnya kasar saat membayangkan sedang bercinta dengan Kay saat pagi hari seperti ini.
“Loh malah tidur lagi? Bangun Kay!!” teriak Vito dan kay mengerjapkan matanya.
“Ada apa sih Kak, pagi-pagi gangguin orang tidur aja.” Gerutu Kay.
“Awas ya nanti kalau sudah menikah, pasti aku akan membuat kamu terbangun saat pagi-pagi seperti ini!” ancam Vito.
“Memangnya mau ngapain?”
“ya bercinta lah-“
__ADS_1
Tuk
“aww!!”
Vito meringis saat tiba-tiba kepalanya diketuk oleh papanya. Vito lupa kalau saat ini dirinya sedang ada di ruang tengah, dan lupa kalau papanya tadi masih ada di kamar mandi.
“Belum apa-apa sudah mesum!” ucap Gio.
“Papa!!!!” teriak Kay saat mendengar suara Gio.
Seketika Vito menjauhkan ponselnya karena telinganya sangat terganggu dengan teriakan Kay. Kemudian dia memberikan ponselnya pada papanya. Vito yakin kalau Kay dan papanya sama-sama kangen. Jadi Vito memberikan kesempatan buat mereka berdua untuk melepas rindu.
Keesokan harinya Vito dan papanya sudah bersiap untuk terbang ke kota B. buat apa lagi kalau bukan untuk melamar Kay. Acara lamaran Vito dan Kay hanya dilakukan secara sederhana jadi Vito datang ke kota B hanya berdua dengan papanya saja.
Setelah menempuh perjalanan udara, akhirnya Vito dan papanya tiba juga di kota B. mereka berdua segera menuju rumah Kay.
Dalam perjalanan, Gio tampak terdiam. Dia tidak menyangka akan menjadi besan dengan Delia. wanita yang dulu sangat ia cintai namun tidak pernah ia miliki. Bahkan di usianya yang sudah tua ini, Gio masih menyimpan perasaan itu dalam hatinya. Mungkin dirinya memang tidak bisa memiliki Delia, tapi rencana Tuhan menyatukan Vito dengan Kay sudah cukup membuatnya bahagia.
“Papa nggak apa-apa kan?” Tanya Vito yang melihat papanya diam.
Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi oleh Vito dan Gio sudah sampai di rumah Kay. Tampak Delia, Radit dan kedua anaknya sudah berada di depan menyambut kedatangannya. Setelah melepas kangen sebentar, kini semuanya sudah masuk ke dalam.
“Kalian pasti tahu dengan maksud kedatanganku dan Vito kesini kan?” Tanya Gio basa-basi.
Delia dan Radit mengangguk tersenyum dengan pertanyaan Gio. Sementara Kay sejak tadi menundukkan kepalanya. Entah kenapa dia sangat gugup sekali. Padahal biasanya kalau bertemu dengan Vito, dia tidak pernah gugup seperti ini.
“Aku selaku Papanya Vito datang kesini untuk melamarkan Kay buat Vito. Apa kalian menerima lamaran ini?” Tanya Gio pada Radit dan Delia.
“Seperti yang sudah kami bicarakan, bahwa kami sudah merestui hubungan Vito dan Kay. Jadi kami menerima lamaran Vito” ucap Radit.
Semuanya tampak bahagia. Kemudian Vito berjalan ke arah Kay dengan membawa sebuah kotak perhiasan yang berisi cincin bertahtakan berlian. Vito mengambil cincin itu dan memakaikannya pada Kay.
“Kay, maukah kamu menikah denganku? Menjadi istriku? Menjalani rumah tangga denganku? Menerima keadaanku baik dalam suka maupun duka?” Tanya Vito sebelum memasangkan cincin di jari manis Kay.
Kay sangat terharu dengan ucapan Vito. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Vito. Hanya dengan anggukan kepala saja baginya sudah mewakili semua jawaban atas pertanyaan Vito. Vito sangat bahagia. Kemudian dia memasngkan cincin itu di jari manis Kay.
__ADS_1
Semuanya yang ada di ruang keluarga itu terlihat sangat bahagia saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Kay dan Vito. Setelah itu mereka semua menuju ruang makan sambil melanjutkan obrolan santai mereka.
Dalam pembiacraan di ruang makan, telah diputuskan bahwa pernikahan Kay dan Vito akan dilaksanakan satu bulan lagi. Karena mereka berdua sudah lama saling mengenal, jadi tidak perlu waktu lama lagi untuk melangsungkan pernikahan.
Setelah acara lamaran sederhana selesai, keesokan harinya Vito memutuskan untuk pulang kembali ke kota J. karena pekerjaannya sangat padat. Jadi dia tidak bisa berlama-lama tinggal di kota B. selain itu juga tidak baik buat Vito dan Kay jika terlalu sering bertemu saat hari pernikahan sudah dekat.
Jadi Delia memutuskan untuk memingit Kay. Delia tidak memperbolehkan Kay dan Vito bertemu. Boleh berkomunikasi melalui telepon tapi tidak boleh melalui Video call.
***
Hari ini Kay sedang berada di butiknya. Dia sedang menggambar design baju untuk pernikahannya. Tiba-tiba saja Desi mengetuk pintunya dan mengatkan kalau ada pelanggan baru yang akan memesan gaun pengantin padanya.
“Perkenalkan Nona, saya Stefi. Saya datang kesini karena rekomendasi dari Papi saya. Katanya design baju pengantin Nona Kay sangat bagus.” Ucap Stefi.
“Memangnya Papi Nona Stefi kenal dengan saya? Siapa namanya?” Tanya Kay.
“Papi saya namanya Yudhi. Ehm dulu Papi saya adalah teman dari tante Delia.” jawab Stefi.
Akhirnya Kay mengerti. Kemudian dia mengajak Stefi untuk melihat beberapa contoh design baju pengantin.
“kalau boleh saya tahu bagaiman ukuran baju untuk calon suami Nona Stefi?”
“Saya nggak tahu Nona.” Jawab Stefi dan membuat Kay semakin bingung.
“Saya dijodohkan, dan calon suami saya tidak mau diajak untuk fitting baju pengantin” jawab Stefi pelan.
Kay tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Stefi. Jaman sudah modern seperti ini masih saja ada perjodohan.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Nah aku kasih bonus 1 eps hr ini. jgn lupa like, komen, gift, dan votenya ya👌🤗🤗😘😘