
Karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Astrid. Wanita itu segera pulang. Dia tidak peduli bagaimana reaksi mamanya nanti saat dirinya pulang membawa kegagalan.
Dan benar saja, saat Astrid baru saja menginjakkan kakinya di teras rumahnya, sudah tampak baju-bajunya berserakan di luar. Sungguh tega sekali mamanya sampai mengusir dirinya karena gagal menjalankan rencana balas dendamnya.
Begitulah yang ada dalam pikiran Astrid. Namun, beberapa saat kemudian terdengar suara berisik dari dalam rumahnya. Astrid sangat mengenali suara itu yang tak lain adalah suara sang mama. Tapi entah siapa laki-laki yang berada di dalam dan sedang adu mulut dengan Melly.
“Ma!” panggil Astrid saat sudah masuk ke dalam rumah.
Astrid melihat penampilan mamanya sudah acak-acakan. Ditambah lagi barang-barang yang ada di dalam rumah sudah hancur berantakan.
“Oh, ini anak kamu? Sepertinya sudah tepat sekali anak kamu datang. Cepat bereskan baju-baju kamu setelah itu ikut aku.” ucap seorang pria bertubuh kekar dengan tattoo pada kedua lengannya.
“Ada apa ini Ma?” Tanya Astrid.
“Hei nggak usah banyak bicara. Cepat bereskan baju-baju kamu. Setelah itu aku akan kirim kalian ke pulau terpencil.” Ucap pria itu lagi.
Pria bertubuh kekar itu adalah salah satu anak buah Bram yang sengaja ia tugaskan untuk mengatasi Melly dan Astrid. Bram yang sudah diserahi tugas oleh Vito untuk mengurus Melly dan ankanya, dia memilih mengasingkan dua wanita itu ke pulau terpencil. Setelah tahu Astrid gagal menghancurkan pernikahan Barra dan Carissa, Bram beranggapan bahwa kedua wanita licik itu tidak akan berhenti cukup sampai disini. Jadi, sebelum Melly dan Astrid bertindak lebih, Bram akan mengasingkan dua wanita itu ke luar pulau.
Melly dan Astrid sudah tidak bisa berkutik lagi selain menurut. Akhirnya mereka mengemasi baju-bajunya saja setelah itu mengikuti langkah kaki pria itu. Merak juga belum tahu kemana pria itu akan membawanya pergi.
***
Sementara itu, suasana di ballroom hotel tampak sangat ramai dan meriah. Para tamu undangan juga menikmati pesta pernikahan itu dengan bahagia. Sedangkan si mempelai kini sedang duduk berdua di pelaminan setelah selesai menyambut para tamu memberikan selamat padanya.
Barra dan Carissa masih tampak canggung. Tidak ada hal yang mereka bicarakan. Keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Jika Carissa mungkin sudah bisa menerima Barra sebagai suaminya, namun dirinya masih bingung bahkan sangat malu bagaimana mengawali pembicaraannya.
Sedangkan Barra yang terdiam karena sedang memikirkan bahwa inilah saatnya dia memulai membuktikan rasa cintanya pada sang istri. Barra berharap dalam waktu satu tahun, usahanya akan membuahkan hasil.
“Kalau kamu capek, kamu bisa pergi ke kamar terlebih dulu.” Ucap Barra.
“Nggak kok, aku nggak apa-apa disini.” Jawab Carissa.
Sebenarnya yang sangat capek adalah Barra sendiri. Mengingat dirinya baru saja kemarin pulang dari rumah sakit pasca terkena typus. Barra merasa badannya kembali lemas setelah beberapa jam berdiri menyambut ucapan selamat dari para tamu undangan.
__ADS_1
“Carissa, apa kamu nggak keberatan jika aku tinggal masuk ke kamar dulu?” Tanya Barra.
“I iya Kak. Ayo aku antar.” Jawab Carissa cemas karena melihat wajah suaminya sudah pucat.
Barra mau menolak pun rasanya dia sudah tidak sanggup lagi berbicara. dia segera turun dari pelaminan dan segera masuk ke kamar hotel yang sudah disiapkan khusus untuk pengantin.
Sesampainya di kamar, Barra langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang ukuran king size itu. Matanya terpejam, buliran keringat dingin sudah mulai keluar dari tubuhnya. Carissa semakin panik. Dia menepuk pelan kedua pipi Barra bergantian.
“Kamu nggak usah cemas. Aku mau istirahat sebentar.” Ucap Barra yang sayup-sayup masih mendengar gumaman istrinya.
“Kita ke rumah sakit ya Kak?” ajak Carissa.
“Nggak usah. Cukup dengan istirahat sebentar saja, pasti aku akan segera pulih. Maaf membuatmu khawatir.” Ucap Carissa.
“Kak, aku nggak apa-apa. Kesehatan Kak Barra yang lebih penting.” Jawab Carissa namun sudah tidak bisa didengar lagi oleh Barra. Karena laki-laki itu sudah tidur.
Carissa memilih membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Setelah itu dia memesan makanan untuk dirinya dan juga suaminya. Carissa melihat suaminya yang tertidur masih menggunakan pakain lengkap pernikahan, akhirnya dia berinisiatif melepaskan tuxedo yang dipakai Barra. Setelah itu melepas kaos kakinya. Cukup sampai disitu saja karena Carissa masih belum berani untuk melepas kemeja atau bahkan celananya.
Carissa membukakan pintu kamarnya saat pelayan hotel datang membawakan makanan. Kemudai kembali menutupnya setelah pelayan itu selesai menata makanannya pada meja makan kecil yang ada di dalam kamar itu.
Selama kurang lebih 30 menit Carissa menunggu suaminya tidur, akhirnya Barra perlahan mengerjapkan matanya. laki-laki itu sudah terlihat lebih sehat dari pada sebelumnya.
“Kak Barra sudah bangun?” Tanya Carissa dan menghampirinya ke ranjang.
“Sudah. Terima kasih.” Ucap Barra.
Entahlah Barra ingin sekali memeluk istrinya untuk menyalurkan rasa terima kasihnya karena sudah merawatnya. Namun dia urungkan. Dia takut jika nanti reaksi Carissa akan berbeda dan menolaknya.
“Kak Barra mau makan dulu atau mandi dulu?” Tanya Carissa.
“Aku mandi dulu saja.” Jawab Barra.
Carissa segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. dia akan menyiapkan air hangat untuk Barra. Sedangkan Barra yang melihat istrinya masuk ke kamar mandi seketika hatinya menghangat. Ternyata istrinya sangat perhatian. Apakah ini pertanda bahwa istrinya sudah bisa melupakan semuanya dan sudah bisa melihat rasa cintanya yang begitu dalam. Barra juga masih gamang. Dia masih belum berani menanyakan langsung pada istrinya. Biarlah berjalan seperti ini seiring dengan berjalannya waktu.
__ADS_1
“Kak, air hangatnya sudah aku siapkan.” Ucap Carissa.
Barra segera beranjak dari tempat tidur. Namun karena badannya masih sedikit lemas, dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, alhasil dia terjatuh. Carissa yang melihatnya buru-buru berlari dan mencoba menangkap suaminya.
Bukannya menangkap, Carissa justru mendorong tubuh Barra hingga terjatuh ke ranjang. Dan dirinya seperti tertarik oleh tangan Barra, jadilah posisi Carissa saat ini berada di atas Barra.
Deg deg deg
Jantung keduanya berdetak tak karuan. Tatapan mata mereka saling mengunci. Jarak wajah mereka juga sangat dekat, hingga sama-sama bisa merasakan hembusan nafas yang keluar dari hidung mereka.
“Ma..maaf Kak!” ucap Carissa yang tersadar lebih dulu dan segera bangun dari tubuh Barra.
“Nggak apa-apa. Ya sudah aku mandi dulu.” Ucap Barra kemudian.
Dalam kamar mandi Barra masih berusaha menetralkan detak jantungnya. Andai saja tidak ada kecanggungan seperti tadi, dan kondisi tubuhnya sedang fit. Pasti dirinya sudah menyerang istrinya saat itu juga.
Selesai mandi, Barra keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya saja. Carissa yang melihatnya sontak membuang muka karena malu.
“Bajunya sudah aku siapkan Kak.” Ucap Carissa sambil pura-pura sibuk di meja makan.
“Kamu gemesin banget sih istriku.” Gumam batin Barra yang melihat istrinya malu-malu.
.
.
.
*TBC
Author sekalian mau promosi lagi karya ke 3 nih. yg sebelumnya sudah menetas cuma mangkir lama gara² pembacanya cuma dikit. ayo dong reader semua ramaikan karya author yg ke 3 ini. novel ini juga ikut lomba. jadi minta dukungan kalian semua pembaca MKS dengan cara masukkan ke daftar fav bacaan kalian, like, komen, dan votenya. terima kasih🤗🤗😘😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1