Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 214


__ADS_3

Barra melihat Carissa sudah berlari jauh dari rumahnya. Dia juga melihat langit sudah menampakkan awan hitam dan sebentar lagi siap menurunkan hujan. Barra seketika ingat jika Carissa phobia dengan air hujan. Kemudian dia segera berbalik badan kembali ke rumah untuk segera menyusul Carissa menggunakan mobilnya.


Langit sudah menurunkan rintik gerimis ke bumi saat mobil Barra sudah keluar dari pekarangan rumahnya. Dia segera mamacu mobilnya dengan kecepatan sedkiti penuh agar bisa segera menemukan Carissa. Rasanya tidak mungkin jika dia sudah mendapatkan taksi, karena diperkirakan Carissa masih berada di area kompleks perumahan. Masih sangat jauh untuk menuju jalan raya mencari taksi. Sedangkan untuk memesan taksi online rasanya tidak sempat Carissa lakukan.


Rintik gerimis itu kini berubah menjadi hujan dengan intensitas yang cukup deras. Namun Barra belum juga menemukan keberadaan Carissa. Dia sungguh merutuki kebodohannya karena telat mengejar Carissa.


“Carissa! Kamu dimana?” gumam Barra sambil mencengkeram kuat setir mobilnya.


Sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak pada Barra. Dia melihat seorang perempuan sedang berdiri di bawah pohon rindang di pinggir jalan sekitar kompleks perumahan. Barra sangat yakin kalau perempuan itu adalah Carissa.


Barra segera mempercepat laju mobilnya mendekati perempuan itu. Dan benar, dia adalah Carissa. Carissa terlihat sedang memeluk tubuhnya sendiri sambil pandangannya menunduk dengan tubuh bergetar. Barra dengan cepat keluar dari mobil karena hujan semakin deras.


“Carissa! Ayo masuk mobil!” ajak Barra sambil memegang lengan perempuan itu.


Carissa hanya diam saja, tapi Barra bisa merasakan kalau tubuh Carissa bergetar hebat. Tanpa banyak bicara, barra segera menggendong tubuh Carissa. Tidak ada penolakan dari Carissa saat Barra menggendongnya. Mungkin dia sedang ketakutan karena air hujan sudah membasahi tubuhnya.


Barra mendudukkan Carissa tepat di sebelahnya. Dia dapat melihat wajah Carissa sudah pucat dan tubuhnya menggigil. Barra segera memacu kendaraannya kembali ke rumah. Karena rumahnya lah yang paling dekat saat ini, daripada membawa Carissa pulang ke rumahnya sendiri.


Sesampainya di rumah, barra segera menggendong Carissa dan membawanya masuk. Barra meletakkan Carissa di tempat tidur miliknya, karena paling dekat dengan tangga. Setelah itu dia memanggil pembantunya untuk menggantikan baju Carissa yang sudah basah.


“Terima kasih Bi!” Ucap Barra.


“Sama-sama Den.”


Barra mendekati Carissa yang sedang tertidur dengan tubuh tertutup selimut. Sepertinya perempuan itu kelelahan berlari, ditambah dengan air hujan yang membasahi tubuhnya.


“Carissa, maafkan aku!” gumam Barra.


Barra menggenggam jari jemari Carissa yang lentik. Dia sangat menyesali akan perkataannya yang telah menyakiti hati perempuan itu. Jelas saja Carissa marah saat dirinya menjelekkan kekasihnya. Sedangkan Carissa sendiri tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya.


“Awwww!!” Teriak Barra tiba-tiba saat telinganya dijewer seseorang.

__ADS_1


“Dasar anak kurang ajar! Kamu apakan Carissa?” Tanya Kay yang ternyata sudah ada di rumah.


“Mama apa-apaan sih. Barra nggak ngapa-ngapain. Barra Cuma nolong dia saja.” Ucap Barra membela diri.


Barra yang sudah mendapatkan tatapan tajam dari mamanya, nyalinya pun menciut. Akhirnya dia memilih keluar dari kamarnya dan membiarkan Carissa istirahat dulu. Kemudian Barra menjelaskan pada mamanya.


“Bodoh kamu! Nggak seharusnya kamu bilang seperti itu pada Carissa. Jelaslah dia marah.” Ucap Kay setelah mendengarkan penjelasan anaknya.


“Barra kan nggak mau Carissa dipermainkan oleh Dhefin Ma.” Jawab Barra.


“Pokoknya nanti setelah Carissa bangun, kamu harus minta maaf padanya. Kamu suka kan dengan Carissa?” ucap Kay sekaligus bertanya padaa Barra.


Sedangkan Barra hanya berdecak kesal mendapatkan pertanyaan dari mamanya. Ya memang dia suka dengan Carissa, tapi masa mamanya nggak ngerti atau pura-pura tidak tahu.


“Nggak usah dijawab. Mama sudah tahu sejak lama kalau kamu suka dengan Carissa. Mama harap nanti kamu harus minta maaf pada Carissa, sampai dia benar-benar memaafkan kamu. Kamu harus pandai mengambil hatinya lagi. Bagaimana caranya dia tidak membenci kamu.” Ucap Kay panjang lebar.


“Ck, bagaimana kalau Carissa tidak mau memaafkan Barra dan justru membenci Barra ma?” Tanya Barra.


Barra memutar bola matanya malas. Ada-ada saja istilah yang digunakan mamanya. Memang ada strategi marketing untuk mendapatkan hati Carissa. Bahkan mamanya membandingkannya dengan urusan pekerjaan lagi. Tapi ada benarnya juga sih saran yang diberikan mamanya.


Kini Kay sudah berada di dalam kamar Barra. Duduk di sofa sambil menunggu Carissa terbangun dari tidurnya. Tak lama kemudian terdengar suara lenguhan Carissa. Perempuan itu sangat terkejut saat melihat sekitarnya yang begitu asing baginya.


“Kamu sudah bangun Sayang?” Tanya Kay mendekati Carissa.


“Tante, Rissa ada dimana ini?” Tanya Carissa bingung.


“Di kamar Barra. Dia tadi yang menolong kamu dan membawa kamu kesini. Maafkan anak tante ya Carissa.” Ucap Kay.


Carissa ingat kalau tadi dirinya sedang berteduh di bawah pohon saat hujan turun dengan deras. Dia juga ingat kejadian apa sebelum membuatnya berlari keluar dari rumah Barra dan berakhir dengan kehujanan.


Barra masuk ke kamarnya dan melihat Carissa sudah bangun. Mamanya seakan memberi kode untuk segera meminta maaf pada Carisssa. Dan Barra mengangguk.

__ADS_1


“Syukurlah kamu sudah bangun.” Ucap Barra, namun Carissa hanya diam saja.


“Carissa, maafkan atas semua ucapanku tadi. aku nggak bermaksud melukai perasaan kamu.” Ucap Barra.


Kay juga masih berada disana. Dia tidak ingin keluar kamar sebelum melihat langsung Carissa memaafkan Barra. Bahkan Kay yakin jika dirinya keluar dari kamar, pasti Carissa masih saja diam dan kemungkinan tidak memaafkan Barra.


“Sekali lagi aku minta maaf. Nggak seharusnya aku meminta kamu putus dengan Dhefin. Tolong setelah ini jangan jauhi aku. aku nggak akan lagi meminta kamu putus dengan Dhefin.” Ucap Barra.


“Iya, Sayang. Tolong maafin anak Tante. Mungkin karena Barra sedang ada masalah dengan Dhefin, jadi dia sangat emosi dan berdampak seperti tadi.” ucap Kay seakan membela anaknya.


“Iya.” Jawab Carissa akhirnya.


Akhirnya Kay dan juga Barra merasa lega setelah mendengar Carissa mau memaafkan kesalahan Barra.


Setelah itu Kay mengajak Carissa turun untuk makan siang. Meskipun sudah terlambat tapi sejak tadi Carissa memang belum makan siang.


Setelah selesai makan siang, Barra diminta mamanya untuk mengantar Carissa pulang. Carissa pun hanya bisa pasrah dan tidak bisa menolak.


Dalam perjalanan pulang keduanya sama-sama diam tanpa ada pembicaraan. Barra bingung harus bicara apa, sedangkan Carissa sibuk memikirkan tentang ucapan Barra yang sempat memintanya putus dengan Dhefin.


Meskipun Barra sudah meminta maaf atas kesalahannya. Tapi entah kenapa Carissa yang tadinya tidak percaya dengan perkataan Barra, kini dia dibuat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Barra dan Dhefin.


“Terima kasih Kak sudah mengantarkan pulang.” Ucap Carissa.


“Iya. Sekali lagi maafkan aku.” ucap Barra dan diangguki oleh Carissa sambil tersenyum tipis pada Barra.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2