
Saat ini Barra sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama Jenny. Jenny menceritakan kronologi bagaimana mamanya sampai dilarikan ke rumah sakit.
Tadi sore saat Jenny pulang dari butik dan kebetulan dijemput oleh papanya, sesampainya di rumah, Papanya langsung masuk ke kamar karena tidak melihat keberadaan sang istri. Tidak lama kemudian Jenny mendengar teriakan papanya yang memanggil namanya. Jenny pun segera datang ke kamar papanya dan saat itu mamanya sudah berada dalam gendongan sang papa dalam keadaan tak sadarkan diri. Dan saat Jenny mau ikut ke rumah sakit, Opanya melarang dan disuruh menunggu sampai kakaknya pulang.
“Aku tadi sudah coba hubungi ponsel kakak tapi tidak aktif.” Ucap Jenny memecah keheningan.
“Sorry, ponselku kehabisan daya.” Jawab Barra.
Barra sungguh merasa menyesal dengan sikapnya terhadap sang mama tadi pagi. apakah gara-gara ucapannya itu sehingga mamanya harus dilarikan ke rumah sakit. Barra juga teringat dengan ucapan Xavier agar tidak menyakiti orang yang telah melahirkan kita.
Beberapa saat kemudian, mobil Barra sudah sampai di rumah sakit. Barra dan Jenny segera menanyakan ruangan mamanya pada resepsionis. Setelah itu mereka berdua segera menuju ruang perawatan mamanya.
Cklek
Barra dan Jenny sudah masuk ke ruangan VVIP dimana mamanya sedang dirawat. Ternyata disana juga ada Oma Delia dan Opa Radit. Barra dan Jenny pun segera mencium tangan Oma dan Opa mereka. Memang selama beberapa tahun terakhir ini Delia dan Radit memutuskan untuk tinggal di kota J dengan menempati rumah mendiang orang Delia. dan rumahnya yang ada di kota B ditempati oleh Nathan.
Meskipun keadaan mereka sudah tua, namun masih begitu perhatian dengan anaknya. terbukti saat tahu kabar Kay dirawat di rumah sakit, mereka berdua segera datang.
Setelah kedatangan Barra dan Jenny, Vito memutuskan untuk keluar dari ruangan istrinya. Baik Barra maupun Papanya masih saling diam. Kemudian disusul Oma dan Opa mereka juga berpamitan untuk pulang karena sudah merasa lega setelah melihat keadaan Kay baik-baik saja.
“Ma, maafkan Barra!” ucap Barra sambil memegang lembut tangan mamanya.
“Maaf buat apa? Tekanan darah Mama rendah. Jadi nggak perlu minta maaf.” Jawab Kay pelan.
“Tapi Mama seperti ini pasti gara-gara Barra.” Ucap Barra lagi.
Jenny hanya mendengarkan saja saat mama dan kakaknya berbicara. tapi setelah itu Jenny memilih untuk keluar terlebih dulu agar memberikan ruang buat kakak dan mamanya berbicara.
“Barra tahu nggak kalau Mama sangat menyayangi kamu?” Tanya Kay dan diangguki kepala oleh Barra.
__ADS_1
“Kamu sudah tumbuh dewasa sekarang Nak. Perusahaan Papa nantinya juga kamu yang akan pegang. Mama dan Papa tidak berharap balasan apapun pada kamu dan Jenny. Mama hanya ingin bahagia melihat kamu dan Jenny bahagia Sayang.” Ucap Kay.
“Maafkan Barra Ma. Iya Barra janji akan membuat Mama dan Papa bahagia.” Jawab Barra.
“Minta maaflah pada Papa Bar! Bagaimanapun juga Papa kamu tidak salah. Mungkin cara menyampaikan maksudnya saja yang tidak tepat. Tidak ada orang tua ingin membuat anaknya menderita Bar. Jadi Mama mohon turutilah kemauan Mama dan Papa yang satu itu.” Ucap Kay.
“Yang mana Ma?” Tanya Barra yang sebenarnya sudah tahu.
“Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Tolong jauhi Astrid Bar.” Ucap Kay.
“Tapi, Ma-“
“Mama capek mau istirahat.” Potong Kay cepat dan segera membalikkan badannya dengan memunggungi Barra.
Kay sudah tahu kalau Barra pasti akan menolak lagi. Entah Kay bingung bagaimana cara membuat Barra menuruti kemauannya. Jadi dia memilih dengan cara mendiamkan Barra seperti ini saja. Karena Kay juga masih belum tahu pasti tentang kebenaran hubungan antara Astrid dan juga Melly.
Akhirnya Barra memutuskan untuk keluar dari ruangan mamanya dan membiarkannya istirahat. Barra melihat di luar ada Papanya sedang duduk sendirian. Mungkin dengan menuruti kemauan mamanya untuk meminta maaf pada papanya akan Barra turuti. Namun untuk menjauhi Astrid, dia masih harus berpikir lagi.
“Pa, maafkan Barra!” ucap Barra yang kini sudah duduk disampin Papanya.
“Hmm” Jawab Vito datar.
Setelah jawaban singkat dari Vito, sudah tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Barra menganggap Papanya sudah memaafkannya meski dengan jawaban singkat seperti itu. Tak lama kemudian Jenny datang sambil membawa makanan ringan yang baru saja dia beli di kantin rumah sakit. Tapi Jenny tidak datang sendiri, dia bersama dengan 3 orang. Dua diantaranya pria dan wanita yang usianya seumuran Papa dan Mamanya. Dan yang satunya lagi, Barra sangat kenal dengannya yaitu Carissa.
“Pa, ini Kak Carissa bersama kedua orang tuanya. Tadi Jenny nggak sengaja bertemu dengan mereka di kantin rumah sakit. Dan mereka juga ingin menjenguk Mama.” Ucap Jenny.
Carissa menyapa Vito dengan mencium tangannya dengan takzim. Dan disusul dengan kedua orang tua Carissa yang saling berjabat tangan. Vito yang sebelumnya sudah kenal dengan Carissa yang tak lain adalah kekasih Dhefin, akhirnya mengajak ketiga orang itu masuk ke ruangan istrinya. Kemudian disusul dengan Jenny dan Barra.
“Orang lain saja perhatian sama Mama. Mana tuh Kak Astrid?” ucap Jenny mencibir kakaknya.
__ADS_1
Barra terdiam sesaat. Memang benar yang dikatakan oleh Jenny. Seharusnya Astrid juga berada disini menjenguk mamanya. Meskipun kedua orang tuanya tidak suka dengannya, setidaknya Astrid mau berusaha mendapatkan hati Mama dan Papanya. Tapi nyatanya Astrid tidak ada disini. Bahkan Barra tidak tahu keberadaannya.
Barra masuk ke ruang rawat mamanya yang sudah tampak ceria saat berbicara dengan Carissa dan mamanya.
Sedangkan papanya sedang ngobrol bersama papa Carissa.
Barra pun akhirnya duduk di sofa bersebelahan dengan Jenny yang sedang memainkan gadgetnya. Barra apat melihat wajah cantik natural Carissa. Entah kenapa Barra begitu kagum dengan Carissa yang sangat lemah lembut dan juga sangat dewasa. Bahkan diam-diam Barra selalu memikirkan perempuan itu di saat dirinya sedang dipusingkan dengan maslahnya.
“Kedip dong lihatnya!” celetuk Jenny tiba-tiba dan membuat semua orang melihatnya.
Barra pun wajahnya memerah menahan malu sekaligus kesal dengan Jenny. Akhirnya Barra memutuskan untuk berdiri dan keluar dari ruangan itu karena malu.
“Bar!” panggil Mamanya tiba-tiba, dan Barra menoleh.
“Tolong kamu antar pulang Carissa pulang. Karena mama dan papanya masih ada kepentingan.” Perintah Kay.
Entah bagaimana perasaan Barra saat ini. mau senang tapi sangat malu untuk menunjukkannya. Akhirnya dia hanya mengangguk patuh dan disusul oleh Carissa yang sudah berpamitan terlebih dulu pada Kay dan Vito.
“Cieee senengnya!” goda Jenny tiba-tiba.
Sungguh Barra ingin rasanya mencakar wajah adiknya yang sangat usil itu.
.
.
.
*TBC
__ADS_1