
Barra sangat terkejut saat melihat Carissa juga ada di café ini. lebih tepatnya terkejut dengan fakta bahwa Carissa lah perempuan yang menjadi kekasih Dhefin. Ingatan Barra kembali saat tempo hari tidak sengaja melihat Carissa sedang masuk ke dalam mobil yang menurutnya tidak asing. Dan benar saja mobil itu adalah mobil milik Dhefin yang tak lain sahabatnya.
Carissa kini sudah duduk di sebelah Dhefin. Awalnya dia juga terkejut saat melihat Barra. Namun saat Dhefin memperkenalkan bahwa Barra dan Astrid adalah sahabatnya, akhirnya Carissa pun sudah bisa menampakkan wajah tenangnya dan tersenyum hangat pada Barra dan Astrid.
Begitu juga dengan Astrid. Perempuan itu melihat Carissa juga seperti tidak asing dan pernah bertemu sebelumnya. Kemudian dia baru ingat. Yaitu saat makan siang di restaurant. Saat itu Astrid melihat Carissa sedang makan bersma mama dan adik Barra. Dan setelah tadi Dhefin mengatkan kalau kekasihnya adalah seorang designer. Jadi benar saja mereka saling mengenal. Tapi entah kenapa rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Bagaimana kabar Om dan Tante?” Tanya Dhefin tiba-tiba.
“Mereka sehat. Datanglah ke rumah, pasti Mama dan Papa sangat senang.” Jawab Barra sambil sesekali mencuri pandang pada Carissa yang tampak tenang.
“Iya, nanti aku datang kesana sekalian mau ngenalin Rissa pada Tante Kay. Kan mereka berdua sama-sama designer.” Ucap Dhefin.
“Mereka sudah saling mengenal.” Ucap Barra dan membuat Dhefin sedikit terkejut.
Barra kemudian menceritakan pada Dhefin kalau sebenarnya dirinya sudah kenal dengan Carissa. Tapi hanya sekadar kenal biasa. Itu pun dari adik dan mamanya yang tempo hari sempat bertemu dan berkenalan. Dhefin yang awalnya terkejut dan sedikit curiga akhirnya pun percaya tentang apa yang dikatakan oleh Barra.
“Bukan begitu Carissa?” Tanya Barra.
“Ehm, iya Mas. Apa yang dikatakan oleh Kak Barra benar.” Jawab Carissa.
Dan sekali lagi, Dhefin merasa kalau Carissa dan Barra terlihat sudah kenal lama dan dekat. Karena mendengar panggilan Carissa pada Barra dengan sebutan Kak. Namun dia tidak ingin berburuk sangka terlebih dulu. Begitu juga dengan Astrid. Perempuan itu sepertinya tidak nyaman saat mendengar Carissa memanggil Barra dengan sebutan "Kak".
Tiba-tiba saja terdengar suara petir menyambar yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Seketika Barra teringat kejadian tempo hari yang dialami oleh Carissa. Dia merasa tidak tenag saat melihat wajah Carissa yang memang seperti sudah ketakutan saat mendengar suara petir.
“Sebentar lagi akan turun hujan. Bagaimana kalau lebih baik kita akhiri saja nongkrong kita malam ini.” ucap Barra.
__ADS_1
“Memang kenapa? Kita juga nggak akan kehujanan kan?” Tanya Astrid heran.
“Ya juga sih. Tapi buat kamu Fin, lebih baik kamu segera antar pulang Carissa sebelum hujan turun.” Ucap Barra dan lagi-lagi membuat Dhefin dan Astrid heran.
“Aku nggak apa-apa kok Kak Barra. Kalau hujan lebih baik disini saja dulu sampai nunggu hujannya reda.” Ucap Carissa.
Akhirnya Barra pun ikut tenang setelah mendengarkan penjelasan Carissa. Sementara itu Dhefin masih menyimpan tanda Tanya besar pada benaknya tentang apa yang baru saja diungkapkan oleh sahabatnya. Mengapa sepertinya Barra yang terlihat sangat dekat dan tahu semuanya tentang Carissa. Sedangkan dirinya yang sudah satu tahun menjalin hubungan dengan Carissa belum terlalu tahu tentang apa yang dikatakan oleh Barra tadi. padahal kan mereka bilang kenal belum lama. Mungkin nanti Dhefin akan menanyakn langsung pada Carissa.
Dan benar saja, beberpa saat kemudian hujan turun dengan deras. Mereka berempat terpaksa harus menunda kepulangannya dulu sampai nunggu hujan reda. Sebenarnya jika ingin pulang lebih dulu, Barra dan Astrid bisa pulang sejak tadi. tapi Barra yang enggan. Entah mengapa dia masih ingin berada di dekat Carissa. Meskipun dia tahu kalau Carissa bukan miliknya.
***
Semenjak pertemuannya dengan Dhefin dan Carissa beberapa hari yang lalu, Astrid dapat merasakan ada perubahan pada diri Barra. Tapi saat dia menanykan pada Barra, laki-laki itu hanya bilang kalau sedang pusing dengan pekerjaannya. Astrid pun akhirnya mencoba untuk tetap percaya. Lagipula hubungannya dengan Barra sudah terjalin selama 3 tahun. Dan tidak mungkin jika Barra menghianatinya.
“Selamat siang Tuan Xavier!” sapa Barra.
“Selamat siang juga Tuan Barra. Ehm bagaimana kalau kita sama-sama panggil nama saja. Biar lebih akrab saja. Lagipula usia anda lebih tua daripada saya.” Ucap Xavier ramah.
“Baiklah, terserah anda saja.” Jawab Barra.
“Dan juga jangan terlalu formal. Cukup aku kamu saja. Karena selama meeting ke depan aku yang akan selalu hadir. Om Alex juga sudah menyerahkan semuanya padaku.” ucap Xavier.
“Ya sudah kalau begitu. Aku setuju.” Jawab Barra.
Akhirnya mereka bertiga memulai meetingnya dengan membahas kerjasama yang sedang mereka jalani. Namun mereka tidak hanya membahas tentang pekerjaan saja. Barra dan Xavier terlihat sudah sangat akrab. Baik Barra maupun Xavier juga tidak segan-segan menceritakan tentang keluarga mereka.
__ADS_1
Kemudian Xavier meminta maaf pada Barra atas ketidak nyamannya saat meeting pertama dulu dengan Papanya yang begitu terlihat dingin. Barra pun tidak mempermasalahkannya. Dia hanya heran saja, kenapa Tuan Charles Darandara sifatnya sangat beda jauh dengan Xavier.
“Apa jangan-janagn kamu bukan anak kandung Tuan Charles?” Tanya Barra dengan nada menggoda. Dan sontak saja Xavier tertawa mendengar pertanyaan Barra.
“Papa memang seperti itu orangnya. Sebenarnya Papa orang yang hangat dan sangat penyayang. Dan Papa berubah jadi dingin seperti itu saat Mama meninggal di saat usiaku masih 3 tahun. Dari situlah sifat Papa sangat dingin pada semua orang. Aku juga tidak tahu pasti kenapa Papa bisa seperti itu. Karena sampai saat ini aku tidak pernah tahu tentang masa lalu Papa sebelum Mama meninggal.” Ucap Xavier sendu.
“Maaf, aku nggak bermaksud untuk mengungkit masa lalu kamu.” Ucap Barra merasa bersalah.
“Nggak apa-apa. Aku hanya ingin menceritakan saja pada kamu.” Jawab Xavier.
Akhirnya meeting mereka pun selesai. Iqbal yang sejak tadi diam menjadi pendengar setia, namun laki-laki itu tidak sekadar diam saja. Dia sudah menyimak dan mencatat hal penting apa saja yang sudah dibahas oleh Barra dan Xavier.
“Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu. Aku tunggu kedatangan kamu ke kantorku.” Ucap Xavier sebelum pulang.
“Ya, aku pasti datang. Nanti akan aku kabari.” Jawab Barra.
Setelah Xavier pulang, Barra dan Iqbal pun juga segera kembali lagi ke kantor. karena masih ada pekerjaan yang masih belum dia selesaikan.
.
.
.
*TBC
__ADS_1