
Barra segera datang ke rumah sakit saat mendengar kabar bahwa Carissa sudah sadar. Dia merasa lega saat Xavier memberitahu bahwa keadaan Carisssa sudah membaik. Namun Barra berkecil hati saat akan melihat keadaan Carissa. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Carissa telah keguguran. Andai saja Carissa tidak keguguran, mungkin jalannya tidak akan semakin sulit untuk bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan kini Carissa telah kehilangan janinnya, darah dagingnya juga. Barra takut jika Carissa semakin membencinya.
Sementara itu Carisaa yang sudah selesai mendapatkan pemerikasaan dari dokter, keadaannya sudah pulih kembali. Hanya saja masih membutuhkan istirahat selama beberapa hari. Silvia dan juga Adnan juga sudah menceritakan semuanya. Awalnya Carissa tidak percaya bahwa dirinya selama ini adalah anak angkat dari mama dan papanya.
Carissa perlahan juga sudah bisa menerima kenyataan bahwa Xavier adalah saudara kembarnya, dan Charles adalah Papanya. Memang kedua wajah mereka tidak terlihat seperti anak kembar. Jika wajah Carissa lebih dominan mirip dengan mendiang mamanya, Liora. Sedangkan wajah Xavier dominan mirip dengan Charles sang Papa. Akan tetapi sifat mereka bertolak belakang. Carissa cenderung mirip dengan Papanya yang sedikit keras kepala, sedangkan Xavier mirip dengan sang Mama yang sangat bijaksana.
“Viera mau apa? Biar Papa belikan jika menginginkan sesuatu.” Ucap Charles yang sedang duduk disamping Carissa.
Pria itu sejak tadi tidak ingin meninggalkan ruang rawat anaknya sedetikpun. Bahkan saat Carissa tidur pun dia masih setia duduk di samping anaknya. bahkan dia melupakan keadaan mertuanya yang saat ini juga sedang dirawat di rumah sakit yang sama.
“Carissa nggak ingin apa-apa Pa.” jawab Carissa yang terlihat masih canggung.
“Viera, nama kamu Xaviera. Kalau bicara dengan Papa kamu harus menyebut nama kamu Viera bukan Carissa.” Ucap Charles pelan namun tegas.
“I iya Pa. maaf Car, eh Viera belum terbiasa.” Jawabnya.
Cklek
Barra tiba-tiba saja masuk ke ruangan Carissa tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Dia sangat terkejut saat melihat Carissa yang sedang berbaring dan ditemani oleh seseorang yang dia kenal.
“Maaf Tuan Charles.” Ucap Barra canggung.
“Buat apa kamu datang kesini?” tanyanya dengan datar.
“Maaf, Tuan saya ingin melihat keadaan Carissa.” Jawab Barra.
“Anak saya sudah pulih dan tidak ingin melihat kamu.” Ucap Charles dan membuat Barra semakin bingung.
“Anak Saya” Barra masih mencerna kata-kata yang diucapkan pria yang tak lain adalah Papa dari Xavier. Ada apa sebenaranya. Apa yang telah terjadi. Setahunya papa Xavierlah yang telah mendonorkan darahnya untuk Carissa. Namun kenapa pria itu menyebut Carissa sebagai anaknya.
“Apa kamu tidak mengerti dengan Bahasa manusia?” Tanya Charles tegas.
Barra terkesiap mendengar pertanyaan Charles. Sedangkan Carissa hanya terdiam sambil membuang muka. Dia masih enggan melihat wajah Barra. Carissa juga sudah tahu kalau ternyata selama ini dia hamil, namun akibat kecelakaan itu membuat janinnya tidak bisa diselamatkan. Carissa merasa beruntung karena tidak ada alasan lagi bagi Barra untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
“Maaf Tuan, saya –“
“Pa, biarkan mereka berdua bicara.” Potong Xavier cepat yang baru saja masuk ke ruangan Carissa.
__ADS_1
Mau tidak mau Charles harus mengalah dan dia segera berdiri dan duduk di sofa yang tidak jauh dari brankar Carissa. Namun Xavier terlabih dulu mengatakan kalau dirinya adalah saudara kembar Carissa. Barra sungguh terkejut mendengar kabar itu. Pantas saja Charles terlihat tidak suka dengannya.
“Carissa. Bagiamana keadaan kamu?” Tanya Barra, namun Carissa masih bergeming.
“Carissa maafkan aku. aku akan tetap bertanggung jawab atas semua perbuatanku.” Ucap Barra.
“Tidak perlu. Tidak ada alasan lagi buat kamu untuk bertanggung jawab, karena-“
Cklek
Tiba-tiba saja pintu ruang rawat Carissa terbuka dan memperlihatkan 3 orang masuk ke dalam. Satu orang wanita tua yang sedang duduk di kursi dengan seorang laki-laki paruh baya yang mendorong kursi rodanya. Dan satu orang pria tua yang sepertinya suami dari wanita tua yang sedang duduk di kursi roda.
“Bagaimana keadaan keponakan Om?” Tanya Alex sambil mendorong kursi roda mamanya.
Barra merasa bukan waktu yang tepat untuk bicara dengan Carissa di saat semua keluarga barunya sedang berkumpul.
Akhirnya Barra memutuskan untuk ijin keluar dulu dengan muka sedihnya. Namun sebelumnya Barra sudah terlebih dulu menyapa pria yang juga dia kenal yaitu Alex. Kemudian dia menyalami sepasang kakek nenek itu dan mencium tangannya dengan takzim.
“Barra pamit dulu. Nanti kesini lagi.” Pamit Barra dan diangguki oleh semua orang dalam ruaangan itu kecuali Carissa dan Charles.
Semua orang sudah mengetahui cerita tentang Carissa. Termasuk masalahnya dengan Barra. Oma dan Opa Carissa juga dapat menilai bahwa Barra adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.
“Setelah Viera sembuh dan keluar dari rumah sakit, Opa akan menikahkan kamu dengan Nak Barra.” Ucapnya, dan membuat Carissa dan juga Charles membelalakkan mata terkejut.
Kemudian Opa Carissa memegang lembut tangan istrinya seolah mengingatkan masa lalunya. Dan Omanya tersenyum.
“Oma juga setuju.”
“Tapi Pa, Charles tidak setuju. Mau bagaimana pun juga perbuatan Barra itu termasuk tindak kekerasan seksual. Untung saja Viera tidak melaporkan kejadian itu pada pihak yang berwajib.” Tolak Charles.
Sedangkan Carissa hanya bisa diam mematung. Dia tidak mengerti dengan maksud Oma dan Opanya yang memintanya menikah dengan Barra.
“Iya Papa mengerti dengan perasaan kamu Nak, namun Papa sangat yakin kalau Barra adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Lebih baik dia yang bertanggung jawab pada cucu Opa daripada pria lain yang belum tentu bisa menerima itu semua.
Semua orang terdiam setelah mendengarkan penjelasan Opa Carissa dan Xavier.
***
__ADS_1
Sementara itu Barra kini sudah berada di ruang rawat mamanya. Keadaan Kay juga sudah membaik karena lukanya tidak begitu serius. Barra masuk ke ruangan mamanya dan langsung berhambur ke pelukan Mamanya. Barra tidak peduli dengan orang-orang yang ada di ruangan itu. Bahkan Opa dan Omanya juga sedang berada disana. Barra terlihat seperti anak kecil yang sedang menangis karena tidak dibelikan mainan oleh Mamanya.
“Kenapa?” Tanya Kay lembut karena baru kali ini melihat anak sulungnya menangis dalam pelukannya.
“Ishh, sudah gede juga masih suka nangis.” Cibir Jenny sang adik, namun Barra tidak peduli.
Setelah itu Barra mengurai pelukannya dan menceritakan semuanya pada sang Mama. Barra menceritakan bahwa Carissa adalah saudara kembar Xavier, laki-laki yang selama ini menjadi partner bisnisnya. Vito yang mendengar juga terkejut. Itu berarti Carissa anak dari Tuan Charles. Pria yang terkenal dingin dan angkuh.
Barra mengatakan bahwa dirinya baru saja melihat keadaan Carissa. Dia mengatakan akan tetap mempertanggung jawabkan perbuatannya meskipun Carissa sudah kehilangan janin yang dikandungnya, namu perempuan itu menolaknya.
Kay dan Vito sangat iba melihat anaknya yang begitu rapuh. Mereka berdua sangat yakin kalau Barra memang benar-benar sangat mencintai Carissa.
“Kamu tenang ya. Mama dan Papa akan berusaha membantu kalian agar bisa bersatu.” Ucap Kay.
“Terima kasih Ma.” Jawab Barra sambil memeluk mamanya lagi.
Kemudian Kay meminta suaminya untuk mengambilkan kursi roda. Kay meminta untuk diantar ke ruang rawat Carissa. Selain untuk melihat keadaannya, Kay juga ingin meyakinkan pada Carissa bahwa Barra serius ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Semua keluarga Barra juga ikut menuju ruang rawat Carissa. Termasuk juga dengan Oma dan Opanya.
Cklek
Barra membukla pintu ruang rawat Carissa dengan pelan. Disana Carissa terlihat sedang tersenyum hangat dengan keluarga barunya. Semua orang menoleh ke arah pintu yang baru saja dibuka.
“Surya, Radit!”
“Viviane, Delia!”
Ucap keempat orang itu bersamaan.
.
.
.
*TBC
__ADS_1