Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 267


__ADS_3

Setelah menerima panggilan dari Mamanya, Barra kembali lagi bergabung melanjutkan makan malamnya. Dia tidak menghubungi Jenny, mungkin adiknya saat ini masih bersama temannya juga. nanti sepulang dari makan malam, dia akan datang ke rumah sebelum berangkat ke bandara.


“Maaf, tadi ada urusan sebentar.” Ucap Barra.


“Iya nggak apa-apa Tuan Barra.” Jawab Tuan Kenzo ramah.


Semakin sering Barra dan Tuan Kenzo, hubungan keduanya tampak semakin akrab. Mungkin dulu adalah pertama kalinya Barra bertemu dengan kliennya itu seolah orang yang sombong dan angkuh. Namun ternyata tidak.


Di tengah-tengah kegiatan makan malam, mereka juga sambil berbincang-bincang ringan. Tidak hanya mengenai kerjasama tetapi yang lain juga. Barra pun memberitahukan pada Tuan Kenzo kalau istrinya saat ini tengah mengandung.


“Selamat, atas kehamilan istri anda Tuan Barra. Semoga selalu diberi kesehatan untuk calon ibu dan calon buah hatinya.” Ucap Tuan Kenzo.


“Terima kasih Tuan Kenzo.” jawab Barra.


“Semoga Nona Pelangi juga segera menyusul.” Ucap Carissa yang sebelumnya sudah tahu kalau klien suaminya ini masih tergolong pengantin baru.


Uhuk uhukkk


Tiba-tiba saja istri Tuan Kenzo tersedak saat sedang mengunyah makanannya. Hingga membuat semua orang terkejut. Carissa merasa bersalah, dengan cepat dia memberikan segelas air putih untuk istri Tuan Kenzo.


“Maaf Nona. Apa anda baik-baik saja?” tanya Carissa khawatir.


“Iya. Saya baik-baik saja.” Jawab Pelangi.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan makannya. Hingga pukul 9 malam akhirnya mereka mengakhiri acara makan malam tersebut. Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing.


Sesuai rencana Barra, malam ini dia akan terbang ke kota B dengan mengambil jam penerrbangan malam yaitu pukul 10 malam. Barra terlebih dahulu pulang ke rumah mamanya untuk menjemput Jenny.


“Loh bukannya Jenny sudah berangkat dulu Mas?” tanya Carissa.


“Belum. Mama bilang nggak jadi karena masih ada uruusan. Kamu sudah bawa obat-obatan dan vitamin kamu kan Sayang?” Tanya Barra.


“Sudah Mas.” Jawab Carissa.


Lima belas kemudian Barra dan Carissa tiba di rumah Mamanya. Sebelumnya Barra bertanya pada satpam penjaga rumahnya mengenai Jenny. Namun satpam mengatakan kalau sejak tadi tidak melihat Jenny pulang. Perasaan Barra jadi tidak enak. Dia segera masuk ke dalam rumah dan mencari adiknya.


Dan benar. Jenny tidak ada di rumah dan di kamarnya juga kosong. Kemudian Barra mengambil ponselnya untuk menghubungi adiknya itu. Panggilannya tersambung dan sudah kesekian kalinya namun sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Jenny.


“Sayang, coba kamu hubungi Xavier. Apakah Jenny sedang bersamanya?” ucap Barra cemas.


“Baik Mas. Sebentar.” Jawab Carissa.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, Carissa mengatakan kalau saat ini Jenny tidak bersama dengan Xavier. Perasaan Barra semakin khawatir. Kemana adiknya sekarang. dia semakin bersalah karena setelah mendapat telepon dari Mamanya tidak langsung menghubungi Jenny. Dan akhirnya seperti ini.


“Mas tahu siapa teman Jenny yang sering ngajak jalan?” tanya Carissa.


“Ada yang aku kenal. Dan baru saja aku sudah mengirimkan pesan tapi mereka tidak tahu dan hari ini tidak bertemu dengan Jenny.” Jawab Barra.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 mlam. Harusnya Barra dan Carissa sudah ada di bandara. Namun sampai sekarang keberadaan Jenny belum diketahui. Tidak mungkin dia terbang ke kota B tanpa adiknya.


“Mas, coba hubungi Iqbal. Siapa tahu bisa membantu.” Saran Carissa.


Barra langsung menghubungi asistennya itu agar membantu mencari Jenny. Namun panggilan ke sekian kalinya tidak juga diangkat oleh Iqbal. Tidak biasanya juga asistennya itu mengabaikan panggilannya walau diluar jam kerja. Barra tidak kehabisan akal. Dia menghubungi Om Bram, Papa Iqbal.


“Selamat malam Om! Maaf mengganggu waktunya. Apa Iqbal sekarang ada di rumah?” tanya Barra saat panggilannya sudah tersambung.


“Malam juga Bar. Iqbal tidak di rumah. Ada acara sama temannya tadi. ada apa?” ucap Bram.


“Oh ya sudah Om. Saya mau minta bantuan Iqbal untuk membantu mencari Jenny.” Ucap Barra.


“Jenny? Kenapa dengan Jenny?” tanya Bram cemas.


“Jenny tidak ada di rumah Om sejak tadi. kita akan terbang ke kota B namun Jenny belum pulang.” Jawab Barra, berharap Om Bram membantunya.


“Kamu tunggu saja. Om akan bantu cari.” Jawab Bram.


Beberapa saat kemudian Barra mendapat pesan dari Bram tentang keberadaan Jenny saat ini. Barra mengerutkan keningnya saat melihat lokasi yang dikirim oleh Bram. Lokasi tersebut adalah salah satu hotel milik Papanga yang ada di kota J. Bram meminta Barra datang kesana dan dia juga akan menysulnya.


Barra segera melesat ke hotel tersebut bersama Carissa. Pikiran Barra semakin kacau. Apa yang dilakukan adiknya disana dan dengan siapa. Kenapa bisa di hotel. Pikiran buruk terus memenuhi isi kepala Barra. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan adiknya.


Barra tiba di hotel bertepatan dengan kedatangan Bram. Mereka bertiga segera masuk dengan meminta salah satu pegawai hotel menemaninya menuju salah satu kamar dimana gps ponsel Jenny terdeteksi oleh Bram.


Bram sudah menahan emosinya kuat-kuat. Semoga apa yang dibayangkan tidak menjadi kenyataan. Dia juga belum berani mengatakan sesuatu pada Barra sebelum mengetahui kebenarannya.


Kini Bram, Barra, Carissa dan salah satu karyawan hotel sudah berada di depan kamar yang tertutup rapat. Berdasarkan gps ponsel Jenny, saat ini gadis itu ada di dalam kamar tersebut.


“Om, nggak mungkin Jenny ada disini.” Sangkal Barra tak percaya.


“Tapi Om sudah mendeteksi gps ponsel Jenny disini.” Ucap Bram.


“Pak tolong buka pintu kamar ini!” ucap Bram tegas pada karyawan hotel tersebut.


Karyawan hotel tersebut tahu kalau hotel ini adalah salah satu hotel milik keluarga Vito. jadi dia tidak berani menolak apa yang diperintahkan oleh bodyguard dari pemilik hotel tersebut.

__ADS_1


Cklek


Pintu kamar terbuka. Ruangan itu sangat sepi dan gelap. Bram dan Barra masuk terlebih dulu kemudian menyalakan lampu kamarnya. Setelah lampu menyala, mata kedua pria itu terbelalak saat melihat apa yang ada di hadapannya.


“Baji***!!!” teriak Bram yang langsung menarik baju seorang pria yang tengah tertidur dalam posisi memeluk tubuh seorang perempuan.


Bugh bugh bugh


Pria yang matanya terpejam itu seketika bangun saat ada serangan bertubi-tubi mengenai wajahnya.


Sementara Barra masih tertegun tak percaya dengan keadaan saat ini. apakah ini mimpi atau nyata. Mengapa bisa seperti ini. tidak mungkin adiknya melakukan ini semua.


“Baji**** kamu! Apa yang kamu lakukan pada Jenny? Papa nggak pernah ngajari kamu bertidak asusila seperti ini!!”


Teriak Bram sambil terus memukuli wajah putranya sampai babak belur.


“Om cukup!!!” ucap Carissa yang sudah berada di dalam kamar dengan disusul oleh Xavier.


“Iqbal!! Tega kamu merusak Jenny! Adikku satu-satunya yang kamu juga anggap sebagai adik.” Teriak Barra dan ingin melayangkan pukulan ke wajah Iqbal namun segera dicegah oleh Carissa.


“Mas cukup!! Jangan main hakim sendiri” teriak Carissa.


Sementara Jenny yang tadi terlelap dalam tidurnya, kini mulai mengerjapkan matanya saat mendengar suara gaduh. Perempuan itu bingung saat melihat banyak orang sedang berada di dalam kamarnya.


“Ada apa ini?” tanya Jenny bingung.


Xavier hatinya mencelos saat tak sengaja melihat baju Jenny dalam keadaan terbuka ditambah lagi matanya menangkap bercak darah di atas sprei itu. Xavier kemudian keluar begitu saja tanpa mengucapkan sesuatu.


“Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat!!” Ucap Bram pada Iqbal yang kini sedang terduduk di lantai dengan wajah lebam.


“Papa dengarkan penjelasan Iqbal dulu. Ini semua tidak seper-“


“Cukup!! Kamu harus segera bertanggung jawab dan nikahi Jenny. Atau kamu bukan anak Papa lagi.” Ucap Bram penuh intimidasi.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣✌️✌️


__ADS_2