
Baik Carissa maupun Barra tampak gugup dan salah tingkah saat berduanya semakin dekat. Jenny yang melihat raut muka kakaknya yang berbeda sedikit heran. Begutu juga dengan Kay yang melihat Carissa agak gugup saat melihat dirinya.
“Perkenalkan saya Kay, mamanya Jenny.” Ucap Kay memperkenalkan dirinya.
“Ehm, saya Carissa Nyonya. Senang bertemu dengan anda.” Ucap Carissa.
“Memangnya hanya Jenny saja anak Mama?” gerutu Barra yang masih bisa didengar oleh ketiga perempuan yang ada dalam ruanagn itu.
“Memang bukan. Anda kan sopirnya.” Jawab Jenny mengejek dan mendapat pelototan mata dari Barra.
“Sudah-sudah! Kalian itu bisa nggak sih kalau bertemu nggak usah bertengkar? Nggak malu apa udah gede juga masih kayk anak kecil.” Ucap Kay mengomeli kedua anaknya.
Sedangkan Carissa merasa bingung mau berbuat apa saat melihat orang di hadapannya sedang bertengkar untuk urusan yang tidak begitu penting. Namun dirinya ikut merasa senang melihat keharmonisan keluarga Jenny. Berbeda dengan dirinya yang anak tunggal, tidak memiliki saudara.
“Eh, maaf Carissa. Yuk silakan duduk. Ya beginilah kalau kedua anak nakal ini bertemu, pasti selalu rebut.” Ucap Kay pada Carissa.
“Nggak apa-apa Nyonya.” Jawab Carissa.
“Jangan panggil Nyonya. Panggil saja tante, biar akrab saja.”
“I iya tante.” Jawab Carissa.
“Oh iya, perkenalkan ini anak laki-laki tante kakaknya Jenny, namanya Barra.” Ucap Kay sambil menyenggol lengan Barra agar berkenalan dengan Carissa.
“Barra!” ucap Barra datar sambil mengulurkan tangannya.
“Carissa.”
Keduanya saling menjabat tangan. Carissa merasa sangat gugup saat tangannya berada pada genggaman tangan Barra. Sedangkan Barra merasakan tangan Carissa yang begitu lembut dan halus tapi sedikit hangat. Barra juga merasakan hal yang berbeda saat memegang tangan Carissa. Seperti enggan melepasnya.
“Sudah jangan lama-lama pegangannya!” ucap Jenny tiba-tiba dan sontak membuat keduanya kaget kemudian segera melepaskan tautan tangannya.
Carissa, Jenny dan juga Kay akhirnya berbicara seputar dunia fashion. Carissa menyimak apa saja yang dikatakan oleh Kay. Dia sangat beruntung bisa bertemu dengan Kay sekaligus mendapatkan ilmu. Jenny pun juga terlihat senang, dia bisa saling bertukar ilmu dengan Carissa. Sedangkan Barra masih sibuk dengan gadgetnya, tapi laki-laki itu terkadang mencuri pandang pada Carissa yang terlihat fokus berbicara dengan mamanya.
Cukup lama ketiga perempuan itu berbicara mengenai fashion. Bahkan mereka juga makan siang bersama dalam ruangan itu. Carissa pun juga sudah terlihat sangat akrab dengan Jenny maupun Kay. Dia juga tidak lagi sungkan untuk menanyakan sesuatu yang belum dia mengerti.
__ADS_1
Sore harinya, akhirnya Carissa memutuskan untuk pulang. Karena dia sudah berjanji pada kedua orang tuanya untuk tidak pergi terlalu lama. Carissa berpamitan pada Kay dan juga Jenny sebelum pulang.
"Hati-hati di jalan ya Carissa. Tadi bawa mobil sendiri kan?” Tanya Kay.
“Nggak tante. Tadi saya naik taksi. Ya sudah saya permisi dulu. Terima kasih banyak atas waktunya.” Jawab Carissa.
“Tunggu dulu. Ini mau hujan lho, jalan ke haltenya agak jauh. Biar Barra saja yang mengantar.” Ucap Kay khawatir.
“Nggak apa-apa Tante, saya naik taksi saja.” Ucap Carissa.
“Iya Kak benar apa yang mama bilang.” Ucap Jenny menyetujui.
Tanpa menjawab, Barra segera berdiri dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Carissa pun tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran dari Kay untuk diantar pulang oleh Barra.
Mereka berdua keluar dari butik untuk menuju mobil Barra yang terparkir tidak jauh dari dari butik. Memang benar, mendung sudah tampak semakin gelap. Kalau Carissa nekat pulang naik taksi dan berjalan menuju halte, pasti dia akan kehujanan.
Barra sudah masuk terlebih dulu dan duduk di belakang kemudi. Carissa bingung saat mau masuk mobil, dan akhirnya dia membuka pintu belakang dan duduk disana.
“Kamu tahu kan kalau aku bukan sopir? Jadi pindahlah ke depan.” Ucap Barra datar tanpa menoleh pada Carissa.
Beberapa saat kemudian ternyata hujan turun. Yang awalnya hanya gerimis, kini semakin deras dan lebat hingga jalanan tidak begitu terlihat jelas dari balik kaca mobil Barra. Seketika Barra mengurangi kecepatan laju mobilnya. Karena sangat berbahaya.
Carissa sejak tadi hanya diam saja. Tidak ada yang dia ucapkan, karena bingung mau bicara apa. Lagi pula dia juga tidak mau mengganggu konsentrasi Barra yang sedang menyetir. Namun saat Carissa melihat hujan yang sangat lebat hingga airnya seperti menutupi kaca mobil, seketika badannya berkeringat dingin. Bahkan wajahnya tiba-tiba memucat dan nafasnya sedikit memburu.
Barra yang sejak tadi memelankan laju mobilnya dan fokus menyetir, dia merasa seseorang yang sedang duduk di sebelahnya terlihat bergerak-gerak gelisah. Barra memberanikan diri untuk menoleh sekilas pada Carissa. Dan benar saja terlihat wajah Carissa tampak gelisah sambil mengusap keringat di keningnya. Dengan cepat Barra menyalakan lampu mobilnya dan betapa terkejutnya dia melihat wajah Carissa yang sudah pucat pasi.
“Carissa kamu kenapa?” Tanya Barra cemas.
“Ma maaf, aku takut hujannya begitu lebat. Bisa kah Kak Barra berhenti dan mencari tempat berteduh?” ucap Carissa dengan suara bergetar.
Tanpa menjawab, Barra segera menepikan mobilnya. Dan kebetulan ada minimarket di dekatnya. Dia segera masuk ke halaman parkir minimarket itu. Dia juga melihat Carissa sudah terlihat lebih tenang maski keringatnya masih bercucuran.
“Ini tisu, kamu lap dulu keringat kamu.” Ucap Barra sambil memberikan tisu pada Carissa.
“Terima kasih.” Jawab Carissa.
__ADS_1
“Kamu tunggu sebentar, aku belikan minum dulu.” Ucap Barra kemudian keluar dari mobilnya.
Setelah membeli minuman, Barra kembali masuk ke dalam mobilnya dan memberikan minuman itu pada Carissa.Carissa pun segera meminum sebotol air mineral pemberian Barra.
“Sekali lagi terima kasih Kak.” Ucap Carissa.
“Apa kamu selalu seperti ini? maksudku takut dengan hujan?” Tanya Barra penasaran.
“Iya” Jawab Carissa.
Barra pun hanya mengangguk. Dia tidak ingin menanyakan lebih dalam lagi tentang phobia Carissa yang sangat takut dengan air hujan. Tiba-tiba saja ponsel Carissa berdering, kemudian dia mengangkatnya.
“…..”
“Iya Ma, ini Carissa masih berteduh. Nunggu sampai hujan reda.” Ucap Carissa yang tampaknya sedang berbicara dengan mamanya.
“…..”
“Iya Ma, Carissa baik-baik saja. Mama nggak perlu khawatir.” Ucap Carissa kemudian menutup sambungan teleponnya.
Setelah memastikan hujan benar-benar reda, Barra baru berani melajukan kembali mobilnya untuk segera mengantar Carissa pulang. Karena waktu sudah menunjukkan jam 7 malam.
Kini mobil Barra sudah berhenti tepat di depan rumah minimalis bercat putih. Carissa melapskan sabuk pengamannya terlebih dulu sebelum keluar dari mobil.
“Aku langsung pulang saja ya. Salam saja ke orang tua kamu.” Ucap Barra sebelum diminta mampir oleh Carissa.
“Oh iya akan aku sampaikan. Terima kasih banyak sudah mengantar pulang dan maaf sudah merepotkan Kak Barra tadi.” ucap Carissa dan Barra hanya mengangguk tersenyum.
Setelah itu Carissa segera keluar dari mobil Barra dan masuk ke rumahnya. Barra menyunggingkan senyumnya saat melihat Carissa sempat menoleh sekilas sebelum masuk ke ruamhnya. Dia juga merasa nyaman saat Carissa memanggilnya dengan sebutan "Kak". Sama halnya dengan Jenny.
.
.
.
__ADS_1
*TBC