
Tiba di kamar Delia mempersiapkan dan menata buku-buku buat perkuliahan besok. Sambil membaca sedikit materi pada catatannya. Setelah itu dia baru bersiap untuk tidur.
Beberapa menit hingga beberapa jam nyatanya mata Delia tidak juga terpejam. tidak tahu kenapa rasanya sangat sulit sekali untuk memejamkan matanya. padahal waktu ngobrol dengan abangnya tadi dia menguap berkali-kali. "aneh" pikirnya begitu. Setelah itu dia memutuskan untuk mencuci mukanya. siapa tau setelah muka segar, mata bisa terpejam.
Dia merebahkan tubuhnya, memeluk guling empuknya, memejamkan mata. matanya ia pejamkan tapi pikirannya yang terbang kemana-mana. "arghhhh.... kenapa sih nih mata" kesal Delia. lantas dia bangun dan meraih gelas yang berada di atas nakas lalu meminumnya. setelah minum tiba-tiba muncul bayangan wajah Radit. Delia hanya geleng-geleng sendiri. bisa-bisanya wajah Radit muncul begitu saja. Teringat dari tatapan pertama bertemu, hingga tadi siang saat di mall. meskipun tatapan yang berbeda, Delia pun tidak tahu maknanya. tetapi kenapa meskipun begitu Delia merasa ingin terus melihat tatapan mata itu.
Semakin memikirkan Radit semakin aneh dengan perasaan Delia. Meskipun tadi saat bertemu dengan Radit, dan mendapatkan tatapan yang sangat berbeda seperti tatapan kecewa atau benci. Entahlah Delia juga tidak tahu. Akan tetapi Delia tidak bisa ikut membalasnya dengan kebencian juga karena tidak ada alasannya. Justru dia tetap dengan tatapan kagum dan penuh cinta.
__ADS_1
Delia sudah menyadarinya bahwa dia sudah berani mencintai Radit. kekasih dari sahabat baiknya. Tidak tau alasannya apa sehingga Delia bisa jatuh cinta dengan Radit sejak pandangan pertama. Memangnya cinta itu hadir harus dengan alasan. Dan apakah cinta harus memilih kepada siapa dia harus berlabuh. Tidak. Cinta itu hadir tanpa kita sadari dan tidak perlu dengan ada alasan yang konkrit mengapa kita bisa jatuh cinta pada seseorang.
Setelah menyadari bahwa Delia benar-benar sudah jatuh cinta pada kekasih sahabatnya, dia bertekat dalam dirinya untuk bisa menahan perasaannya itu. Dia harus rela dan ikhlas seandainya dia harus melihat kemesraan antara Radit dan Viviane. Dia tidak boleh menampakkan perasaan yang sesungguhnya di depan Radit. Karena dia akan tau akibatnya. Dia tidak mau persahabatannya dengan Viviane menjadi hancur hanya karena mencintai orang yang sama. Delia telah menguatkan hatinya sendiri. Dia tidak mungkin bisa memiliki Radit, dan tidak mungkin juga merebut Radit dari tangan Viviane. Bukannya cinta itu tidak harus memiliki. Meskipun harus merasakan sakit hati yang teramat dalam. Tetapi Delia hanya bisa mencintai Radit dalam diam, dan dalam doanya. Dia tidak berharap lebih akan keajaiban doanya kelak. Yang penting dia hanya bisa mendoakannya.
Sementara itu di tempat lain, setelah Radit selesai mengantarkan Viviane membeli buku. Mereka memutuskan segera pulang. Radit mengantarkan Viviane ke apartemennya, tetapi Radit langsung pamit pulang karena dia bilang ada sedikit urusan. Jadi dia tidak bisa bermalam di apartemen Viviane. Viviane pun bisa memakluminya.
Radit sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah mematikan ponselnya. Karena dia tidak mau diganggu. Dia tadi berbohong pada Viviane kalau dia ada urusan. Tapi benar dia sedang ada urusan. Yaitu urusan dengan persaannya yang sedang kacau. Selama perjalanan pulang dia masih memikirkan Delia. Sampai tidak fokus dengan Viviane dan segera pamit pulang.
__ADS_1
Radit tidak tahu dengan perasaanya sendiri. Sama halnya dengan Delia, pikiran dan perasaan Radit juga sedang kacau jika mengingat tentang Delia. Tentang pertemuan pertamanya, pertemuan kedua, dan tadi yang ketiga saat di mall. Dia tidak bisa menghindari tatapan Delia. Tatapan sama yang dia dapat sejak pertemuan pertamanya. Tatapan itu tidak pernah berubah, tetap sama. Tatapan yang sangat teduh penuh kasih. Meskipun Radit memberi tatapan yang berbeda-beda.
“kenapa tatapan mata Delia seperti menjadi candu bagiku? Aku ingin melihat tatapan itu terus.” Gumam Radit
“mungkinkah aku sedang jatuh cinta pada Delia? Apakah boleh jika aku jatuh cinta lagi dengan orang lain di saat aku sudah memiliki seorang kekasih? Bagaimanakah nanti perasaan Viviane jika tahu aku mencintai sahabatnya sendiri?” berbagai pertanyaan muncul dalam benak Radit.
“tidak. Aku tidak boleh jatuh cinta dengan Delia hanya karena tatapannya. tapi bolehkah aku mencintainya dalam diam? karena hanya itu lah satu-satunya cara agar tidak menyakiti hati Viviane nantinya. Tapi, tunggu dulu Memangnya dia siapa? Apa dia pantas dicintai? Nyatanya dia itu cewek matre yang suka porotin harta cowoknya. Bahkan bisa saja dia nanti akan membawa pengaruh buruk terhadap Viviane. Iya aku hanya boleh jatuh cinta pada Viviane seorang. Karena dia segalanya bagiku.” Gumam Radit yang berusaha menolak kehadiran Delia dalam hatinya. Akhirnya Radit tertidur setelah lelah memikirkan perasaannya sendiri yang tak menentu.
__ADS_1
*salam manja dari _author newbie_😘😘