Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 224


__ADS_3

“Brengsekk!!! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Umpat Vito sambil melempar berkas yang baru saja diberikan oleh Bram.


Bram sudah mendapatkan informasi tentang Astrid. Dalam laporannya bahwa saat ini Astrid sedang hamil. Pantas saja wanita itu mengejar Barra dan meminta balikan lagi dengan Barra, karena hanya untuk menutupi kehamilannya. Bahkan sampai menggunakan cara kotor dengan memberikan obat perangsang pada minuman Barra.


“Buat wanita ****** itu jauh dari Barra. Jangan sampai ada kesempatan buat dia menemui Barra.” Perintah Vito pada Bram.


“Baik Tuan.” Jawab Bram.


Vito sangat yakin kalau bayi yang sedang dikandung oleh Astrid bukan perbuatan dari Barra. Vito tahu kalau Barra tidak sebejat itu. Meski dia tahu kalau anaknya telah merenggut kesucian Carissa. Namun itu semua karena di bawah pengaruh obat yang telah direncanakan oleh Astrid.


Vito berencana dengan istrinya akan menemui kedua orang tua Carissa untuk meluruskan masalah anaknya. Vito juga sekalian akan melamar Carissa untuk Barra.


Malam harinya Vito dan Kay mendatangi rumah kedua orang tua Carissa. Sebenarnya Barra juga ingin ikut namun Vito melarangnya. Biar semua masalah itu segera selesai.


“Rumahnya kok sepi ya Mas?” Tanya Kay saat sudah tiba di depan rumah orang tua Carissa.


“Iya. Lebih baik kita turun dan kita tanyakan dulu siapa tahu ada pembantunya di rumah.” Jawab Vito.


Akhirnya Vito dan Kay keluar dari mobil dan menekan bel


rumah orang tua Carissa. Setelah menunggu cukup lama akhirnya pintu rumah terbuka dan sepertinya memang pembantunya yang membukakan pintu.


“Selamat malam Tuan, Nyonya! Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya.


“Selamat malam. Bisa saya bertemu dengan Tuan Adnan?” jawab Vito.


“Mohon maaf Tuan, Nyonya. Semua penghuni rumah sedang keluar untuk mempersiapkan acara pertunangan Nona Carissa besok.” Jawab pembantu Carissa.


Vito dan Kay saling terdiam. Mereka berdua sangat terkejut mendengar kabar itu. Rencananya telah gagal. Karena Carissa sebentar lagi akan bertunangan. Akhirnya Vito dan Kay pamit undur diri.


Sementara itu kedua orang tua Carissa dan Dhefin setelah makan malam, mereka mendatangi hotel dimana akan diadakan pesta pertunangan anak-anak mereka. Meskipun acaranya mendadak namun kedua orang tua mereka tetap mengadakan pesta meskipun hanya sederhana.


Sedangkan Carissa dan Dhefin kini sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan. Tepatnya berada di sebuah toko perhiasan. Ya, saat ini Carissa dan Dhefin sedang memilih cincin untuk pertunangan mereka besok.


“Kamu pilih yang mana Rissa?” Tanya Dhefin saat salah satu karyawan memberikan beberapa contoh cincin dengan model terbaru.


“Terserah Mas saja.” Jawab Carissa.

__ADS_1


Sejak tadi Carissa hanya diam dan cenderung menurut sama ucapan Dhefin. Dia juga pasrah untuk acara besok. Sedangkan Dhefin yang melihat perubahan sikap Carissa hanya bisa bersabar sampai hari pertunangannya tiba.


“Ya sudah Mbak yang ini saja.” Ucap Dhefin.


“Baiklah, silakan Tuan selesaikan pembayarannya di sana.” Jawab karyawan toko itu.


Selesai membeli cincin, Dhefin segera mengantar Carissa pulang. Dalam perjalanan, keduanya saling terdiam. Entah kenapa saat ini hanya ada nama Barra dalam pikiran Carissa. Meskipun dia sangat membencinya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Dhefin saat mobilnya sudah berhenti di depan rumah.


“Hah? Nggak ada kok Mas.” Jawab Carissa gugup.


“Apa kamu tidak suka kalau besok kita bertunangan?” Tanya Dhefin.


“Bukan begitu Mas. Aku suka kok. Mungkin hanya belum terlalu siap saja karena acaranya mendadak.” Jawab Carissa.


“Sudah, kamu nggak usah khawatir. Kedua orang tua kita telah mengurus semuanya. Lebih baik sekarang kamu langsung istirahat biar besok badan kamu lebih fresh. Aku sudah nggak sabar ingin segera memilikimu Rissa.” Ucap Dhefin.


“Tapi Mas, aku aku sudah tidak-“ ucap Carissa tergugu karena sudah tidak tahan menahan tangisnya.


Carissa masih terisak mengingat perbuatan Barra. Entahlah tapi kenapa semakin Carissa membenci Barra, dia semakin tidak bisa menghilangkan bayang-bayang laki-laki itu dalam pikirannya. Tapi dia tidak mungkin menolak pertunangannya dengan Dhefin. Karena hanya Dhefin lah satu-satu laki-laki yang mau menerima kekurangannya.


Setelah tangis Carissa mereda. Dhefin meminta Carissa untuk segera masuk ke rumah dan beristirahat.


***


Saat ini Barra tengah berada di dalam kamarnya. Tepatnya sedang duduk di balkon sambil menatap ke arah langit yang sama sekali tidak menampakkan bintang. Sama halnya dengan hati Barra saat ini. penampilannya sungguh berantakan dengan rambut yang acak-acakan.


Barra saat ini sedang patah hati. Selama hidupnya, baru kali ini dia merasakan patah hati. Padahal beberapa waktu yang lalu saat tahu Astrid telah berselingkuh darinya, harusnya saat itulah Barra merasakan patah hati. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Justru sekaranglah dia merasakan patah hati yang sesungguhnya setelah Mamanya memberitahukan bahwa Carissa besok akan bertunangan dengan Dhefin.


“Carissa, kamu boleh membenciku karena perbuatan bejatku. Tapi apa kamu tahu kalau Dhefin lah yang lebih bejat dariku. Kamu akan menyesal telah memilihnya.” Gumam Barra dengan tatapan kosong menengadah ke atas.


Saat Kay mengatakan bahwa besok Carissa akan bertunangan dengan Dhefin, saat itulah Barra ingin memberitahukan pada Carissa bahwa Dhefin bukanlah pria yang tepat untuknya. Namun Vito segera mencegah Barra yang akan pergi. Vito melarang, karena tindakan Barra itu akan semakin membuat Carissa membencinya.


“Tenangkan diri kamu.” Ucap Vito sebelum Barra masuk ke kamarnya.


Entahhlah mungkin Vito berharap sesuatu akan terjadi pada acara pertunangan Carissa dan Dhefin besok.

__ADS_1


***


Sementara itu Astrid sangat kebingungan karena tidak bisa menghubungi Dhefin. Astrid sudah tidak bisa lagi mancari cara untuk mendekati Barra, karena dia merasa ada orang-orang yang sengaja diperintahkan untuk menjauhkan dirinya dari Barra. Jadi Astrid tidak punya pilihan lain selain meminta pertanggung jawaban pada Dhefin. Karena memang anak dalam kandungannya itu adalah anak Dhefin.


Astrid sangat marah ketika mendapat kabar bahwa Dhefin akan bertunangan dengan Carissa besok.


***


Hari pertunangan Dhefin dan Carissa pun tiba. Suasana ballroom hotel tampak ramai meski yang hadir dalam acara pertunangan itu adalah kerabat dekat serta saudara dari kedua belah pihak.


Dhefin sangat terpukau dengan kecantikan natural Carissa, wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Namun Carissa berusaha menampakkan senyumnya meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Acara belum dimulai. Para tamu masih berbincang-bincang sambil menunggu acara dimulai. Tiba-tiba saja Astrid datang ke acara tersebut. Dia mendekati Dhefin dan membisikkan sesuatu pada Dhefin.


“Rissa tunggu sebentar ya. Aku ada urusan sebentar dengan Astrid.” Pamit Dhefin dan Carissa mengangguk.


Carissa tahu kalau Astrid dan Dhefin bersahabat termasuk dengan Barra. Namun Barra sudah putus dengan Astrid sejak lama. Carissa ingat tentang apa yang pernah Barra ceritakan bahwa Astrid berselingkuh darinya. Tiba-tiba saja Carissa juga meninggalkan acara tersebut untuk mengikuti langkah kaki Dhefin dan Astrid yang menuju luar hotel.


“Kamu jangan mengada-ada Astrid. Siapa tahu itu bukan anakku!” ucap Dhefin marah.


“Gila kamu ya Fin. Aku nggak pernah berhubungan badan dengan laki-laki lain selain dengan kamu. Dan ini memang anak kamu.” Jawab astrid.


“Jadi kamu datang kesini hanya untuk mengacaukan acara pertunanganku dengan Carissa? Lebih baik kamu gugurkan saja janin dalam kandungan kamu itu.” Ucap Dhefin.


Carissa menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihaat dan dia dengar. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Barra dulu. Carissa berniat menghampiri kedua orang yang tengah bersitegang itu, namun tiba-tiba…


Hmmppppp


Ada seseorang yang menarik Carissa dari belakang dan membekap mulutnya. Kemudian orang itu membawa Carissa pergi meninggalkan hotel.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2