
Semilir angin malam lembut menyapa. Menyapu kulit, menusuk tulang. Radit melepas jasnya dan memakaikannya pada Delia. Karena Delia saat ini memakai gaun panjang sampai bawah lutut tanpa lengan, sehingga area atas dadanya sedikit tereksplor. Bukan hanya karena cuaca yang sedang dingin karena mereka berdua saat ini berada di luar hotel tepatnya di sebuah taman Radit memakaikan jasnya semata-mata untuk menutupi lekuk tubuh Delia dari santapan mata liar.
Mereka berdua sejak tadi terdiam. Setelah Radit mengetahui bahwa anak dari teman mamanya yang akan dikenalkan padanya ternyata adalah Delia. Radit segera menarik tangan Delia untuk diajak keluar hotel dimana acara pernikahan abang Delia berlangsung. Tidak jauh dari hotel, hanya ke sebuah taman yang masih berada satu lokasi dengan hotel.
Dalam hati Radit bersorak senang mengetahui ide mamanya. Bodoh jika Radit menolak ajakan mamanya dan menolak berkenalan dengan anak teman mamanya yang nyatanya orang itu adalah Delia. Gadis yang sedang bersemayam di hati Radit. Entah sejak kapan, Radit juga tidak mengetahuinya.
“ehm.. tangan kamu masih sakit?” pertanyaan Radit memecah keheningan
“eh.. sudah sembuh”
“kenapa kamu tidak membalas pesanku? Dan kenapa ponsel kamu tidak aktif?”
Delia baru sadar sejak keberangkatannya di bandara dan sampai hari ini terhitung tiga hari ponselnya tidak aktif. Padahal niatnya hanya menonaktifkan saat sedang dalam penerbangan saja. Namun saat sudah sampai rumah dia lupa. Bahkan tidak membuka ponselnya sama sekali. Karena tidak mendengar suara pesan atau panggilan masuk jadi Delia tidak mengecek ponselnya. Tidak tahunya ternyata ponselnya tidak aktif.
“maaf aku lupa, ponselku tidak aktif” ucapnya sambil mengaktifkannya setelah berhasil mengeluarkannya dari pouch yang dia bawa.
Dan benar ternyata banyak pesan yang masuk dan panggilan tidak terjawab dari Radit, Ibunya, dan Angga. Delia mengabaikan pesan yang masuk karena sedang bersama Radit. tidak sopan jika saat bersama seseorang malah asyik sendiri memainkan ponsel.
“ck… bikin khawatir saja” ucap Radit
“hah? Memangnya kenapa?” Delia bingung dengan apa yang dikatakan oleh Radit baru saja.
“udahlah lupain aja”
Radit jadi bingung sendiri mau jawab apa. Pasalnya Radit juga kelihatan gengsi untuk mengakui perasaannya. Dia ragu apakah hati Delia masih sama seperti dulu, yang mencintainya, sedangkan saat ini status Delia menjadi kekasih sahabatnya sendiri. Mengingat itu, Radit jadi geram. Mau Delia benar-benar mencintai Surya apa tidak, Radit tetap akan merebut Delia.
“kamu tahu kan kalau Ibu kamu dan mamaku berniat mengenalkan kita” Tanya Radit kemudian
“iya. Dan ternyata kita sudah kenal” jawab Delia
“jawaban macam apa itu?” batin Radit menggerutu, jawaban Delia tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Padahal Radit berharap jawaban Delia adalah tentang perjodohan yang direncanakan oleh mamanya dan ibunya Delia.
__ADS_1
“kamu nggak tahu maksud-“ perkataan Radit terpotong oleh suara panggilan telepon dari ponsel Delia. Dan Delia segera mengangkatnya.
“Ya kak Angga?”
“(…)”
“baik kak”
“(…)”
“nggak apa-apa kak”
“(…)”
“iya kak hati-hati”
Meskipun Delia sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan seseorang, tapi Radit tahu panggilan itu dari siapa. Radit mendengar kalau Delia sedang berbicara dengan kekasihnya yang tak lain juga sahabatnya. Surya. Radit geram sekali, berani-beraninya Surya menganggu dirinya saat sedang berduaan dengan Delia. Setelah Delia mengakhiri panggilannya, dia kembali lagi duduk dengan Radit.
“kamu masih ingatkan dengan permintaan tempo hari?” bukannya menjawab perminta maafan Delia, Radit justru memberi pertanyaan pada Delia.
“permintaan apa?” Delia bingung
“putuskan kekasihmu!!”
Deg…. Delia seketika ingat akan permintaan Radit.
“ta..tapi kenapa? Aku nggak bisa”
“kenapa kamu nggak bisa? Kamu mencintainya??” Tanya Radit sinis
“aku mencintainya atau tidak itu urusanku dengan kak Angga. Bukan urusan kamu”
Radit semakin geram dengan Delia, apalagi mendengar dia menyebut nama Surya dengan embel-embel “kak”, sedangkan dirinya hanya dipanggil nama saja.
__ADS_1
“itu akan menjadi urusan aku. Karena aku nggak mau milikku dimiliki oleh orang lain. Tak terkecuali sahabatku sendiri” ucap Radit sedikit meninggikan suaranya.
“maksud kamu apa? Aku tidak mengerti?” Delia semakin bingung, tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan Radit itu.
“ohh.. apa ciuman Surya yang lebih memuaskan dari pada aku? Sehingga kamu tidak mau putus dengannya? Atau memang Surya lebih memuaskan saat di ranjang dari pada aku? Tenang saja, aku paling bisa memuaskanmu dari pada kekasihmu yang cassanova itu.” Bisik Radit di telinga Delia.
“plakkkk… jaga ucapan kamu ya! Serendah itu kamu menilai perempuan?”
air mata Delia mengalir begitu saja. Hatinya sangat sakit mendengar Radit yang seolah-olah merendahkan harga dirinya. Delia segera berlari meninggalkan Radit. dia tidak menyangka akan kata-kata yang diucapkan Radit tadi. Orang yang dicintainya tega sekali mengucapkan kata-kata pedas seperti itu. Jujur dalam hati Delia sebenarnya masih mencintai Radit. Tapi dengan apa yang baru saja terjadi, sangat membuat hatinya terluka. Seumur hidupnya baru kali ini ada orang yang merendahkan harga dirinya.
Radit memegangi pipinya yang habis ditampar Delia. Melihat Delia yang menangis dan meninggalkannya, dia merutuki kebodohannya.Dia telah menyakiti hati Delia. Bisa-bisanya mulutnya tidak terkendali hingga menyebabkan orang yang dicintainya terluka.
Radit mengejar Delia yang keluar dari hotel sambil menangis. Dalam hati Radit sangat bersalah sekali. Dia harus mendapatkan maaf dari Delia.
“Del… tunggu!” Radit terus mengejarnya.
Saat posisi Radit sudah dekat dengan Delia, dia meraih dan menarik tangan Delia. Radit memeluk, mendekap erat tubuh Delia. Tubuh Delia bergetar, dia masih terus saja menangis.
“maafin aku Del. Aku mohon maafin aku. Aku nggak berniat seperti itu” tidak mendapat jawaban dari Delia karena tangisnya belum reda.
“sudah Del.. please maafin aku. Aku mohon. Kamu boleh hokum aku apa aja, asal kamu maafin aku” Radit masih memohon dan mendekap tubuh Delia seakan menyalurkan segala perasaan bersalahnya. Tangis Delia sudah reda, hanya tersisa sesenggukan. Delia melepaskan pelukannya, dan menghapus air matanya.
“perlu kamu tahu, orang yang pertama kali mencium bibir ini, yang mencuri ciuman pertamaku adalah kamu. Bahkan sampai saat ini, saat aku menjadi kekasih kak Angga. Hanya kamu yang dengan lancangnya merenggut ciumanku. Selama ini aku menjaga tubuhku, menjaga diriku meskipun aku menjadi kekasih kak Angga, tapi aku tidak pernah melakukan seperti yang kamu tuduhkan tadi. Bahkan kak Angga tidak berani menciumku. Karena aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri, bahwa tubuhku ini akan aku berikan hanya untu suamiku kelak” Delia menjelaskan panjang lebar dengan isakan lirih.
Radit yang mendengar penjelasan Delia menjadi sangat bersalah karena yang dituduhkannya tidak benar. Namun dalam hatinya juga sangat senang karena dirinya lah orang pertama yang menikmati bibir ranum dan manis milik Delia. Dia bertekad dalam hatinya akan menjadikan Delia miliknya seutuhnya. Radit meraih lagi tubuh Delia ke dalam pelukannya.
“maafin aku Del.. aku sungguh tidak berniat merendahkan kamu. Aku hanya nggak suka kamu berhubungan dengan Surya”
Delia diam saja, lidahnya seolah keluh mau bertanya apa alasan Radit tidak menyukai dirinya berhubungan dengan Angga.
*TBC
*salam sayang dari _author newbie_💕💕
__ADS_1