
Entah mengapa hati Barra berdebar setelah membaca pesan dari istrinya tadi. bahkan sampai sekarang pun masih sama. Kemudian dia segera keluar dari ruangannya dan bilang pada sekretarisnya kalau dirinya akan pulang dan tidak kembali lagi.
Beberapa menit berkendara, Barra sudah tiba di rumah. Dia melihat keadaan rumah masih sepi. Mungkin istrinya sedang berada di kamar. kemudian dia naik ke lantai 2 menuju kamarnya.
Cklek
Barra membuka perlahan pintu kamarnya dan tidak melihat keberadaan istrinya. Namun harum aroma shampoo menyeruak memenuhi indra penciuman Barra.
Surprise!!!
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Carissa keluar dari balik pintu sambil membawa kue dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk suaminya. Barra meneteskan air matanya haru dengan kejutan yang diberikan oleh istrinya.
“Terima kasih Sayang. Aku sampai lupa kalau hari ini ulang tahunku.” Ucap Barra sambil mengusap sudut matanya yang berair.
“Tiup dulu dong Mas lilinnya!” Ucap Carissa.
Barra pun segera menutup matanya dan memanjatkan doa, setelah itu meniup lilin pada keu tart itu. Selesai meniup lilin, Carissa meletakkan kue di atas meja.
“Selamat ulang tahun Mas. Semoga selalu menjadi suami setia dan penyayang, serta menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti.” Ucap Carissa sambil memeluk suaminya.
“Terima kasih Sayang. Aku janji akan menjadi seperti yang kamu harapkan. Terima kasih sudah membuat hidupku bahagia.” Jawab Barra dengan mengeratkan pelukannya sambil menciumi kepala istrinya.
Wangi aroma shampoo di rambut Carissa sungguh membangkitkan sesuatu yng ada di balik celana Barra. Dan tanpa Barra sadari sejak tadi istrinya hanya memakai baju tidur tipis dan menggoda. Saat ini Barra merasa ada dua buah kenyal yang sedang menghimpit dadanya. Sejenak Barra mengurai pelukannya.
“Sayang, apa ini kadonya?” tanya Barra dan membuat wajah Carissa memerah.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Barra segera menggendong tubuh istrinya ke atas ranjang. Namun dia teringat kalau dirinya juga harus mandi terlebih dulu karena merasa sangat gerah meski berada di dalam ruangan ber ac.
“Sayang, tunggu sebentar ya. Aku mau mandi kilat.” Ucap Barra.
“Jangan Mas! Nggak usah. Aku suka dengan bau keringat kamu.” Ucap Carissa dan dia langsung menyambar bibir suaminya.
Akhirnya siang itu terjadi pergulatan panas antara pasangan suami istri yang sedang dimabuk asmara. Barra bermain sangat lembut karena tidak ingin membuat anak-anaknya yang ada di dalam perut istrinya terganggu. Carissa pun juga sangat menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya.
Selesai melakukan pergulatan itu, Barra menggendong istrinya ke kamar mandi. dengan telaten dia memandikan istrinya. Barra tahu kalau istrinya capek, jadi selain menggosok punggung istrinya, dia juga memberikan pijatan lembut.
Sore harinya Barra mengajak Carissa pergi ke rumah orang tuanya. Barra ingin menyampaikan tentang pengunduran diri Iqbal dan juga kepergian Jenny yang mengikuti suaminya.
Sesampainya di rumah orang tuanya. Barra melihat Papanya sedang duduk berdua dengan Opanya. Barra dan Carissa mencium tangan Vito dan Gio bergantian. Dari raut wajah Papanya dapat ditebak kalau Papanya sudah tahu tentang kepergian Jenny.
“Pa, apa Papa sudah tahu tentang-“
“Iya. Papa sudah tahu kalau Iqbal mengundurkan diri dari perusahaan dan juga akan membawa Jenny pergi dari kota ini.” ucap Vito.
“Iya. Sejak tadi Mama kamu tidak keluar kamar. sejak kedatangan Jenny yang berpamitan akan pergi mengikuti suaminya.” Jawab Vito sendu.
“Jadi Jenny sudah kesini?” tanya Barra dan diangguki oleh Vito.
Setelah itu Barra mengajak istrinya menemui Mamanya yang sedang berada di dalam kamar. Barra sangat khawatir dengan keadaan Mamanya yang pastinya sangat terpukul dengan kepergian anak perempuannya.
Cklek
Barra dan Carissa masuk ke kamar Mamanya namun keadaan kamar tersebut sangat gelap. Barra takut terjadi sesuatu dengan Mamanya. Dan beberapa saat kemudian muncul seorang wanita paruh baya dari balik pintu dengan membawa sebuah kue tart dengan lilin menyala di atasnya.
“Selamat ulang tahun anak Mama!!!”
__ADS_1
Tak lama kemudian lampu kamar itu menyala dan ternyata Vito dan Gio sudah ada di sana. Barra sangat terharu dengan kejutan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
“Ma! Terima kasih Ma.” Ucap Barra segera memeluk Mamanya dengan kue yang sudah berpindah ke tangan Carissa.
Setelah itu Barra memeluk Papanya dan bergantian memeluk Opanya. Barra tidak menyangka jika akan mendapat kejutan seperti ini. namun dalam hati Barra bersedih karena tidak ada keberadaan sang adik yang selalu bikin rusuh jika sedang berulang tahun seperti ini.
“Jenny tadi meminta maaf tidak sempat ikut memberikan kejutan ini. karena pesawatnya segera take off, jadi dia buru-buru.” Ucap Kay seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Barra.
“Iya Ma. Nanti Barra akan telepon dia.” Jawab Barra.
Kini mereka berlima sudah berada di meja makan. Ternyata Kay sudah menyiapkan makan malam spesial untuk ulang tahun anak laki-lakinya. Barra sungguh bahagia dengan kejutan hari ini di saat usianya semakin bertambah.
Saat makan malam, mereka juga melakukan obrolan ringan. Gio yang usianya sudah renta hanya bisa memberikan nasehat untuk cucunya di hari ulang tahunnya ini. Vito dan Kay juga demikian. Mereka selalu mendoakan agar rumah tangga anak-anaknya selalu bahagia.
Kay sudah merelakan dan mengikhlaskan kepergian anak perempuannya yang mengikuti suaminya. Memang awalnya sangat sulit. Tapi suaminya berhasil meyakinkannya kalau suami Jenny adalah pria yang sangat baik dan juga bertangung jawab. Dari situlah dia bisa menerimanya.
Mendengar pernyataan Mamanya yang sudah ikhlas dengan kepergian adiknya membuat Barra juga ikut lega. Barra berjanji akan selalu membuat orang tuanya bahagia.
Semua orang dalam ruang makan itu tampak menikmati makan malamnya dengan bahagia dan juga perasaan lega setelah beberapa kejadian tak terduga menimpa keluarga besar Vito akhir-akhir ini.
Barra menggenggam lembut tangan istrinya sambil tesenyum hangat. Dia sangat bersyukur, selain memiliki orang tua dan mertua yang begitu baik dan peduli padanya, ternyata sosok yang paling membuat hidupnya lengkap dan bahagia adalah wanita yang sedang duduk disampinnya dan sedang mengandung anak-anaknya. siapa lagi kalau bukan istrinya. Carissa.
Barra sangat bersyukur dengan anugerah indah yang Tuhan berikan saat ini. dulu mungkin memang istrinya itu sangat membenci dirinya setelah kesalahan fatal yang pernah dia lakukan. Namun di balik semua itu ternyata ada hikmahnya. Kini dia sudah hidup bahagia dan saling mencintai.
.
.
.
__ADS_1
T H E E N D