
Mau tidak mau Kay membuat design baju untuk calon suami Stefi dengan ukuran normal yang sering dipakai oleh kebanyakan model pria. Kay tidak peduli bajunya nanti kekecilan atau kebesaran. Dan Stefi pun juga pasrah dengan Kay.
Terpaksa Kay harus menunda design untuk baju pengantinnya sendiri karena pernikahan Stefi akan dilaksanakan tiga minggu lagi. Jadi, bajunya harus sudah siap paling tidak dua minggu lagi. Memang terkesan sangat mendadak dan sebenarnya Kay tidak menerima pesanan jika mendadak seperti ini. Berhubung yang pesan adalah pelanggan baru dan anak dari teman Mommynya jadi, Kay harus melayaninya.
Setelah selesai, Stefi pamit untuk pulang. Karena dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Kay kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dua minggu kemudian. Akhirnya Kay bisa menyelesaikan baju pengantin pesanan Stefi. Hari ini juga Stefi datang ke butik Kay untuk mengambilnya.
“Silakan Nona Stefi coba dulu bajunya, siapa tahu ada yang kurang pas.” Pinta Kay.
“Baiklah. Ah iya, bagaimana kalau manggilnya Stefi saja, dan aku juga manggilnya Kay. Apa tidak keberatan? Lagian orang tua kita juga berteman.” Usul Stefi.
“Tidak masalah.” Jawab Kay tersenyum.
Kini Stefi sudah keluar dari ruang ganti dengan memakai baju pengantinnya. Kay sangat terpukau dengan kecantikan Stefi. Lebih tepatnya dengan hasil rancangan bajunya. Terlihat begitu pas di badan Stefi. Stefi pun juga sangat menyukai baju pengantinnya ini meskipun tidak dengan pernikahannya nanti.
“Bagus sekali Kay bajunya, dan sangat pas di badanku. Thanks ya Kay.” Ucap Stefi.
“Iya sama-sama.” Balas Kay tersenyum.
Setelah selesai ganti baju, Stefi pamit untuk pulang. Namun sebelumnya dia memberikan undangan pernikahan pada Kay.
“jangan lupa datang ya Kay. Kamu boleh mengajak calon suami kamu.” Pinta Stefi.
“Iya aku usahakan datang. Terima kasih sudah mempercayakan baju penganti kamu di butikku ini.” Ucap Kay.
“sama-sama. Aku sangat puas sekali. Oh iya ini sekalian aku titip undangan buat Tante Delia ya. Karena Papiku sangat sibuk jadi tidak sempat memberikannya langsung ke Tante Delia.” ucap Stefi sambil memberikan undangan.
Setelah itu Stefi pergi dan Kay memasukkan undangan ke dalam tasnya.
Drt drt drtt
Ponsel Kay bergetar dan saat melihatnya ternyata Vito meneleponnya. Kay segera mengangkatnya.
“Iya halo Kak?” sapa Kay.
__ADS_1
“Lagi ngapain Sayang?”
“Lagi di butik. Nyelesaiin baju pengantin kita.”
“aku sudah nggak sabar Sayang menanti hari itu tiba.”
Kay hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pasalnya tiap kali Vito meneleponnya selalu itu saja yang dikatakan. Kay benar-benar heran dengan sikap Vito semenjak menjadi kekasihnya. Terlihat berbeda sekali dengan yang dulu saat statusnya masih adik kakak.
Vito lama melakukan panggilan dengan Kay. Karena hanya dengan begini Vito dapat melepas rindunya. Jadi Kay hanya bisa mengalah meskipun pekerjaannya juga masih banyak. Kay tidak memberitahukan perihal undangan yang diberikan Stefi tadi. Mengingat kalau dirinya tidak boleh bertemu dengan Vito karena sedang dalam masa dipingit.
Vito menyadari kalau sudah sangat lama waktu yang digunakan untuk menelepon Kay. Akhirnya dengan terpaksa dia memutuskan panggilannya dengan Kay.
“Ya sudah, aku kerja lagi ya Sayang. Jangan merindukan aku, karena aku tidak kuat.” Gombal Vito dan membuat Kay tertawa geli.
“Iya-iya aku nggak akan merindukan Kak Vito.”
“Apa kamu bilang? Kamu nggak akan merindukan aku? apa ada pria lain di hatimu selain aku?” Tanya Vito dengan mode garang.
Kay memutar bola matanya malas menghadapi tingkah sensitive calon suaminya ini. Tadi katanya tidak boleh merindukan. Sekarang justru dicurigai kalau ada pria lain selain Vito.
Vito terkejut saat Kay tiba-tiba saja memutuskan panggilannya. Di ingin mencoba menghubungi Kay lagi tapi panggilan Arsa yang sejak tadi berdiri di depannya, membuat Vito mengurungkan niatnya untuk menelepon Kay.
“Ada apa sih? Ganggu aja?” Tanya Vito pada Arsa.
“Ada apa? Lihat ini jam berapa? Aku sudah mengubah jadwal meeting jadi mundur dua jam hanya karena bosnya sedang jadi bucin. Apa sekarang mau dicancel lagi?” ucap Arsa.
“Jangan! Ayo kita meeting sekarang.” Ucap Vito.
Kemudian Vito dan Arsa segera keluar dari ruangannya dan menuju ruang meeting.
***
Kini saatnya tiba Kay akan datang menghadiri pesta pernikahan Stefi. Kay akan datang bersama Mommy dan Daddynya. Kay malam ini mengenakan gaun panjang tanpa lengan berwarna tosca. Sebenarnya apapun gaun yang dipakai dan warna apapun pasti sangat pas dan cocok di badan Kay. Kay juga terlihat sangat cantik dan Anggun.
“sudah siap Sayang?” Tanya Delia pada Kay.
__ADS_1
“sudah Mom.” Jawab Kay.
Akhirnya mereka bertiga segera pergi. Sebenarnya Radit hari ini ada pertemuan dengan teman bisnisnya. Namun saat tahu istrinya mendapat undangan pernikahan dari Stefi yang tak lain anak dari Yudhi. Terpaksa Radit harus membatalkan pertemuannya karena Radit tidak ingin duda bermata sipit itu memiliki banyak waktu dengan istrinya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka bertiga sudah tiba di sebuah hotel dimana acara pesta pernikahan itu diadakan. Pesta itu tidak mewah. Hanya sederhana. Dan tamu yang hadir pun tidak banyak. Mungkin hanya saudara dan kerabat dekat dari kedua mempelai pengantin.
Kay jadi ingat tentang ucapan Stefi tempo hari yang mengatkan bahwa pernikahannya ini adalah perjodohan yang dilakukan oleh Papinya. Kay jadi sedikit kasihan dengan Stefi atas pernikahannya. Bagaimana bisa, belum pernah bertemu dan setelah bertemu langsung dinikahkan. Konyol sekali bukan. Masih ada aja jaman sekarang yang namanya perjodohan.
Kini Radit, Delia, dan Kaay segera masuk ke dalam ballroom. Mereka bertiga sudah disambut hangat oleh si tuan rumah pemilik acara yaitu Yudhi. Radit melingkarkan tangannya di pinggang Delia saat melihat Yudhi tersenyum manis pada istrinya. Sedangkan Kay yang saat ini berdiri di belakang orang tuanya melihat sikap posesif Daddynya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah berbasa-basi sebentar, kini Radit, Delia, dan Kay segera naik ke pelaminan untuk memberi selamat kepada kedua mempelai pengantin. Dari jauh Kay dapat melihat kecantikan Stefi dengan gaun pengantin rancangannya. Dan dengan samar, Kay melihat baju pengantin prianya juga terlihat pas di badannya.
“Selamat ya Stefi atas pernikahannya.” Ucap Delia pada Stefi.
Kemudian diikuti oleh Radit dan Kay di belakangnya. Namun saat Delia berdiri tepat di depan pengantin pria, Delia sangat terkejut. Bahkan Radit dan Kay yang berada di belakang Delia juga ikut terkejut saat mendengar si pengantin pria berbicara.
“Tante, Om, Kay?”
“Rey??” ucap Delia, Radit, dan juga Kay bersamaan.
Ternyata pengantin pria yang dijodohkan dengan Stefi tak lain adalah Rey. Kay tidak melihat dengan detail undangan yang diberikan Stefi saat itu. Kay hanya melihat hari dan tanggal acaranya saja dan tidak melihat nama si mempelai pengantin pria.
Sebenarnya Rey juga tidak menyangka kalau calon istrinya juga berasal dari kota yang sama dimana Kay berasal. Dan Rey juga sangat terkejut saat pertama kali dikenalkan dengan Stefi yang ternyata calon istrinya adalah wanita yang dulu pernah hampir dia tabrak dan pernah mengumpatnya.
“Kalian sudah kenal?” Tanya Stefi heran.
Kay dan kedua orang tuanya hanya menjawab dengan anggukan kepala. Karena memang mereka kenal baik dengan Rey. Namun tidak mungkin kalau mereka mengatakan bahwa Rey pernah menjadi kekasih Kay. Berbeda dengan Rey, jika Kay dan kedua orang tuanya hanya menjawab pertanyaan Stefi dengan anggukan kepala. Justru jawaban Rey sangat mencengangkan.
“Iya aku kenal. Kay adalah mantan kekasihku.” ucap Rey tenang.
.
.
.
__ADS_1
*TBC