
Meski keadaan Vito sudah membaik, namun dokter belum mengijinkannya pulang sebelum benar-benar sembu. Sedangkan untuk Kay, tiga hari pasca melahirkan dokter sudah memperbolehkannya pulang karena persalinannya normal jadi tidak membutuhkan perawatan khusus. Demikian juga bayinya sudah diperbolehkan pulang bersama dengan ibunya.
Kay sebenarnya masih ingin tinggal di rumah sakit sampai suaminya sembuh dan pulang bersama, namun tidak diperbolehkan oleh pihak rumah sakit karena rumah sakit kurang begitu steril terlebih ada anaknya yang masih bayi disana. Delia berhasil meyakinkan anaknya untuk pulang bersama bayinya. Akhirnya Kay mau pulang.
Kini Vito masih berada di rumah sakit dengan ditemani oleh Papanya, terkadang bergantian dengan Daddynya. Kedua pria paruh baya yang berstatus ayah kandung dan ayah mertua Vito itu tampak akur selama menjaga Vito. memangnya kenapa harus tidak akur? Lagi pula masa lalu yang pernah mereka berdua alami sudah lewat dan kini sudah menjalin hubungan saudara dengan baik.
“Dad, kapan Vito boleh pulang? Vito ingin sekali bertemu dengan anak Vito.” Tanya Vito.
“Sabar, dokter juga masih harus mengobservasi perkembangan kesehatan kamu.” Jawab Radit.
“Tapi Vito kangen dengan anak Vito Dad!” rengek Vito seperti anak kecil.
“Kangen anak kamu atau istri kamu?” celetuk Gio sang Papa yang sejak tadi tengah asyik nonton TV.
“Keduanya sih Pa” jawab Vito sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sudahlah yang penting sekarang fokus dengan kesembuhan kamu. Lagi pula nanti kamu belum bisa menyentuh istri kamu.” Ucap Gio lagi.
“Lho memangnya kenapa Pa?” Tanya Vito bingung.
“kamu harus puasa sampai 40 hari karena istri kamu masih nifas.” Jawab Radit menimpali.
Dasar orang laki-laki kalau sudah bertemu pasti obrolannya agak-agak absurd. Sementara Vito yang masih minim pengalaman hanya terdiam setelah mendengar penuturan dari Papa dan Daddynya. Mungkin nanti saat dirinya sudah sembuh dan diperbolehkan pulang, Vito akan menanyakannya langsung pada istrinya tentang kebenaran bahwa dirinya memang tidak boleh menyentuh istrinya selama 40 hari.
Ceklek
Pintu ruangan dimana Vito dirawat tiba-tiba terbuka dan muncul sosok pria yng selama ini Vito anggap sebagai rivalnya. Vito yang tadi posisinya tiduran di atas brankar, seketika terbangun saat melihat kemunculan Rey secara tiba-tiba.
“Ada apa kamu kesini?” Tanya Vito sengit.
__ADS_1
Radit berusaha menenangkan Vito yang sepertinya ingin meluapkan amarhanya pada Rey. Sedangkan Gio hanya tersenyum tipis menyambut kedatangan Rey.
“Apa kabar kamu Vit? Sorry baru bisa jenguk kamu lagi. Aku ikut bahagia kamu sudah sembuh, dan turut berbahagia dengan kelahiran anak kamu.” Ucap Rey tanpa beban.
Sedangkan Vito mengeratkan rahangnya saat mendengar perkataan Rey.
“Apa maksud kedatangan kamu kesini?” Tanya Vito dengan tatapan tajam.
Rey menghela nafas panjang sebelum mengatakan maksud kedatangannya kesini. Dia juga sempat melirik ke arah Radit dan Gio. Mereka berdua juga menganggukkan kepalanya seolah mendukung Rey.
“Aku kesini murni karena ingin menjenguk kamu. Tidak ada niatan buruk selain menjenguk dan mendoakan kesembuhan kamu. Aku juga minta maaf masalah tempo hari saat kamu masih koma. Waktu itu aku hanya bersandiwara, untuk membantu istri kamu supaya kamu bangun dari koma. Aku tidak serius saat mengatakan akan merebut istri kamu. Karena aku tahu Kay sangat mencintai kamu. Aku lihat dia sangat terpuruk saat kamu belum juga membuka mata.” Ucap Rey panjang lebar.
Amarah dalam diri Vito kini seolah menguap setelah mendengar penuturan Rey. Vito juga dapat melihat dari sorot mata Rey kalau pria itu berkata jujur. Vito juga teringat saat dirinya masih koma. Dia selalu mendengar suara istrinya yang begitu rapuh dan menahan segala kesedihannya agar dirinya tidak tahu. Tapi Vito dapat merasakan betapa sedihnya istrinya saat itu.
“Maaf.” Ucap Vito lirih.
“Apakah setelah ini kita bisa berteman? Anakku juga seumuran anak kamu. Aku harap mereka nanti juga akan berteman baik ketika sudah dewasa.” Ucap Rey.
Radit dan Gio juga ikut merasa bahagia melihat Vito dan Rey kini menjadi teman baik. Kedua pria paruh baya itu saling melihat dirinya sendiri bahwa awalnya dulu mereka sempat menjadi rival, dan akhirnya juga menjadi saudara. Bahkan menjadi besan.
***
Seminggu setelah Vito bangun dari komanya, keadaannya kini sudah pulih. Dan hari ini dokter sudah memperbolehkannya pulang. Pria tampan yang sudah menjadi seorang ayah itu sangat bahagia saat mendengar kabar bahwa dokter sudah mengijinkannya pulang. Vito sudah sangat merindukan anak dan istrinya.
Selama Kay dan anaknya pulang terlebih dulu, ia juga tidak lagi bertemu dengan sang suami kecuali melalui panggilan video. Jujur saja Kay juga sangat merindukan suaminya. Merindukan kebersamaan dengan sang suami. Terlebih saat ini kehidupan mereka sudah lengkap dengan lahirnya bayi tampan nan imut.
Bram sudah siap menjemput tuannya di rumah sakit. Kemudian Gio segera menggandeng Vito untuk masuk ke dalam mobil.
Perasaan Vito benar-benar sangat bahagia. Karena sebentar lagi akan bertemu dengan keluarga kecilnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Vito sudah sampai rumah. Kedatangannya ternyata sudah disambut oleh beberapa orang terdekatnya selain sang istri dan anaknya. disana ada Arsa sang asisten pribadinya yang merupakan sepupu ipar Vito. kemudian kedua mertuanya, om dan tantenya. Vito sangat bahagia karena dikelilingi dengan orang-orang yang begitu menyayanginya.
Pandangan Vito tertuju pada seorang wanita yang tengah menggendong seorang bayi. Siapa lagi kalau bukan Kay. Istri tecintanya. Vito segera menghampiri Kay, kemudian memeluk dan menciumnya. Sudah berapa lama Vito tidak mendekap erat tubuh istrinya, hingga saat ini dia ingin sekali mengajak Kay masuk ke kamar dan mengurungnya disana. Namun kesadarannya masih penuh dan tidak mungkin melakukan itu semua, mengingat semua keluarga sedang berkumpul di rumah.
***
Waktu sudah sore. Setelah Bram mengantar majikannya pulang dan ikut dalam acara penyambutan Vito, pria itu segera pamit untuk menuju butik majikan perempuannya.
Selama Vito dirawat di rumah sakit, Bram juga masih bekerja dengan baik. Dia juga ditugaskan oleh Delia untuk menjaga keamanan butik Kay. Jadi otomatis dia juga sering bertemu dengan Desi, asisten Kay. Meskipun sikap Bram dingin seperti es balok, namun pria itu sebenarnya juga masih mempunyai hati nurani. Dia juga terkadang sering menemani Desi saat berbelanja ataupun membeli sesuatu untuk keperluan butik.
Kini Bram sudah sampai di depan butik tepat pukul 5 sore. Dan bertepatan juga dengan Desi yang baru saja menutup butik dan bersiap untuk pulang.
Desi dapat melihat keberadaan mobil Bram yang sudah terparkir di depan butik. Itu tandanya Desi pulang ke apartemennya diantar oleh Bram. Meskipun tidak harus bertanya terlebih dulu.
Desi sudah masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Bram. Seperti biasa, tidak ada percakapan sama sekali diantara mereka berdua. Untung saja jarak butik dan apartemen Desi tidak terlalu jauh, jadi Desi tidak begitu kedinginan jika pulang diantar oleh Bram. Mengingat sikapnya yang dingin.
Mobil yang dikendarai Bram sudah sampai tepat di depan apartemen Desi. Desi segera meraih handle pintu untuk segera keluar. Namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh Bram, dan,
Cup
Bram mengecup bibir Desi dengan singkat. Desi yang belum siap pun sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Bram.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Wah diem² menghanyutkan ya kamu Bram😂😂😂😂