Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 185


__ADS_3

Tak ingin membuat moodnya sendiri kacau di pagi hari, Kay segera turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. setelah itu Kay turun untuk memasak. Seperti biasa, dia akan membangunkan suaminya setelah selesai masak. Sedangkan Barra yang masih tidur ia biarkan saja sebelumnya tadi sudah menggantikan diapersnya.


Diacuhkan itu rasanya tidak enak. Kay memasak dengan perasaan yang berkecamuk. Dia sebenarnya sudah berniat membahas pertemuannya dengan sang suami, namun justru suaminya sudah salah paham terlebih dulu.


Setelah memasak dan menyajikan makanannya di meja makan, Kay akan membangunkan suaminya sekaligus akan mengajaknya bicara baik-baik. Langkah kaki Kay terhenti saat melihat Bi Lastri sudah menggendong Barra.


“Loh, Barra kok bisa sama Bi Lastri?” Tanya Kay heran.


“Iya Nonya. Tadi Tuan Vito memberikannya pada saya.” Jawab Bi Lastri.


“Lalu kemana suami saya Bi?” Tanya Kay lagi.


“Oh Tuan Vito sepertinya sedang berada di ruang kerjanya.” Jawab Bi Lastri.


Kay hanya mengangguk. Dia tidak habis pikir dengan sikap suaminya. Biasanya akan memberikan Barra padanya, namun kali ini tidak. Kay bergegas masuk ke kamar. ternyata suaminya sudah mandi. terlihat dari pakaian kotor yang dia pakai untuk tidur sudah ada di keranjang pakaian kotor.


Waktu masih pagi dan belum jamnya Vito berangkat ke kantor. Kay memutuskan masuk ke ruang kerja suaminya sambil membawakan kopi. Siapa tahu hati suaminya menghangat setelah meneguk kopi yang diabuatkan istrinya.


Cklek


Kay melihat suaminya tampak sibuk dengan menghadap layar laptop di depannya. Bahkan pakaiannya sudah rapi.


“Mas, ini kopinya!” ucap Kay dan meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja Vito.


“Hmmm….” Jawabnya


“Mas, aku ingin bicara soal Ev-“


“Nanti saja, aku sangat sibuk. Hari ini bnyak kerjaan. Kamu bisa keluar dulu.” Ucap Vito memotong perkataan Kay saat akan menyebut nama Evan.


Deg


Hati Kay terasa ngilu mendengar penolakan sang suami. Bahkan Vito tega mengusirnya dari ruang kerja. Kay benar-benar tidak tahan. Dia segera keluar dari ruang kerja Vito tanpa mengucap sepatah kata pun.

__ADS_1


Kay menghampiri Barra yang sedang dijemur oleh Bi Lastri di halaman belakang. Saat ini melihat wajah anaknya lah yang menjadi moodbooster Kay. Namun hati Kay tetap saja masih merasakan kesedihan akan perbuatan suaminya tadi.


Bi Lastri yang melihat wajah Kay berbeda dan cenderung lebih ke murung, wanita itu kasihan sekaligus khawatir dengan majikannya. Bi Lastri termasuk baby sitter yang cukup kompeten. Bahkan tidak hanya ahli di bidang merawat bayi, namun Bi Lastri juga paham dan mengerti tentang seluk beluk seorang ibu yang baru saja melahirkan.


“Maaf Nyonya. Bukannya saya lancang, tapi saya lihat Nyonya terlihat sedih.” Ucap Bi Lastri hati-hati.


“Nggak kok Bi. Saya baik-baik saja.” Kilah Kay.


“Sebelumnya mohon maaf sekali lagi Nyonya. Nyonya Kay adalah seorang ibu yang baru memiliki anak. Saran saya lebih baik anda bisa selalu menjaga kesehatan lahir dan batin anda. Karena sangat berpengaruh terhadap bayi dan anda sendiri.” Ucap Bi Lastri.


“Apa maksud Bi Lastri?” Tanya Kay.


“Apakah Nyonya sering mendengar istrilah syndrome Baby Blues?” Tanya Bi Lastri.


Kay menggelangkan kepalanya. Memang dia belum pernah dengar dengan istilah itu. Selama ini yang dia pelajari adalah tentang ilmu tentang kehamilan. Namun beberapa informasi tentang pasca persalinan, Kay masih awam. Yang dia tahu hanya berusaha merawat bayinya dengan baik dan benar.


“Syndrome Baby Blues itu merupakan gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Kondisi ini menyebabkan ibu mudah sedih, lelah, lekas marah, menangis tanpa alasan yang jelas, mudah gelisah, dan sulit untuk berkonsentrasi. Dan akan berdampak buruk pada kesehatan anda dan bayi anda. Jadi apapun yang sedang Nyonya alami, Nyonya harus bisa mengontrol dan menguasai emosi anda sendiri.” Terang Bi Lastri panjang lebar.


Sedangkan Vito, selepas istrinya keluar dari ruang kerjanya, dia segera menutup laptopnya. Sebenarnya dia tahu istrinya menahan tangis. Dia juga tidak tega melihat istrinya bersedih. Namun hatinya lebih didominasi dengan amarah. Apalagi saat mendengar istrinya menyebut nama Evan dengan gambling. Dia memang tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Evan dan istrinya kemarin. Bukannya mendengar penjelasan Kay, Vito justru mengacuhkan istrinya.


Awas saja kalau kamu menyesali apa yang telah kamu perbuat pada istri kamu. Aku pastikan kamu akan dibully oleh readers …😂😂😂


Vito menuju meja makan untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor. disana hanya ada Papanya saja. Sedangkan istrinya, Vito tidak tahu.


“Kay kemana?” Tanya Gio. Karena tidak biasanya melihat ketidak hadiran Kay di meja makan.


“Lagi sama Barra, Pa.” jawab Vito sambil menyantap sarapannya.


Tak banyak yang dibicarakan oleh Vito dan Papanya saat makan. Selesai sarapan pun Vito segera berangkat ke kantor tanpa berpamitan pada istrinya. Bram juga sudah standby di depan.


Kay memang sengaja tidak mau melihat suaminya bahkan mengantarnya kerja sampai di depan rumah seperti biasa. Kay masih belum siap jika mendapatkan penolakan lagi dari suaminya. Dia tahu kalau suaminya sudah berangkat ke kantor, maka dia memutuskan untuk masuk ke rumah dan membersihkan dirinya. Sementara Bi Lastri akan memandikan Barra.


Selesai mandi, Kay memijit kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing. dia lupa kalau belum sarapan. Setelah itu dia turun dan sarapan seorang diri di meja makan. Kay memikirkan cara bagaimana agar suaminya mau bicara dengannya dan tidak mengacuhkannya lagi. Ya, Kay akan datang ke kantor sauminya nanti sambil membawakan makan siang.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Bi Lastri datang ke ruang makan sambil menggendong Barra yang sedang menangis kencang. Kay segera mengambil alih Barra dari gendongan Bi Lastri, kemudian menyusuinya. Tampak Barra sudah terdiam namun masih terdengar isakannya.


“Anak Mama yang tampan pasti haus ya Sayang? Maaf ya mama masih isi bensin.” Ucap Kay menenangkan Barra.


Barra melepaskan tautan puttingnya. Bukannya berhenti menangis, justru semakin kencang menangisnya. Kay tampak kebingungan. Dia takut Barra sedang merasakan sakit entah di bagian yang mana Kay juga bingung. Kay berdiri sambil mengayun-ayunkan Barra.


Bi Lastri yang melihatnya ikut merasa kasihan dengan Barra. Bayi seusia Barra sudah sangat peka perasaannya. Dia seolah tahu apa yang sedang terjadi dengan orang tuanya. Bi Lastri mencoba untuk mengambil Barra lagi untuk ditenangkan. Dan benar saja Barra langsung terdiam.


Pikiran Kay semakin berkecamuk. Saat ini dia hanya memikirkan suaminya hingga mengabaikan Barra.


“Bi, nanti siang saya mau ke kantor suami saya untuk mengantar makan siang. Cuma sebentaar saja Bi. Saya nitip Barra sebentar ya Bi.” Ucap Kay dan Bi Lastri mengangguk.


Kini Kay sudah tiba di kantor suaminya. Dia segera masuk ke ruang kerja suaminya untuk memberikan makan siangnya. Tapi ruangan itu kosong. Kay menunggu sebentar mungkin saja suaminya sedang meeting. Dan tanpa terasa sudah satu jam Kay duduk menunggu suaminya. Akhirnya Kay memutuskan untuk keluar dan bertanya pada salah karyawan suaminya. Ternyata Vito sedang meeting di luar. Jadi Kay memutuskan untuk pulang saja.


Pukul 1 siang, Vito sudah kembali ke kantor setelah meeting dengan salah satu kliennya. Vito memasuki ruang kerjanya sangat terkejut saat melihat bekal makan sudah tersaji di meja makannya. Hatinya mencelos dan merasa bersalah. Dia tahu siapa yang membawa menu makan siang itu kalau bukan istrinya.


Drt drt…


Ponsel Vito bergetar dan ada panggilan masuk. Dia mengernyit heran karena id peneleponnya adalah orang rumahnya.


“Ya halo?” sapa Vito.


“…..”


“Apa!!!” teriak Vito.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2