Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 199


__ADS_3

Pagi ini Barra sudah memulai kesibukannya di kantor. setelah kemarin menyampaikan hasil meeting dengan perusahaan Darandra pada Papanya, Barra dipercaya oleh Vito untuk menangani kerjasama ini tanpa campur tangan sang Papa.


Barra pun mulai sibuk dengan tugas-tugas apa yang harus dikerjakan. Meskipun tanpa ikut campur tangan dari Papanya, Iqbal sang asisten lah yang akan membantunya.


Disaat kesibukan Barra menatap layar laptopnya dengan fokus, tiba-tiba saja ada seseorang yang ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Barra yang mendengar tanpa melihat siapa yang masuk tanpa permisi itu berpikiran kalau itu adalah Papanya.


“Ada apa Pa? Barra masih fokus dengan dokumen ini.” ucap Barra tanpa melihat orang yang diajak bicara.


“Papamu ini sangat merindukanmu Nak!” ucap seseorang sambil terkekeh.


“Woy dasar siluman!!!” umpat Barra sambil melempar bolpoin pada orang yang sedang berdiri di depannya.


“Serius banget Bro?” Tanyanya.


Akhirnya Barra menunda dulu pekerjaannya dan berdiri menghampiri orang itu. Keduanya saling memeluk layaknya seorang sahabat. Karena memang mereka bersahabat sejak kecil.


“Apa kabarmu Fin? Lama nggak muncul kemana saja?” Tanya Barra.


“Iya nih, sibuk bantuin Papa yang sedang membuka cabang baru di kota Z. jadi ya gini akibatnya, kita udah jarang ngopi bareng lagi. Apa kabar kamu?” Tanya Dhefin.


“Aku sangat baik.” Jawab Barra.


Akhirnya Barra mengajak Dhefin untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya. Keduanya tampak saling melepas rindu sebagai sepasang sahabat. Semenjak lulus kuliah, Barra dan Dhefin jarang bertemu walau hanya sekadar ngopi. Itu semua karena kesibukan mereka masing-masing yang sama yaitu membantu Papanya. Dan sudah hampir satu tahun ini mereka tidak pernah bertemu.


“Bagaimana kabar Astrid? Aku juga lama tidak pernah mendengar kabarnya.” Tanya Dhefin.


“Dia juga baik-baik saja.” Jawab Barra.


Dhefin pun menceritakan maksud kedatangannya ke kantor Barra. Yaitu dia ingin mengajak Barra untuk nongkorong bareng seperti biasanya saat mereka tidak lembur dengan urusan kantor. karena kebetulan pekerjaan Dhefin minggu ini lumayan santai.


“Ok, kebetulan weekend nanti aku juga santai. Sekalian nanti aku beritahu Astrid.” Ucap Barra setuju.


“Ya jelas kamu harus dengan Astrid. Karena nanti aku juga nggak akan jadi obat nyamuk kalian lagi.” Ucap Dhefin.


“Wow, sepertinya aku ketinggalan gossip nih.” Uclahap Barra penasaran.


“Lihat saja nanti kejutannya.” Jawab Dhefin.


Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, akhirnya Dhefin memutuskan untuk pulang. Dia juga masih memiliki kesibukan.

__ADS_1


Selepas kepergian Dhefin, Barra pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun sebelumnya dia mengirim pesan pada Astrid kalau saat jam makan siang nanti dia akan mengajaknya makan di luar.


Beberapa saat kemudian, jam makan siang pun tiba. Barra segera keluar dari ruangannya dan pergi ke resraurant tempat langganan dia makan siang dengan Astrid. Astrid pun sejak tadi sudah menunggunya di basement.


Barra mengembangkan sanyumnya saat menatap wajah cantik Astrid. Dia senang saja bisa mengajak Astrid makan siang di luar. Karena kemarin niatnya gagal gara-gara ada meeting dengan perusahaan Darandra.


Mereka berdua sudah tiba di restaurant. Barra mengajak Astrid duduk di salah satu meja pengunjung yang terletak paling pojok. Kemudian ada seorang pelayan datang membawa buku menu. Dan mereka pun memilih menu makanan yang akan dipesan.


“Tadi Dhefin datang ke kantor.” ucap Barra saat pelayan restaurant sudah meninggalkan mejanya.


“Oh ya? Kenapa kamu nggak bilang?” Tanya Astrid antusias.


“Dia tadi hanya mampir sebentar. Dan weekend nanti dia ngajak kita nongkrong seperti biasanya.” Ucap Barra.


“Boleh, aku juga kangen banget sama itu bocah.” Uacp Astrid, dan Barra hanya tersenyum karena memang mereka bertiga juga bersahabat sejak dulu.


Saat Barra sedang menunggu pesanan makanannya, tiba-tiba saja tanpa sengaja dia melihat Carissa juga sedang berada di restaurant ini. Barra melihat senyum manis di bibir Carissa yang tidak pernah surut dan tanpa sadar membuatnya ikut tersenyum. Namun tiba-tiba saja ada dua orang yakni ibu dan anak duduk di meja yang sama dengan Carissa. Dan mereka adalah adik dan Mamanya.


“Bar, lihatin apa sih sejak tadi kok senyum-senyum sendiri?” Tanya Astrid heran.


Seketika Barra terkejut dengan tepukan Astrid pada bahunya. Dia berusaha menetralisir kegugupannya. Bisa-bisanya saat sedang bersama pacar, matanya malah melihat perempuan lain. Barra sungguh merutuki kebodohannya.


Astrid pun kemudian melihat arah pandang Barra. Ternyata Mama dan adik Barra juga sedang berada di restaurant yang sama dengannya. Namun Astrid tidak mengenal dengan seorang perempuan yang sedang duduk dengan mereka. Wajah Astrid pun berubah sendu saat melihat Mama Barra. Karena dia juga tahu kalau mamanya tidak begitu suka dengan dirinya.


“Oh, kamu lihat mama kamu dan Jenny? Apa kamu mau bergabung juga bersama mereka?” Tanya Astrid sendu.


“Nggak kok. Aku tetap akan makan siang berdua dengan kamu. Sudah jangan dipikirkan lagi ya.” Ucap Barra menenangkan.


Akhirnya pesanan mereka pun datang. Astrid dan Barra pun menikmati makan siangnya dengan hening tanpa ada percakapan. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


***


Weekend pun tiba. Seperti janjinya beberapa hari yang lalu. Hari ini Barra akan nongkrong bareng Dhefin di tempat favorit mereka. Dan tak lupa Barra juga akan mengajak sang kekasih.


“Kak, nanti kita jalan yuk. Bosan di rumah terus.” Ajak Jenny.


“Anak kecil baiknya di rumah aja nggak boleh keluar rumah. Lagian Kakak juga ada acara.” Tolak Barra.


“Aku ikut dong Kak?” pinta Jenny.

__ADS_1


“Sudah di rumah saja. Duduk manis sambil nonton TV.” Ucap Barra.


“Ah Kak Barra nggak asyik nih. Andai saja Kak Carissa nggak sibuk. Aku pasti akan jalan sama dia.” Gerutu Jenny yang masih bisa didengar oleh Barra.


Barra mendengar kalau adiknya akan jalan dengan Carissa. Andai dirinya tidak ada janji dengan Dhefin, dan Carissa pun tidak sibuk, sudah dipastikan kalau dirinya akan pergi dengan Jenny dan bertemu dengan Carissa. Begitulah pikiran Barra.


Setelah itu Barra segera pergi ke café dimana Dhefin mengajaknya bertemu. Sebelumnya, dia menjemput Astrid dulu ke apartemennya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Barra dan Astrid sudah tiba di café.


Barra berjalan sambil menggandeng tangan Astrid. Disana sudah ada Dhefin yang tampaknya sudah datang lebih dulu.


“Hai Fin!” sapa Astrid sambil cipika-cipiki dengan Dhefin.


“Sudah lama?” Tanya Barra.


“Nggak juga. baru 10 menit yang lalu.” Jawab Dhefin.


Akhirnya Barra dan Astrid duduk bersebelahan, dan Dhefin di depannya. Pandangan Barra mencari seseorang yang diyakini kekasih Dhefin. Namun sampai saat ini dia tidak melihat siapa pun disana.


“Tas siapa itu Fin?” Tanya Astrid tiba-tiba saat melihat ada tas selempang yang diletakkan di kursi sebelah Dhefin.


“Tas seseorang. Tapi dia masih ke toilet.” Jawab Dhefin.


Tak lama kemudian muncul sossok perempuan yang memang baru keluar dari toilet. Pandangan perempuan itu hanya tertuju pada Dhefin dan tanpa melihat dua orang yang sedang duduk dengan posisi membelakanginya.


“Maaf Mas lama. Tadi mama habis telepon.” Ucap Carissa tiba-tiba.


Deg


Barra segera menoleh ke sumber suara. Suara perempuan yang sangat dia kenal.


.


.


.


*TBC


Yuhuuu jgn lupa vote yang sayangkuuu🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2