
Satu tahun kemudian
“Del kita dapat job buat iklan di perusahaan konstruksi, katanya perusahaan tersebut meminta kita untuk mempromosikan industri baru mereka” kata Fadhil ketua tim editor yang satu divisi dengan Delia
“Wah benarkah? Berarti kita harus siap lembur dong kak?” jawab Delia antusias dan hanya diangguko oleh Fadhil
Fadhil yang sudah satu tahun menjadi ketua tim editor sangat suka dengan semangat kerja Delia. Sebenarnya di awal kenal dengan Delia, Fadhil sudah menyukainya tapi melihat Delia kadang jalan dengan seorang laki-laki, membuat Fadhil mundur untuk mendekatinya. Baginya pantang merusak hubungan seseorang. Sekalipun dia menyukai orang itu. Ya, sudah lima bulan lalu Delia sudah jadian dengan Angga. Angga sangat bahagia sekali ternyata Delia menerimanya menjadj kekasihnya. Tapi untuk Delia, apakah dia sudah benar-benar membuka hatinya untuk Angga?
Setelah mereka kembali ke tempat duduknya, Fadhil mendapatkan telepon dari atasannya dan segera menyampaikannya pada temannya bahwa dirinya ditunjuk untuk ikut meeting di perusahaan konstruksi yang tadi meminta untuk mempromosikan industri mereka. Dan Fadhil meminta Delia untuk menemaninya meeting yang akan diadakan besok pagi. Teman-teman tim Fadhil juga menyetujui bila Delia yang ikut Fadhil meeting.
Keesokan harinya Fadhil dan Delia sudah bersiap untuk meeting. Mereka berangkat bersama dengan mengendarai mobil perusahaan.
“Del, nanti kamu yang presentasi ya? Bila ada yang kurang jelas nanti aku yang akan menguatkan” ucap Fadhil saat di dalam mobil
“Iya kak siap” jawab Delia semangat.
Sementara itu Radit hari ini disibukkan dengan pekerjaan kantornya. Hari ini dia akan ada meeting penting dengan sebuah redaksi yang dia tunjuk untuk mempromosikan industri barunya.
“Nanti meetingnya jam berapa Vin?” tanya Radit pada sekretarisnya
“Jam 10 Pak” Jawab Kevin, dan Radit melihat jam tangannya.
Dia hari ini juga disuruh menjemput mamanya di bandara, karena mamanya baru saja pulang ke kota B untuk melakukan kunjungan ke butiknya.
“Tolong kamu undur satu jam, saya harus menjemput mama ke bandara dulu” perintah Radit
“Siap Pak”
__ADS_1
Sedangkan kini Fadhil dan Delia baru saja sampai di perusahaan dimana mereka akan meeting. Mereka berdua tiba pukul 09.30, karena memang sangat menghargai waktu dan tidak ingin terlambat. Lebih baik datang awal daripada telat. Mereka segera menuju ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan ruangan meeting yang 30 menit lagi akan berlangsung. Setelah diberitahu, Fadhil dan Delia segera menuju ke tempat meeting.
Saat sedang menunggu tiba-tiba Kevin memberitahukan pada Delia dan Fadhil kalau meetingnya diundur satu jam, karena atasannya masih ada kepentingan. Delia hanya mendengus kesal setelah kepergian Kevin.
“Huuuhh sangat tidak menghargai waktu. Mentang-mentang Ceo” gerutu Delia dan Fadhil hanya tersenyum menanggapi Delia. “Sabar Del, kita harus tetap menghormatinya” jawab Fadhil
“Ya udah yuk kak kita ke kantin dulu saja” akhirnya mereka berdua pergi ke kantin sambil menunggu waktunya untuk meeting.
Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Kini Delia dan Fadhil sudah berada dalam ruangan meeting. Dan Radit pun baru saja masuk bersama sekretarisnya, Kevin. Saat Kevin membuka acara, Delia diam menundukkan kepalanya.
Sedangkan Radit terlihat sibuk dengan ponselnya. Dia masih sedikit santai karena acara inti dari meeting belum dimulai. Ketika tiba saatnya nama Delia disebut untuk presentasi. Seketika itu Radit mengangkat kepalanya karena mendengar nama yanh sangat tidak asing didengarnya. Sebenarnya saat Kevin menyebut nama Delia, Radit berpikir bahwa bukan Delia yang selama ini dia cari, nama Delia juga pasti banyak. Untuk membuktikan kebenarannya, Radit ingin melihat sendiri siapa pemilik nama yang sama dimiliki oleh orang yang selama ini ia cari. Dan apa yang terjadi saat Radit mengangkat kepalanya dan melihat ke arah seorang gadis yang sedang berjalan ke depan untuk presentasi.
“Deliaaaa!!” gumamnya lirih dan masih bisa didengar oleh Kevin. Delia pun samar-samar mendengarkan namanya disebut. Dia segera mencari ke sumber suara tersebut.
“Raditttt” lirih Delia kaget dan masih didengar Kevin dan juga Radit.
Delia akhirnya mengangguk dan segera malakukan presentasi. Delia merasa gugup dan salah tingkah karena selama presentasi, pandangan Radit tidak pernah lepas darinya. Melihat Delia gugup, Radit menarik sudut bibirnya tersenyum. Akhirnya setelah sekian lama gadis yang sudah bermain-main dalam otaknya muncul juga dihadapannya. Radit sangat senang sekali.
Selama satu jam, akhirnya meetingnyaa pun selesai dan bertepatan dengan jam makan siang. Jadi Fadhil dan Delia dipersilakan untuk ikut makan siang bersama anggota meeting tadi termasuk Radit. Delia bingung dan cemas. Dia harus bersikap seperti apa dengan Radit. Untuk menghilangkan rasa gugupnya Delia memutuskan untuk ke toilet sebentar. Mungkin dengan mencuci mukanya, rasa gugup pada dirinya akan hilang. “bagaimana bisa aku bertemu Radit lagi? Di situasi seperti ini? Aku harus bersikap biasa saja. Harus bisa” ucapnya menyemangati diri. Dan dia segera keluar.
Saat baru saja membuka pintu toilet, tiba-tiba Delia didorong seseorang untuk masuk lagi. Delia sangat kaget, dan saat ingin berteriak mulutnya sudah dibungkam dengan bibir seseorang yang mendorongnya tadi. “hmmmptt” Delia membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dialaminya sekarang. Dia segera mendorong Radit agar melepaskan tautan bibirnya. Benar saja tautan bibirnya dan Radit lepas tapi tidak dengan tubuh kekar Radit yang masih menghimpit Delia. Pandangan mata mereka bertemu sepersekian detik Radit langsung memeluk tubuh Delia dengan erat seolah ingin melepaskan beban rindu yang selama ini dia pikul sendirian. Delia menepuk-nepuk punggung Radit.
“dit lepas.. Sesak” ucap Delia sambil terbatuk
“Maaf” Radit merasa bersalah
“Aku rindu kamu del” ucapnya sambil menatap dalam mata Delia
__ADS_1
“Maaf jangan seperti ini dit. Aku harus keluar karena sudah lama berada di dalam toilet” Delia segera meninggalkan Radit. Beruntungnya sedang sepi jadi tidak ada yang mengetahui mereka.
Delia sudah tiba di ruang makan yang telah disediakan, kemudian disusul Radit. Baik Radit maupun Delia hanya diam saja saat sedang menikmati makan siangnya. Padahal yang lainnya sambil makan sambil ngobrol ringan.
Setelah makan siang, Delia dan Fadhil berpamitan untuk kembali lagi ke perusahaannya. Sedangkan Radit hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Kenapa Del?” tanya Fadhil tiba-tiba karena sejak tadi melihat Delia berbeda
“Nggak kenapa-kenapa kak” jawabnya singkat.
Setelah melaksanakan meeting, Delia dan Fadhil kembali lagi bekerja. Dan akhirnya jam pulang kantor tiba. Delia langsung pulang ke apartemennya.
Delia merebahkan tubuhnya di sofa, pikirannya melayang masih terbayang dengan kejadian siang tadi. Rasanya seperti mimpi, dia tidak percaya akan bertemu lagi dengan Radit. Dan apa tadi Radit bilang? Dia rindu. Apa nggak salah dengar tadi?. Bunyi ponsel Delia membuyarkan lamunannya
“ya kak?”
“nanti aku jemput ya?”
“ada apa emangnya kak?”
“nggak ada apa-apa Cuma makan malam saja sekalian aku kenalin sama sahabatku”
“hmm... Lihat nanti ya kak, aku capek banget hari ini”
Tutt..tutt.. Delia tiba-tiba memutus sambungan teleponnya dengan Angga. Pikirannya sangat kacau
*TBC
__ADS_1
*_author newbie_💕💕💕