Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 230


__ADS_3

Keempat orang itu masih setia menunggu Carissa yang masih belum sadarkan diri pasca operasi yang diakibatkan oleh pendarahan pada kepalanya. Dan juga pengangkatan janin dari Rahim Carissa.


Charles sangat terkejut saat mengetahui bahwa Carissa telah keguguran. Begitu juga dengan Silvia dan Adnan. Xavier orang satu-satunya yang mengetahui itu semua akhirnya menceritakan pada ketiga orang tersebut. Reaksi ketiga orang tersebut berbeda-beda.


Jika Silvia dan Adnan tidak menyangka kalau Carissa tengah hamil akibat perbuatan Barra. Laki-laki yang akhir-akhir ini terlihat dekat dengan Carissa. Xavier menceritakan bahwa Barra melakukan itu semua karena bukan karena unsur kesengajaan. Melainkan dijebak oleh seseorang, namun melampiaskannya pada Carissa. Silvia dan Adnan dapat memaklumi semuanya karena jujur saja mereka berdua lebih suka Carissa dekat dengan Barra daripada Dhefin.


Namun tidak dengan Charles. Pria paruh baya itu tampak sangat marah saat mengetahui kalau Barra lah yang telah merenggut mahkota putri kesayangannya. Tapi Xavier berusaha untuk terus meyakinkan Papanya agar tidak terlalu emosi. Karena Xavier tahu kalau Barra benar-benar menyesali perbuatannya, bahkan Barra mau mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Nggghhh


Terdengar lenguhab Carissa yang baru saja sadar. Dia memegang kepalanya yang masih sedikit berdenyut. Kemudian melihat ruangan sekelilingnya.


“Sayang! Syukurlah kamu sudah bangun.” Ucap Silvia.


Silvia dan Adnan segera mendekati putrinya yang baru saja sadar. Sedangkan Xavier dan Papanya masih duduk di sofa. Charles mendadak gugup karena belum siap bertemu dengan putri kandungnya. Xavier memegang tangan Papanya seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.


“Carissa dimana Ma?” tanyanya.


“Kamu sedang di rumah sakit sayang. Setelah ada mobil yang menabrak kamu.” Jawab Silvia.


Carissa mencoba mengingat kepingan kejadian saat sebelum kecelakaan. Dia ingat kalau dirinya sedang menyelamatkan mamanya Barra saat ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Setelah itu dirinya tidak ingat apa-apa.


“Carissa masih sedikit pusing Ma. Ma, bagaimana keadaan Tante Kay?” Tanya Carissa cemas.


Carissa takut terjadi sesuatu hal buruk yang menimpa Kay. Pasalnya saat itu dia merasa bersalah setelah dengan tidak sengaja berkata kasar dan mengusir mama Barra hingga membuat wanita itu sedih dan meninggalkan ruangannya begitu saja.


“Tante Kay baik-baik saja. Beliau juga masih dirawat disini. Keadaannya sudah membaik.” Jawab Adnan.


“Sayang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.” Ucap Slivia.


“Siapa Ma?” Tanya Carissa heran.

__ADS_1


Adnan menoleh ke arah Xavier dan juga Charles seolah memberi isyarat untuk mendekat ke brankar Carissa. Akhirnya Xavier mendekati Carissa terlebih dulu, kemudian disusul oleh Papanya. Carissa tersenyum tipis melihat Xavier yang sudah ada di hadapannya. Namun Carissa sangat bingung saat melihat seorang pria paruh baya tapi dia tidak mengenalinya. Carissa melihat wajah pria itu mirip sekali dengan Xavier.


“Bagaimana keadaan kamu? Apanya yang sakit?” Tanya Xavier pelan, walau sebenarnya laki-laki itu ingin berhambur memeluk adik kandungnya sendiri.


“Baik. Terima kasih sudah menjengukku.” Jawab Carissa.


“Carissa, ini adalah Papaku. Orang yang telah mendonorkan darah untuk kamu tadi.” ucap Xavier.


Xavier tidak ingin mengatakan langsung tentang identitas Carissa yang sebenarnya. Karena Carissa baru saja sadar. Kemudian pandangan Carissa tertuju pada Charles. Dia melihat tatapan mata pria itu sangaat teduh, seolah dirinya mempunyai hubungan yang sangat dekat.


“Te terima kasih Om.” Jawab Carissa terbata.


“Panggil Papa Sayang.” Ucap Charles dan membuat Carissa semakin bingung.


“Sayang, maafkan Mama. Mereka berdua adalah keluarga kamu. Kamu bukan anak kandung Mama dan Papa.” Ucap Silvia menjelaskan.


Carissa melihat raut wajah mama dan papanya bersedih semakin membuatnya tak mengerti. Apa benar dirinya bukan anak kandung mama dan papanya. Tiba-tiba Carissa memegang kepalanya yang terasa berdenyut sambil meringis kesakitan.


Xavier segera menekan tombol darurat untuk memanggil perawat agar segera memeriksa keadaan Carissa. Charles sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Dia sangat takut jika Carissa tidak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya.


***


Sementara itu Rey dan istrinya kini sedang berada di kantor polisi setelah mendengar kabar bahwa anaknya sedang diamankan oleh polisi setelah menabrak seseorang.


Rey sangat terkejut saat mendengar bahwa Dhefin menabrak seseorang. Rey berfikir mungkin anaknya tidak sengaja saat sedang berkemudi hingga menabrak seseorang. Namun saat mendengarkan penjelasan polisi bahwa tindakan yang dilakukan oleh Dhefin di sengaja. Hal itu terbukti dari rekaman cctv jalan raya sekitar butik milik Carissa.


Saat ini Rey dan istrinya sedang duduk di sebuah ruangan untuk menunggu kedatangan Dhefin. Raut muka Rey menegang menahan marah saat melihat putranya menunduk lemah dengan kedua tangan terborgol.


“Mas, tenang. Jangan emosi dulu.” Ucap Keysa menenangkan suaminya.


“Pa! maafkan Dhefin Pa!” ucap Dhefin saat sudah duduk di hadapan orang tuanya.

__ADS_1


“Kenapa kamu minta maaf pada Papa? Bukankah kamu sudah puas sekarang setelah keinginan kamu terwujud?” ucap Rey tajam.


“Maafkan Dhefin Pa. Dhefin menyesal Pa.” ucap Dhefin lagi.


“Kalau tidak ada kejadian seperti ini, akankah kamu menyesali perbuatan kamu? Nggak akan. Mungkin kamu akan tetap menghabisi nyawa tante Kay.” Ucap Rey.


Dhefin tertunduk tidak bisa lagi membalas perkataan Papanya. Dhefin membenarkan ucapan Papanya. Andai saja dirinya tidak menyebabkan Carissa celaka, mungkin dirinya akan berbuat lebih untuk membuat mama Barra menderita bahkan membunuhnya. Dhefin sangat menyesal sekarang, tapi bukan karena menyebabkan Carissa celaka saja. Dia juga menyesal karena berniat mencelakai mama Barra.


“Maafkan Dhefin Pa. Tante Kay memang tidak bersalah. Dhefin bukan seorang pembunuh Pa. Dhefin menyesal Pa.” ucap Dhefin dengan sendu.


Keysa tidak tega melihat anak sambungnya sangat terpuruk. Kemudian dia berdiri dan memeluk Dhefin untuk menenangkannya.


“Maafkan Dhefin Ma.” Ucapnya.


“Iya. Kamu yang sabar ya.” Jawab Keysa.


Tanpa mengucapkan sesuatu Rey segera pergi meninggalkan Dhefin dan istrinya. Rey masih dilanda kesal sekaligus marah dengan tindakan yang dilakukan Dhefin. Dia merasa telah gagal menjadi orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya dengan benar.


Rey juga mengkhawatirkan keadaan Kay dan juga Carissa. Karena dia belum sempat menjenguk keduanya di rumah sakit. Berdasarkan informasi yang dia dapat, bahwa kecelakaan itu yang paling parah adalah Carissa. Karena Carissa yang telah menyelamatkan Kay saat mobil Dhefin melaju kencang akan menabrak Kay.


Setelah dari kantor polisi, Rey akan segera menujubrumah sakit untuk melihat keadaan Kay dan juga Carisssa. Rey sangat cemas jika saja kedua orang tua Carissa tidak bisa memaafkan perbuatan anaknya. begitu juga dengan Vito. apakah pria itu akan dengan mudah memaafkan anaknya yang memang benar-benar bersalah.


Sebagai orang tua, Rey memang sangat marah. Namun dirinya tidak bisa begitu saja membenci anaknya. Rey marah dengan Dhefin tadi berharap agar anaknya bisa memetik hikmah dari sebuah kesalahan yang telah dia perbuat.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2