
Pagi ini sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Namun seorang laki-laki berusia 26 tahun dengan wajah tampannya masih dengan posisi nyaman yaitu bergelung di bawah selimut tebal di atas tempat tidur. Laki-laki itu tampaknya masih enggan membuka matanya karena merasa seluruh tubuhnya remuk setelah tadi malam tepatnya pukul 1 dini hari, dia baru saja pulang dari perjalanan bisnis di luar kota selama beberapa hari.
Cklek
Pintu kamarnya terbuka dan muncul sosok gadis imut yang usianya lebih muda 4 tahun dari laki-laki yang masih asyik berkelana dalam alam mimpi itu. Gadis yang sudah berpakaian rapi namun masih memakai roll rambut itu tampak emosi karena melihat kakaknya masih asyik tidur.
“Kak Barra!!!” teriak Jenny kencang tepat di telinga Barra.
“Apa sih ganggu orang tidur saja. Sana pergi! Aku masih ngantuk.” Ucap Barra malas dan kembali melanjutkan tidurnya.
“Kak bangun!! Kakak lupa sekarang hari apa?” Tanya Jenny.
“Sekarang hari sabtu Jen. Kantor juga libur. Udah sana kakak mau lanjutin tidur.” Ucap Barra sambil memejamkan matanya.
“Kak! Kak Barra kan sudah janji mau ngantar aku ke kontes peragaan busana. Dan Kak Barra malah masih asyik molor.” Ucap Jenny semakin kesal.
Kemarin kedua kakak beradik itu sempat berhubungan melalui sambungan telepon. Jenny meminta kakaknya untuk mengantarnya hadir dalam undangan peragaan busana yang digelar setiap 6 bulan sekali. Barra pun sudah menyetujui dan akan mengantar Jenny, karena tempat peragaaan busana itu lumayan jauh dari rumahnya. Jadi Barra mengantar adiknya karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan Jenny. Namun sepertinya Barra lupa. Acara yang akan digelar pukul 11 dan saat ini sudah jam 8, dia malah asyik tidur. Belum juga perjalanan menuju lokasi yang membutuhkan waktu 1 jam lebih perjalanan.
“Ayo bangun! Pokoknya aku nggak mau tahu, Kak Barra harus mengantarku tepat waktu dan tidak boleh telat.” Ucap Jenny lagi yang kini sudah menyingkap selimut yang dipakai Barra.
Tidak cukup sampai disitu, setelah menyingkap selimut Barra hingga menampilkan otot perut six pacs nya karena Barra sudah terbiasa tidur tanpa memakai baju. Jenny segera menarik tangan Barra hingga hampir jatuh dari ranjangnya. Sontak mata Barra terbuka lebar.
“apa-apaan sih kamu Jen!” Kesal Barra pada Jenny.
“Salah sendiri siapa suruh molor. Ayo Kak buruan mandi. aku tunggu di bawah. Kalau Kak Barra nggak mau nganter ya udah aku berangkat sendiri saja naik taksi.” ucap Jenny dan beranjak keluar dari kamar Barra.
Barra pun akhirnya dengan malas bangun dan masuk ke kamar mandi. meskipun menggerutu, namun Barra sebenarnya sangat sayang dengan adiknya. Dia selalu mengantar Jenny setiap kali ada peragaan busana yang tempatnya cukup jauh.
Mama dan Papanya jugalah yang menyuruh Barra karena mereka sangat khawatir jika membiarkan anak gadisnya pergi sendiri.
Satu jam kemudian Barra sudah siap mengantar Jenny setelah menyelesaikan sarapannya terlebih dulu. Kedua kakak beradik itu berpamitan dulu pada mama dan papanya yang saat ini sedang bersantai di ruang keluarga.
“Ma, Pa kami pergi dulu.” Pamit Barra setelah itu mencium tangan Kay dan Vito kemudian diikuti oleh Jenny.
__ADS_1
“Iya, kalian hati-hati di jalan!” Pesan Kay pada kedua anaknya, dan mereka mengangguk.
Kini Barra dan Jenny sudah berada di dalam mobil menuju lokasi tempat peragaan busana. Barra sangat mendukung cita-cita Jenny yang menjadi designer ternama seperti yang diturunkan dari mamanya.
Saat ini memang Jenny lah mengelola butik milik mamanya. Namun dia juga masih membutuhkan banyak ilmu dan juga pengalaman. Maka dari itu dia sering ikut hadir dalam acara peragaan busana setiap kali ada event.
Saat dalam perjalanan, tiba-tiba saja ponsel Barra bergetar ada panggilan masuk. Karena sedang fokus menyetir, Barra meminta Jenny untuk mengangkat teleponnya. Jenny tahu siapa orang menghubungi kakaknya.
“Ya halo mbak!” sapa Jenny.
“…..”
“Kak Barra lagi nyetir mbak.”
“…..”
“Nih Kak minta ngomong langsung sama Kak Barra.” Ucap Jenny menyerahkan ponselnya ke Barra.
Jenny sangat kesal dengan salah satu karyawan Papanya sekaligus pacar dari kakaknya yang selalu sewot jika bicara dengannya. Entah kenapa sejak pertama kali Jenny dikenalkan dengan Astrid, dia tidak terlalu suka dengan perempuan itu.
“…..”
“…..”
“jangan gitu dong Sayang. Iya, nanti malam kita jalan seperti yang kamu minta.”
“…..”
Setelah itu Barra meletakkan kembali ponselnya dan kembali fokus menyetir. Jenny pun enggan bertanya, karena sepertinya Astrid tidak suka kalau Barra mengantar adiknya ke peragaan busana.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah sampai di tempat lokasi. Suasana begitu ramai dan dihadiri dari beberapa designer muda dari berbagai kota. Jenny tampak antusias dalam mengahdiri acara tersebut.
Jenny dan Barra kini sudah duduk di kursi pengunjung karena sebentar lagi acara akan dimulai. Meskipun ini bukan dari pekerjaan Barra, namun dia tetap mendukung adiknya yaitu dengan setia menemani dan ikut serta duduk dengan Jenny.
__ADS_1
Acara pun sudah dimulai, berbagai model gaun sedang diperagakan oleh para model yang sedang berjalan di atas catwalk. Tepuk tangan pun disambut meriah oleh semua pengunjung. Setelah para model memperagakan busana dari berbagai designer ternama, tiba saatnya MC membacakan pemenang dari peragaan busana bulan ini.
“Dan untuk pemenang dalam peragaan busana dalam event kali ini dimenangkan oleh designer muda sekaligus pendatang baru, yaitu Nona Carissa” ucap MC dan disambut tepuk tangan meriah oleh para pengunjung.
Perempuan cantik dan masih muda tapi wajahnya terlihat sangat dewasa kini sudah berdiri di atas panggung dengan senyum mengembang. Perempuan yang bernama Carissa itu sungguh bahagia karena busana yang ia peragakan akan menang dalam event kali ini.
Jenny pun menjadi lebih semangat melihat designer muda seusianya itu bisa menang dalam event kali ini. jadi masih banyak kesempatan baginya untuk belajar lebih giat lagi.
Sementara Barra yang melihat Carissa dari kursi pengunjung, dia merasakan ada sesuatu yang entah apa itu namanya, yang pasti Barra ikut tersenyum saat perempuan itu mengeembangkan senyumnya walaupun tidak dengannya.
Setelah acara selesai, Barra dan Jenny pun segera pulang. Namun sebelum keluar dari tempat itu tanpa sengaja Jenny bertemu dengan Carissa. Karena tidak ingin melewatkan kesempatan, Jenny menghampiri Carissa untuk berkenalan sekaligus meminta no ponselnya.
Carissa pun menyambut Jenny dengan senang hati dan juga memberikan kartu namanya pada Jenny. Jenny tidak menyangka ternyata alamat tempat tinggal sekaligus butik milik Carissa juga berada di kota yang sama dengannya. Jenny sangat senang. Dengan begitu dia akan lebih mudah untuk berkunjung ke butik Carissa.
“Terima kasih banyak Kak.” Ucap Jenny sambil mengulurkan tangannya pada Carissa.
“Iya, sama-sama. Ditunggu kedatangannya ya.” Jawab Carissa ramah.
Barra pun yang sejak tadi berdiri di belakang Jenny tiba-tiba saja ikut mengulurkan tangannya pada Carissa. Dan saat tangan mereka sudah berjabatan, Barra terlihat kikuk mau mengucapkan apa. Begitu juga dengan Carissa yang semakin bingung.
“Ehm, terima kasih sudah memberikan kesempatan buat Jenny untuk belajar dengan anda.” Ucap Barra.
“Eh, iya sama-sama.” Jawab Carissa canggung.
.
.
.
*TBC
Ehm masih awal nih. sesuai judulnya ya... jadi sudah bisa ketebak kan alurnya? meskipun gampang sekali ketebak, tapi yg pasti akan mengaduk² perasaan kalian semuanya lho😂😂😂✌️✌️
__ADS_1
Happy reading🤗 semoga masih betah ya dan nggak oernah bosan😁😘😘