Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 256


__ADS_3

Setelah mengantar suaminya bekerja, Carissa juga segera pergi ke butik. Dia akan menyampaikan beberapa pesan pada karyawan dan asistennya kalau selama beberapa hari dirinya akan liburan dengan keluarga.


Barra pun juga memulai kativitasnya di kantor. hari ini memang jadwalnya sangat padat. Dia juga mengirim pesan pada istrinya untuk tidak datang ke kantor saat jam makan siang. Karena dirinya sedang berada di luar.


Waktu pun beranjak sore, Carissa sudah menyiapkan keperluannya selama liburan. Sampai saat ini dirinya belum tahu kemana Mama dan Papanya akan berlibur. Yang penting dia dan kakaknya mengikutinya saja. Xavier pun juga sudah siap dengan barang bawaannya.


“Loh Barra belum pulang?” Tanya Alana.


“Mas Barra sedang ke kota XX Ma. Nanti malam mungkin menyusul.” Jawab Carissa berusaha tenang walau dirinya tidak tenang karena pergi tanpa sang suami.


“O ya sudah kalau gitu. Nanti sesampainya di sana, kamu share loksainya saja ke Barra.” Ucap Charles dan diangguki oleh Carissa.


Kemudian mereka berempat segera berangkat menuju bandara. Carissa duduk bersebalahan dengan Xavier, sedangkan Mama dan Papanya dusuk berduaan. Carissa masih tampak cemas memikirkan Barra karena saat dalam perjalanan menuju bandara tadi dia mengirim pesan padanya namun ponsel Barra tidak aktif. Carissa berharap semoga suaminya baik-baik saja.


Setelah perjalanan kurang lebih satu jam, Carissa dan keluarga sudah sampai di bandara kota dimana dirinya akan berlibur. Carissa tidak menyangka kalau liburannya yaitu ke pulau yang terkenal dengan sebutan Island of Gods atau banyak juga yang menyebut pulau ini adalah surganya wisata. Karena pulau ini banyak dikunjungi berbagai turis baik domestik maupun manca negara.


Dalam pesawat tadi Carissa yang sudah tahu tempat liburannya masih sedikit tidak percaya. Memang dia juga belum pernah kesana sebelumnya. Dan dia juga tahu kalau wisata di pulau itu sangat bagus dan menarik. Tapi entah kenapa perasaan Carissa tidak tenang. Terlebih wisata yang sangat menarik adalah pantainya.


Setelah turun dari pesawat, sudah ada mobil yang menjemput mereka berempat menuju vila dimana mereka akan menginap. Carissa mengaktifkan ponselnya namun tidak ada notif pesan dari suaminya. Bahkan pesan yang dikirimkan tadi belum dibaca dan bertanda satu ceklis. Itu tandanya ponsel Barra masih tidak aktif.


“Sayang, kamu sudah mengirim lokasinya pada Barra?” Tanya Alana.


“Sudah Ma.” Jawab Carissa.


Carissa segera mengirim lokasi tempat liburannya pada Barra, walau ponsel Barra tidak aktif. Mungkin nanti kalau sudah aktif dia akan membaca pesannya. Carissa mau menghubungi Iqbal pun dia tidak mempunyai kontak laki-laki itu. Jadi Carissa mencoba menenangkan hatinya sendiri, mungkin suaminya sangat sibuk.


Pekerjaan Barra hari ini memang sangat padat. Dia sampai melupakan ponselnya yang ternyata sejak tadi siang kehabisan daya. Barra baru pulang dari kota XX pukul 10 malam. Tidak mungkin jika dirinya pergi saat ini juga menyusul istrinya yang sedang berlibur. Mungkin besok pagi-pagi sekali dia akan berangkat. Karena badannya sangat lelah.

__ADS_1


Setelah membersihkan tubuhnya sejenak, Barra melihat ponselnya kehabisan daya. Kemudian dia mengisinya sebentar setelah itu mengaktifkannya. Namun matanya sudah sangat berat untuk dibuka. Akhirnya Barra ketiduran sebelum menyalakan ponselnya. Sedangkan Carissa memilih untuk tidur setelah makan malam bersama keluarganya. Kata kakaknya juga kalau suaminya baru saja dalam perjalanan pulang dari kota XX berdasarkan informasi dari Iqbal. Jadi Carissa berpikir kalau suaminya akan sampai rumah malam dan tidak mungkin menyusulnya sekarang.


Keesokan paginya Barra terbangun dan melihat sampingnya tidak ada sang istri. Dia baru teringat kalau istrinya sedang berlibur dan dirinya juga harus menyusulnya sekarang juga.


Barra mengaktifkan ponselnya dan begitu banyak pesan yang dikirim dari istrinya. Termasuk lokasi dimana istrinya sedang berlibur. Barra mengerutkan keningnya saat mengetahui lokasi tempat liburan sang istri. Barra segera menelpon Iqbal untuk segera memesankan tiket pesawat. Kemudia dia mandi dan bersiap. Tanpa membalas pesan istrinya.


Pukul 7 Barra sudah berada di bandara diantar oleh Iqbal. Barra hanya mengirim pesan pada istrinya kalau kini sedang dalam perjalanan. Barra sangat cemas jika istrinya menghabiskan waktunya di pesisir pantai yang sangat dia ketahui bahwa sang istri phobia dengan air laut karena trauma masa kecilnya.


“Sayang, tunggu aku di Villa. Jangan pergi kemana pun sebelum aku datang.” Barra mengirim pesan lagi setelah kemudian pesawatnya lepas landas dan harus menonaktifkan ponselnya.


Carissa hanya melihat pesan dari suaminya yang mengatkan kalau sedang dalam perjalanan. Selebihnya dia meletakkan ponselnya di dalam kamar kemudian turun untuk sarapan dengan keluarganya. Lagipula Carissa juga tahu dirinya tidak akan main di pantai.


“Apa Barra sudah berangkat?” Tanya Alana.


“Sudah Ma. Baru saja berangkat.” Jawab Carissa.


“Ya sudah lanjutkan makannya. Nanti setelah ini Mama dan Papa akan pergi jalan-jalan berdua. Kalian berdua terserah mau kemana saja.” Ucap Alana memberi tahu.


Dan benar saja setelah selesai sarapan, Alana dan suaminya pergi berdua yang tidak tahu entah kemana. Sedangkan Carissa memilih duduk santai di depan Villa yang langsung menghadap pantai. Dan Xavier mengambil papan seluncur kemudian menuju pantai sambil membawa tas kecil berisi ponsel dan handycam. Carissa tidak tahu pasti apakah kakaknya itu benar-benar bisa berseluncur.


“Ngapain diam disitu? Ayo ke pantai!” ajak Xavier namun Carissa menolak.


“Ayolah Viera, lagipula suami kamu masih lama. Kita senang-senang dulu.


“Kakak saja. Aku suka disini saja.” Jawab Carissa.


Setelah itu Xavier mengambil foto adiknya dan mengunggahnya untuk dia jadikan story. “Kayaknya perlu dikerjain nih anak mumpung nggak ada suaminya. #Surfing” Begitulah story yang dibuat oleh Xavier.

__ADS_1


Setelah Xavier memasukkan ponselnya, dia segera menarik tangan adiknya dan membawanya lari menuju pantai. Carissa sangat terkejut. Dia sudah teriak tidak mau namun Xavier tak mepedulikannya.


Kini mereka berdua sudah berada di bibir pantai. Tubuh Carissa tiba-tiba saja gemetar.


“Nih, fotoin dulu setelah itu rekam ya aku mau main seluncuran.” Ucap Xavier dan menyerahkan tas kecilnya pada Carissa.


“Kak, aku balik saja ya. Aku nggak suka air laut.” Ucap Carissa namun Xavier tidak begitu jelas mendengarnya karena suasana pantai yang begitu ramai.


“Ayolah sebentar saja. Aku ingin lihatin ke teman-teman kalau aku bisa berseluncur.” Bujuk Xavier sambil membuka handycamnya karena Carissa tak kunjung membukanya.


“Nggak Kak. Aku takut air laut.” Tolak Carissa.


“Tenang saja kan ada kakak.” Jawab Xavier tanpa melihat kegugupan adiknya.


Tangan Carissa bergetar saat memegang handycam itu. Dia juga mendengar suara deburan ombak yang sangat mengusiknya. Xavierpun tetap melancarkan aksinya dengan bergaya sambil memegang papan seluncurnya.


Barra yang baru saja turun dari pesawat, dia segera menaiki mobil yang sudah menjemputnya. Dia melihat pesan yang dikirim pada Carissa belum dibaca dan taanpa sengaja dia melihat story yang dibuat oleh Xavier sekitar 20 menit yang lalu. Barra sudah mengepalkan tangannya kuat menahan amarah melihat tindakan Xavier. Kemudian dia menghubungi ponsel Xavier namun tidak ada jawaban. Kemudian dia mengirim pesan dan mengatakan kalau Carissa phobia dengan air laut. Barra berharap Xavier segera membaca pesannya.


Byurrrr


Debuarn ombak begitu tinggi dan dimanfaatkan oleh beberapa turis yang masih berada pada tahap belajar surfing. Bagitu juga dengan Xavier. Dan tanpa sengaja kaki Carissa melangkah mengikuti kakaknya yang berjalan sedikit ke tengah. Tiba-tiba saja saat ombak besar itu datang lagi, handycam pada tangan Carissa terlepas dari genggamannya.


“Viera!!!!”


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2