
Rutinitas Barra setiap hari bergelut dengan beberapa dokumen yang terkadang membuatnya pusing. terutama kerja samanya dengan perusahaan milik keluarga Darandra, membuatnya sering lembur. Bahkan jarang sekali dia pergi keluar dengan sang kekasih saat usai jam pulang kantor. tetapi Barra selalu mengusahakan untuk mengajak makan siang.
Astrid pun yang awalnya merasa terabaikan, kini dia sudah bisa mengerti kalau memang kekasihnya sedang sibuk. Astrid pun tidak mempermasalahkan jika Barra tidak bisa mengajaknya keluar jalan-jalan.
Hari ini lagi-lagi Barra harus lembur. Seperti beberapa hari kemarin, dia juga lembur dan pulang hampir pukul 11 malam. Dan untuk malam ini kemungkinan dia pulang lebih awal meskipun masih dibilang lembur.
Barra melihat jam tangannya menunjukkan pukul 8 malam setelah dia baru saja menutup laptopnya. Laki-laki itu meregangkan otot-ototnya setelah seharian penuh bergelut dengan pekerjaan kantor. Barra akhirnya beranjak dari duduknya, kemudian keluar dari ruangannya untuk segera pulang.
Malam ini Barra lembur seorang diri. Tidak ditemani oleh Iqbal karena memang pekerjaannya tidak terlalu banyak seperti kemarin. Perjalanan dari kantor ke rumah hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Dan akhirnya Barra sudah sampai rumah.
Di depan rumahnya terparkir mobil yang sangat tidak asing baginya. Ya, itu adalah mobil Dhefin. Barra yakin kalau Dhefin sengaja datang ke rumah karena rindu dengan kedua orang tuanya yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.
“Wah calon pengusaha sukses baru pulang nih?” ucap Dhefin menyambut kedatangan Barra.
“Bisa aja kamu. Udah lama disini?” Tanya Barra.
“Ya, lumayan sejak setengah jam yang lalu.” Jawab Dhefin.
Disana juga ada kedua orang tuanya. Barra memutuskan untuk masuk ke kamarnya dulu membersihkan tubuhnya sebelum berkumpul dengan keluarganya dan juga Dhefin. Saat Barra akan menaiki tangga menuju kamarnya, dia melihat seorang perempuan sedang sibuk mengaduk minuman di dapur. Gestur perempuan itu mirip dengan Jenny. Barra heran, sejak kapan adiknya mau memasuki dapur dan membuat minuman. Akhirnya dengan senyum licik tegambar dari bibirnya, Barra berniat menjaili Jenny.
Barra memelankan langkah kakinya pada seorang perempuan yang sedang berdiri membelakanginya. Dia menarik nafasnya terlebih dulu sebelum menjaili Jenny. Setelah itu Barra mengangkat kedua tangannya dan dengan cepat menutup mata Jenny.
“Tolong! Siapa ini?” ucapnya dengan sedikit terkejut.
“Kak Barra ngapain?” Tanya suara seseorang yang sangat Barra kenal dan sumber suara itu berasal dari belakangnya.
__ADS_1
Tangan Barra masih menutup mata perempuan di depannya, tapi pandangannya menoleh ke belakangnya yang ternyata Jenny ada disana. Lantas Barra dengan cepat melepas kedua tangannya.
“Kak Barra apa-apaan sih pakai nutup mata Kak Carissa segala?” gerutu Jenny.
Sedangkan Carissa dan Barra terlihat salah tingkah. Barra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak tahu kalau perempuan yang ia jaili ternyata Carissa. Kemudian dia baru ingat kalau Carissa adalah kekasih Dhefin. Dan benar saja kedatangan Dhefin ke rumah untuk memperkenalkan Carissa pada kedua orang tuanya.
“Maaf, aku kira kamu Jenny. Ya sudah aku tinggal ke atas dulu.” Ucap Barra akhirnya.
Jenny dan Carissa akhirnya kembali ke ruang keluarga dengan membawa minuman dan camilan. Entah kenapa perbuatan Barra yang tidak sengaja tadi membuat degupan jantung Carissa berbeda dari biasanya. Padahal dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
Begitu juga dengan Barra. Dia merasa ada yang berbeda dengan jantungnya saat tidak sengaja dia menyentuh anggota tubuh Carissa. Kemudian Barra melihat kedua telapak tangannya sendiri yang dia pakai menutup mata Carissa tadi. Barra mencium kedua telapak tangannya yang masih membekas harum aroma bedak Carissa.
Niat Barra sepulang kerja ingin berendam dengan air hangat terpaksa harus ia urungkan karena saat ini sedang ada sahabatnya. Tidak enak jika membiarkan Dhefin hanya bersama orang tuanya saja. Tapi apakah benar seperti itu alasan Barra tidak jadi berendam. Atau karena dia memang ingin melihat wajah Carissa? Entahlah.
Dengan rambut yang masih sedikit basah dan pakaian santai khas rumahan, yaitu kaos hitam dan celana pendek berbahan kain, Barra menuruni tangga dan mengahmpiri orang-orang yang sedang berkumpul di ruang tamu.
“Kapan kalian berencana akan menikah?” Tanya Kay saat Barra baru saja duduk di amping mamanya.
“Nunggu Barra dulu kali tante.” Jawab Dhefin bercanda.
“Kamu duluan aja Fin, lagian Barra juga belum ada tanda-tanda mau menikah. Beda dengan kamu yang sudah dapat lampu hijau.” Ucap Kay lagi sambil melirik Barra yang tampak acuh.
“Doain aja ya Tan.” Ucap Dhefin dan diangguki oleh Kay.
Barra sangat malas jika membahas tentang pernikahan. Andai saja kedua orang tuanya memberi lampu hijau atas hubungannya dengan Astrid, pasti dia sudah melamarnya sejak dulu bahkan langsung menikahinya. Beda seperti Dhefin yang sudah dapat lampu hijau. Eh tunggu, kenapa perasaan Barra sedikit aneh saat mendengar kalau hubungan Dhefin dan Carissa sudah mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tua masing-masing. Kenapa Barra rasanya tidak ikhlas menerima kenyataan itu. Padahal Carissa kekasih Dhefin.
__ADS_1
Akhirnya perbincanagn mereka pun berakhir. Karena waktu sudah malam. Dhefin dan Carissa pun segera berpamitan untuk pulang. Setelah kepulangan Dhefin dan Carissa, kini tinggallah Barra dan Mamanya yang masih ada di ruang tamu. Papanya sudah terlebih dulu masuk kamar, begitu juga dengan Jenny.
“Mama nggak nyangka ternyata Carissa kekasihnya Dhefin.” Ucap Kay tiba-tiba.
“Memangnya kenapa Ma?” Tanya Barra heran sambil menautkan kedua alisnya.
“Ya gagal deh rencana Mama menjodohkan kamu dengan Carissa. Menurut Mama, Carissa perempuan yang baik. Tapi Dhefin juga baik sih.” Ucap Kay.
“Mama lupa kalau Barra sudah-“ ucapan Barra terpotong.
“Ya sudah lah, Mama mau ke atas dulu. Capek sudah malam juga.” ucap Kay dan pergi meningalkan Barra yang masih terdiam.
Barra tahu kalau mamanya tidak mau mendengarkan dirinya, terlebih membahas tentang Astrid. Barra hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Bagaimana jika hubungannya dengan Astrid selamanya ditentang oleh kedua oran tuanya. Dia juga tahu kalau Astrid sangat membutuhkan kepastian. Mengingat hubungannya sudah terjalin lama.
Akhirnya Barra juga memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Dia juga ingin segera tidur. Badannya sangat lelah. Namun sebelum tidur, dia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Astrid. Tidak mengapa jika tidak dibalas oleh kekasihnya. Barra hanya ingin mengucapkan selamat tidur saja.
Barra melihat pesan yang baru saja dia kirim untuk Astrid. Dan pesan itu dengan cepat terbaca. Barra segera menghubungi Astrid, namun ternyata sedang berada dalam panggilan lain.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Hari author nambah 1 eps lagi lho🤗
yok yg blm kasih votenya, ditunggu ya🤗😘✌️