
Sungguh kabar dari Xavier yang mengatakan bahwa pertunangan Carissa dan Dhefin gagal membuat Barra tampak terkejut sekaligus senang. Laki-laki yang sejak semalam patah hati, kini perlahan sudah bisa menyunggingkan senyumnya. Meskipun dia belum tahu pasti apakah Carissa masih marah atau bahkan masih membencinya, namun Barra akan tetap berusaha mengambil hati Carissa walaupun sangat sulit. Setidaknya sudah tidak ada bayang-bayang Dhefin yang menjadi penghalangnya.
“Jadi niat kamu memberikan obat perangsang itu hanya untuk mendapatkan pengakuan atas bayi yang kamu kandung?” gumam Barra saat mengingat perbuatan jahat Astrid.
Entah kenapa saat ini Barra berpikir bahwa dirinya beruntung saat itu menarik paksa Carissa hingga kejadian naas itu terjadi. Andai saja saat itu dia masuk ke dalam perangkap Astrid, pasti saat ini dia yang harus bertanggung jawab atas janin di dalam perut Astrid.
Saat ini Barra sedang dalam perjalanan ke rumah Carissa. Dia tidak peduli sejak tadi Xavier menghubunginya karena meninggalkan meeting begitu saja. Saat ini dalam pikiran Barra hanya ada nama Carissa. Dia ingin bertemu Carissa dan akan mempertanggung jawabkan perbuatannya, sebelum adanya kemungkinan Carissa hamil.
“Nak Barra? Ada apa?” Tanya Silvia saat baru saja membukakan pintu.
“Maaf Tante, Barra ingin bertemu dengan Carissa.” Jawab Barra.
“Ya sudah silakan masuk. Biar Tante panggilkan Carissa.” Ucap Silvia mempersilakan Barra masuk.
Kebetulan saat itu Carissa sedang berada di dapur. Jadi jika dia akan kembali ke kamarnya, pasti melihat kalau ada seseorang di ruang tamu. Silvia tahu kalau anaknya masih bersedih setelah kejadian semalam. Mungkin dengan kedatangan Barra, bisa sedikit menghibur anaknya. karena Silvia tidak tahu apa yang telah terjadi diantara Barra dan Carissa.
“Sayang, ada Barra di depan. Coba kamu temui dulu.” Ucap Silvia.
Deg
Carissa sungguh tidak menyangka kalau Barra nekat datang ke rumahnya. Padahal dia berusaha mati-matian agar tidak bertemu lagi dengan laki-laki itu.
“Mama bilang saja kalau Rissa nggak mau bertemu dengan siapa pun.” Ucap Carissa.
“Kenapa kamu nggak mau bertemu denganku Carissa? Maafkan aku.” ucap Barra yang kini sudah berada di ruang tengah mendatangi Carissa yang hendak masuk ke kamarnya.
Carissa sangat terkejut saat tahu bahwa Barra sudah ada di ruang tengah. Namun dia tetap tidak mau berbicara dengan laki-laki yang telah merenggut mahkotanya itu. Sedangkan Silvia taampak bingung dengan ucapan Barra yang meminta maaf pada anaknya. ada masalah apa sebenarnya.
“Kalian ada apa?” Tanya Slivia.
“Rissa capek Ma, mau istirahat.” Ucap Carissa dan segera meninggalkan Barra dan Mamanya.
__ADS_1
“Carissa, kedatanganku kesini hanya untuk memper-“
“Kita bicara di luar.” Ucap Carissa cepat sebelum Barra melanjutkan ucapannya yang nanti akan didengar oleh Mamanya.
Silvia semakin dibuat bingung dengan mereka berdua. Namun sedikit lega ketika Carissa mau berbicara dengan Barra, meskipun terkesan sembunyi-sembunyi.
Saat ini Carissa dan Barra sudah duduk di teras rumah. Kemungkinan pembicaraan mereka berdua tidak bisa didengar oleh siapapun, termasuk Mamanya.
“Carissa please maafkan aku. aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku.” Ucap Barra memohon.
“Lebih baik Kak Barra pergi dari sini. aku nggak mau lagi bertemu dengan Kak Barra. Aku benci kamu Kak!” Ucap Carissa.
“Please Carissa. Aku mohon, jangan seperti ini. aku sungguh sangat mencintaimu. Jadi biarkan aku bertanggung jawab.” Ucap Barra.
“Silakan pergi dari sini sekarang juga! atau Kak Barra nggak akan melihat aku selamanya?” ancam Carissa.
Barra tidak mengerti apa maksud Carissa berbicara seperti itu. Dia tidak mau kehilangan perempuan itu. Mungkin saat ini lebih baik dia pergi. Nanti akan dipikirkan lagi caranya untuk mempbuat Carissa menerimanya.
Saat ini Barra sedang berada di sebuah danau pinggir kota, dimana Carissa juga pernah singgah di tempat itu. Karena suasananya masih jam 3 sore, ditambah lagi bukan hari libur. Jadi, suasana tempat itu lumayan sepi.
Barra menikmati semilir angin yang sejuk di pinggiran danau itu. Dia menarik nafasnya dalam untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya hingga memenuhi rongga paru-parunya.
“Kenapa kamu bisa disini?” Tanya Xavier yang baru saja datang setelah Barra mengirim pesan padanya.
Barra hanya terdiam saat Xavier sudah duduk di sampingnya. Entahlah Barra sangat bingung, bagaimana dia menceritakan semua masalahnya pada Xavier. Tapi Barra juga sangat butuh seseorang untuk menghadapi masalahnya ini.
“Carissa.” Ucap Barra setelah terdiam cukup lama.
Xavier bingung dengan Barra yang tiba-tiba saja menyebut nama Carissa. Perempuan yang dia juga kenal. Bahkan sudah berteman baik dengannya.
“Kenapa dengan Carissa?” Tanya Xavier.
__ADS_1
“Aku telah menyakitinya Xav. Tapi dia tidak memaafkanku, dan dia sangat membenciku.” Ucap Barra sendu.
Xavier semakin bingung. Apa maksud Barra telah menyakiti Carissa. Ada hubungan apa antara Barra dan Carissa. Bukankah Carissa adalah kekasih dari sahabatnya sendiri. Apa jangan-jangan Barra menykai Carissa.
“Ada hubungan apa kamu dengan Carissa?” Tanya Xaivier.
Barra menghembuskan nafasnya kasar sebelum menceritakan semuanya pada Xavier. Cerita tentang kisah asmara yang rumit antara dirinya dan Carissa. Xavier tahu kalau Carissa adalah mantan kekasih Dhefin, namun dia sangat terkejut kalau selama ini Barra juga diam-diam mencintai Carissa saat perempuan itu masih berstatus sebagai kekasih Dhefin. Barra akhirnya menceritakan tentang perbuatan tak bermoralnya pada Carissa. Seketika itu Xavier menarik kerah baju Barra.
“Gila kamu Bar! Dimana otak kamu sampai kamu tega melakukan itu semua?” ucap Xavier berapi-api.
“Aku melakukan itu semua karena tidak ada pilihan lain, karena ada seseorang yang sengaja memberiku obat perangsang.” Jawab Barra dan Xavier masih mencengkeram kerah baju Barra.
Bugh
Xavier melayangkan satu pukulan tepat di pipi kanan Barra sampai sudut bibir Barra mengeluarkan darah. Barra mengusap bibirnya sambil tersenyum sinis menatap Xavier.
“Kenapa? Kenapa kamu memukulku? Apa kamu juga mencintai Carissa? Kamu nggak akan pernah mendapatkannya. Karena dia sudah menjadi milikku.” Ucap Barra.
Bugh
Sekali lagi Xavier malayangkan pukulan di pipi kiri Barra. Entah kenapa Xavier tersulut emosinya saat mengetahui Barra telah berbuat bejat pada Caarissa. Hati Xavier ikut merasakan sakit seperti yang dirasakan oleh Carissa.
“Benar-benar brengsek kamu Bar! Apa nggak ada cara yang lebih terhormat untuk mendapatkan cinta Carissa? Apa dengan cara seperti itu kamu yakin akan mendapatkan Carissa? Dan sekarang pun kamu tahu Carissa semakin membencimu.” Ucap Xavier dan segera pergi meninggalkan Barra.
Barra sekarang dibuat bingung dengan ucapan Xavier. Dia kira Xavier memukulnya karena laki-laki itu juga mencintai Carissa. Namun setelah mendengar ucapan Xavier yang terakhir, sepertinya Xavier tidak mencintai Carissa. Sekarang Barra hanya bisa terdiam merenungi perbuatannya ditambah dengan rasa nyeri pada wajahnya setelah mendapat pukulan dari Xavier.
.
.
.
__ADS_1
*TBC