
Di saat Desi masih terdiam dan merasakan hawa panas yang tiba-tiba menyengat tubuhnya, tanpa dia sadari Bram sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Desi.
“Apa kamu masih betah duduk disitu? Atau kamu mau yang lebih dari tadi?” Tanya Bram yang mengembalikan kesadaran Desi.
“Eh, nggak.” Jawab Desi gugup dan segera keluar dari mobil.
Tidak ada lagi yang mampu Desi ucapkan setelah apa yang terjadi baru saja. Dia terus berjalan memasuki unit apartemennya. Bahkan dia tidak tahu kalau sejak tadi Bram mengikutinya. Dan saat Desi akan masuk ke dalam unit apartemennya, lagi-lagi dia dikejutkan dengan seseorang yang kembali mencekal tangannya. Orang yang sama, yaitu Bram.
“Jaga hati kamu untukku!” ucap Bram dengan diakhiri dengan mengacak rambut Desi sambil tersenyum tipis.
***
Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, keadaan Vito sudah pulih seratus persen. Radit dan Delia pun juga sudah kembali ke kota B karena sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan tentang keadaan Vito.
Pagi ini untuk pertama kalinya Vito akan kembali bekerja di kantor. dia terlihat lebih semangat. Karena selain badannya sudah kembali fit, kini dalam hidupnya ada dua malaikat yang akan menyemangati hari-harinya. Siapa lagi kalau bukan istri tercinta dan malaikat kecil yang bernama Barra Rafeyfa Zayan.
“Sayang, aku berangkat dulu ya.” Pamit Vito pada Kay.
“Iya, Mas. Semangat ya kerjanya. Aku dan Barra akan selalu menanti kepulangan Mas.” Ucap Kay sambil mencium tangan Vito dengan takzim.
Vito mengecup kening istrinya, kemudian masuk ke dalam mobil yang akan dikendarai oleh Bram. Ya, selain jadi bodyguard Kay, Bram juga kini juga sebagai sopir pribadi Vito. karena Kay juga masih berada di rumah dan belum aktif di butiknya. Lagipula keamanan Vito saat ini juga sangat penting. Mengingat kejadian beberapa waktu yang menyebabkan Vito harus berakhir di brankar rumah sakit pasca kejadian kecelakaan itu.
Bram tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk yang akan kembali terjadi pada Tuannya. Jadi sekarang tugasnya berpindah sebagai bodyguard Vito.
Beberapa saat kemudian, mobil Vito sudah sampai di perusahaan. Hari ini, pertama kalinya Vito kembali ke kantor. semua karyawan telah berjejer rapi di depan pintu masuk untuk menyambut kedatangan atasan mereka.
Senyum mengembang terukir di wajah tampan Vito. Pria yang kini berstatus sebagai Papa muda itu sangat senang melihat antusiasme karyawannya yang menyambut kedatangannya ke kantor. Vito kembali merasakan bahagia yang bertubi-tubi. Ternyata semua karyawannya sungguh sangat respect dengan atasannya. Bahkan sambutan ini sangat meriah bagi Vito.
Setelah menganggukkan kepalanya tanda ucapan terima kasihnya pada karyawan, Vito menyuruh mereka untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia juga segera masuk ke ruangannya, dengan diikuti oleh Bram dari belakang.
“Welcome back Tuan Adhlino Malven Alvito” Ucap Arsa sang asisten pribadi.
“ck nggak perlu terlalu formal.” Ucap Vito.
__ADS_1
Saat ini Arsa berada di dalam ruangan Vito. dia akan menyampaikan beberapa informasi mengenai perkembangan perusahaan selama Vito dirawat di rumah sakit. Vito manggut-manggut saja saat Arsa menyampaikan informasi itu. Terlihat raut wajah puas dari Vito dengan kinerja Arsa selama ini.
“Terima kasih Ar, aku sangat puas dengan kinerja kamu. Aku nggak tahu kalau tidak ada kamu yang akan menangani perusahaan disaat aku sedang koma.” Ucap Vito.
“Biasa saja, itu sudah menjadi tanggung jawabku.” Jawab Arsa.
“Mulai bulan ini gaji kamu akan aku naikkan 50 persen. Dan sampaikan pada karyawan semua kalau gaji mereka juga akan naik 30 persen.” Ucap Vito.
Arsa yang mendengarnya cukup senang. Bukan hanya senang karena gajinya naik, tapi Vito juga menaikkan gaji karyawan lainnya. Pasti mereka akan sangat senang saat mendengar kabar bahagia ini.
Kini Vito sudah kembali meneliti beberapa dokumen yang baru saja Arsa berikan. Sebenarnya tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini. namun entah kenapa Vito merasa lelah sekali dan ingin cepat pulang. Ah, itu hanya alasannya saja. Pasti di dalam otaknya hanya ada istri dan anaknya.
Vito mengistirahatkan dirinya sebentar. Dia meraih ponselnya dan akan melakukan panggilan video dengan istrinya. Namun sudah tiga kali melakukan panggilan, belum juga ada tanda-tanda istrinya menerima panggilannya.
“Pasti dia sedang sibuk dengan Barra. Masih bayi sudah berani mengambil perhatian. Dasar bayi tampanku!” gerutu Vito saat istrinya tak kunjung menerima panggilannya.
Vito tahu kalau istrinya pasti sedang sibuk. Yang pasti sibuk dengan anaknya hingga tidak mendengar dering telepon yang sejak tadi berdering. Vito sedikit kesal karena sibuk dengan bayinya, membuaat Kay melupakan dirinya. Inilah yang membuat Vito malas untuk kembali ke kantor. tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak bekerja, bagaimana anak istrinya makan. Huft dasar Papa bucin.
“Sudah pulang kamu?” Tanya Gio.
“Sudah Pa.” jawab Vito.
Vito melihat anaknya yang terlihat sedang memainkan tangannya, membuat dia sangat gemas dan ingin segera menggendongnya. Dia meletakkan tas kerjanya dan bersiap mengambil Barra dari stoller.
“Tunggu!!” interupsi seseorang yang baru saja keluar dari dapur.
“Sayang, kenapa?” Tanya Vito heran.
“Mas baru saja pulang kerja. Mandi dulu dan ganti baju. Setelah itu baru boleh gendong Barra.” Ucap Kay.
Wajah Vito mendadak lesu setelah mendapat peringatan dari istrinya yang melarang menggendong Barra dalam keadaan masih kotor.
“Kamu kok jadi jahat banget sih?” gerutu Vito.
__ADS_1
“Memang benar yang dikatakan oleh istri kamu. Bayi itu sangat sensitif. Dah sana mandi dulu.” Ucap Gio membenarkan ucapan Kay.
Vito merasa kalah telak. Kemudian dia segera masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sesuatu. Kay meminta Papanya untuk menjaga Barra dulu, karena dia akan menyiapkan baju ganti untu suaminya. Sebelumnya Kay sudah menyiapkan air hangat terlebih dulu saat Vito belum datang tadi.
Saat Kay masuk ke dalam kamar, ternyata suaminya tadi langsung mandi. karena terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka. Vito tampak segar dengan rambut yang masih basah menetes ke tubuhnya.
“Mas, ini bajunya sudah aku siapkan.” Ucap Kay yang kini sedang duduk di bibir ranjang.
Vito tersenyum melihat istrinya yang masih menyempatkan diri dengan menyiapkan keperluannya. Vito menarik tangan istrinya agar berdiri sejajar dengannya.
“Terima kasih Sayang. Kamu istri sekaligus ibu hebat.” Ucap Vito sambil mengecup bibir Kay.
Vito merasa tersengat aliran listrik saat mengecup bibir istrinya. Hingga dia kembali mengecup bibir manis itu. Tapi dengan durasi yang cukup lama. Kay hanya terdiam mendapat kecupan dari suaminya. Lama-lama Vito membuka bibirnya kemudian menyapu lembut bibir istrinya yang masih tertutup rapat.
“Sayang, kenapa kamu diam saja?” Tanya Vito heran.
“Maaf Mas. Aku nggak mau nanti kamu kelepasan dan akan meminta lebih. Aku masih nifas.” Ucap Kay.
“Baiklah kalau begitu aku akan sabar menanti.” Ucap Vito kemudian.
“Nah gitu dong pintar!” puji Kay pada Vito.
“Tapi nggak janji.” Ucap Vito lagi dan membuat Kay melotot tajam.
.
.
.
*TBC
__ADS_1